Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan-jalan Sore Hari

Sore ini, Ummu Aisyah mengajakku berjalan-jalan di sekitar persawahan pedesaan dekat pondok. Hanya kami berdua.

Entah kenapa Aisyah tidak ikut. Aku pun tidak berminat menanyakannya.

Alhamdulillah, setelah menjalani sepuluh kali radioterapi, keadaan Ummu mulai membaik. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi setidaknya wajahnya terlihat lebih segar dan langkahnya tidak lagi selemah sebelumnya.

Aku turun dari lantai dua menuju rumah Ustadz Syaiful. Kulihat Ummu baru saja keluar dari rumah beliau.

“Assalamu’alaikum, Ummu.”

“Wa’alaikumussalam.”

Aku memperhatikan wajahnya sejenak.

“Ummu benar-benar kuat?”

“Ummu kuat. Kalau pun kenapa-kenapa, kan ada kamu.”

Aku tersenyum kecil. Ada sesuatu dalam ucapan beliau yang membuatku merasa dipercaya.

Kami pun berjalan menuju gerbang pondok. Beberapa santri yang berpapasan kami sapa. Setelah melewati gerbang, kami mulai menyusuri jalan kecil menuju persawahan.

Di sisi jalan terbentang kebun jati. Rumput-rumput liar tumbuh tinggi karena sudah lama tidak terawat. Sekitar tujuh ratus meter di depan, barulah terlihat rumah-rumah penduduk. Di belakang rumah-rumah itu terbentang sawah yang luas, menghijau sejauh mata memandang.

Di pinggir sawah tumbuh berbagai macam pohon. Salah satunya pohon kersen yang cukup rindang, seolah sengaja disediakan untuk siapa saja yang ingin berteduh dari terik matahari.

Kami terus berjalan melewati kebun jati.

Sepanjang perjalanan, sepertinya Ummu terus berdzikir. Aku pun ikut berdzikir.

Rasanya canggung jika tiba-tiba mengajaknya berbicara, sementara beliau sedang begitu khusyuk. Maka aku memilih diam, menikmati langkah kami yang berjalan beriringan di tengah suasana sore yang tenang.

Beberapa saat kemudian, setelah hening cukup lama, Ummu akhirnya membuka pembicaraan.

“Aku dulu, sebelum menikah dengan abinya Aisyah, belum pernah bertemu beliau kecuali hanya sekali.”

Aku menoleh.

“Sekali?”

“Iya. Itu pun ketika beliau mengisi pengajian bersama ayahnya di masjid dekat pondok yang didirikan oleh ayahku.”

Aku mulai tertarik mendengarnya.

Entah kenapa, mendengar kisah cinta orang tua selalu terasa menarik. Ada sesuatu yang berbeda dari kisah mereka. Sederhana, tetapi sering kali justru menyimpan banyak hal yang tidak pernah kita duga.

“Bahkan, abinya Aisyah belum pernah melihatku sebelumnya,” lanjut Ummu.

Aku semakin memperhatikan beliau.

“Kami memang dijodohkan. Waktu itu adalah pertemuan pertama dua kawan lama setelah sekian tahun tidak bertemu. Dari pertemuan itulah kemudian mereka berencana menjodohkan kami.”

Beliau tersenyum kecil.

“Padahal waktu itu umur kami masih muda.”

Kemudian Ummu menoleh kepadaku.

“Umurmu sekarang berapa, Alam?”

“Aku dua puluh enam, Ummu.”

“Wah...” Ummu terkekeh. “Umur segitu di zaman Ummu sudah bujang lapuk.”

Aku ikut tertawa.

“Tapi zaman sekarang memang berbeda. Menikah tidak ada batas umurnya, kok,” lanjut beliau, seolah hendak menenangkanku.

Aku hanya tersenyum.

Sebenarnya aku biasa saja. Memang sudah waktunya memikirkan pernikahan. Bahkan teman-temanku sudah banyak yang memiliki anak.

Hamzah misalnya.

“Umur Ummu waktu itu baru sembilan belas tahun. Sedangkan abinya Aisyah dua puluh dua tahun.”

Ummu kembali mengarahkan pandangannya ke jalan di depan kami.

“Sebenarnya abinya Aisyah ingin berguru lagi di pulau tetangga. Tapi entah bagaimana, akhirnya beliau menyetujui perjodohan itu. Padahal beliau belum pernah melihatku.”

Aku diam, menyimak.

“Karena beliau menyetujui perjodohan itu bahkan tanpa pernah melihatku, aku pun berjanji waktu itu bahwa aku akan selalu mendukung beliau.”

Ummu tersenyum mengenang masa lalu.

“Walhasil, baru dua hari kami menikah, aku langsung ditinggal untuk belajar.”

Beliau tertawa kecil.

Aku pun ikut tersenyum.

“Lucu, ya...” katanya. “Pengantin baru langsung ditinggal suami.”

Aku terkekeh.

“Tapi karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, maka aku relakan. Aku menyetujui beliau pergi, meskipun saat itu kami bahkan tidak tahu beliau akan pergi sampai kapan.”

Langkah kami perlahan melambat.

Aku tidak tahu kenapa cerita sederhana itu justru membuatku terdiam.

Ada ketenangan dalam cara Ummu menceritakannya. Tidak ada keluhan. Tidak ada penyesalan. Seolah-olah bertahun-tahun lalu, ketika ia harus merelakan suaminya pergi hanya dua hari setelah pernikahan, ia sudah memahami bahwa mencintai seseorang juga berarti bersedia mendukung jalan hidup yang dipilihnya.

“Sepertinya kita sudah cukup lama berjalan,” ujar Ummu.

Beliau menunjuk sebuah kursi di pinggir sawah, tepat di bawah pohon kersen.

“Mari istirahat sebentar.”

Aku mengangguk.

Kami pun berjalan menuju kursi itu. Duduk berdampingan di bawah rindangnya pohon kersen, dengan hamparan sawah yang terbentang luas di hadapan kami.

Angin sore berembus pelan.

Dan untuk beberapa saat, kami kembali terdiam.

“Dan ternyata aku ditinggal selama empat puluh hari.”

Ummu tersenyum kecil.

“Itu waktu yang cukup lama. Seperti Nabi Musa yang meninggalkan kaumnya untuk menemui Rabb-nya.”

Aku ikut tersenyum mendengar perumpamaan beliau.

“Meskipun kami adalah pengantin baru yang bahkan pernikahannya tidak diawali dengan cinta, abinya Aisyah selalu mengirim surat setiap sepuluh hari sekali. Bahkan, surat-suratnya penuh dengan kata-kata indah.”

Beliau terdiam sejenak, seolah sedang kembali membaca surat-surat itu dalam ingatannya.

“Dari situlah aku tahu bahwa beliau memang mencintaiku. Padahal kami baru dua hari tinggal bersama.”

Aku mendengarkan dalam diam.

Ada sesuatu yang menghangatkan hati dari kisah itu. Dua orang yang sebelumnya nyaris tidak saling mengenal, dipertemukan dalam sebuah perjodohan. Namun, cinta justru tumbuh setelah mereka menjalani pernikahan.

“Dan pada akhirnya...” suara Ummu melembut, “aku ditinggal ketika usia masih muda.”

Entah kenapa kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.

“Aisyah juga baru berusia sembilan tahun saat itu. Tapi dia tumbuh dewasa dengan cepat.”

Aku menunduk.

Ada luka panjang yang rupanya disimpan perempuan yang selama ini kulihat begitu tegar.

“Nak,” Ummu kembali bersuara, “pernikahan adalah perjalanan sepanjang sisa umur kita. Maka, jika kamu sudah menetapkan pilihan kepada seorang wanita, hargailah dia. Perjuangkanlah.”

Aku terdiam.

“Meskipun mungkin belum ada cinta yang tumbuh di antara kalian.”

Kalimat itu membuatku mengangkat wajah.

Ummu menatap hamparan sawah di hadapan kami.

“Dan kalau saja kamu memang berjodoh dengan anakku nanti...” Beliau menarik napas pelan. “Ummu titip, ya.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Tolong jaga Aisyah.”

Suara beliau terdengar semakin lirih.

“Malang sekali nasib anak itu. Ditinggal abinya ketika usianya masih kecil. Kemudian ibunya bahkan tidak bisa merawatnya. Tidak berselang lama, dia ditinggal juga oleh ibunya untuk menikah.”

Ummu menoleh kepadaku.

“Maka, Ummu berharap kamu tidak meninggalkannya.”

Aku membeku.

Kata-kata itu benar-benar masuk hingga ke relung hatiku.

Jangan meninggalkannya.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa begitu berat.

Padahal aku belum tahu apakah aku benar-benar berjodoh dengan Aisyah. Bahkan, jauh di dalam hati, aku masih menyimpan bayangan tentang Aisyah yang lain—perempuan yang pertama kali kutemui dan tanpa kusadari telah mengambil tempat di hatiku.

Namun, di hadapanku kini duduk seorang ibu yang sedang menitipkan putrinya.

Bukan sekadar meminta agar aku menikahinya.

Beliau sedang meminta agar, jika kelak aku menjadi suaminya, aku tidak menambah satu lagi luka dalam hidup Aisyah.

Aku menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar menerima atau menolak sebuah perjodohan.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!