Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan dengan bos mafia

Sesampainya di Kafe XX1 yang pencahayaannya terasa lebih redup dan mewah itu, mataku langsung menangkap sosok yang kucari. Dia sudah duduk di sudut ruangan yang paling sepi, dengan tangan terlipat di atas meja. Anehnya, kali ini dia sendirian. Tak terlihat keempat bodyguard yang biasanya selalu mengelilinginya. Hanya ada dia dan kesunyian yang mengintimidasi.

Aku menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, lalu melangkah mendekat. "Selamat malam. Saya sudah datang. Ada apa sebenarnya yang ingin Anda bicarakan?" tanyaku dengan hati-hati.

Dia menoleh perlahan, menatapku tajam, lalu menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah dulu."

Aku duduk dengan hati-hati. Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, dia kembali bersuara dengan nada datar. "Kau tahu kan, jas yang tadi itu mahal."

"Iya, saya tahu. Saya akan menggantinya, berapa pun harganya," jawabku tegas, berusaha terlihat tenang meski jantung berpacu.

Namun dia menggeleng pelan. "Aku tidak ingin diganti dengan uang."

"Terus dengan apa?" tanyaku kaget, alisku berkerut bingung.

"Kau bisa menyalin dan memindahkan data dengan aman?" tanyanya beralih topik secara tiba-tiba.

"Bisa. Kenapa memangnya?"

Dia mengeluarkan sebuah benda kecil berkilau dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja. "Aku ingin kau memindahkan data di dalamnya agar tersimpan dengan aman."

"Harus dipindahkan ke mana?" tanyaku kembali bertanya.

"Terserah kau saja, yang penting aman dan tidak bisa dilacak orang lain," ucapnya singkat. "Jika kau berhasil, masalah soal jas itu akan aku anggap lunas. Tapi jika kau gagal..." dia berhenti sejenak, menatapku tajam. "...kau harus mengganti ruginya sebesar satu miliar rupiah."

"Miliar?!" seruku tak percaya, mataku terbelalak lebar kaget mendengar angka yang tak masuk akal itu.

Tanpa menunggu jawaban atau penjelasan lebih lanjut, pria misterius itu langsung berdiri dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkanku sendirian di meja itu dengan perasaan bingung, takut, dan penuh tanda tanya.

Aku hanya bisa terdiam menatap punggungnya yang menjauh hingga menghilang di balik pintu keluar. Tanganku meraih benda kecil itu, memasukkannya ke dalam tas dengan perasaan bimbang. Karena tak mungkin duduk lama di kafe mewah ini tanpa memesan apa pun, aku pun memanggil pelayan untuk sekadar memesan segelas minuman.

Namun belum sempat pesananku disampaikan, pelayan itu sudah datang mendorong troli penuh dengan hidangan. "Permisi, Nona. Ini hidangannya, selamat menikmati."

Aku tertegun, lalu segera menahannya. "Maaf, Mas. Saya belum memesan apa pun. Sepertinya Bapak salah meja."

Pelayan itu tersenyum sopan sambil menggeleng. "Tidak salah, Mbak. Ini benar meja ini tujuannya. Tadi sudah dipesan oleh Bapak yang tadi duduk di sini. Beliau berpesan agar ini disajikan untuk Mbak."

"Hah? Pria berbaju jas hitam itu?" tanyaku tak percaya.

"Benar, Mbak. Saya permisi dulu ya." Pelayan itu pun berlalu.

Aku mengerjap tak percaya. Pria yang sedingin itu ternyata memberikan perhatian seperti ini? Hal itu sungguh tak masuk akal bagiku. Mataku menatap deretan makanan yang terlihat sangat mahal itu. Itu adalah hidangan yang tak pernah lagi kulihat atau kucicipi selama lima tahun belakangan ini—sejak saat Ayah dipecat dan kehidupan kami berubah drastis. Dulu, saat kami masih berkecukupan, menu seperti lobster, steak empuk, dan udang segar besar adalah hal biasa di meja makan kami. Kini melihatnya kembali terasa begitu asing dan mengingatkan pada masa lalu yang jauh.

Aku tak mungkin menghabiskan semuanya sendirian. Akhirnya aku hanya menyantap sedikit spageti dan meminum segelas kopi yang ada. Sisanya, aku meminta pada pelayan untuk dibungkus rapi. Nanti ini bisa kubawa pulang dan dimakan bersama Ibu.

Tak lama kemudian, aku pun melangkah pulang dengan pikiran yang masih kosong dan penuh pertanyaan. Sesampainya di rumah, Ibu langsung menyambutku dan matanya terbelalak melihat bungkusan makanan yang banyak itu.

"Angela, ini dari mana? Banyak sekali dan terlihat sangat mahal harganya, persis seperti makanan yang biasa kita makan dulu," tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

Aku menelan ludah, kembali harus menyusun kebohongan demi ketenangan hati Ibu. "Oh, ini tadi dari Ibunya Vina, Bu. Dia punya lebih dan memberikannya padaku."

Ibu masih tampak ragu. "Masa sih? Banyak sekali untuk diberikan begitu saja padamu?"

"Iya benar, Bu. Dia memang sangat baik padaku," jawabku sambil tersenyum kaku, berharap kebohongan ini tak akan membawa masalah lebih lanjut.

Ibu mengangguk pelan sambil tersenyum lega. "Ya sudah, taruh saja di kulkas dulu. Kita makan besok pagi saja, sekarang sudah terlalu malam. Lebih baik kita istirahat."

Aku menuruti perkataan Ibu, menyusun bungkusan makanan itu dengan rapi di dalam kulkas kecil kami. Setelah memastikan semuanya aman, aku membersihkan diri dan bersiap beristirahat. Namun, benda kecil yang tersimpan rapi di dalam tasku terus terasa seolah membakar kantong hati dan pikiranku. Besok, aku harus memikirkan cara untuk melaksanakan tugas yang mustahil itu.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dari biasanya. Aku bergerak pelan menuju dapur untuk menghangatkan makanan yang kami simpan semalam. Belum sempat kompor menyala, suara Ibu terdengar dari arah belakang.

"Eh, sudah bangun ya?" sapa Ibu lembut.

Aku menoleh sambil tersenyum. "Iya sudah, Bu."

Kami pun menyantap sarapan itu bersama. Makanan mewah itu terasa nikmat sekali, namun tak sebanding dengan kehangatan saat kami bisa makan dengan tenang dan sehat. Setelah selesai, aku berangkat kerja seperti biasa, namun pikiranku entah mengapa tak bisa fokus sepenuhnya.

Saat sedang merapikan meja, Vina menghampiriku dengan wajah khawatir. "Eh, Angel... Kemarin gimana kejadiannya di sana sama orang itu?"

Aku hanya menggeleng pelan, berusaha terlihat tenang. "Tidak ada apa-apa kok, Vin. Cuma disuruh minta maaf saja."

"Beneran kamu nggak bohong, El?" tanyanya masih tak yakin.

"Iya, bener kok," jawabku mantap.

"Syukurlah kalau begitu. Untung kamu nggak diapa-apain," ucap Vina lega.

Aku hanya tersenyum tipis. Kami pun bekerja seharian hingga matahari mulai terbenam dan jam pulang tiba. Tanpa menunda, aku langsung bergegas pulang. Aku belum mandi, karena ingin segera menyelesaikan tugas itu dengan hati-hati dan teliti. Aku tak boleh sedikit pun salah, takut nyawaku atau apa yang dimiliki Ibu terancam.

Setelah memastikan data itu aman tersalin, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku mandi sejenak dan memakai pakaian seadanya yang sopan, hanya untuk menepati janji.

"Bu, Angela mau beli sesuatu sebentar ya," pamitku.

"Beli apa, Nak?" tanya Ibu dari ruang tengah.

"Mau beli lipstik sebentar saja, Bu. Nggak lama kok," jawabku beralih.

"Ya sudah, Nak. Hati-hati ya," pesan Ibu lembut.

Aku langsung berangkat menuju Kafe XX1. Saat tiba, sosok itu belum terlihat. Aku pun duduk di kursi teras luar sambil menunggu. Tak lama kemudian, dia datang berjalan dengan tenang mengenakan kemeja hitam dan celana panjang hitam. Salah satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dia langsung duduk di hadapanku, menatapku tajam tanpa senyum sedikit pun.

"Mana?" tanyanya singkat.

"Ini," jawabku sambil menyodorkan benda itu.

Dia langsung mengeluarkan komputer kecil dari tasnya dan mengeceknya dengan sangat teliti, tak berkedip sedikit pun. Setelah puas memastikan semuanya aman, dia mengangguk pelan.

"Oke, lunas," ucapnya singkat. "Kau pesan saja makanan."

Dia menyodorkan segenggam uang kertas ke arahku, lalu langsung berjalan pergi tanpa menunggu jawaban atau mengucap kata lagi.

"Eh... ini terlalu banyak, Pak!" seruku tak percaya melihat jumlahnya.

Namun dia tetap melangkah pergi seolah tak mendengar panggilanku. Kali ini aku tak mau berlama-lama di sana. Aku langsung berbalik dan pulang tanpa memesan satu pun minuman di kafe itu.

Sepanjang jalan pulang, rasanya seperti beban seberat gunung baru saja terangkat dari pundakku. "Astaga... lega sekali. Untung semuanya berjalan lancar," bisikku pada diri sendiri. Mataku berkaca-kaca, campuran antara rasa takut yang baru berlalu dan rasa syukur yang mendalam.

"Uang ini... biar aku tabung saja untuk kebutuhan mendadak kami," putusku dalam hati.

Sesampainya di rumah, Ibu sudah terlelap dengan tenang. Aku masuk ke kamarku, berbaring di tempat tidur dengan pikiran yang kini kosong namun terasa sangat asing. Ada sesuatu yang berubah, meski aku belum tahu persis apa itu.

Aku menarik selimut hingga sebatas bahu, lalu memejamkan mata perlahan. Untuk pertama kalinya sejak kejadian tumpahnya kopi itu, hatiku terasa benar-benar tenang dan lega. Tak ada lagi rasa takut terbayang-bayang, tak ada lagi beban pikiran yang menyesakkan dada. Napasku teratur kembali, dan perlahan aku pun terhanyut dalam tidur yang nyenyak tanpa mimpi buruk lagi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!