Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Tanpa Jejak dan Sumpah Darah
Udara di dalam kamar tidurku terasa sedingin balok es, berbanding terbalik dengan kekacauan yang sedang membakar seluruh isi kepalaku. Tanganku bergetar tak terkendali saat memasukkan beberapa helai pakaian, dokumen-dokumen penting keluarga, dan tabungan seadanya ke dalam dua buah tas ransel besar berwana hitam.
Ancaman dari nomor asing itu bukan sekadar gertakan. Kalau orang suruhan Tuan Wijaya, ayah kandung Varro, benar-benar turun tangan, nyawa Mama, Glenn, dan Gwen tak akan bernilai sedikit pun di mata mereka. Pria kejam yang tega merenggut nyawa Papaku dan merampas seluruh aset keluargaku sepuluh tahun lalu itu tidak akan segan-segan mengulang kekejamannya malam ini.
Aku harus membawa keluargaku pergi, sejauh mungkin dari jangkauan keluarga Wijaya maupun geng Viper.
Aku melangkah cepat keluar dari kamar, menuju kamar Mama. Dengan tangan gemetar, aku mengguncang bahu Mama perlahan.
"Ma... Mama, bangun..." bisikku dengan suara tercekat.
Mama membuka matanya dengan susah payah, mengerjapkan mata menyesuaikan dengan cahaya lampu tidur. "Gisel? Ada apa, Nak? Ini jam berapa... kenapa kamu nangis?"
"Ma, dengerin Gisel," ucapku cepat, menyeka air mataku dengan punggung tangan. "Kita harus pergi dari rumah ini sekarang juga. Malam ini juga."
Mata Mama seketika membelalak lebar, kantuknya menguap tanpa sisa. "Pergi ke mana?! Tengah malam begini?! Apa yang terjadi, Gisel?!"
"Orang jahat yang semalam nyerang Gisel di kafe... mereka tahu alamat rumah kita, Ma," jelasku dengan napas tersengal, terpaksa berbohong separuh kebenaran agar Mama tidak syok jika mengetahui fakta tentang pembunuh Papa yang sebenarnya. "Gisel baru aja dapat ancaman. Mereka mau nyelakain Glenn sama Gwen. Kita harus ke terminal bus sekarang dan pergi ke rumah Bude di kampung halaman."
Raut wajah Mama berubah pucat pasi. Tanpa bertanya lebih panjang lagi, insting keibuannya mengambil alih. Mama langsung bangkit, bergegas membangunkan si kembar yang masih tertidur pulas dan memakaikan mereka jaket tebal.
Sementara Mama mengemasi barang-barang si kembar, aku kembali ke kamarku untuk merapikan sisa barang.
Langkahku terhenti tepat di depan meja belajar. Di sana, tergeletak ponsel pintar mahal pemberian Varro semalam, dan kotak beludru merah berisi kalung berlian indah yang belum pernah ku pakai secara terbuka.
Dadaku serasa diremas kuat-kuat hingga hancur berkeping-keping. Bayangan wajah pucat Varro di atas ranjang rumah sakit, genggaman tangannya yang hangat, dan janji manisnya untuk tidak pernah meninggalkanku... semuanya berputar bagai kaset rusak yang menyayat hati.
Maafin gue, Varro... Gue bener-bener sayang sama lo. Tapi gue gak bisa mempertaruhkan nyawa keluarga gue buat pria yang darah ayahnya mengalir di dalam tubuh lo.
Aku mengambil secarik kertas sticky notes berwarna hijau, lalu menuliskan beberapa baris kalimat dengan tangan yang tremor dan air mata yang terus menetes menodai kertasnya.
Varro,
Makasih udah pernah jadi pahlawan paling hebat di hidup gue. Tapi dunia kita terlalu beda, dan masa lalu keluarga kita terlalu gelap buat disatukan. Tolong jangan cari gue. Anggap kita gak pernah saling kenal. Selamat tinggal.
- Gisel.
Aku menempelkan kertas itu tepat di atas ponsel pelacak pemberiannya. Aku mematikan ponsel tersebut, melepaskan kartu SIM-nya, lalu meletakkannya berdampingan dengan kalung berlian itu. Semua barang mahal dari Varro kutinggalkan di sana. Aku tidak membawa satu pun benda yang bisa menjadi pelacak posisiku.
"Gisel, Mama sama adik-adik udah siap," bisik Mama dari ambang pintu, menggendong Glenn yang masih mengantuk, sementara Gwen memegang erat ujung baju Mama.
Aku mengangguk tegas, mengusap air mataku hingga kering. "Kita keluar lewat pintu dapur, Ma. Jangan sampai ketahuan orang-orang yang berjaga di pos ronda depan gang."
Di bawah guyuran hujan gerimis dan pekatnya malam, aku menuntun keluargaku menyelinap keluar lewat pintu belakang rumah, menelusuri jalanan gang tikus yang sempit dan becek, menjauh dari kehidupan yang selama ini kukenal... dan menjauh dari pria yang paling kucintai.
Di waktu yang sama, di ruang perawatan VIP Rumah Sakit Medika.
SREEEEK!
"Al! Lo gila, ya?! Lo baru aja dioperasi beberapa jam yang lalu!"
Teriakan panik Marcel menggema ke seluruh penjuru ruangan saat Varro mencabut paksa jarum infus yang menancap di punggung tangan kanannya. Darah segar seketika menetes jatuh menodai sprei putih rumah sakit. Alat pemantau detak jantung berbunyi berisik akibat pergerakan mendadak pasiennya.
Varro tidak memedulikan rasa sakit yang merobek lambungnya. Wajahnya pucat pasi bagai mayat hidup, namun sorot matanya berkilat liar dipenuhi kepanikan dan keputusasaan yang teramat dahsyat.
"Minggir, Cel! Kasih gue jalan!" bentak Varro dengan suara serak, mendorong tubuh Marcel dengan sisa tenaganya seraya berusaha turun dari ranjang. Kakinya gemetar hebat saat menyentuh lantai dingin rumah sakit.
"Lo bisa mati kehabisan darah, Al!" sahut Brandon yang baru saja mengunci pintu kamar agar para perawat tidak menerobos masuk. "Gisel udah tahu semuanya! Dia butuh waktu buat menenangkan diri!"
"Gue gak bisa biarin dia sendirian!" raung Varro, mencengkeram kerah jas Brandon dengan kuat. Napasnya memburu cepat, matanya memerah menahan tangis. "Lo gak paham, Bran! Kalau bokap gue udah tahu Gisel itu anak dari Herman Setiawan... bokap gue bakal habisin keluarga Gisel malam ini juga!"
Brandon dan Marcel seketika terpaku kaku mendengarnya.
"Maksud lo... Tuan Wijaya tahu soal hubungan kalian?!" tanya Marcel dengan wajah syok.
"Tadi pagi asisten bokap gue nanya soal laporan keuangan Starlit yang gue pakai buat memborong barang di PRJ," jelas Varro dengan napas tersengal menahan nyeri di perut. "Bokap gue punya puluhan mata-mata. Kalau dia tahu gue jatuh cinta sama anak dari musuh masa lalunya... dia gak bakal biarin Gisel hidup! Gue harus ke sana sekarang!"
Varro meraih kemeja flanel milik Marcel yang tersampir di sofa, mengenakannya dengan tergesa-gesa untuk menutupi perban perutnya yang mulai merembeskan noda darah. "Bran, kunci mobil! Setirin mobil gue sekarang!"
Melihat kegigihan dan rasa takut yang begitu absolut di mata sang ketua, Brandon tidak membuang waktu lagi. Pria berkacamata itu memapah tubuh Varro yang tertatih-tatih, menyelinap keluar dari rumah sakit menuju area parkir basement diikuti oleh Marcel.
VRROOOM!
Mobil BMW M8 Coupe hitam itu membelah jalanan malam Jakarta bagaikan peluru yang dilesatkan dari moncong pistol. Varro duduk di kursi penumpang depan, memegangi perutnya sambil terus mencoba menghubungi nomor Gisel berulang kali.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif..."
"Angkat, Gisel... tolong angkat!"
Varro putus asa, melemparkan ponselnya ke atas dashboard.
Lima belas menit kemudian, mobil sport itu berhenti dengan rem mendadak di depan gang rumah Gisel. Beberapa anak buah Starlit yang sedang berjaga di pos ronda terkejut melihat kehadiran ketua mereka yang seharusnya berada di ranjang rumah sakit.
Varro membuka pintu mobil, berlari terseok-seok menembus gerimis menuju pagar rumah Gisel tanpa memedulikan Brandon dan Marcel yang meneriakinya dari belakang.
"Bos! Kami jaga ketat di depan gang, gak ada hal mencurigakan sejak tadi!" lapor salah satu anggota Starlit.
Varro tidak menghiraukan laporan itu. Pria tersebut mendorong pintu pagar besi yang ternyata tidak dikunci, lalu menggedor pintu depan rumah kayu itu sekeras mungkin.
"Gisel! Gisel, buka pintunya! Ini gue!" teriak Varro histeris.
Tidak ada jawaban. Rumah itu gelap gulita dan hening seperti kuburan.
Firasat buruk menghantam Varro bagai badai. Dengan satu hantaman tendangan kuat menggunakan bahunya, Varro mendobrak pintu kayu itu hingga engselnya jebol berantakan.
"Gisel!!"
Varro menyerbu masuk ke dalam. Ia menyalakan sakelar lampu ruang tamu. Kosong. Ia berlari tertatih menuju kamar utama. Kosong. Lemari pakaian tampak berantakan dan setengah isinya telah hilang.
Langkah kaki Varro semakin melambat dan berat saat ia melangkah masuk ke dalam kamar kecil milik Gisel.
Matanya langsung tertuju pada meja belajar. Di sana, tergeletak kaku ponsel hitam baru yang ia berikan, berdampingan dengan kotak beludru merah yang terbuka, memamerkan kalung berlian yang tak pernah dibawa pergi oleh pemiliknya.
Dengan tangan gemetar, Varro meraih secarik kertas sticky notes yang tertempel di layar ponsel tersebut.
Matanya membaca setiap bait kalimat perpisahan yang ditulis Gisel dengan noda air mata yang telah mengering.
Tolong jangan cari gue. Anggap kita gak pernah saling kenal. Selamat tinggal. -Gisel
Kertas itu terlepas dari genggaman Varro, melayang pelan jatuh ke lantai.
Seluruh kekuatan di kaki Varro lenyap seketika. Pria tinggi tegap itu luruh, jatuh berlutut di atas lantai kamar yang dingin. Tangan kanannya mencengkeram erat kalung berlian di dalam kotak itu hingga ujung runcing liontinnya menusuk kulit telapak tangannya sendiri, mengeluarkan rintik darah segar.
Namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya duniaku.
"AARRRGGGHHH!"
Raungan panjang yang teramat memilukan dan menyayat hati pecah dari mulut sang ketua Starlit, bergema memenuhi rumah kosong tersebut. Varro menundukkan kepalanya, membiarkan air mata keputusasaan tumpah membasahi lantai. Pria arogan yang tak pernah menangisi apa pun di dunia ini kini hancur lebur berkeping-keping karena kehilangan satu-satunya cahaya di dalam hidupnya.
Marcel dan Brandon yang baru saja menyusul masuk ke dalam kamar hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu. Mereka tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun melihat sang pemimpin patah hati sehancur itu.
Perlahan, Varro mengangkat kepalanya. Air mata masih menganak sungai di pipinya, namun binar mata cokelat gelapnya yang tadinya dipenuhi keputusasaan kini berubah menjadi tatapan iblis yang teramat kelam dan mematikan.
Ia meremas kalung berlian di tangannya yang berdarah, lalu menatap tajam ke arah dinding kosong.
"Gue bakal cari lo sampai ke ujung dunia, Gisella..." bisik Varro dengan suara bariton yang menusuk sumsum tulang. "Dan buat Tuan Wijaya... gue bersumpah demi nyawa gue sendiri, gue bakal ratakan seluruh perusahaan dan kerajaan bisnis yang dia bangun pakai darah keluarga lo!"
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda, perang yang sesungguhnya baru saja dideklarasikan. Bukan lagi perang antar geng motor di jalanan... melainkan perang darah antara seorang anak yang membuang nama keluarganya demi membalaskan dendam wanita yang ia cintai.
Bersambung……
Halo readers, makasih udah mampir ke novel ini. Tolong like, vote, komen, dan berikan hadiah kalau kalian suka sama ceritanya ya!