Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Undangan Beracun
Ratri datang ke malam amal keluarga Wiryawan dengan gaun putih tanpa perhiasan.
Di antara kebaya bertabur kristal, jas mahal, dan kilatan berlian, kesederhanaannya justru membuat seluruh kepala menoleh. Ia berjalan melewati pintu aula hotel dengan dagu terangkat, sementara Wira mengikuti dua langkah di belakang.
Baskara berada di sampingnya dalam setelan hitam lama.
Setelan itu dijahit khusus di luar negeri dan nilainya cukup untuk membeli sebuah rumah. Tidak seorang pun di aula mengetahuinya. Mereka hanya melihat suami yang hilang tiga tahun, kembali tanpa jabatan yang tercatat, lalu menempel kepada istri yang memiliki perusahaan.
"Itu suaminya?" bisik seorang perempuan.
"Katanya pulang tanpa membawa apa-apa. Sekarang hidup dari uang istri."
"Cocok. Perempuan yang naik dengan cara kotor dapat lelaki yang makan dari hartanya."
Baskara mendengar setiap kata. Ia tidak menoleh, tetapi jari di sisi tubuhnya perlahan mengepal.
Ratri menyentuh lengannya sekali. "Jangan merusak acara sebelum saya sempat makan."
"Mereka menghina istriku."
"Kalau semua orang bodoh harus Anda pukul, tangan Anda akan terlalu sibuk."
"Aku punya orang untuk melakukannya."
Ratri melirik. "Pengangguran punya banyak orang?"
Baskara membuka telapak tangannya kembali. "Teman."
"Tentu."
Sekar menyambut mereka di tengah aula. Gaun hitamnya membuat ia tampak seperti pihak yang masih berkabung, meski kamera di sekelilingnya telah diatur untuk menangkap setiap sudut wajah.
"Mbak Ratri benar-benar datang," katanya. "Saya kira kondisi kesehatan Mbak terlalu rapuh untuk acara panjang."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan umur saya."
"Saya hanya takut sesuatu terjadi di acara keluarga kami. Orang-orang mungkin kembali menyalahkan Wiryawan."
"Kalau ingin aman, jangan masukkan racun ke gelas saya."
Senyum Sekar menegang.
Di panggung utama, Priyo Wiryawan sedang berbicara kepada beberapa pemilik perusahaan dan pejabat. Sebagai tuan rumah, ia menghampiri dengan keramahan yang dibuat sempurna.
"Selamat datang," katanya. "Saya Om Priyo. Malam ini untuk amal, jadi saya harap masalah lama tidak mengganggu tujuan baik."
"Kalau begitu, minta keponakan Anda berhenti mengundang masalah lama," jawab Ratri.
Priyo tertawa pelan. "Anak muda memang emosional."
Di dekat panggung, Ganendra Wangsa mengamati percakapan sambil memegang gelas air mineral. Pewaris keluarga militer itu pernah mendengar semua cerita buruk tentang Ratri. Namun, perempuan yang berdiri di hadapan Priyo tidak tampak seperti orang yang datang untuk meminta penerimaan.
Ia tampak seperti seseorang yang sengaja memasuki kandang lawan untuk menghitung pintu keluar.
Acara dimulai dengan lelang amal dan sambutan singkat. Setelah itu, susunan kursi berubah. Sejumlah tamu mendekati meja Ratri, bergantian melontarkan pertanyaan yang terdengar sopan.
"Benarkah Mbak mendirikan kantor itu dengan uang keluarga Adiningrat?"
"Tidak."
"Tapi tanpa nama suami, siapa yang akan percaya kepada perempuan semuda Mbak?"
"Klien yang bisa membaca hasil kerja."
Perempuan lain tertawa. "Jawabannya tajam sekali. Mungkin itu sebabnya keluarga suami tidak menyukai Mbak."
Suryani yang baru mendekat ikut tersenyum. "Ratri memang sulit menerima nasihat. Bahkan ketika tubuhnya sendiri sudah memberi peringatan."
"Bu Suryani pasti paling memahami sulitnya menerima nasihat," kata Ratri. "Polisi sudah memberikannya berkali-kali minggu ini."
Tawa di sekitar mereka langsung hilang.
Suryani mengangkat gelas untuk menutupi wajah. "Urusan anak muda dibesar-besarkan. Bimo hanya salah memilih teman."
"Dia salah memilih dokumen untuk dipalsukan."
Seorang tamu pria berpura-pura menerima panggilan dan menjauh. Dua perempuan yang tadi berdiri dekat Suryani ikut bergeser, tidak ingin wajah mereka masuk kamera saat perkara polisi disebut.
Ganendra mendekat beberapa langkah. "Bu Ratri, saya Ganendra Wangsa."
Ratri menoleh. "Saya tahu."
"Pertemuan pertama kita rupanya tidak terlalu tenang."
"Kalau mencari ketenangan, Anda memilih meja yang salah."
Ganendra tersenyum. Ia hendak berkata lagi ketika seorang kenalannya menepuk bahu.
"Gan, jangan terlalu dekat. Nanti orang mengira keluarga Wangsa mulai mengoleksi skandal."
"Kalau berdiri di dekat seseorang cukup untuk merusak nama keluarga, berarti nama itu memang rapuh," jawab Ganendra.
Pria tersebut terdiam. Ratri hanya memberi anggukan kecil, lalu kembali mengamati aula.
Beberapa ponsel terangkat. Seorang reporter akun gosip berdiri di balik rangkaian bunga, merekam dengan lencana media yang tidak tercantum dalam daftar resmi.
Komentar pada siaran langsung bergerak cepat.
Janda beracun datang juga.
Suaminya ternyata hidup, tapi kelihatan miskin.
Bukankah dia yang membunuh calon istri suaminya?
Jumlah penonton naik dari ratusan menjadi ribuan. Potongan kedatangan Ratri sudah muncul di dua akun lain dengan judul yang hampir sama. Seseorang bahkan membuat jajak pendapat tentang apakah perempuan itu akan diusir sebelum acara selesai.
Wira mencondongkan tubuh. "Mau saya hentikan siarannya?"
"Tidak," kata Ratri. "Biarkan semua orang melihat sampai akhir."
Baskara menatapnya. Ia mengenali nada tersebut. Itu bukan kepasrahan, melainkan keputusan untuk membiarkan lawan mengumpulkan penonton bagi kekalahannya sendiri.
Sekar naik ke panggung setelah sesi lelang terakhir. Ia mengucapkan terima kasih, lalu mengubah nada suaranya menjadi sendu.
"Malam amal selalu mengingatkan saya kepada mereka yang tidak sempat diselamatkan," katanya. "Termasuk kakak saya, Larasati."
Layar besar menampilkan foto Larasati dalam gaun krem.
Semua pandangan beralih kepada Ratri.
"Tiga tahun lalu, kakak saya meninggal setelah bertemu seorang perempuan," lanjut Sekar. "Perempuan itu dibebaskan karena katanya bukti tidak cukup. Malam ini dia berdiri di ruangan yang sama dengan keluarga kami, memakai nama Adiningrat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa."
Baskara meletakkan gelasnya. Buku-buku jarinya memutih.
Ratri masih duduk.
Ia tahu Sekar tidak hanya berbicara kepada tamu. Potongan videonya sedang dikirim ke TikTok, X, dan berbagai akun gosip. Setiap kalimat disusun untuk menjadi judul.
"Mbak Ratri," Sekar memanggil dari panggung. "Kalau memang tidak bersalah, berikan penjelasan di depan semua orang. Apakah Mbak membayar orang agar lolos? Apakah usia Mbak yang mungkin tidak panjang membuat Mbak merasa tidak perlu bertanggung jawab?"
Aula senyap.
Ratri tidak segera menjawab.
Satu detik.
Dua detik.
Beberapa tamu mengira diamnya adalah rasa takut. Suryani tersenyum. Reporter akun gosip memperbesar gambar wajahnya.
Ratri hanya menunggu Sekar mengucapkan tuduhan paling jauh.
"Saya tidak datang tanpa bukti," kata Sekar, semakin yakin. "Malam ini ada orang berwenang yang akan membuktikan Ratri Kusuma menggunakan uang dan koneksi untuk menutupi pembunuhan kakak saya."
Priyo memberi isyarat kepada petugas panggung.
Pintu samping aula terbuka.
Tiga orang berjas laboratorium masuk bersama seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang diperkenalkan sebagai ahli forensik. Di belakang mereka, sebuah meja pemeriksaan beroda didorong menuju panggung. Di atasnya terdapat pakaian dalam kantong transparan bersegel, foto-foto pemeriksaan lama, serta map tebal bertuliskan nama Larasati Wiryawan.
Suara gaduh pecah di seluruh ruangan.
Sekar tersenyum kepada kamera. "Inilah bukti yang selama tiga tahun disembunyikan."
Semua orang menunggu Ratri hancur.
Ratri akhirnya mengangkat mata.