“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
“Aaaah! Paman! Paman Jhony, tolong!”
Jeritan histeris Lucia tenggelam dalam kekacauan yang tiba-tiba meledak.
Lucia berjongkok gemetar di sudut ruangan sembari meringkuk. Gadis malang itu menutup kedua telinganya rapat-rapat, memejamkan mata dengan air mata yang mengalir deras.
Lucia menangis sesenggukan, memanggil-manggil sosok paman pengkhianat yang baru saja menjualnya ke tempat menyeramkan ini.
Seorang pria berwajah tegas, beraura es dan dengan tatapan pembunuh melangkah mendekat.
Pria itu adalah Vincent, tangan kanan sekaligus eksekutor utama Alessandro Frederick.
Tanpa berkedip, Vincent mengangkat pistol di tangan kanannya, menarik pelatuk dan merobohkan tiga penjaga kelab bertato ular dalam hitungan detik.
“Selesaikan pembersihan ini dalam tiga menit. Jangan tinggalkan saksi bersenjata. Dua orang ikut aku mengamankan dokumen di brankas lantai dua,” perintah Vincent pada anak buahnya.
“Baik, Tuan Vincent!” seru anak buahnya serempak, langsung menyebar ke segala penjuru kelab.
Vincent baru saja hendak melangkah menuju tangga ketika pendengarannya yang tajam menangkap suara isak tangis.
Vincent menoleh seraya memicingkan mata. Di pojok dinding dekat meja bar yang hancur, ia mendapati seorang gadis.
Gadis itu meremas ujung bajunya sendiri, menangis dengan kepolosan yang rasanya tidak mungkin ada di sarang pela-curan dan perjudian seperti ini.
“Hei! Kau yang di sana, cepat lari keluar!” bentak Vincent.
Mendengar suara bariton yang menggema di dekatnya, Lucia mendongak takut-takut. Air matanya menetes berderai melewati pipinya.
“Paman... tolong aku...” bisik Lucia dengan suara gemetar.
Lucia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, menggosokkannya seolah sedang memohon perlindungan.
“Aku sangat takut, di sini banyak petir menyambar di dalam ruangan. Kenapa langitnya marah sekali di sini, Paman?”
Vincent menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi.
“Petir?”
Vincent menatap Lucia tak percaya. Gadis ini mengira suara baku tembak dari pistol semi-otomatis adalah suara petir?
“Bicara apa kau, Hah? Ini bukan suara petir, ini baku tembak. Tempat ini sedang diserang. Cepat pergi dan cari perlindungan sebelum kepalamu berlubang tertembus peluru!”
Vincent mengibaskan tangannya mengusir, berniat mengabaikan gadis aneh itu dan melanjutkan misinya yang tertunda.
Namun, baru saja Vincent berbalik, sebuah tangan kecil yang terasa sangat dingin tiba-tiba mencengkeram erat ujung jas mahalnya.
“Jangan tinggalkan aku, Paman. Tolong...”
Lucia merengek pasrah, menahan jas Vincent dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Matanya yang sewarna madu dan basah oleh air mata menatap Vincent penuh harapan.
“Paman yang membawaku ke sini tadi sudah pergi meninggalkanku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tempat ini seram sekali, Paman. Lampunya berwarna-warni membuat mataku sakit dan sama sekali tidak terang seperti lampu minyak di gubuk bibiku.”
Vincent menunduk, menatap cengkeraman tangan kotor gadis itu yang kini mengotori jas mahalnya.
Kerutan di dahi Vincent semakin dalam. Ia mencoba mencari kebohongan atau pengaruh obat di mata Lucia, namun ia tak menemukan apapun.
Lucia benar-benar tidak paham situasi mematikan macam apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.
“Lepaskan! Aku bukan pamanmu, aku tidak kenal siapa kau dan aku sedang bekerja,” tegur Vincent ketus, mencoba menarik jasnya.
“Aku mohon, Paman yang baik. Bawa aku bersamamu,” rengek Lucia lagi, tangisannya makin pecah mengiris hati.
Lucia bahkan berlutut di atas lantai yang penuh pecahan kaca, memeluk sebelah kaki Vincent erat-erat agar pria itu tidak pergi.
“Aku janji tidak akan merepotkan! Kalau Paman membawaku pergi, aku akan membalas budi. Aku bisa memasak air hangat, memerah susu sapi setiap pagi, membuat keju atau membersihkan rumah Paman dari debu. Tolong, jangan biarkan aku sendirian di sini...”
Mata Vincent sedikit membelalak. Memerah susu dan membuat keju?!
Pria nomor dua di klan mafia paling ditakuti di Italia itu ditawari jasa memerah sapi oleh seorang gadis di tengah-tengah hujan peluru.
Ini adalah hal paling gila yang pernah terjadi dalam karier berdarahnya.
“Tuan Vincent, pasukan musuh mengepung dari arah pintu belakang. Mereka membawa senjata berat. Kita harus bergerak menyelesaikannya sekarang,” seru salah satu anak buah Vincent yang berlindung di balik pilar dari kejauhan.
Dor! Sebuah peluru melintas tajam tepat di atas kepala mereka, menghantam vas bunga besar di dinding tepat di atas posisi Lucia hingga hancur berkeping-keping.
“Aaaaaa! Tolong!” Lucia menjerit kian keras dan spontan menyembunyikan wajahnya di balik kaki panjang Vincent, meringkuk ketakutan layaknya anak kucing yang terjebak badai.
Vincent menghembuskan napas kasar. Seharusnya ia tidak peduli. Hukum dunia bawah tanah melarang keras membawa beban atau warga sipil tak dikenal dalam sebuah misi pembersihan dan nyawa gadis ini bukan urusannya.
Tapi, menatap mata bulat nan lugu yang menatapnya dengan penuh harap ini, nurani Vincent yang selama ini beku mendadak goyah.
“Brengsek! Kenapa aku mendadak jadi seperti bapak panti asuhan begini?!” umpat Vincent frustrasi seraya merutuki kebodohannya sendiri.
Tanpa aba-aba lagi, Vincent menunduk, menarik paksa pinggang Lucia dan membopong tubuh kecil gadis itu ke atas bahunya.
Vincent mengangkat Lucia dengan satu tangan, persis seperti menggendong sekarung gandum curah dari pasar.
“Yak, Paman! Apa yang Paman lakukan?! Kenapa aku diangkat terbalik begini?! Kepalaku jadi pusing dan berputar-putar!” teriak Lucia kaget. Kepalanya menggantung di belakang punggung Vincent, sementara perutnya tertahan di bahu tegap pria itu.
“Tutup mulutmu kalau kau masih mau bernapas besok pagi,” bentak Vincent tajam.
Dengan satu tangan menahan kaki Lucia dan tangan lainnya memegang pistol, Vincent mulai berlari menerobos barisan musuh.
Vincent menembak tumbang dua penjaga yang mencoba menghalanginya di koridor menuju pintu keluar.
“Paman, benda hitam di tangan Paman itu apa? Kenapa bunyinya keras sekali?!” Lucia terus berteriak menanyakan hal lugu di tengah gempuran peluru dan mayat yang bergelimpangan.
“Diam, Gadis Gila! Ini pistol!” balas Vincent setengah berteriak sembari menendang pintu belakang kelab hingga terbuka paksa.
“Pistol? Benda apa itu, Paman? Apakah itu alat sihir dari kota untuk memanggil hujan dan petir?!”
Langkah kaki Vincent hampir saja tersandung lantai mendengar pertanyaan yang luar biasa konyol itu.
Vincent menggeram frustrasi. Demi Tuhan, dari abad ke berapa gadis udik yang sedang digendongnya ini berasal?!
“Kalau kita selamat sampai ke mobil, aku bersumpah akan menutup mulutmu dengan lakban dan menyuruhmu diam seharian!” gerutunya.
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,