Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Aku Bahagia?

.

.

Setelah beberapa waktu mengemudi tanpa tujuan yang jelas, akhirnya Raya memutuskan berhenti di sebuah tempat yang cukup ramai.

Dari balik kaca mobil, tampak suasana di depannya begitu ramai. Berbagai wahana permainan berdiri dengan lampu-lampu yang berwarna-warni, sementara beberapa gerai makanan berjajar di sepanjang area tersebut.

Ia akhirnya turun dari mobil dan berdiri sejenak di samping kendaraan.

‘Bahkan aku nggak tahu kenapa aku di sini. Padahal niatnya ingin cari makan.’

Raya mengusap wajahnya pelan.

“Mamah!”

Raya spontan menoleh saat suara cempreng yang sangat familiar di telinganya terdengar dari belakangnya.

“Syila.”

Raya tersenyum. Ia segera berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.

Syila langsung menghampirinya dan memeluk lehernya erat.

“Mamah ada di sini juga?”

“Iya, sayang.”

Raya mengusap rambut Syila. ‘Apa karena ini?’

“Syila, jangan jauh-jauh. Bagaimana kalau kamu diculik?”

Raya segera mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.

Kansa, tampak tengah berlari mendekat dengan napasnya yang tersengal.

Raya perlahan berdiri.

“Pak—”

“Kamu di sini juga, Ray?”

Raya mengangguk. “Iya, Pak. Cuma lewat, tetapi sekalian mampir deh.”

Kansa mengangguk kecil.

“Mamah, ayo kita ke sana! Kalau ajak Papah, nggak seru.”

Raya mengikuti arah tangan Syila yang menunjuk salah satu wahana permainan.

Raya tersenyum tipis. “Ayo.”

Syila langsung menarik tangannya dan mengajaknya berjalan.

Raya mengikuti langkah kecil itu di tengah keramaian.

. . .

Kini langkah mereka berhenti di depan sebuah gerai permainan.

“Mamah, dapatin boneka beruangnya untukku.”

Raya menoleh menatap Syila yang kini menatapnya dengan tatapan memohon. Raya kemudian mengangguk.

“Bang kami ikutan,” ucap Raya.

Hingga sebuah keranjang berisikan tiga boleh disodorkan kepadanya.

Raya menatap tiga bola itu. ‘Tiga kali kesempatan.’

“Oke Syila. Mamah coba, ya.”

Ia kembali menghadap permainan di depannya. Raya mengatur posisi tubuh, kemudian memperkirakan arah lemparan agar bola dapat masuk tepat ke dalam keranjang.

Namun, sebelum ia sempat melempar, sebuah tangan menyentuh tangannya.

“Jangan terlalu kaku.”

Raya spontan menoleh.

Kansa sudah berada di sampingnya. Tetapi tatapan pria itu masih menatap lurus ke depan seakan tak peduli keadaan sekitar.

“Jangan lihat saya. Fokus ke depan,” ujar Kansa. “Sipitkan, lalu lempar.”

Raya kembali menghadap sasaran.

“Begini?”

“Ya. Sekarang lempar.”

Raya menggerakkan tangannya ke depan.

Bola pun melesat.

Namun, bukannya masuk ke dalam keranjang, bola itu justru memantul dan jatuh ke bawah.

Raya menghela napas. “Gagal.”

“Mamah!” Syila langsung menyemangatinya. “Ayo lagi. Masih ada tiga bola.”

“Tadi kamu terlalu kaku, Raya. Sekarang ikuti arahan saya. Sejajarkan di dekat dada,” ujar Kansa. “Tahan napas sebentar, lalu... lempar.”

Raya mengikuti instruksinya.

“Sekarang.”

Bola kembali terlempar.

Kali ini, bola tersebut berhasil masuk ke dalam keranjang.

“Masuk!” seru Syila.

Raya ikut tersenyum. “Benar-benar masuk.”

Ia kemudian menoleh kepada Kansa.

“Pak, banyak orang. Saya sebenarnya bisa melakukannya sendiri.”

“Silakan,” jawab Kansa singkat.

Raya mengangguk. Ia mengambil bola kedua dan berdiri di depan permainan.

‘Kali ini harus bisa sendiri. Jangan bikin malu aku. Bismillah.’

Raya mengatur posisi kakinya, menarik napas, lalu mengarahkan pandangan ke sasaran.

“Masuk...” gumamnya. “Masuk...”

Tangannya bergerak ke depan. “Yah, masuk!”

Raya spontan berbalik, lalu melompat kecil dan tanpa sadar memeluk Kansa.

“Saya berhasil, Pak!”

“Raya, apa kamu ingin menggoda saya.”

Suara Kansa membuatnya menghentikan kegembiraannya, lalu ia pria itu yang kini menatap ke arahnya.

Pandangan Raya lalu turun ke bawah, dan mendapati dadanya menempel pada dada pria itu.

Ia segera melepaskan pelukannya dan mundur selangkah.

“Maaf, Pak. Saya tadi terlalu senang.

“Alasan,” jawab Kansa singkat.

Mata Raya membulat. “Bukan alasan!”

Belum sempat ia menjelaskan lebih jauh, suara Syila kembali terdengar.

“Mamah, masih ada satu lagi bolanya yng belum terlempar.”

Raya tersadar, dan menoleh kepada Syila yang sedang menunjuk satu bola yang masih tersisa di keranjang.

“Sini, biar Papah yang lempar,” ucap Kansa sembari meraih bola terakhir.

Raya hanya memperhatikan pria itu yang tampak serius. Hingga boleh yang ada di genggaman pria itu pun akhirnya melesat.

Masuk.

“Papah hebat,” puji Syila.

“Siapa dulu dong, Papah,” ucap Kansa yang terdengar membanggakan dirinya.

“Ini bolanya.”

Syila pun menerima boneka beruang incarannya. “Mamah, lihat bonekanya, lucu kan?”

Raya mengangguk. “Iya, lucu.”

“Ayo, Mah, kita main permainan lain!”

Raya langsung meraih tangan Syila. “Ayo.”

Ia menggandeng gadis kecil itu dan berjalan meninggalkan meja permainan.

‘Astaga... kenapa aku bisa sampai begitu tadi?’

.

.

Waktu pun berlalu. Sudah cukup lama mereka bersenang-senang menikmati permainan dan wahana. Mereka kini duduk di bangku untuk sekadar beristirahat.

“Mamah, Syila capek banget,” keluhnya sambil mengusap matanya.

“Raya...”

Raya menoleh. “Iya, Pak?” sahutnya.

Tatapan mereka kembali bertemu. Untuk beberapa detik, Raya segera memalingkan wajahnya..

“Kamu bahagia?” tanya Kansa.

Pertanyaan itu membuatnya terdiam sesaat. Tidak menyangka Kansa akan menanyakan hal seperti itu.

Dan dirinya tahu apa yang Kansa maksud.

“Tentu saja,” jawabnya pelan. “Kan ada Syila.”

“Bukan begitu—”

“Mamah.” potong syila. “Malam ini Mamah tidur di rumah, kan?”

Raya menoleh pada Syila.

“Maafkan Mamah, ya. Tapi Mamah janji akan tidur sama Syila.”

“Kapan?” Syila kembali bertanya.

Raya tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih kepada Kansa. Pria itu juga sedang menatap ke arahnya.

“Syila, sepertinya kita harus pulang. Sudah mau jam setengah sebelas.”

“Tapi, Pah—”

“Besok kita main lagi, oke?” potong Raya lembut sambil mengusap kepala Syila.

Syila terdiam sebentar. Matanya kembali berbinar.

“Besok?” tanyanya memastikan.

Raya mengangguk. “Iya. Besok.”

Syila akhirnya mengangguk senang.

Kansa pun akhirnya menggendong Syila.

“Tidur yang nyenyak, ya, Sayang.”

Syila mengangguk kecil. “Iya, Ma.”

Kansa kemudian menatap Raya. “Kamu juga pulanglah, Ray.”

Raya mengangguk pelan. “Iya, Pak. Tapi saya mau di sini dulu.”

“Jangan terlalu malam,” ujar Kansa. “Bahaya.”

Raya mengangguk. “Iya, Pak.”

Kansa kemudian berbalik dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu sambil menggendong Syila.

Raya tetap berdiri di tempatnya.

Matanya mengikuti langkah Kansa hingga punggung pria itu perlahan menjauh dan akhirnya hilang di antara keramaian.

Setelah itu, Raya kembali menatap lurus ke depan.

Ia mengembuskan napas panjang.

‘Sebentar lagi saja. Aku hanya ingin menikmati ketenangan ini sebelum kembali pulang.’

.

.

Waktu terus berjalan tanpa terasa. Setelah menghabiskan waktu di luar bersama Syila dan Kansa, Raya akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah.

Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul setengah dua belas lebih ketika mobil yang dikendarainya memasuki pelataran kediamannya.

Raya mematikan mesin mobil, lalu Raya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia turun dari mobil dan menutup pintunya perlahan. Dengan langkah yang berat, Raya berjalan menuju pintu utama.

. . .

Begitu memasuki rumah, langkahnya mendadak terhenti.

Zevan terlihat duduk di ruang tengah.

Raya menatap pria itu sekilas, lalu memilih mengabaikannya. Ia tidak ingin kembali terlibat dalam percakapan yang hanya akan menguras emosinya.

Namun, baru beberapa langkah, suara Zevan terdengar dari belakang.

“Kenapa kamu baru pulang, Raya?”

Raya berhenti, tetapi tidak langsung berbalik.

“Cari makan,” jawabnya singkat.

Terdengar helaan napas sebelum Zevan kembali membuka suara.

“Rara sudah masakin kamu nasi goreng, tapi kamu malah menolak dan memilih makan di luar.”

Raya akhirnya menoleh. Tatapannya tertuju pada Zevan yang kini sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Aku nggak nyuruh.”

“Tapi harus kamu hargai,” balas Zevan.

Raya mengangkat alis. “Contohnya?” tanyanya.

Beberapa detik dalam hening. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu.

‘Aku muak jika berhadapan dengan pola yang sama.’

Raya tersenyum tipis tanpa sedikit pun rasa bahagia.

“Bahkan kamu saja nggak bisa kasih contoh,” ucapnya pelan. “Apalagi menghargai aku sebagai istri. Kamu malah mengajariku tentang menghargai. Sama seperti Ibu kamu yang nggak pernah menghargai ku.”

Zevan mengusap wajahnya, kemudian kembali menatap Raya.

“Ya, Mas kalah berdebat sama kamu. Sekarang, kenapa kamu nggak mau bantu Rara?”

Raya mengerutkan kening. ‘Dan ujung-ujungnya membalas Rara.’

“Meski kamu nggak bisa kasih uang, cobalah kasih solusi kepada Rara. Apalagi dia mau kerja.”

Raya terdiam sejenak.

“Bagus kalau Rara mau kerja,” jawabnya kemudian. “Biar nggak jadi beban.”

Zevan langsung menatapnya tajam.

“Raya, kenapa kamu seegois ini?”

Raya tertawa getir. Ia bahkan sampai menunjuk dirinya sendiri.

“Aku? Aku egois?” Raya menggeleng pelan.

“Kamu berkaca, Mas. Siapa yang sebenarnya egois di sini?”

Tanpa menunggu jawaban, Raya melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan ruang tamu.

.

Sementara itu, Zevan masih berdiri di ruang tengah. Ia memandangi tangga yang baru saja dilewati istrinya sebelum akhirnya mengembuskan napas berat.

“Mau sampai kapan begini terus?” gumamnya lirih.

1
Tining Revi
makin seru thor.💪💪💪 lanjut
sunaryati jarum
Semoga Syla dapat pertolongan dan mukjizat maka sembuh.Rumah Raya langsung laku dan rencana mengusir suami,adik,ibu,dan ibu mertua berhasil dan lancar
sunaryati jarum
Emak sabar menunggu rumah Raya laku
Adinda
lanjut thor
Adinda
benalu banget punya suami dan keluarga seperti ini lebih baik tendang raya
Adinda
lebih baik cerai udah penghianat mokondo pula🤣🤣🤣
ary daramita
lanjut thor
Tining Revi
ceritanya bagus. makin seru.
ary daramita
good job. tinggal jual aja tu rumah biar nanti mereka jadi gembel
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Memang benalu raksasa bukan hanya lintah,kenapa tersinggung
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 mampus kalian, Zevan nanti setelah di cerai Raya langsung kalang kabut cara menutupi kebutuhan rumah tangga, karena gajinya ,dipotong pinjaman dan angsuran mobil.Diusir dari rumah Raya.Komplit , tahunya Rara hanya minta
lelih aliah
Maaf Aotor,dalam ajaran agama Islam ,adik kakak kandung tidak diperbolehkan untuk dinikahi ,kecuali kalau sudah bercerai
sunaryati jarum
Astaghfirullah suami,adik, mertua dan ibu dagjal.Setelah itu proses pasal pencurian dan perzinahan Raya.
sunaryati jarum
Segera usir mereka.Raya .emak saja enak akan kelakuan mereka.Emak cicin yang dicuri mertuamu harus dilaporkan ke pihak hukum,biar tahu rasa.
sunaryati jarum
Nah gitu Raya,pasti dengan adanya bukti dan kuasa Pak Kansa proses cerai lancar dan semua hak milikmu kembali.Biarkan adikmu yang tidak tahu terimakasih ,suami ,ibumu dan mertuaku gigit jari.Atas pencurian cincin agar diproses sesuai hukum pasal pencurian
Iffanaya 😽
pengen rasanya maki² si Rara, adek gk ada akhlak gk tau diri 👊
Iffanaya 😽
buang aja semua parasit yg ada di rumah mu itu raya 🤪
sunaryati jarum
Disakiti begitu dalam kok melunak,melunak otakmu yang dangkal itu Zevan .Dapat surat cerai dan diusir baru tahu rasa
sunaryati jarum
Untuk tujuh bulanan sampai nyuri warisan,anakmu cacat baru tahu rasa,trus rahim diangkat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!