Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Malam semakin larut. Meja makan keluarga Narendra dipenuhi berbagai hidangan yang disiapkan khusus untuk menyambut Serina dan Farel. Suasana yang semula terasa canggung perlahan mencair, terutama karena tingkah polos Farel yang sesekali membuat Tuan Marcell tertawa.

Serina duduk di samping Farel. Sementara Jovan duduk di sebelah mereka. Sejak awal makan malam, Jovan hampir tidak menyentuh makanannya sendiri.

Perhatiannya justru tertuju kepada Farel.

"Farel, mau ayam?"

Anak kecil itu mengangguk. "Mau."

Jovan mengambil sepotong ayam, memisahkan bagian tulang dan kulitnya, lalu meletakkannya ke piring Farel.

"Pelan-pelan makannya."

Farel tersenyum. "Terima kasih, Om Jovan."

"Sama-sama."

Beberapa saat kemudian, Farel menunjuk sayuran di meja.

"Om, itu apa?"

"Sayur brokoli."

"Farel nggak suka."

Jovan mengangkat alisnya. "Kenapa?"

"Rasanya aneh."

Jovan terkekeh. "Kalau Farel makan tiga potong, Om kasih puding cokelat."

Mata Farel langsung berbinar. "Benar?"

"Benar."

Farel langsung mengambil brokoli. Serina yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil.

"Jangan terlalu sering membujuk dia dengan makanan manis."

Jovan menoleh. "Iya, Bunda."

Serina terdiam. Panggilan itu membuat pipinya sedikit memerah. Jovan juga terlihat salah tingkah.

Namun Farel justru tertawa kecil. "Kalian seperti Ayah sama Bunda."

Suasana mendadak hening selama beberapa detik.

Serina menatap Farel. Jovan pun terdiam.

Namun Tuan Marcell justru tersenyum. Ia memperhatikan putranya dari ujung meja. Ada sesuatu yang membuat hatinya hangat. Selama bertahun-tahun, Jovan selalu menjadi anak yang sulit diatur. Yakni keras kepala, mudah emosi, bertindak sesuka hati. Bahkan ketika masih remaja, Jovan sering membuat keluarga pusing dengan kenakalannya. Ia pernah membantah perintah ayahnya, pernah pergi tanpa kabar dan Pernah menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk balapan.

Dan ketika masuk dunia balap profesional pun, sifat keras kepalanya belum sepenuhnya hilang.

Namun malam ini...

Tuan Marcell melihat sesuatu yang berbeda. Putranya yang dulu bahkan malas memperhatikan orang lain kini dengan sabar memisahkan tulang ayam untuk seorang anak kecil. Putranya yang dulu tidak betah duduk lama di meja makan kini justru sibuk memastikan Farel makan dengan baik. Putranya yang dulu selalu merasa tidak membutuhkan siapa pun kini terlihat begitu menikmati keberadaan seorang perempuan dan anak kecil di sisinya. Tuan Marcell tersenyum karena

Jovan sudah berubah. Perubahan itu bukan karena paksaan. Bukan pula karena perintah keluarga. Melainkan karena kehadiran Serina dan Farel.

Mereka membuat Jovan menemukan sisi dirinya yang selama ini bahkan tidak ia sadari.

Tuan Marcell menundukkan pandangannya. Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap ke dalam hatinya. Ia tahu betul bahwa Jovan tidak mendapatkan perhatian yang cukup ketika kecil.

Bukan karena tidak dicintai. Namun karena kesibukan, keadaan keluarga, dan berbagai persoalan masa lalu membuat perhatian kepada Jovan tidak pernah sebesar yang seharusnya.

Darren tumbuh menjadi anak yang lebih tenang dan bertanggung jawab. Sementara Jovan mencari perhatian dengan caranya sendiri, yaitu Kenakalan, balapan, pemberontakan, dan sikapnya yang keras kepala.

Kini Tuan Marcell baru memahami satu hal. Mungkin selama ini Jovan bukan membutuhkan kemewahan.

Bukan membutuhkan nama besar keluarga Narendra. Ia hanya membutuhkan seseorang yang membuatnya merasa pulang. Dan malam ini, Tuan Marcell melihat sosok itu, yakni Serina dan Farel.

Ia pun semakin yakin. Jika Jovan menikahi Serina, putranya akan belajar menjadi pria yang lebih dewasa, seperti Darren.

Bedanya, Darren tumbuh dewasa karena tanggung jawab. Sedangkan Jovan...

akan tumbuh dewasa karena cinta dan keluarga yang ia pilih sendiri.

Tuan Marcell tersenyum. "Jovan."

Jovan menoleh.n"Iya, Dad?"

"Daddy senang melihatmu seperti ini."

Jovan mengernyit. "Seperti apa?"

Tuan Marcell melirik Farel. "Lebih dewasa."

Jovan tertawa kecil. "Daddy baru sadar?"

"Selama ini kamu tidak pernah memberi kesempatan kepada Daddy untuk melihat sisi itu."

Jovan terdiam.

Tuan Marcell kemudian berkata, "Dan soal Serina..."

Serina langsung menegakkan tubuhnya. Tuan Marcell tersenyum kepadanya. "Daddy tidak mempermasalahkan statusmu."

Serina tampak terkejut. "Status saya?"

"Iya." Tuan Marcell mengangguk. "Kamu seorang janda. Kamu memiliki seorang anak. Itu bukan sesuatu yang membuat Daddy memandangmu rendah."

Serina terdiam.

"Yang Daddy lihat adalah bagaimana kamu membesarkan Farel."

Tatapan Tuan Marcell beralih kepada cucu kecil yang sedang sibuk makan. "Dan Daddy melihat Jovan bahagia ketika bersama kalian." Ia menghela napas.

"Kalau itu yang membuat anak Daddy bahagia, Daddy tidak punya alasan untuk melarang."

Serina menundukkan kepalanya. "Terima kasih, Tuan."

"Jangan panggil Tuan."

Serina mendongak.

"Kalau nanti kamu menjadi istri Jovan, panggil Daddy saja."

Serina terdiam sedangkan Jovan tersenyum.

Setelah makan malam selesai, mereka berpindah ke ruang keluarga. Farel langsung duduk di karpet dan memainkan sebuah mobil-mobilan yang diberikan Tuan Marcell. Tuan Marcell memperhatikan cucu kecil itu beberapa saat sebelum akhirnya berkata,

"Jovan."

"Iya, Dad?"

"Daddy sudah mengambil keputusan."

Jovan menatap ayahnya. "Keputusan apa?"

"Mulai sekarang, kamu, Serina, dan Farel tinggal di mansion ini."

Serina langsung terkejut. "Apa?"

Jovan pun mengangkat alisnya. "Daddy serius?"

"Tentu." Tuan Marcell mengangguk.

"Mansion ini terlalu besar kalau hanya dihuni beberapa orang."

Serina segera menggeleng. "Tapi saya..."

"Kamu takut?"

Serina terdiam.

"Jujur saja."

Serina menarik napas. "Saya belum siap tinggal di sini."

Marcella yang sejak tadi duduk di sofa hanya diam.

Tatapan matanya sekilas tertuju kepada Serina.

Tuan Marcell berkata lembut, "Daddy mengerti."

"Tapi saya tidak ingin merepotkan keluarga."

"Kamu tidak merepotkan siapa pun."

Serina menunduk. "Saya hanya merasa... semuanya terlalu cepat."

Jovan menatapnya. Ia tidak langsung menyela.

Karena ia tahu, Serina memang membutuhkan waktu. Namun sebelum suasana menjadi semakin canggung...

"YES!"

Semua orang menoleh.

Farel berdiri sambil mengangkat kedua tangannya.

"Farel tinggal di sini!"

Jovan tertawa.

"Senang sekali?"

Farel berlari ke arah Jovan.

"Senang!"

"Apa yang membuat Farel senang?"

"Rumahnya besar!"

Farel menunjuk ke atas. "Farel mau kamar sendiri!"

Jovan mengusap kepala anak itu. "Baik."

Farel kemudian menunjuk ke arah halaman. "Ada kolam renang juga!"

Jovan tertawa. "Iya."

"Ada taman!"

"Iya."

"Berarti Om Jovan juga tinggal di sini?"

"Iya."

Farel langsung memeluk kakinya Jovan. "Berarti Doraemon nggak pergi!"

Jovan menatap Farel. Senyumnya melebar.

"Nggak pergi."

Serina hanya bisa menghela napas. Melihat kegembiraan anaknya membuat hatinya sulit menolak.

Tuan Marcell kembali berkata, "Serina, kamu tidak perlu menjawab malam ini."

Serina menatapnya.

"Kalau kamu membutuhkan waktu, ambillah."

Serina tersenyum kecil. "Terima kasih."

"Tapi kamar untuk kalian sudah disiapkan."

Serina terkejut. "Secepat itu?"

Tuan Marcell tertawa. "Daddy sudah tahu bagaimana keras kepalanya Jovan."

Jovan langsung protes. "Dad...!"

Semua orang tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ruang keluarga Narendra dipenuhi suasana hangat. Namun satu sosok tidak berada di sana, yaitu Darren.

Jovan baru menyadarinya ketika suasana mulai tenang. Ia melihat jam. "Eh, kak Darren belum pulang?"

Tuan Marcell menggeleng. "Belum."

"Padahal biasanya dia paling disiplin kalau soal makan malam keluarga."

Jovan mengambil ponselnya. " Aku mau telepon dulu." Ia menekan nomor Darren.

Tidak lama kemudian panggilan tersambung.

"Halo, kak."

Suara Darren terdengar dari seberang. "Kenapa, Jovan?"

"Lo di mana, kak?"

"Masih di kantor."

"Masih?"

"Iya."

Jovan mengerutkan keningnya. "Ini sudah malam."

Darren tertawa kecil. "Namanya juga polisi. Banyak kasus yang harus diselesaikan."

"Lo sengaja nggak pulang, ya?"

Darren terdiam sejenak.

Jovan kembali bertanya,

"Kenapa?"

"Bukan begitu." Darren menarik napas. "Memang ada beberapa kasus yang belum bisa aku tunda."

Jovan masih merasa ada yang aneh. "Tapi malam ini acara makan malam keluarga."

"Gue tahu."

"Jadi?"

"Maaf, Van." Suara Darren terdengar tenang. "Salam untuk Daddy."

Jovan melirik Tuan Marcell. "Terus?"

"Selamat untuk kalian."

Jovan terdiam.

Darren melanjutkan, "Jaga Serina dan Farel."

Jovan tersenyum. "Pasti, kak."

Panggilan pun berakhir. Jovan memasukkan ponselnya ke saku. Serina yang mendengar percakapan itu hanya diam. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Darren.

Sementara di kantor polisi...

Darren menatap layar ponselnya setelah panggilan berakhir. Ia menghela napas panjang. Di atas meja kerjanya terdapat foto lama yang terselip di antara beberapa berkas.Foto masa sekolah. Foto yang memperlihatkan dirinya bersama beberapa teman.

Dan di salah satu sudut foto itu... ada seorang gadis muda bernama Serina. Darren menyentuh foto tersebut sebentar. Kemudian ia memasukkannya kembali ke dalam laci.

"Bahagialah, Serina." Bisiknya.

Sementara itu, di Mansion Narendra, Farel sudah berlari mengelilingi ruang keluarga sambil membayangkan kamar barunya.

Dan untuk pertama kalinya...

rumah besar keluarga Narendra perlahan mulai terasa seperti rumah lebih dari sekadar sebuah keluarga lama.

Sebuah keluarga baru sedang tumbuh di dalamnya.

Namun tidak semua orang menyambut perubahan itu dengan hati yang sama.

Bersambung...

1
vania larasati
lanjut kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Semoga itu jodohnya Daren 👍
Nar Sih
jodoh mu sdh otw ya daren
Nar Sih
seperti nya ini awal kisah cinta daren
Sri Angga
semoga menjadi jodoh mu y pak polisi Daren
Lucy
ini jodohnya Daren🤣🤣biar dia GK trlalu memikirkan Serina lagi👍👍👍
Oma Gavin
jodoh Darren ini
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
ahir nya kbnr terungkap ,semoga gk ada mslh lgi yg sulit dlm rmh tangga jovan serina
Nar Sih
ahir nya ketangkap oleh ank sendiri🤣
Nadja 🎀
waah sebentar lagi terbongkar misteri knp ibunya jovan died? alasannya...
Lucy
mampus kau Marcella ketakutan juga kan,KLO Daren dah bertindak jgn kau berharap akan lolos ttp mendekam di jeruji besi😃😃😃
Lucy
Daren terus semngat bantu Jovan jgn sampai ibumu dan Jenifer berhasil menghancurkan Jovan 👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
main lo kalian kurang bersih say... 😏
Oma Gavin
ngga perlu berputar putar masalah marcella dan jovan segera aja dibongkar Darren kamu jgn ngulur" waktu keburu marcella kabor dia sudah feeling kamu yg selidiki otomatis dia akan cari aman sendiri tanpa peduli sama jenifer
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
tunggu bntr lgi kedok kejhtn mu terbongkar oleh putra mu sendiri ,marcela🤣🤣
Nar Sih
semagat dareen💪usut tuntas kasus adik mu walau tersangka nya mungkin ibu mu sendiri
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!