Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sore menjelang di Manhattan. Cahaya senja merona jingga di luar jendela kaca anti buru mansion Sterling, memantulkan bayangan panjang di atas lantai marmer ruang kerja pribadi Hades.
Di balik meja kerja mahoni yang luas, Hades berdiri sambil melipat kedua tangan di dada, menatap layar monitor besar yang menampilkan peta satelit kota New York dan beberapa titik pengamanan di sekitar properti mereka. Di sudut ruangan, Percy duduk bersila di atas sofa beludru, memangku sebuah tablet digital, sementara Zeus sibuk memainkan miniatur helikopter di atas karpet beludru persis di kaki sang ibu.
"Kau benar-benar memperketat penjagaan, Hades," ujar Percy tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet, nada suaranya terdengar jenuh namun diiringi seringai tipis. "Bahkan lalat pun sepertinya butuh izin keamanan tiga lapis hanya untuk terbang di atas halaman depan."
Hades menoleh perlahan, manik mata kelabunya menatap sang istri dengan tatapan tajam yang menyimpan kepemilikan mutlak. "Setelah apa yang terjadi di Paris, keamananmu bukan lagi hal yang bisa ditawar, Ma chérie. Aku tidak akan membiarkan ada celah sedikit pun bagi tikus-tikus got untuk menyentuh keluargaku."
Percy mendengus pelan, lalu meletakkan tabletnya di atas meja. Ia bangkit dan melangkah anggun mendekati meja kerja Hades, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Kau mengurungku di kandang emas, Hades," bisik Percy lembut namun menantang, manik mata ambernya berkilat penuh bara. "Tapi kau tahu betul, semakin ketat kau merantai seekor singa, semakin liar ia ketika berhasil menemukan celah untuk melompat."
Hades tidak mundur. Ia justru meraih pinggang Percy, menarik tubuh istrinya merapat hingga menempel tanpa jarak, menghapus sisa ruang di antara mereka. Napas hangat pria itu menyapu kulit leher Percy, membuat bulu kuduk sang ratu meremang halus.
"Silakan coba melompat lagi, Percy," geram Hades rendah tepat di dekat telinganya, suara bariton itu terdengar begitu intim dan mematikan. "Dan aku akan memastikan seluruh dunia luar rata dengan tanah sebelum kau sempat mendarat."
Di bawah meja, Zeus kecil mendongak sesaat, menatap kedua orang tuanya yang sedang beradu argumen penuh ketegangan, lalu kembali meniup miniatur helikopternya dengan santai seolah pemandangan itu adalah hal paling biasa yang ia saksikan setiap hari.
Malam kembali merayap, membawa angin dingin yang mendinginkan kota New York. Di ruang makan utama mansion Sterling, lampu kristal besar memancarkan cahaya keemasan yang menerangi meja panjang penuh dengan hidangan makan malam mewah.
Suasana malam itu tidak diisi oleh perdebatan tegang seperti biasanya, melainkan keheningan yang tenang, meski ketegangan khas keluarga Sterling tetap mengalir di udara. Hades duduk di kursi utamanya dengan anggun, memotong sepotong daging domba dengan presisi seorang ahli bedah. Di seberangnya, Percy menikmati hidangannya dengan santai, sementara Zeus di kursi kecilnya sibuk memperhatikan piringnya sendiri.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu ganda ruang makan bergeser pelan. Kepala pelayan pribadi Hades melangkah masuk dengan gestur kaku penuh hormat, membungkuk dalam-dalam sebelum mendekati sang tuan besar.
"Tuan," bisik kepala pelayan hati-hati. "Ada laporan mendesak dari jaringan Eropa. Kelompok sisa faksi yang mencoba menyusup di Paris... semuanya telah dibersihkan sepenuhnya dari peta. Tidak ada jejak yang tersisa."
Hades bahkan tidak mengangkat wajahnya dari piring makan. Ia hanya mengangguk kecil sebagai tanda mengerti. "Bagus. Pastikan tidak ada satupun aset mereka yang luput dari penyitaan."
"Baik, Tuan." Kepala pelayan kembali membungkuk dan mundur secara teratur meninggalkan ruangan.
Percy mendongak, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat. "Kau bergerak cepat, Hades. Rupanya insiden di Paris benar-benar membuatmu terusik."
Hades meletakkan pisaunya perlahan, lalu mengangkat pandangannya untuk membalas tatapan sang istri. Manik mata kelabunya menatap tajam, namun tersirat kehangatan posesif yang hanya ditujukan untuk Percy.
"Aku tidak pernah membiarkan ancaman sekecil apa pun hidup lebih lama dari yang seharusnya, Ma chérie," jawab Hades tenang. "Terutama jika itu menyangkut keselamatan orang-orang yang ada di dalam bentengku."
Zeus kecil mendongak dari makanannya, menatap sang Daddy dan Mommy bergantian. Dengan gaya sok tahu yang menggemaskan, bocah itu mengangkat gelas air minumnya tinggi-tinggi.
"Untuk Mommy, untuk Zeus, dan untuk Daddy yang tidak boleh rewel lagi," ucap Zeus polos namun penuh wibawa.
Percy tertawa renyah, sementara Hades mendengus geli, mengangkat gelas scotch nya untuk berdenting pelan dengan gelas air sang putra. Di balik dinding benteng emas imperium Sterling, malam itu ditutup dengan kedamaian yang mutlak, meski mereka berdua tahu betul, kedamaian itu hanyalah jeda sebelum babak kenakalan berikutnya dimulai.
Pagi hari di mansion Sterling dimulai dengan aroma kopi hitam pekat yang menguar dari ruang kerja pribadi Hades. Cahaya matahari menerpa karpet wol tebal, sementara Percy duduk di sofa panjang dengan secangkir teh di tangan kanannya, membaca sebuah amplop tebal bertekstur beludru hitam yang baru saja diantarkan oleh kurir misterius beberapa menit lalu.
Di atas karpet, Zeus sedang sibuk menyusun balok-balok lego membentuk menara tinggi, ditemani oleh dua pengawal pribadi yang bertindak sebagai "asisten konstruksi" tidak resmi atas perintah sang bocah.
Hades melangkah keluar dari ruang kerjanya, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung, manik mata kelabunya langsung mengunci sosok sang istri yang tampak tertarik dengan benda di tangannya.
"Apa itu, Ma chérie?" tanya Hades dengan suara bariton yang tenang, mendekati sofa dan mendaratkan satu kecupan ringan di pucuk kepala Percy.
Percy mendongak, menyunggingkan senyuman miring yang sarat akan makna tersembunyi. Ia menyerahkan selembar kartu undangan berukir lambang perak kepada suaminya.
"Sebuah undangan resmi dari perkumpulan elit bawah tanah di London," jawab Percy santai, menikmati ekspresi wajah Hades yang seketika berubah mengeras. "Mereka merayakan ulang tahun dekade organisasi perdagangan seni kuno. Dan kebetulan... namaku tercantum sebagai tamu kehormatan."
Hades membaca baris demi baris tulisan elegan di atas kartu tersebut, lalu mendengus dingin. Organisasi di London itu dulunya adalah salah satu rival bisnis gelapnya yang kini telah tunduk di bawah bayang-bayang imperium Sterling.
"Kau tidak akan pergi ke sana," ucap Hades mutlak, meletakkan kartu itu kembali ke atas meja. "London sedang basah oleh intrik politik faksi lama. Tempat itu tidak aman untuk pelarian gilamu."
Percy berdiri, merapikan mantelnya, lalu melangkah mendekati Hades dengan tatapan menantang yang tidak pernah padam.
"Siapa bilang aku ingin pergi sendiri, Tuan Sterling?" bisik Percy menggoda, menyentuh kerah kemeja suaminya. "Aku berencana mengajak bos kecil kita. London punya toko mainan terbesar di Eropa, dan kurasa Zeus butuh suasana liburan baru."
Di sudut ruangan, Zeus langsung mendongak, menjatuhkan balok legonya, lalu mengangguk antusias. "Zeus setuju! London, Daddy!"
Hades memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang menghadapi dua "bencana" berjalan di dalam hidupnya. Namun ia tahu persis, melawan keinginan Percy dan putranya hanya akan membuahkan kekacauan yang lebih besar.