Indonesia
NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Rindu yang Terbiasa

Dering panggilan video dari layar ponsel yang tergeletak di atas meja kerja memecah konsentrasi Evita. Saat nama "Yunita" tertera di layar dengan foto profil wajah adiknya yang tersenyum manis, mengulas senyum tipis di bibir Evita. Tanpa menunda, ia segera mengusap tombol hijau.

Wajah Yunita seketika memenuhi layar. Gadis cantik itu mengenakan jas laboratorium putih yang agak longgar, berlatar belakang koridor kampus UGM yang teduh.

"Mbak Vita!" sapa Yunita riang, suara renyahnya terdengar jernih dari pengeras suara.

"Hai, Yun. Baru selesai kuliah?" tanya Evita lembut seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerja butik.

"Baru selesai ujian praktikum semester ini, Mbak! Dan tebak apa?" Yunita mendekatkan wajahnya ke kamera dengan binar mata yang berbinar penuh antusiasme. "Jadwal liburanku sudah keluar! Jumat besok aku langsung naik kereta malam pulang ke Surabaya!"

Tawa halus meluncur dari bibir Evita. "Beneran? Keyra pasti senang banget kalau tahu tantenya mau pulang. Dia belakangan ini sering nanyain kamu terus."

"Aku juga kangen banget sama Keyra, Mbak. Kangen suasana rumah juga," tutur Yunita, suaranya melunak hangat.

Perselisihan tajam dan ketegangan dingin yang sempat merenggangkan hubungan mereka beberapa tahun lalu di Surabaya kini telah benar-benar luruh. Pertengkaran hebat akibat kesalahpahaman masa lalu itu justru menjadi titik balik yang mendewasakan mereka berdua. Melalui komunikasi jarak jauh yang rutin dan saling menurunkan ego, dua saudara kandung itu telah menemukan kembali kehangatan dan rasa saling menghargai yang lebih utuh dari sebelumnya.

"Nanti Mbak jemput di stasiun jam berapa?" tanya Evita.

"Nggak usah dimanja gitu, Mbak. Aku bisa naik taksi online langsung ke rumah," sahut Yunita terkekeh. "Mbak fokus saja sama butik. Oh iya, persiapan koleksi baru Hani’s Atelier lancar, kan?"

"Lancar, Yun. Semuanya terkendali," jawab Evita mantap.

Usai mengobrol singkat dan berjanji akan menyambut kepulangannya di akhir pekan, panggilan video itu berakhir. Evita meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, merasakan kehangatan yang melapangkan dadanya.

Sore harinya, Evita menyetir mobilnya sendiri melintasi kawasan kota lama Surabaya untuk mengantarkan pesanan gaun pesta milik pelanggan setia.

Dalam perjalanan pulang, mobilnya terhenti di garis depan saat lampu lalu lintas di persimpangan jalan berubah merah. Evita menyandarkan siku di jendela, mengedarkan pandangan ke sudut trotoar di sebelah kirinya.

Mata Evita tertahan pada sebuah bangunan toko kelontong modern yang terang. Tempat itu... dulunya adalah kedai makan sederhana beratap seng. Kedai tempat seorang pemuda berusia delapan belas tahun dulu bekerja keras, tempat dari mana aroma masakan hangat dan potongan kue balok cokelat kerap dibawa menuju butiknya saat jam makan siang.

Evita menatap sudut jalan itu dengan pandangan yang amat tenang. Tidak ada penyesalan yang dramatis, tidak ada air mata, dan tidak ada lagi kecemasan yang melanda. Yang ada hanyalah sebuah penerimaan yang matang.

Ruang kosong yang ditinggalkan Vino kini telah terisi oleh rutinitas harian yang padat dan fokus utamanya untuk membesarkan Keyra serta membesarkan bisnisnya secara mandiri. Sosok pemuda yang dulu selalu hadir membawa kehangatan itu kini telah menjadi bagian dari masa lalu yang ia simpan dengan rapi dan terhormat. Rindu akan kehadiran sederhana itu tak lagi terasa menggebu, rindu itu telah menjelma menjadi kebiasaan halus yang mengiringi kedewasaannya.

Lampu lalu lintas berganti hijau. Evita menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah jalanan Surabaya menuju rumahnya.

Di dalam butik Hani’s Atelier, Evita mengadakan rapat singkat bersama Mba Sarni dan dua staf penjahit seniornya. Di atas meja kayu, terhampar sketsa-sketsa gaun pesta terbaru dan lembaran arus kas keuangan.

"Mba Vita, untuk modal pembelian kain sutra dan payet impor koleksi ini, apa kita perlu mengajukan pinjaman modal usaha tambahan atau mencari investor luar?" tanya Mba Sarni seraya mencatat poin-poin rapat.

Evita menggeleng tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Tidak perlu, Mba Sarni. Kita pakai murni dari tabungan alokasi pengembangan usaha butik yang sudah kita kumpulkan setahun terakhir."

Usai melewati pengalaman traumatis atas sikap dominan dan manipulatif Pak Hendra yang mencoba memborong kontrol bisnis dan hidupnya menggunakan uang, Evita telah bersumpah pada dirinya sendiri. Ia tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain, terutama pria yang mengatasnamakan bantuan finansial untuk mengatur atau mendikte jalan hidup dan karya-karyanya. Hani’s Atelier akan berdiri tegap di atas kakinya sendiri.

"Baik, Mba Vita. Kalender produksinya akan langsung saya susun besok pagi," sahut Mba Sarni penuh rasa hormat.

Malam harinya, suasana rumah terasa begitu syahdu. Lampu ruang keluarga memancarkan cahaya kuning yang hangat. Di atas karpet bulu yang lembut, Keyra duduk memangku buku mewarnai, sibuk menggoreskan krayon warna-warni pada gambar kartun favoritnya.

Evita duduk di samping anak tunggalnya, merapikan helai rambut halus Keyra yang tergerai.

"Mama, ini warnanya sudah betul kan?" tanya Keyra polos seraya memamerkan hasil gambarannya yang sedikit keluar garis.

"Bagus banget, Sayang," puji Evita tulus, mencium pipi bulat anaknya yang beraroma bedak bayi. "O iya, Tante Yunita tadi menelepon. Katanya Jumat malam Tante mau pulang ke rumah ini."

Mata bulat Keyra seketika berbinar riang. "Hore! Tante Yunita pulang! Nanti Keyra mau ajak Tante mewarnai bareng!"

Evita tersenyum hangat, merengkuh tubuh kecil Keyra ke dalam pelukannya. Rumah ini kini terasa begitu aman, damai, dan penuh perlindungan. Tidak ada lagi ancaman bayang-bayang masa lalu, tidak ada lagi bisikan racun kasta sosial dari orang lain, dan tidak ada lagi ketakutan akan kebebasan yang terenggut.

Usai Keyra terlelap di kamarnya, Evita melangkah keluar menuju teras rumah. Angin malam Surabaya bertiup sejuk, mengibaskan helai gaun rumahan yang dikenakannya. Evita menengadah menatap langit malam yang ditaburi titik-titik bintang yang jernih.

Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan seraya menikmati kesendirian yang kini terasa begitu menenangkan. Evita tahu bahwa jalannya sebagai seorang ibu tunggal dan pemilik usaha mandiri tidak selalu mudah. Namun, berdiri di sini malam ini, dengan jiwa yang berdaya dan hati yang tenang, Evita menyadari bahwa dirinya telah berhasil memenangkan kembali kehidupannya sendiri.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!