Indonesia
NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18, DARAH DI TANAH KELAHIRAN

Terompet perang menderu, dan bumi bergetar di bawah langkah puluhan ribu prajurit Veyra. Zhoo berdiri di garis depan, pedang perak Oakhaven di tangan kiri, kepalan tangan kanannya erat. Di sebelah kiri Elara, di kanan Arvin, di belakang Kael dan Naira. Mereka tidak mundur satu inci pun.

"Jangan biarkan mereka memecah barisan!" teriak Zhoo, suaranya menembus gemuruh langkah kuda. "Bertahan sebagai satu, dan kita tidak bisa dikalahkan!"

Gelombang pertama pasukan Veyra menghantam mereka seperti badai batu. Pedang beradu, perisai berdentum, dan udara segera dipenuhi debu, keringat, dan aroma besi berdarah. Zhoo bergerak di antara barisan musuh bukan dengan amarah, tapi dengan ketenangan yang mengerikan — setiap tebasannya terukur, setiap pergerakannya melindungi orang di sebelahnya, bukan hanya dirinya sendiri. Di mana pun barisan persekutuan mulai terdesak, di sanalah ia muncul, seperti perisai hidup yang menahan hantaman yang tak tertahankan.

Namun jumlah musuh terlalu banyak. Di sisi kanan, pasukan Solis mulai terdesak di bawah serangan kavaleri berat Veyra. Naira berteriak menyemangati prajuritnya, memimpin serangan balik yang nekat, namun sebuah panah melesat dari kejauhan dan menancap di bahunya. Ia jatuh ke tanah, namun segera bangkit kembali, darah menetes di lengan, pedang masih terangkat.

"Jangan menyerah!" suaranya parau namun lantang. "Solis tidak tunduk!"

Di sisi lain, Arvin bertarung seolah ia sudah berdamai dengan kematiannya. Ia tahu setiap celanya bisa berarti kematian bagi orang di belakangnya, dan ia tidak membiarkan satu pun musuh melewatinya. Wajahnya yang penuh bekas luka kini basah oleh keringat dan darah musuh, namun matanya tetap dingin dan tajam.

"Zhoo! Mereka mendesak dari belakang!" seru Elara sambil menangkis serangan dua prajurit sekaligus. "Kita akan dikepung jika tidak mundur!"

"Kita tidak mundur!" jawab Zhoo, matanya menatap bukit di kejauhan tempat Raja Vereon berdiri menonton. "Tapi kita bergerak ke arah kiri! Menuju hutan! Di sana jumlah mereka tidak bisa diandalkan!"

Dengan perintah itu, seluruh pasukan persekutuan bergerak — bukan lari, tapi bertarung sambil mundur, setiap langkah dibayar mahal oleh musuh. Mereka menuju pinggiran hutan Oakhaven, tempat pohon-pohon raksasa menjadi sekutu terkuat mereka. Di sana, pasukan Veyra tidak bisa menggunakan kuda, tidak bisa membentuk barisan rapat. Keunggulan jumlah mereka lenyap.

Saat mereka akhirnya mencapai perlindungan pepohonan, napas mereka terengah-engah. Banyak yang terluka, banyak yang gugur. Zhoo berlutut di samping seorang prajurit muda yang napasnya semakin lemah. Anak itu belum cukup umur untuk memegang pedang, namun ia mati dengan senyum, tangan menggenggam erat lengan Zhoo.

"Kau lihat...?" bisik anak itu pelan. "Kita bertahan..."

Zhoo menunduk, air mata jatuh ke tangan anak itu. "Ya. Kita bertahan. Dan pengorbananmu tidak akan sia-sia."

Di kejauhan, Raja Vereon melihat mereka menghilang ke dalam hutan. Wajahnya semakin gelap, matanya memancarkan kebencian yang murni.

"Pengecut!" bentaknya, suaranya meledak di udara. "Mereka lari seperti binatang! Kirim pasukan pengejar! Bakar hutan itu jika perlu! Aku tidak peduli berapa banyak yang mati — aku ingin kepala Zhoo di kakiku sebelum matahari terbenam!"

Di dalam hutan, suasana tegang dan penuh luka. Para penyembuh sibuk merawat yang terluka, namun persediaan obat semakin menipis. Kael berjalan di antara barisan yang terluka, wajahnya pucat dan penuh kesedihan.

"Kita kalah jumlah, Zhoo," ucapnya pelan saat mereka berkumpul di bawah pohon besar yang rindang. "Jika mereka mengejar dan mengepung kita, kita tidak punya jalan keluar. Kita tidak punya cukup makanan, cukup obat, cukup prajurit..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!