❌ BOM LIKE‼️
Suara musik menghentak memenuhi klub malam. Malam itu, Cintya baru saja dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Ia berlari menghindari pria-pria yang ingin menyentuhnya.
"Gue gak mau! Lepasin gue!"
"Berhenti! Gak ada jalan keluar untukmu!"
Bruk!
Tanpa sengaja, Cintya menabrak Victor Joseph, mafia berdarah dingin yang hendak masuk ruang VIP.
"Maaf ... maaf..." ucap Cintya ngos-ngosan.
Victor yang hendak marah, mendadak terdiam. Selama lima tahun, sentuhan wanita selalu membuatnya mual dan sesak napas akibat racun. Namun, sentuhan Cintya ... tidak bereaksi.
"Tuan Victor, gadis itu baru dijual ke sini."
"Serahkan dia."
"Harganya mahal."
"Saya beli. Sepuluh miliar."
"Apa?!" Cintya syok berat.
Tak ada yang menyangka, Cintya adalah satu-satunya penawar bagi Victor.
Namun, sanggupkah Cintya bertahan di tengah keluarga mafia yang dipenuhi kekejaman dan perebutan takhta pewaris?
Cintya merasa seperti baru saja keluar dari kandang buaya & masuk ke kandang macan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Cutꪻᶠᵃᵗᶦ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
014 – TVPM
...🍷 Happy Reading 🍷...
...-------🦋-------...
Mobil hitam Victor melaju pelan menembus jalanan yang sepi. Hujan mulai turun mengguyur jalan dan membasahi kaca mobil yang sesekali disapu wiper.
Cintya meringkuk di pangkuan Victor, diselimuti jas hitam miliknya. Wajahnya masih pucat setelah pengambilan darah tadi.
"Tuan." Suara Tristan terdengar dari depan. "Ada tiga mobil mengikuti dari belakang. Jaraknya sekitar dua kilometer."
Rahang Victor mengeras. "Claudia?"
"Bukan, Tuan. Lambang harimau. Kelompok Marco."
Victor mendecak pelan. Musuh lamanya. "Mereka tahu saya nikah?"
"Sepertinya, Tuan."
Cintya membuka mata perlahan. "Om ... ada apa?"
Victor mengusap rambut Cintya lembut. "Tidur. Ada anjing yang ingin menggonggong."
Cintya mengernyit. "Hah?"
DOR!
Suara tembakan tiba-tiba memecah kesunyian di tengah-tengah hujan.
Ban mobil terkena tembakan dan membuat kendaraan itu seketika oleng.
Cintya refleks menjerit kecil.
Victor tanpa pikir panjang langsung menutupi tubuh Cintya dengan tubuhnya sendiri. Satu tangannya tetap menahan gadis itu agar tidak terjatuh, sementara tangan lainnya meraih pistol dari samping kursi.
"Cin, dengerin saya." Suara Victor rendah namun tegas. "Pejamkan mata. Jangan lepas pelukannya."
Cintya mengangguk cepat, tangannya mengerat pada bahu lebar Victor.
Mobil semakin oleng. Tembakan kembali terdengar dari kejauhan.
Tristan memutar setir dengan cepat, berusaha mempertahankan kendali mobil. "Ban belakang bocor, Tuan!"
"Saya tahu."
"Kalau terus begini kita—"
"Jangan panik." Suara Victor tetap tenang, tapi netranya terus menatap Cintya.
Di tengah kekacauan itu, Victor justru tertawa dingin. "Mau mengalahkan saya dengan cara menyerang istri saya?"
Victor mengangkat wajahnya. "Pengecut."
Cintya yang masih bersembunyi di balik tubuh Victor membuka satu matanya sedikit.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Victor seperti itu. Bukan sekadar pria dingin dan jabatan mafia yang ditakuti banyak orang.
Tapi juga seseorang yang bisa berubah menjadi jauh lebih mengerikan ketika orang lain mencoba menyentuh sesuatu yang dianggapnya milik sendiri.
Dan yang paling membuat Cintya bingung, monster ini sedang melindunginya?
"Tristan."
"Ya, Tuan?"
"Belok ke jalur lama."
Tristan langsung terdiam. "Tuan ... jalur lama itu?"
"Hm."
"Tapi jalan itu buntu."
Victor tersenyum tipis. "Memang."
Tristan akhirnya mengerti. "Baik, Tuan."
Mobil berbelok tajam menuju jalan kecil yang hampir tidak terlihat karena hujan semakin deras, tiga mobil di belakang masih mengejar dengan kesetanan.
"Jarak mereka tinggal lima ratus meter!" seru Tristan.
Victor menunduk menatap Cintya.
Gadis itu masih memejamkan mata, tubuhnya sedikit gemetar.
"Cin."
Cintya berdehem. "Hm?"
"Takut?"
Cintya diam beberapa detik. "Iya..." Bagaimana tidak, baru kali ini ia mengalami hal seperti ini.
Victor mengusap kepalanya. "Jangan takut."
Cintya melotot. "Om ngomong gampang bet..."
Victor terdiam sebentar, lalu suaranya melembut. "Saya ada di sini."
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat Cintya sedikit tenang, wajahnya kembali bersemu. 'Gue kenapa...?'
Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Mobil mereka tiba-tiba dihantam dari samping.
BRAK!
Cintya kembali terkejut dan refleks memeluk Victor semakin erat.
Victor langsung menahan tubuhnya. "Tristan!"
"Saya masih bisa kendalikan!"
"Bagus."
Victor menatap ke belakang melalui kaca, tiga mobil itu semakin dekat.
"Sudah masuk ke perangkap." Tristan tersenyum tipis.
Suara Tristan terdengar. "Seperti biasa?"
Victor berdehem.
Mobil Victor terus melaju sampai akhirnya memasuki jalan sempit yang diapit oleh pepohonan lebat.
Mobil-mobil Marco ikut masuk, namun beberapa detik kemudian...
Satu mobil berhenti mendadak, mobil kedua ikut mengerem dan mobil ketiga hampir menabraknya.
Di depan mereka, jalan tiba-tiba tertutup oleh beberapa kendaraan hitam yang sudah menunggu.
Tristan melirik kaca spion. "Pasukan kita sudah datang, Tuan."
Victor tersenyum dingin. "Bagus." Ia kemudian menatap Cintya yang masih berada dalam pelukannya.
"Cintya."
Gadis itu membuka mata. "Iya Om, kenapa?"
"Jangan keluar dari mobil."
Cintya mengangguk.
Victor hendak turun, namun ia merasa tangan Cintya tiba-tiba menarik ujung kemejanya.
"Om."
Victor berhenti. "Apa?"
Cintya menatapnya cemas. "Jangan kenapa-kenapa."
Untuk sesaat, Victor hanya diam.
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat tatapannya berubah, kemudian ia mengusap kepala Cintya sekali. "Saya akan kembali."
Pintu mobil akhirnya berhasil tertutup, tinggalah Cintya dan Tristan di dalam mobil.
Cintya hanya bisa melihat dari balik kaca ketika Victor berjalan menembus hujan.
Sosoknya semakin jauh, memimpin jalan dengan di kelilingi oleh anak buah.
Cintya menggigit bibir bawah resah. 'Kenapa gue malah khawatir sama dia? Tapi dia gak bakal mati kan?'
Sementara itu, Victor berhenti beberapa meter dari mobil-mobil Marco.
Seorang pria turun dari salah satu kendaraan. "Victor!"
Victor memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Marco," desisnya.
Pria itu tersenyum sinis. "Jadi benar, kau sudah menikah."
Tatapan Victor berubah tajam. "Itu urusan saya."
Marco tertawa. "Dan katanya istrimu punya sesuatu yang sangat berharga."
Seketika wajah Victor berubah semakin dingin. "Apa maksudmu?"
Marco tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Kau pikir kami mengejar kalian cuma karena ingin membunuhmu?"
Victor terdiam.
Marco kemudian mengucapkan satu kalimat yang membuat udara terasa jauh lebih dingin.
"Kami mengincar perempuan yang kau bawa di dalam mobil itu."
Tatapan Victor seketika berubah gelap.
"Berani sekali kau."
Senyum Marco menghilang, pancingnya. "Serahkan gadis itu..."
Victor tertawa kecil, tawa rendah yang menyeramkan.
"Sepertinya kalian semua belum tahu satu hal." Victor melangkah maju.
"Kalau mau menyentuh saya, silakan." Tatapannya semakin tajam.
"Tapi kalau menyentuh istri saya..." Victor berhenti tepat di hadapan Marco.
"Kalian sedang memilih kematian kalian sendiri."
Di dalam mobil, Cintya sama sekali tidak tahu bahwa namanya baru saja menjadi alasan sebuah perang besar dimulai.
Marco terkekeh. "Santai saja. Aku cuma penasaran. Selama bertahun-tahun kau bahkan tidak pernah terlihat tertarik membawa seorang perempuan ke dalam urusanmu, sekarang tiba-tiba punya istri?"
Victor tidak menjawab.
Marco melirik ke arah mobil Victor. "Namanya Cintya, bukan?"
Dalam sekejap, sorot mata Victor berubah. "Jangan sebut namanya."
Marco terdiam sesaat, kemudian sudut bibirnya terangkat. "Oh?"
Victor melangkah maju. "Kalau urusanmu dengan saya, bicarakan dengan saya. Jangan libatkan dia."
Marco justru tertawa kecil. "Menarik."
"Apa?"
"Baru kali ini aku melihatmu seperti itu."
Victor menatapnya tajam. Marco mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
"Tenang. Aku tidak tahu apa-apa tentang istrimu." Ia cuma memancing, ingin mengetahui seberapa pentingnya Cintya bagi Victor.
Marco sengaja berhenti sebentar. "Aku cuma tahu satu hal."
"Apa?"
"Victor Joseph sekarang punya sesuatu yang bisa dia lindungi."
Rahang Victor mengeras.
Marco tersenyum puas melihat reaksinya.
"Kau tahu, selama ini kelemahanmu hampir tidak ada, karena kau terlalu percaya diri. Tapi sekarang..." Tatapannya kembali mengarah ke mobil. "Kau punya seseorang yang bisa digunakan untuk membuatmu kehilangan kendali."
Victor tertawa pelan, sangat dingin. "Jadi itu alasan kalian menyerang?"
"Sebagian."
"Sebagian?"
Marco tidak menjawab, ia hanya tersenyum penuh arti.
Victor langsung memahami satu hal.
Marco tidak tahu tentang darah Cintya. Tapi sepertinya Marco sudah curiga. 'Sial.'
"Marco."
"Hm?"
"Kalau kau datang hanya untuk menguji apakah dia kelemahan saya..."
Victor melangkah semakin mendekat. "Jawabannya tidak."
Marco mengangkat alis.
Victor tersenyum tipis. "Karena kalau ada yang menyentuhnya, saya tidak akan kehilangan kendali." Tatapannya berubah tajam.
"Saya akan menghabisi kalian dengan kendali penuh."
Suasana seketika menjadi hening.
Marco menatap Victor beberapa detik sebelum tertawa. "Baiklah, Victor."
Marco mundur perlahan. "Kalau begitu, kita lihat saja seberapa lama kau bisa melindungi perempuan itu."
Victor tidak menjawab, namun matanya terus mengikuti Marco. Ada sesuatu yang tidak ia sukai.
Marco memang belum mengetahui rahasia Cintya.
Tetapi sekarang...
Marco sudah tahu bahwa Cintya adalah titik yang sangat sensitif bagi dirinya. Dan ... juga curiga.
Dan itu cukup berbahaya.
Victor berbalik dan kembali menuju mobil.
Sementara di dalam mobil, Cintya menatapnya dari balik kaca dengan wajah cemas.
Begitu pintu terbuka, Victor langsung masuk.
Cintya menatapnya. "Udah?"
"Hm."
"Mereka siapa?"
Victor menepuk kepala Cintya pelan. "Musuh lama."
Cintya mengerutkan kening. "Terus kenapa mereka ngejar kita?"
Victor menatapnya beberapa detik. "Mereka cuma ingin menguji saya."
Kening Cintya mengerut. "Menguji?"
"Hm." Victor mengusap rambut Cintya.
"Dan mereka sudah mendapat jawabannya."
Cintya semakin bingung. "Jawaban apa?"
Victor hanya diam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa keberadaan Cintya baru saja membuat musuh lamanya menemukan titik lemahnya.
Apalagi tentang darahnya. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu, termasuk keluarganya sendiri, tentang seberapa besar nilai darahnya bagi dunia di luar sana.
Victor menoleh ke arah Tristan. "Jalan."
"Baik, Tuan."
Mobil kembali melaju menembus hujan.
Namun tanpa mereka sadari...
Dari dalam mobil Marco, seseorang sedang memperhatikan kendaraan Victor yang semakin menjauh.
"Bos."
Marco menatapnya. "Kenapa?"
"Sepertinya perempuan itu memang penting bagi Victor."
Marco tersenyum tipis. "Aku juga berpikir begitu, dan sedikit mencurigakan."
"Haruskah kita menyelidikinya?"
Marco terdiam sejenak, memudian ia menatap ke arah jalan yang mulai kosong.
"Selidiki, tapi jangan sentuh dia."
Anak buahnya mengangguk.
Marco tersenyum. "Belum saatnya."
Karena saat ini ... Marco belum tahu apa yang membuat Cintya begitu berharga, tapi ia akan mencari tahu.
...🦋Bersambung...🦋...