Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
'Kencan Pertama'
Awal aku mengenal Jeni karena intensitas pertemuanku di acara reuni alumni SMA cukup sering. Saat ada acara reuni, masing-masing angkatan dipilih untuk menjadi panitia pelaksana. Aku dan Jeni sama-sama terpilih menjadi panitia. Kami berbeda tiga angkatan, namun karena kami sudah sama-sama menjadi alumnus dan sama-sama masih sendiri maka kami pun mulai dekat. Jeni cantik, juga sangat ramah, mungkin karena itu aku tertarik padanya.
Jeni sering mengirimkan pesan WA hanya untuk sekedar bertanya sedang apa, sudah makan atau belum, dan kalimat basa-basi lainnya. Aku yang sudah memulai usaha di bidang kontruksi tidak bisa menanggapi chat Jeni dengan leluasa, jadi balasanku selalu singkat tanpa menanyakan hal serupa padanya.
Tak hanya chat, Jeni juga sering memintaku datang ke kampusnya atau mengajakku keluar. Membuat aku yang awalnya tertarik padanya berbalik menjadi cukup terganggu. Namun sejak pandanganku tertarik pada Dira, aku jadi semangat menerima ajakan Jeni. Pasalnya Dira sering terlihat bersama Jeni, meski hanya sekilas, tapi bisa membuat hatiku bahagia luar biasa.
Siapa yang menyangka, di usia yang ke 26 tahun kala itu aku merasa seperti terlahir kembali menjadi remaja puber! Menyenangkan sekali.
Dira laksana sopir pribadi Jeni, hal itu baru kuketahui saat aku tidak sengaja bertemu Dira di pelataran minimarket. Saat itu Dira duduk di atas sepeda motor seorang diri. Dan aku yang tengah menaruh hati padanya, tentu tak menyiakan kesempatan itu. Kuhampiri gadis itu dengan wajah yang berseri-seri.
“Dira, kan?” Sapaku. Dira yang tengah melamun itu sontak menoleh.
“Iya, pacarnya Mbak Jeni yang sering ke kos itu kan, ya? Mas.. Mas siapa lupa aku, Mas.” Jawabnya sambil mencoba mengingat namaku.
“Fariq.” Sahutku, agak tidak terima juga batinku saat Dira menyebutku sebagai pacar Jeni.
“Mbak Jeni di dalam, Mas. Mau beli pembalut katanya tapi sampai sekarang masih muter aja belum ke kasir.” Gerutunya sambil menunjuk Jeni yang masih sibuk memilih barang di rak perawatan tubuh.
“Kamu nggak masuk sekalian?”
“Nggak, Mas. Belum ada yang aku cari, ini tadi Mbak Jeni minta tolong antar kesini karena dia malas jalan dan juga nggak bisa naik motor, makanya ngajak aku kesini.” Kusimak betul setiap perkataan Dira, juga tak lupa mencuri pandang pada wajah ayunya.
“Oh, jadi Jeni nggak bisa naik motor?” Tanyaku, pantas saja selama ini ia sering memintaku menjemput ke kampusnya atau memintaku mengantar kesana kemari. Hobinya berjalan-jalan, sehingga hampir setiap hari ia mengajakku keluar.
“Nggak bisa, Mas. Jadi ini memang motornya, tapi yang pakai anak satu kos. Kalau ke kampus atau keluar kemana gitu seringnya ngajak aku karena kami sekamar dan satu fakultas juga.” Terang Dira panjang lebar.
Sejak aku tahu penuturan Dira sore itu, aku jadi sering mengiyakan ajakan Jeni ke suatu tempat. Hanya saja aku berdalih tidak bisa menjemputnya dan berharap ia datang ke tempat itu bersama Dira. Sesibuk apapun aku, jika Jeni memintaku datang ke kosnya tak pernah kutolak. Lagi-lagi itu semua kulakukan demi bisa berjumpa dengan Dira.
Ada suatu hari yang tidak pernah bisa aku lupakan sampai detik ini. Saat dimana aku bisa berboncengan dengan Dira tanpa ada Jeni yang bersama kami.
Hari itu seperti biasa Jeni mengajakku bertemu di Taman Bungkul. Sepulang kerja aku sempatkan mandi dan merapikan pakaianku ala kadarnya, lalu tibalah aku disana menemui Jeni dan juga Dira. Tak banyak yang dilakukan Dira saat bersamaku dan Jeni, ia selalu sibuk dengan ponselnya sendiri sambil memesan es teh manis kesukaannya. Sedikit iba rasanya saat melihat Dira yang bagaikan obat nyamuk di antara aku dan Jeni, tapi Dira sendiri yang menuturkan bahwa orangtua Jeni yang meminta tolong langsung pada Dira supaya bersedia menemani Jeni saat mengendarai motor.
Hari berganti malam, sudah waktunya kami bertiga pulang ke tempat kami masing-masing. Namun tidak disangka motor Jeni mogok dan membutuhkan bantuan montir. Karena hari sudah cukup malam, maka kutawarkan pada mereka untuk kuantar pulang. Biar urusan motor kuserahkan pada kawanku yang montir. Jeni setuju dan langsung naik ke boncenganku tanpa sungkan. Berbeda dengan Jeni, Dira justru menolak dan berkata akan menumpang ojek online saja supaya aku tidak perlu bolak-balik.
Tentu saja inisiatif Dira tak bisa kuterima sama sekali. Akku beralasan kawanku sedang dalam perjalanan ke taman untuk melihat kondisi motor sehingga harus tetap ada yang menjaga mmotor Syukurlah Dira menurut.
Tak menunggu lama, aku pun buru-buru mengantar Jeni ke kosannya dan bergegas ke taman untuk menjemput Dira. Tidak akan kusiakan kesempatan yang ada. Membonceng gadis pujaan di malam hari menyusuri kerlap-kerlip Kota Surabaya, pastilah tidurku nyenyak malam ini. Akan kuajak ia berkeliling sebentar, jika ada yang menyebutnya modus maka aku ikhlas mengaminkan.
Dira terlihat berulang kali menguap saat aku datang, basa-basi kutanyakan apakah temanku yang montir sudah datang. Ia hanya menggeleng, mungkin ia benar-benar mengantuk sehingga malas membuka suara. Ia baru bersuara saat motorku mengarah ke jalan yang tidak seharusnya. Lekas saja aku beralasan mendapat pesan dari Jeni untuk membelikannya nasi goreng. Setibanya di penjual nasi goreng, kutawarkan padanya untuk ikut makan bersamaku namun ternyata ia menolak. Beruntung ia masih menerima teh hangat yang kupesan sehingga hati ini tak begitu nelangsa.
Nasi goreng sudah ada di hadapan lengkap dengan kerupuk udang kecilnya. Gadis di depanku segera mempersilakanku makan. Kumasukkan sesuap demi sesuap seporsi nasi goreng sambil berbincang dengannya. Cukup seru obrolan kami sampai tak terasa Dira ikut menyuap nasi gorengku dengan kerupuk udang. Kubiarkan dia ikut menikmati nasi goreng itu, romantis sekali menurutku makan sepiring berdua seperti ini. Hingga tiba di suapan terakhir ia baru menyadari jika sudah turut menghabiskan makananku.
“Ya ampun maaf, Mas. Kok aku malah ikut makan, ya. Maaf, maaf.” Ucapnya salah tingkah. Aku hanya terkekeh melihat wajahnya memerah karena malu, dia tidak tahu saja bahwa berada di depannya saat ini sudah cukup membuatku kenyang.
“Santai aja kali, Ra. Malah aku seneng ada yang bantuin makan, kalau nggak kamu bantuin pasti nggak habis. Porsinya banyak banget.” Kataku, Dira masih tersenyum malu sambil meminum tehnya.
Mata ini terus memandangnya sampai membuat Dira salah tingkah dan memukul lenganku.
“Ya udah, yuk cabut sekarang. Mbak Jeni pasti udah nungguin nasi gorengnya.” Ajaknya saat penjual nasi goreng terlihat asyik membungkus pesanan kami.
Hampir satu jam kami berada di kedai itu, meski singkat tapi momen itulah yang paling ingin kuulang. Jika diizinkan mengulang pasti kuajak Dira ke tempat-tempat indah dan kunyatakan perasaanku disana.