kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siasat Delara
Disaat pasangan Sera dan Dikta menjalani hari-hari mereka penuh dengan cinta, berbeda dengan perempuan yang hatinya penuh dendam dan amarah.
Delara tidak menyerah.
Penolakan Dikta dan sikap Arga yang tak mau bekerja sama justru membuatnya semakin nekat.
Ia tahu, satu-satunya cara untuk meretakkan kepercayaan antara Dikta dan Sera adalah menanamkan keraguan dan ia mulai menyebarkan isu bohong ke mana saja.
Jagad dunia maya dihebohkan oleh sebuah portal berita tentang seorang pengusaha parfum berinisial DRI yang namanya wara-wiri di televisi dan majalah-majalah bisnis ternama.
Tak tanggung-tanggung, beritanya berisi sebuah skandal yang cukup mengejutkan publik.
Pasalnya, si pengusaha muda terkenal itu merupakan pujaan hati semua perempuan.
Seorang pengusaha parfum terkenal berinisial DRI, tampan, dingin, cuek dan berkharisma tapi tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan kekasih.
Begitulah salah satu headline di sebuah akun gosip Lambe-lambe memberitakan. Dan tak lupa beberapa foto disematkan meski wajahnya di blur.
Netizen dibiarkan menerka-nerka siapa gerangan pengusaha muda tersebut. Dan ada juga yang bisa langsung menebak siapa laki-laki yang dimaksud.
Delara lah yang menaburkan benih kebohongan tersebut.
Ia menyadari untuk memisahkan Sera dan Dikta adalah dengan sebuah kebohongan yang dibuat senyata mungkin.
Delara mulai menceritakan ke mana-mana, memasang wajah sedih kepada siapa saja yang mau mendengar, kepada rekan bisnis, bahkan kepada teman-teman yang mengenal keduanya.
Katanya, ia sedang mengandung bayi dan ayah dari calon bayi itu adalah Dikta yang kini sedang menjalin hubungan dengan seorang dosen yang namanya baru saja dinobatkan sebagai dosen muda terbaik.
Tak ayal, semua orang ikut mencari tahu siapa gerangan perempuan itu.
Delara juga menambahkan detail bohong yang terasa nyata, mengatakan bahwa kehamilan itu terjadi sebelum mereka berpisah dan bahwa Dikta menghindari tanggung jawab karena terbutakan perasaannya kepada Sera.
Dulu pernikahan Sera dan Dikta memang sengaja dirahasiakan dari publik atas permintaan keduanya makanya para rekan bisnis dan teman-teman mereka hanya tahu jika Delara lah kekasih Dikta.
Kabar itu menyebar seperti api kering. Tidak butuh waktu lama hal itu sampai ke telinga Gavin, yang dengan berat hati menyampaikannya kepada Dikta.
"Dikta.. Ada yang harus kau tahu...... Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal," ucap Gavin dengan nada ragu saat mereka berada di ruang kerja Dikta. "Tapi sudah banyak yang membicarakannya. Delara bilang dia hamil, dan anak itu adalah anak dari mantan kelasihnya yang telah ia pacari bertahun-tahun lamanya yaitu kau. Dan dia bilang kau tidak mau mengakuinya."
Dikta terdiam sejenak, lalu tertawa getir, bukan karena lucu, melainkan karena tak percaya. Namun melihat wajah Gavin yang serius, tawanya perlahan lenyap.
"Itu tidak mungkin, Gavin. Tidak ada hal seperti itu di antara kami," ucap Dikta tegas. "Kami memang pernah dekat, tapi tidak sampai sejauh itu. Dan kau pun tahu betul sifatku, aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Dan ini... ini bohong murni."
"Orang-orang tidak tahu itu, Dikta. Mereka hanya dengar satu sisi cerita," Gavin menghela napas. "Dan yang lebih berat... aku takut kabar ini sampai ke Sera. Bukankah hubungan kalian baru saja membaik"
Dikta terdiam sejenak.
Wajahnya nampak serius dan tegang.
Gavin benar.
Dia tidak boleh mengabaikan masalah ini hingga berlarut, apalagi hubungannya dengan Sera baru saja dimulai dan lagi indah-indahnya.
...****************...
Pagi itu, Sera baru saja membuka ponsel saat dirinya sarapan bersama Herman di meja makan.
Senyum Sera seketika memudar saat melihat deretan akun-akun gosip di sosial media ramai membahas sebuah skandal yang menghebohkan jagad maya.
Sera mengenali salah satu foto dan gestur tubuh laki-laki yang wajahnya disamarkan itu.
Dikta.
Jantung Sera berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Sera? Kau kenapa Nak? Apa ada yang mengusikmu?" tanya Herman yang heran dengan perubahan sikap putrinya.
Sera bahkan tak mendengarkan pertanyaan dari Herman hingga laki-laki itu harus menepuk tangannya.
Sera terperanjat.
"Kenapa Yah? Apa ayah butuh sesuatu?""
"Bukan ayah, tapi kau. Kau kenapa? Apa ada yang mengusikmu? Kenapa wajahmu tampak khawatir?"
"Oh... Tidak apa-apa Yah... Ini... ini hanya dari staf kampus. Mereka mau meninjau usulan Sera tentang seminar yang akan diadakan di kampus... Hanya itu, tidak ada yang lain... Sungguh..." ucap Sera agar Herman tidak khawatir padanya.
"Baiklah kalau begitu. Semoga semuanya lancar... Habiskan sarapanmu dan segeralah berangkat. Nanti kau bisa terlambat...." nasehat Herman lagi yang melanjutkan sisa sarapannya begitupun Sera yang menghabiskan roti isinya meski rasanya sangat hambar dilidah.
Di kampus pun Sera bahkan sulit sekali berkonsentrasi.
Pikirannya terus tertuju kepada Dikta yang ponselnya bahkan hingga siang ini tak kunjung aktif dan beberapa pesan darinya belum juga dibaca.
Hati Sera was-was dan juga marah.
Akan tetapi, Sera ingat perkataan Dikta jika mereka harus tetap mengklarifikasi masalah apapun yang sedang mereka hadapi, jangan ada yang diam dan menyembunyikannya.
Sera terus melihat berita-berita tersebut dan salah satu akun memposting sumber beritanya yang didapat dari akun D2LoveRa.
Sera langsung menuju akun tersebut.
Dan dugaannya benar.
Delara pelakunya. Akun tersebut terkonfirmasi milik Delara Sasmita, mantan kekasih Dikta.
Di media sosial, akun Delara membagikan sebuah unggahan yang samar namun sarat makna, foto sepasang sepatu bayi berwarna netral, ditulis keterangan yang membiarkan orang berasumsi sesuka hati.
"Kehadiran kecil yang ditakdirkan. Meski harus menanggung sendiri, meski harus diabaikan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab karena Daddy-nya lebih memilih perempuan lain. Mommy akan tetap menyayangimu"
Dan di kolom komentar, ia membiarkan orang-orang menebak, bahkan sesekali membalas dengan kalimat yang seakan mengonfirmasi dan menyiratkan bahwa ayah dari janin itu adalah Dikta Rey Ibrahim. Kabar itu menyebar cepat, dibagikan oleh kenalan, rekan bisnis, hingga orang-orang yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Dia benar-benar sudah g*la" gumam Sera masih menatap layar ponselnya.
...****************...
Dikta baru saja keluar dari ruangannya ketika bertemu Gavin dari arah berlawanan.
"Dikta, kau sudah lihat media sosial? Orang-orang semakin ramai membicarakannya. Bahkan ada yang menyebut nama perusahaan kita, menyangkut-pautkan reputasi bisnis dengan ini. Ini sangat berbahaya untuk harga saham kita"
"Aku lihat, Gavin," jawab Dikta pelan, matanya tertuju pada nomor Sera yang sulit sekali dihubungi.
"Kau mau kemana?"
"Ketemu Sera. Aku harus jelaskan semua. Aku harus menyelesaikan satu-persatu. Gantikan aku meeting dengan pihak vendor dan kirim hasilnya ke email ku. Aku pergi dulu" ucap Dikta yang telah masuk ke dalam lift.
Gavin menghela nafas. "Good luck man...."
Dikta memacu mobilnya menuju kampus Sera.
Hari sudah semakin sore ketika mobilnya tiba di parkiran kampus. Mata Dikta berbinar ketika dirinya bertemu dengan Sera tepat ketika perempuan itu berjalan menuju parkiran.
"Sayang...."
Langkah Sera terhenti.
Wajahnya menatap Dikta lama sebelum dirinya berlari kearah laki-laki itu dan memeluknya erat.
"Kenapa tak menjawab panggilan ku..? Kau kemana saja?" seru Sera dalam dekapan Dikta.
"Aku juga menghubungi mu tapi ponselmu tidak aktif..."
Sera melepas pelukannya dan mengusap pipi Dikta.
"Are you okey? Berita itu tidak mempengaruhi mu kan?" ada nada cemas disetiap kalimat Sera yang Dikta rasakan.
Dikta tersenyum dan menggeleng.
"Kita bicara di dalam ya..." Dikta membawa Sera masuk kedalam mobilnya.
"Sayang..." panggil Dikta lembut.
Sera menoleh, matanya berkaca-kaca namun suaranya tenang. "Orang-orang sudah percaya, Dikta. Mereka bilang kau tidak bertanggung jawab. Mereka bilang aku yang menghalangi kalian. Bahkan ada yang menyuruh aku mundur demi 'nasib janin itu'."
Dikta menghela napas dalam, menahan amarah yang meluap. Ia tahu Delara berusaha memojokkannya, membuat seolah-olah ia laki-laki yang lari dari tanggung jawab, dan Sera adalah orang ketiga yang merebut.
"Ini semua bohong, Sera. Kau tahu itu," ucap Dikta mantap, menggenggam tangan Sera. "Tidak ada janin. Tidak ada hal seperti itu di antara kami. Dia membuat cerita ini supaya aku terjebak, supaya kita terpisah."
"Tapi orang-orang tidak tahu itu, Dikta," jawab Sera pelan, air mata akhirnya jatuh juga. "Mereka hanya melihat apa yang mereka mau lihat. Dan kalimat-kalimat itu... terdengar sangat meyakinkan."
Dikta memeluk Sera erat, membiarkan perempuan itu menumpahkan segala rasa sakit di pelukannya. Ia merasa bersalah, karena pernah membiarkan Delara masuk ke dalam hidupnya, sehingga kini Sera yang harus menanggung akibatnya.
"Aku tidak akan membiarkan dia terus menyebarkan kebohongan ini," ucap Dikta tegas. "Aku akan minta dia menghapus semua unggahan itu. Kalau perlu, kita lakukan pemeriksaan medis untuk membuktikan kebenarannya. Aku tidak akan membiarkan nama baikmu, maupun nama baik kita, dirusak begitu saja."
Sera mengusap air matanya, menatap Dikta dengan pandangan yang masih rapuh namun tak lagi goyah. "Aku percaya padamu, Dikta. Tapi ini akan berat... untuk kita berdua."
"Aku tahu," Dikta mengecup keningnya lembut. "Tapi kita hadapi bersama. Kalau dia mau main di media sosial, kita juga harus siap menjawab dengan kebenaran. Bukan dengan kebohongan lain, tapi dengan fakta yang jelas."
Sementara itu, di apartemennya, Delara tersenyum melihat jumlah komentar yang terus bertambah. Ia merasa menang. Semakin banyak yang percaya, semakin besar tekanan pada Dikta. Ia yakin, lambat laun Dikta akan menyerah demi "kebaikan janin itu".
Namun yang tidak ia sadari, kebohongan yang ditanam di tempat terbuka seperti media sosial, pada akhirnya juga akan terlihat oleh semua orang saat kebenaran akhirnya terungkap.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪