Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Amarah Sang Naga dan Runtuhnya Kesombongan

​Pagi itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Sinar matahari yang menembus masuk melalui jendela tanpa kaca—karena kacanya telah hancur berkeping-keping semalam—tidak mampu mengusir hawa dingin yang menyelimuti ruangan kontrakan itu.

​Senja Kirana berdiri di tengah reruntuhan rumahnya. Mata bulatnya yang biasanya berbinar cerah, kini terlihat membengkak dan sembap. Lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya, sisa dari malam panjang yang dihabiskan dengan menangis dalam diam di pelukan Arga.

​Dengan gerakan mekanis, gadis itu mengambil sapu lidi dan mulai menyapu serpihan kaca, pecahan mangkuk oranye kesayangannya, dan debu dari pintu kayu yang jebol. Ia membersihkan semuanya dalam kebisuan yang menyayat hati. Tidak ada senandung ceria. Tidak ada senyum mentari pagi. Semangat hidup gadis itu seolah ikut hancur bersama barang-barang sederhananya.

​Arga Danendra, yang duduk di atas kasur, mengamati setiap gerak-gerik Senja dengan rahang mengeras. Rasa ngilu di dadanya jauh lebih menyiksa daripada luka tusuk di pinggangnya yang kini mulai merapat berkat obat dosis tinggi dari Raka.

​"Tinggalkan itu, Senja. Biar aku yang membersihkannya nanti," ucap Arga dengan nada yang sangat lembut, mencoba memecah keheningan yang mencekik.

​Senja menghentikan sapu lidinya. Ia menoleh perlahan, memaksakan sebuah senyum tipis yang justru terlihat sangat rapuh.

​"Tidak apa-apa, Kak. Aku harus menyapunya sebelum berangkat kerja, kalau tidak nanti kaki Kakak bisa terluka terkena pecahan kaca," jawab Senja pelan. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu berjalan mendekati meja kecil yang sudah ia tegakkan kembali, menyajikan sepiring nasi dan telur ceplok yang bentuknya sedikit hancur.

​"Aku harus berangkat kerja ke kedai sekarang, Kak. Gajiku minggu ini akan kuminta di awal pada Pak Yanto... setidaknya kita butuh uang untuk memperbaiki pintu ini, dan... dan mencari cara untuk mencicil utang itu." Suara Senja bergetar saat menyebutkan kata 'utang'.

​Arga bangkit berdiri, melangkah perlahan menghampiri gadis itu. Ia meletakkan kedua tangan besarnya di bahu kecil Senja, memberikan sebuah remasan lembut yang menyalurkan kekuatan.

​"Pergilah bekerja dan tenangkan pikiranmu. Buatlah roti-roti yang enak seperti mimpimu," Arga menatap tepat ke dalam manik mata Senja, tatapannya begitu dalam dan absolut. "Dan soal utang itu... serta pintu yang hancur ini, jangan pernah kau pikirkan lagi. Biar itu menjadi urusanku."

​Senja tersenyum getir. Ia menganggap ucapan Arga hanyalah hiburan dari seorang pria amnesia yang baik hati namun tak berdaya. Bagaimana mungkin Kak Arga bisa menyelesaikan utang enam puluh juta rupiah?

​"Terima kasih, Kak Arga. Jaga dirimu di sini, ya," pamit Senja lembut. Gadis itu meraih tas kainnya, melangkah keluar melewati pintu yang engselnya sudah patah, dan menghilang di balik belokan gang sempit, menyongsong kerasnya dunia dengan bahu kecilnya yang memikul beban raksasa.

​Begitu bayangan Senja benar-benar hilang dari pandangan, udara di dalam ruangan kontrakan itu seketika berubah.

​Suhu ruangan seolah turun drastis hingga ke titik beku. Aura kehangatan dan kelembutan seorang pria amnesia yang rapuh menguap tanpa sisa, digantikan oleh aura gelap, menindas, dan mematikan. Sang tiran telah terbangun. Arga Danendra, penguasa dunia malam dan predator puncak dalam rantai makanan bisnis metropolitan, kembali mengambil alih.

​Arga berjalan menuju tumpukan barang-barangnya. Ia merogoh bagian dasar dari kantong plastik hitam yang dikirimkan Raka dua hari lalu. Dari balik lipatan kotak P3K, ia menarik keluar sebuah ponsel pintar berwarna hitam legam—ponsel satelit terenkripsi khusus yang sudah disiapkan oleh Raka tanpa sepengetahuan Senja.

​Jari-jarinya yang panjang dan kokoh bergerak cepat menekan satu nomor darurat. Panggilan itu dijawab hanya dalam hitungan detik pertama.

​"Ya, Bos?" Suara Raka terdengar siaga dari seberang sana.

​"Raka," suara Arga mengalun rendah, sedingin es abadi di kutub utara. Nada bicaranya tidak meninggi, namun setiap suku kata yang ia ucapkan mengandung perintah kematian yang mutlak. "Cari tahu lokasi markas seorang rentenir lintah darat bernama Jali. Operasinya di sekitar Pasar Induk Selatan. Aku ingin titik koordinatnya dalam dua menit."

​Terdengar suara ketikan keyboard yang sangat cepat dari ujung telepon. Raka adalah jenius jaringan informasi; mencari data seorang preman kampung baginya semudah membalikkan telapak tangan.

​"Bang Jali. Nama asli Jalaludin. Residivis kasus pemerasan. Markas utamanya di sebuah bekas gudang beras terbengkalai di belakang Pasar Induk Selatan, tiga blok dari lokasimu," lapor Raka dengan sangat efisien. "Apa serangga ini mengganggumu, Ga? Biar aku kirimkan Tim Penyapu. Mereka akan menghilang tanpa jejak sebelum jam makan siang."

​"Tidak usah," tolak Arga dingin, matanya menatap tajam ke arah pecahan kaca di lantai. "Biar aku sendiri yang menginjak serangga ini. Kau siapkan saja beberapa orang tukang kayu dan material bangunan. Kirim mereka ke gang ini sepuluh menit dari sekarang. Pintu dan jendela rumah ini hancur. Ganti dengan material kayu yang persis sama bentuknya, tapi gunakan kayu jati paling kuat dan kaca anti-peluru tingkat tiga."

​Raka di seberang sana terdiam sesaat, keheranan. "Kaca anti-peluru untuk gubuk di distrik kumuh? Ga, kau ini sedang bersembunyi dari mafia internasional atau sedang membangun benteng untuk seorang putri?"

​"Kerjakan saja, Raka. Dan pastikan tukang-tukang itu pergi sebelum sore. Jangan sampai dia tahu."

​Klik.

​Panggilan diputus. Arga memasukkan kembali ponsel itu ke tempat persembunyiannya. Ia mengancingkan kemeja putihnya hingga ke atas, menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku, lalu melangkah keluar dari rumah kontrakan.

​Langkah kaki Arga sangat tenang, terukur, dan mematikan. Rasa sakit di pinggangnya seolah telah ia matikan paksa oleh adrenalin murni dan kemarahan yang mendidih. Hari ini, para preman pasar itu akan belajar sebuah pelajaran berharga: bahwa menantang seorang raja iblis jauh lebih baik daripada mengusik ketenangan malaikat kesayangannya.

​Di belakang Pasar Induk Selatan, tersembunyi dari hiruk-pikuk pedagang sayur, berdirilah sebuah gudang beras tua yang pintunya berkarat. Tempat itu adalah markas perjudian dan markas lintah darat yang dikelola oleh Bang Jali. Bau pesing, alkohol murahan, dan asap rokok tebal menguar dari ventilasi udaranya.

​Di dalam, di sekitar meja kayu bundar yang kotor, Bang Jali sedang duduk dengan kaki dinaikkan ke atas meja. Tiga anak buahnya yang semalam ikut menghancurkan rumah Senja sedang tertawa terbahak-bahak sambil menghitung tumpukan uang kertas lusuh hasil tagihan paksa hari ini.

​"Gila, Bang! Dada saya masih ngilu ditendang pacar si Senja semalam," keluh salah satu anak buahnya sambil menggosok dadanya. "Pria itu kelihatannya cuma gembel sakit-sakitan, tapi tenaganya kayak monster."

​Bang Jali membuang puntung rokoknya dan menginjaknya kasar. Ia menyentuh dadanya sendiri yang dibalut perban. Tendangan Arga semalam mematahkan satu tulang rusuknya, namun arogansinya menutupi rasa takutnya.

​"Halah, itu cuma kebetulan karena kita lengah!" sungut Bang Jali sombong. "Lagian, mau dia sekuat apa pun, dia cuma pecundang kere! Utang enam puluh juta itu nggak bakal bisa mereka bayar. Hari minggu besok, kita bawa sepuluh orang, culik si Senja, dan kita jual ke Bos Mami di pelabuhan. Gadis semanis dia pasti dihargai ratusan juta. Kita bakal kaya raya!"

​Ketiga anak buahnya bersorak girang, membayangkan pesta pora yang akan mereka lakukan dengan uang haram tersebut.

​Namun, sorakan itu terpotong oleh sebuah suara hantaman yang sangat menggelegar.

​BRAAAAKKK!!!

​Pintu besi gudang seberat puluhan kilogram itu tidak sekadar ditendang; pintu itu terlepas dari engsel las-lasannya dan terbang menghantam tumpukan karung beras di sudut ruangan, menciptakan kepulan debu tebal.

​Tawa para preman terhenti seketika. Mereka melompat dari kursi, mencabut pisau lipat dan golok yang terselip di pinggang mereka.

​Dari balik kepulan debu debu yang perlahan menipis akibat sinar matahari dari luar, muncullah sebuah siluet tinggi besar. Siluet itu melangkah masuk dengan ketenangan yang luar biasa mengerikan.

​Arga Danendra berdiri di sana. Kemeja putihnya bersih tanpa cela, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dengan gaya aristokrat yang angkuh. Matanya, yang setajam pisau bedah, menyapu seluruh isi ruangan kotor itu, menatap belasan preman yang kini mengepungnya seolah mereka hanyalah sekumpulan debu yang mengganggu pemandangannya.

​"Kau..." Bang Jali membelalakkan matanya ngeri. Keringat dingin langsung membanjiri lehernya. "P-Pacar gembel si Senja! Berani-beraninya kau datang kemari sendirian?! Cari mati kau?!"

​Arga menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan meja Bang Jali. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Bang Jali dengan pandangan merendahkan yang sangat absolut.

​"Semalam, kau masuk ke rumahnya dengan cara menendang pintu," suara Arga mengalun rendah dan pelan, nyaris seperti bisikan, namun bergema di seluruh penjuru gudang. "Hari ini, aku mengembalikan ketukan pintu itu pada rumahmu."

​"Bunuh dia! Cincang dia sekarang!" teriak Bang Jali panik, memberikan komando pada delapan anak buahnya yang ada di ruangan itu.

​Delapan preman bersenjata tajam menerjang maju serentak, mengepung Arga dari segala arah dengan teriakan brutal.

​Bagi orang biasa, ini adalah akhir hidup mereka. Namun bagi Arga Danendra, pria yang dilatih oleh mantan pasukan khusus bayaran saat ia menaiki tangga kekuasaan dunia bawah, delapan preman pasar ini bergerak terlalu lambat. Sangat lambat.

​Arga menarik kedua tangannya dari saku. Matanya menyipit membunuh.

​Preman pertama mengayunkan golok ke arah leher Arga. Dengan gerakan minimalis yang presisi, Arga memiringkan tubuhnya, membiarkan mata pisau itu lewat hanya beberapa milimeter dari wajahnya, lalu ia meraih pergelangan tangan preman itu. Dengan satu putaran brutal yang berlawanan dengan arah sendi, terdengar suara patahan tulang yang mengerikan.

​KRAK!

​"Aaaarrgghhh!!" preman itu menjerit histeris saat lengan kanannya patah menjadi sudut yang tidak wajar.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arga menggunakan tubuh preman yang menjerit itu sebagai tameng untuk menahan sabetan pisau dari preman kedua. Di saat preman kedua terkejut melihat temannya tertusuk, Arga melepaskan tamengnya, melesat maju, dan mendaratkan pukulan telak ke ulu hati preman kedua. Pukulan itu sangat keras hingga preman itu memuntahkan cairan lambungnya dan langsung pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

​Pertarungan itu bukanlah sebuah perkelahian; itu adalah sebuah pembantaian sepihak. Sebuah eksekusi mekanis.

​Arga bergerak layaknya bayangan hitam yang tak tersentuh. Ia menghindar, menangkis, dan menyerang titik-titik paling mematikan pada tubuh manusia. Sendi lutut, rahang, ulu hati, pangkal leher. Ia tidak menggunakan senjata apa pun selain kepalan tangan dan kakinya. Setiap kali ia melayangkan serangan, terdengar suara patahan tulang dan jeritan penderitaan. Darah mulai memercik, menodai lantai gudang yang berdebu.

​Hanya butuh waktu kurang dari dua menit. Delapan preman bayaran itu kini terkapar di lantai, mengerang dalam genangan darah mereka sendiri, tak mampu lagi menggerakkan jari-jarinya.

​Ruangan itu mendadak sunyi, hanya diisi oleh suara erangan kesakitan yang memilukan.

​Arga berdiri di tengah-tengah tumpukan tubuh yang kalah itu. Napasnya tetap teratur, tak sedikit pun terengah-engah. Kemeja putihnya masih bersih, tak ada satu tetes darah pun yang berhasil mengotorinya.

​Bang Jali, sang ketua rentenir yang tadinya sombong, kini jatuh terduduk di kursinya. Kakinya gemetar hebat hingga ia mengompol di celana. Pisau di tangannya terlepas, berdenting di lantai. Matanya menatap Arga dengan teror murni, seolah ia sedang menatap sang iblis yang bangkit dari neraka terdalam.

​Arga melangkah perlahan mendekati Bang Jali. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai gudang terdengar seperti detak jam menuju kematian bagi preman berbadan tambun itu.

​"T-Tolong... ampun... Tuan... ampun..." Bang Jali merosot dari kursinya, jatuh berlutut, dan bersujud mencium sepatu Arga. Seluruh arogansinya telah menguap. "S-Saya salah... Tolong jangan bunuh saya..."

​Arga menunduk. Tangan besarnya menjambak rambut keriting Bang Jali, menarik wajah pria itu ke atas dengan kasar hingga mereka saling bertatapan. Arga tidak berteriak, ia tidak membentak. Namun suara baritonnya yang tenang itu justru terasa ribuan kali lebih mengancam.

​"Semalam, kau membuat gadis itu berlutut di kakimu dan menangis," desis Arga, matanya berkilat penuh kekejaman. "Kau menghancurkan piringnya. Kau membuang uang tabungannya yang ia kumpulkan sambil menahan lapar. Kau menginjak-injak harga dirinya, Jali."

​"A-Ampun... saya tidak tahu dia milik Tuan... Saya akan ganti semua barangnya! Saya akan ganti seratus kali lipat!" tangis Bang Jali histeris.

​"Enam puluh juta," Arga mengabaikan tangisan preman itu. Ia menyebut angka itu dengan nada mengejek. "Kau mengancam nyawanya demi angka sampah sebesar enam puluh juta?"

​Arga melepaskan jambakannya, membiarkan kepala Bang Jali membentur lantai. Ia kemudian menginjak dada pria itu, tepat di atas tulang rusuknya yang patah, lalu menekan sol sepatunya kuat-kuat.

​"A-Aaaargghhh!! Sakitt!!" jerit Jali, napasnya nyaris putus karena paru-parunya tertekan hebat.

​"Di mana surat utang atas nama pamannya itu?" perintah Arga tak terbantahkan.

​Dengan tangan yang gemetar hebat dan meronta menahan sakit, Bang Jali merogoh saku dalam jaketnya, mengeluarkan selembar kertas berharga miliknya, dan menyerahkannya ke udara.

​Arga mengambil kertas itu. Ia membacanya sekilas, lalu merobek kertas itu menjadi kepingan-kepingan kecil bak salju, membiarkannya berjatuhan menimpa wajah Jali yang bersimbah keringat.

​"Mulai detik ini, Senja Kirana tidak memiliki utang apa pun padamu. Cari bajingan bernama Harun itu, dan tagih utangmu padanya. Jika aku mendengar kau atau anjing-anjingmu ini menyebut nama Senja lagi, atau berani menampakkan wajah kotor kalian dalam radius lima kilometer dari rumahnya..."

​Arga mencondongkan tubuhnya, menatap tepat ke dalam pupil mata Jali yang membesar karena teror.

​"...aku tidak akan hanya mematahkan tulangmu. Aku akan menguliti seluruh kulit keluargamu, mencabut akar-akar keturunanmu, dan memastikan tidak ada satu orang pun yang mengingat bahwa kau pernah hidup di dunia ini. Kau mengerti?!"

​"M-Mengerti, Tuan! Saya mengerti!! Saya bersumpah tidak akan pernah mendekatinya lagi! Saya bersumpah demi Tuhan!" isak Jali, mencium lantai berulang kali.

​Arga menarik kakinya dengan jijik. Ia membalikkan badan, membelakangi preman-preman yang hancur itu, dan melangkah keluar menuju cahaya matahari.

Ada sebuah hukum alam yang sering disalahpahami oleh mereka yang angkuh. Para preman seperti Jali merasa diri mereka adalah serigala buas karena berhasil menindas dan menerkam seekor domba yang tak berdaya. Mereka mabuk oleh kekuasaan semu yang mereka ciptakan sendiri, berpikir bahwa menindas orang miskin membuat mereka menjadi penguasa.

​Namun mereka lupa bahwa taring dan cakar tidak mendefinisikan kekuatan. Kekuasaan sejati tidak pernah berisik; ia tenang, tidak mencolok, dan sering kali bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Kehancuran Jali adalah pengingat yang sangat keras: Jangan pernah tertipu oleh kelembutan seseorang atau menginjak mereka yang lemah, karena kau tidak akan pernah tahu, di balik wajah domba yang kau tangisi, mungkin bersemayam seekor naga tidur yang hanya menunggu alasan tepat untuk membakar seluruh duniamu menjadi abu

​Sesampainya di luar, Arga menghela napas panjang, menyingkirkan kabut gelap dari kedua matanya. Dalam hitungan detik, transisi itu kembali terjadi. Otot-otot wajahnya yang tadinya kaku dan kejam, perlahan mengendur. Sorot matanya yang mematikan kembali berubah menjadi tenang dan hangat.

​Tugas kotornya telah selesai. Sekarang, ia harus kembali menjadi 'Kak Arga', pria amnesia baik hati yang menumpang hidup di rumah seorang bidadari pembuat roti.

​Sore harinya, matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga yang melukis langit kota.

​Senja Kirana berjalan gontai menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Langkah kakinya terasa berat. Hari ini di tempat kerja, konsentrasinya buyar. Pikirannya terus dihantui oleh ancaman Bang Jali dan nominal enam puluh juta yang mustahil ia kumpulkan. Ia telah meminta kasbon gajinya pada Pak Yanto, bosnya yang baik hati itu memberinya lima ratus ribu rupiah, namun uang itu hanya cukup untuk membeli material murah guna memperbaiki pintu dan jendelanya yang hancur.

​Dengan bahu turun dan wajah murung, Senja berbelok di ujung gang, bersiap menghadapi kenyataan pahit rumahnya yang hancur berantakan.

​Namun, saat matanya menangkap pemandangan di depan rumah kontrakannya, langkah Senja terhenti mendadak. Tas kain di tangannya merosot jatuh ke tanah. Mulutnya terbuka lebar, tak mampu memercayai penglihatannya.

​Pintu kayu lapuk yang semalam ditendang hingga hancur, kini telah raib. Sebagai gantinya, berdiri kokoh sebuah pintu dari kayu jati solid berwarna cokelat gelap dengan ukiran elegan dan engsel baja yang sangat mengilap. Kaca jendelanya yang pecah telah diganti dengan kaca tebal yang bening dan memantulkan cahaya senja dengan sempurna. Bingkai jendelanya terbuat dari aluminium berkualitas tinggi yang dicat hitam matte.

​"I-Ini... apa yang terjadi?" gumam Senja linglung, mengira ia salah masuk gang.

​Namun ini benar rumahnya.

​Senja bergegas maju, mendorong pintu kayu jati yang berat itu. Pintu terbuka tanpa suara derit sedikit pun. Di dalam ruangan, pemandangannya jauh lebih menakjubkan.

​Pecahan kaca, genangan air kotor, dan serpihan mangkuk yang berserakan pagi tadi telah lenyap tak berbekas. Lantai semennya disapu dan dipel hingga bersih berkilau. Lemari bajunya yang robek memang tidak ada, namun baju-bajunya kini terlipat sangat rapi dan wangi di dalam dua buah koper kanvas besar yang diletakkan rapi di sudut ruangan.

​Dan di tengah-tengah ruangan yang telah kembali rapi itu, duduklah Arga.

​Pria itu telah kembali mengenakan kaus abu-abu usangnya. Ia sedang duduk bersila, tangannya memegang sebuah palu kecil, berpura-pura sedang memaku sebuah paku di dinding untuk menggantung lap tangan. Peluh buatan membasahi pelipisnya, membuat penampilannya terlihat persis seperti seorang suami yang baru saja bekerja keras membetulkan rumah seharian.

​Mendengar suara pintu terbuka, Arga menoleh. Ia meletakkan palunya, berdiri, dan memberikan senyuman paling hangat yang pernah ia miliki.

​"Selamat datang, Senja. Kau pulang lebih awal," sapa Arga lembut.

​Senja masih berdiri mematung di ambang pintu. Matanya bergerak liar menatap pintu jati yang mewah, kaca jendela yang tebal, dan kembali pada wajah Arga.

​"K-Kak Arga... A-Apa yang terjadi di sini? Pintu ini... kaca ini... Dari mana semua ini?!" tanya Senja panik, air mata mulai kembali menggenang di matanya. "Jangan bilang Kakak pergi mencuri?! Pintu kayu jati ini harganya jutaan, Kak!"

​Mendengar tuduhan lugu itu, Arga tertawa renyah. Ia berjalan menghampiri Senja, mengambil tas kain yang jatuh di dekat kaki gadis itu.

​"Tentu saja tidak, pemikiranmu selalu terlalu dramatis, Nona," goda Arga dengan nada riang. Ia telah menyiapkan alibi yang sempurna—skenario yang disiapkan Raka siang tadi.

​"Saat kau pergi bekerja, Pak RT dan pemilik kontrakan ini datang. Mereka bilang ada program renovasi gratis dari pemerintah daerah untuk rumah-rumah rusak di gang ini. Karena pintu dan jendela kita hancur parah semalam, kita jadi prioritas utama. Mereka membawa tukang dan langsung memasang pintu bekas dari proyek gedung yang tidak terpakai," bohong Arga dengan sangat mulus dan meyakinkan tanpa berkedip sedikit pun.

​Senja mengerjap-ngerjapkan matanya. "B-Benarkah? Bantuan pemerintah? Tapi kayunya sangat bagus..."

​"Itulah rezeki orang baik," Arga menyela cepat, tidak memberikan Senja waktu untuk menggunakan logikanya. Ia mengangkat tangannya, mengusap puncak kepala Senja dengan penuh kasih sayang, membuat pipi gadis itu seketika merona merah hebat.

​"Aku yang membersihkan sisa ruangannya setelah para tukang itu pergi. Bagaimana? Apakah pekerjaanku cukup bagus untuk ukuran pria amnesia?" Arga memiringkan kepalanya, meminta pujian dengan gaya manja yang sama sekali tidak cocok dengan tubuh raksasanya, membuat Senja akhirnya tertawa geli di sela-sela air matanya.

​"Bagus sekali, Kak! Terima kasih banyak!" Senja menghapus air mata bahagianya. Beban seberat gunung di pundaknya terasa sedikit terangkat. Setidaknya, malam ini ia bisa tidur dengan pintu terkunci dan merasa aman.

​"Oh ya, Kak!" Senja teringat sesuatu. Ia merogoh saku roknya, mengambil uang lima ratus ribu hasil kasbon dari bosnya tadi. Ia menarik tangan Arga, dan meletakkan uang itu di telapak tangan pria tersebut.

​"Untuk apa ini?" tanya Arga bingung, menatap uang kertas itu seolah ia sedang menatap sebuah benda asing dari luar angkasa.

​"Ini gajiku di muka. Simpanlah, Kak," Senja menatap Arga dengan binar mata yang penuh ketulusan. "Kakak kan tidak punya apa-apa, dan Kakak sedang sakit. Pegang uang ini untuk jaga-jaga kalau lukanya kambuh atau kalau Kakak butuh sesuatu saat aku bekerja. Dan besok... mari kita masak ayam goring, bukan mi instan lagi!"

​Arga menatap uang lima ratus ribu rupiah di tangannya, lalu menatap wajah ceria Senja. Di rekening bank luar negerinya, saat ini terdapat bunga triliunan rupiah yang terus bertambah setiap detiknya. Namun, menahan uang lima ratus ribu yang didapatkan dari keringat dan pengorbanan gadis di depannya ini, Arga merasa bahwa ia memegang harta karun paling berharga di seluruh dunia.

​"Terima kasih, Senja," bisik Arga, menggenggam uang itu erat-erat, seolah itu adalah jimat pelindung.

​Sore itu, sang penguasa yang tak tersentuh rela membuang seluruh keangkuhannya, berlutut pada takdir, dan menenggelamkan dirinya sepenuhnya ke dalam kebahagiaan manis di dalam istana kecil milik Senja Kirana.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!