Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
📖 Bab 27: Cinta yang Tidak Berubah
Waktu berlalu bagai aliran sungai yang tenang dan jernih, membawa serta hari-hari yang penuh warna, tawa, dan kehangatan di kediaman keluarga Dika dan Raina. Sejak hadirnya buah hati ke tengah kehidupan mereka, rumah yang dulu senyap dan sunyi kini bergema dengan tangis kecil yang mungil, tawa ceria yang renyah, serta suara langkah kaki mungil yang berlarian ke sana kemari tanpa kenal lelah. Setiap sudut ruangan yang luas itu kini terasa lebih hidup, lebih hangat, dan dipenuhi berkah yang tak terhingga. Aroma susu bayi bercampur dengan keharuman bunga melati kesayangan Raina, menciptakan wangi khas rumah tangga yang damai dan menenangkan hati siapa pun yang memasukinya.
Namun di tengah segala kesibukan yang seakan tak pernah usai, di antara tumpukan popok bayi, waktu menyusui yang berulang-ulang, dan tangisan yang terkadang terdengar di tengah malam buta, ada satu hal yang tak pernah berubah sedikit pun — kasih sayang Dika kepada Raina. Cinta pria itu tidak luntur, tidak terbagi, dan tidak berkurang sedikit pun meskipun kini kehadiran sang buah hati menjadi pusat perhatian semua orang. Justru sebaliknya, kasih sayang itu semakin tumbuh, semakin dalam, dan semakin hangat bagai sinar matahari pagi yang tak pernah lelah menyinari bumi.
Bagi banyak pasangan di luar sana, kelahiran anak sering kali mengubah segalanya. Perhatian yang dulu terbagi sama rata antara suami dan istri kini sepenuhnya jatuh kepada sang buah hati. Percakapan yang dulu penuh dengan rencana masa depan, kata-kata manis, dan janji setia kini perlahan berubah seputar pertumbuhan gigi, jam tidur, dan kebutuhan susu. Sering kali sang istri yang lelah mengurus rumah dan anak perlahan melupakan dirinya sendiri, sementara sang suami merasa tersisih karena tak lagi menjadi pusat dunia istrinya. Namun di rumah Dika dan Raina, hal itu tidak pernah terjadi. Karena Dika memegang teguh satu janji yang tak pernah ia ucapkan dengan lisan saja, melainkan ia buktikan dengan setiap detik kehidupannya: Anak adalah buah cinta mereka, namun Raina tetaplah wanita yang menjadi pusat dunianya selamanya.
Matahari baru saja terbit perlahan di ufuk timur, menyinari bumi dengan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Sinarnya menyelinap masuk melalui celah tirai jendela kamar yang terbuka sedikit, menari-nari di atas lantai kayu yang mengkilap dan jatuh lembut ke wajah Raina yang tampak lelah namun tetap terlihat begitu cantik dan damai dalam tidurnya. Di samping tempat tidur, Dika duduk diam memandangi wajah istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang yang mendalam. Tangannya yang besar dan hangat terulur perlahan, menyentuh helai rambut Raina yang sedikit berantakan jatuh menutupi dahi yang berkeringat tipis. Dengan lembut dan penuh kehati-hatian, seakan takut akan membangunkan wanita itu dari tidur yang begitu singkat, Dika menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Raina. Jemarinya menyentuh kulit wajah istrinya dengan kelembutan yang luar biasa, seakan menyentuh benda paling berharga dan rapuh di seluruh dunia.
Semalam, buah hati mereka sedikit rewel dan tak henti-henti menangis. Raina terjaga berkali-kali, bangun sebelum fajar menyingsing, dan hampir tak sempat memejamkan mata sepanjang malam. Dika yang menyaksikan segala lelah yang dipikul istrinya itu merasa hatinya perih sekaligus penuh kekaguman. Ia tahu betapa beratnya menjadi seorang ibu — menahan kantuk, menahan rasa pegal di seluruh tubuh, menahan rasa sakit saat menyusui, dan tetap tersenyum lembut sambil menimang mahluk kecil itu seakan tak ada beban yang ia pikul. Raina melakukannya semua dengan tulus, dengan kasih sayang yang begitu besar, tanpa pernah sekalipun mengeluh atau meminta balas jasa. Dan justru karena itulah, Dika berjanji dalam hatinya: ia akan berusaha dua kali lipat lebih keras, agar Raina tidak pernah merasa sendirian dalam mengurus buah hati mereka.
Dika menunduk perlahan, mengecup kening Raina dengan lembut dan penuh hormat. Sentuhan bibirnya begitu hangat, begitu lembut, seakan menyampaikan ribuan kata terima kasih yang tak sempat terucap. Terima kasih... terima kasih telah melahirkan anak ini untukku. Terima kasih telah menjadi ibu yang luar biasa. Dan terima kasih... karena kau tetaplah kau, wanita yang paling kucintai di seluruh dunia.
Raina perlahan membuka matanya yang berat. Sinar matahari pagi menyilaukan pandangannya sejenak, namun saat ia melihat wajah Dika yang tersenyum lembut tepat di hadapannya, seluruh rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya seketika luruh seketika.
"Kau sudah bangun sejak kapan..." gumam Raina pelan, suaranya terdengar masih berat dan mengantuk. Ia mencoba bangun, namun tubuhnya terasa begitu berat dan pegal di mana-mana.
Dika segera menopang bahu istrinya dengan lembut, membantu Raina duduk perlahan sambil menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal yang empuk. "Tadi saja," jawab Dika lembut sambil tersenyum hangat. Tangannya meraih bantal kecil, menyelipkannya di belakang pinggang Raina agar posisinya lebih nyaman. "Kau masih lelah, Sayang. Tidurlah sebentar lagi. Biar aku yang siapkan semuanya."
Raina tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. Matanya melirik ke arah buaian kecil di samping tempat tidur, di mana putra kecil mereka kini sedang terlelap pulas dengan wajah damai dan bibir yang sesekali bergerak mungil. "Kalau aku tidur lagi, nanti siapa yang menyusui dan menimangnya..."
Dika menatap istrinya lekat-lekat, lalu menggenggam tangan Raina yang terasa sedikit kasar dan kering karena terus-menerus mencuci pakaian bayi dan membersihkan rumah. Ia mengecup punggung tangan itu perlahan, menatap mata Raina dengan tatapan yang begitu dalam dan tulus. "Anak itu butuh ibunya, itu benar. Tapi kau juga butuh istirahat, Raina. Kau adalah ibunya, tapi kau juga adalah istriku. Dan bagiku, kesehatan dan kebahagiaanmu sama pentingnya dengan kesehatan dan kebahagiaan anak kita. Jangan pernah lupa hal itu."
Kata-kata itu terucap begitu tenang, begitu tulus, dan begitu menyentuh hingga membuat mata Raina seketika berkaca-kaca. Selama ini, hampir semua orang di sekitarnya seakan lupa bahwa di balik sosok seorang ibu yang sibuk dan lelah, masih ada seorang wanita bernama Raina yang juga butuh diperhatikan, dipeluk, dan dimanja. Namun Dika... suaminya itu... tidak pernah sekalipun melupakan hal itu. Di mata Dika, Raina tetaplah Raina — wanita yang ia cintai sejak pertama kali melihatnya, wanita yang menjadi pemilik hatinya selamanya, terlepas dari segala peran dan tanggung jawab yang kini ia pikul.
"Kau..." Raina menelan ludah yang terasa pahit karena haru, air matanya mulai menumpuk di pelupuk mata. "Kau selalu begitu lembut padaku, Dika. Padahal aku... aku sering kali terlihat berantakan, lelah, tak sempat merawat diri... dan tak lagi secantik dulu..."
Dika tersenyum lembut mendengar ucapan istrinya yang penuh keraguan itu. Ia melangkah mendekat, lalu merentangkan kedua lengannya dan memeluk Raina perlahan, membiarkan kepala istrinya bersandar nyaman di dadanya yang bidang dan hangat. Dika mengusap rambut Raina dengan penuh kasih sayang, mencium puncak kepala wanita itu berulang kali dengan lembut.
"Jangan pernah berkata begitu, Sayang..." bisik Dika pelan di telinga Raina, suaranya begitu hangat dan menenangkan. "Bagaimana pun rupa dirimu, bagaimana pun keadaanmu... di mataku, kau tetaplah wanita tercantik dan terindah yang pernah ada. Kelelahan yang terlihat di wajahmu itu bukan tanda kau tak lagi cantik. Itu justru tanda betapa mulianya hatimu, betapa besarnya kasih sayangmu kepada anak kita. Dan hal itu... justru membuatmu semakin berharga dan semakin indah di mataku."
Dika merenggangkan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Raina dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ia menatap mata istrinya lekat-lekat, menatap jauh ke dalam kedalaman jiwa wanita itu dengan tatapan yang begitu tulus dan tak pernah berubah sedikit pun.
"Kau harus tahu satu hal, Raina..." ucap Dika perlahan, setiap kata terucap dengan tegas namun penuh kelembutan. "Anak kita adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan kepada kita. Tapi kau... kau adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan kepadaku secara pribadi. Aku menyayangi anak kita dengan segenap jiwaku, tapi cintaku kepadamu... tidak akan pernah terbagi, tidak akan pernah berkurang, dan tidak akan pernah berubah. Selamanya."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga membasahi pipi Raina. Namun kali ini bukan air mata kesedihan atau keraguan. Itu adalah air mata kebahagiaan yang meluap-luap menyadari betapa beruntungnya ia memiliki pria seperti Dika. Di saat dunia seakan berubah dan semua perhatian tertuju kepada sang buah hati, Dika justru datang dan memeluknya erat, meyakinkannya bahwa ia tetaplah nomor satu di hatinya.
Raina memeluk erat pinggang suaminya, menyandarkan wajahnya di dada bidang itu sambil menangis terharu. Ia merasakan detak jantung Dika yang berdetak tenang dan kuat di bawah telinganya, seakan menjadi jangkar yang selalu menjaganya agar tak pernah hanyut terbawa arus kelelahan dan kesepian.
"Terima kasih..." isak Raina pelan, suaranya terdengar bergetar namun penuh kebahagiaan. "Terima kasih, Dika... karena kau tak pernah berubah. Terima kasih karena kau selalu ada untukku."
Dika tersenyum lembut sambil terus mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak akan pernah ke mana-mana, Sayang. Selama napas ini masih berhembus, aku akan selalu ada di sisimu. Menjagamu, memelukmu, dan memanjakanmu seperti dulu. Bahkan jauh lebih dari itu."
Setelah menenangkan Raina agar kembali beristirahat, Dika pun beranjak perlahan dari kamar. Namun ia tidak pergi begitu saja. Sebelum keluar, ia kembali menatap wajah istrinya yang kini mulai terlelap kembali dengan tenang. Dika tersenyum tipis, lalu kembali mengecup kening Raina perlahan sebelum melangkah menuju dapur. Pagi itu, Dika menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Ia menyiapkan sarapan bergizi yang disukai Raina, menyeduh teh hangat dengan takaran gula yang pas seperti yang selalu istrinya sukai, dan bahkan menyiapkan air hangat di dalam baskom agar Raina dapat mencuci muka dengan nyaman saat terbangun nanti. Tak ada satu pun hal kecil yang terlewatkan dari perhatian Dika. Ia melakukannya semua dengan penuh kasih sayang, tanpa pernah mengeluh atau merasa berat. Karena baginya, melihat Raina tersenyum bahagia adalah kebahagiaan terbesarnya.
Beberapa jam kemudian, saat matahari telah meninggi dan udara pagi terasa semakin hangat, Raina terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar dan tenang. Begitu ia melangkah keluar dari kamar menuju ruang makan, aroma harum masakan yang lezat langsung menyambut hidungnya. Di meja makan yang tertata rapi dan bersih, sudah tersaji sarapan lengkap yang masih mengepul hangat. Dan di sana, berdiri sosok pria yang ia cintai sedang menyusun piring dan gelas dengan rapi. Dika tampak segar dan rapi, namun di bawah matanya terlihat sedikit kantung mata yang samar — tanda bahwa pria itu sebenarnya juga tak banyak tidur semalam. Namun Dika tersenyum begitu cerah dan hangat begitu melihat Raina muncul di ambang pintu ruang makan.
"Sudah bangun, Sayang?" sapa Dika lembut sambil segera menghampiri istrinya. Ia merangkul bahu Raina, membimbingnya duduk di kursi yang empuk. "Silakan makan dulu ya. Masih hangat. Kalau ada yang kurang enak atau kurang pas, bilang saja padaku."
Raina menatap meja makan yang penuh dengan masakan kesukaannya, lalu menatap wajah suaminya yang tampan dan penuh perhatian. Hatinya terasa begitu hangat dan penuh rasa syukur yang meluap-luap. Di tengah segala kesibukan dan kelelahan yang tak pernah usai, Dika tetap menyempatkan waktu, tenaga, dan perhatiannya hanya untuk memastikan bahwa Raina tetap merasa dicintai, dihargai, dan dimanja. Pria itu tidak pernah sekalipun membiarkan Raina merasa tersisih atau terlupakan hanya karena kehadiran anak mereka. Justru sebaliknya, kasih sayang Dika kepada Raina semakin terasa nyata dan semakin mendalam setiap harinya.
Saat Raina mulai menyantap sarapannya, Dika berdiri tak jauh dari sana sambil menatap istrinya dengan senyum lembut yang tak pernah lepas dari wajahnya. Tangannya sesekali terulur untuk menyeka sedikit sisa makanan di sudut bibir Raina dengan tisu yang lembut, lalu menatapnya dengan tatapan penuh cinta yang tak pernah berubah sedikit pun.
"Makanlah yang banyak, Sayang..." ucap Dika pelan sambil mengusap rambut Raina dengan penuh kasih sayang. "Kau butuh tenaga. Dan ingatlah... betapa sibuk pun kita nanti, betapa besar pun tanggung jawab kita sebagai orang tua... kau akan selalu menjadi wanita terpenting dalam hidupku. Cintaku kepadamu tidak akan pernah berubah. Tidak akan pernah."
Raina menatap mata Dika yang menatapnya begitu tulus dan dalam. Di sana, di dalam sepasang mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta itu, Raina menyadari satu kebenaran yang begitu indah dan menenangkan hatinya. Waktu boleh berlalu, rupa boleh berubah, dan keadaan boleh berubah seiring berjalannya waktu. Namun satu hal yang tak akan pernah berubah di dunia ini... adalah cinta Dika kepadanya. Cinta yang tulus, cinta yang setia, dan cinta yang abadi — cinta yang tidak akan pernah pudar meski diguncang apa pun.
Dan di tengah pagi yang hangat itu, di ruang makan yang sederhana namun penuh kebahagiaan itu, Raina tersenyum bahagia sambil menggenggam erat tangan suaminya. Ia tahu, selama ada cinta yang tidak pernah berubah di antara mereka, tak ada satu pun badai di dunia ini yang mampu menggoyahkan kebahagiaan rumah tangga mereka. Karena cinta yang tulus, setia, dan abadi... adalah benteng terkuat yang akan melindungi mereka berdua selamanya.