Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Penawaran Hamdan
Kilatan cahaya lampu kota dari balik pagar kaca balkon ballroom memantul di mataku saat langkah sepatu pria berjas abu-abu itu memecah kesunyian.
Tepuk tangan gemuruh di dalam ruangan masih terdengar sayup-sayup menembus dinding kaca tebal di belakangku. Beberapa menit yang lalu, Sakti terpaksa melepaskan pinggangku saat belasan kamera jurnalis dan sekelompok menteri mengerumuninya di tengah lantai dansa.
Aku mengambil kesempatan itu untuk menyingkir dari pusat perhatian.
[Memindai Kondisi Fisiologis Inang.]
[Detak Jantung: 115 BPM. Suhu Permukaan Kulit Wajah: Meningkat.]
[Saran Sistem: Hindari stimulasi visual berlebih. Jaga jarak dari Subjek Sakti untuk menstabilkan hormon kortisol.]
Aku mencengkeram pagar pembatas balkon kuat-kuat. Teks hijau yang melayang di retinaku mengonfirmasi apa yang tubuhku rasakan. Tarian bersama Sakti barusan nyaris menghancurkan seluruh benteng profesionalisme yang kubangun dengan susah payah.
Suara langkah kaki itu berhenti tepat di sebelah kananku.
Aku menoleh dengan cepat.
Hamdan berdiri bersandar pada pagar kaca. Pria itu melepaskan kancing jas abu-abunya, memperlihatkan postur tubuhnya yang rileks. Senyum karismatik andalannya terukir jelas di wajahnya, sangat kontras dengan ketegangan yang baru saja kualami.
[Memindai Subjek: Hamdan. Posisi: CEO Apex Dynamics.]
[Status Emosi: Ketertarikan Kognitif Tinggi, Tulus, Persuasif.]
"Tarian yang sangat memukau, Nona Tera," sapa Hamdan memecah keheningan. "Dan eksekusi verbal yang sangat mematikan terhadap Caremel. Saya rasa, Vanguard Corp baru saja memenangkan piala ganda malam ini."
Aku melepaskan cengkeramanku dari pagar kaca dan berdiri tegak menghadapnya.
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, Pak Hamdan," jawabku dengan intonasi netral.
Hamdan tertawa pelan. Ia menatap pantulan cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit di bawah kami.
"Anda selalu merendah. Padahal, Anda baru saja membuktikan bahwa Anda memiliki kapasitas otak yang jauh melampaui seluruh analis senior di ruangan ini," ucap Hamdan, kali ini menatap langsung ke mataku.
Ia memajukan tubuhnya sedikit ke arahku.
"Mengidentifikasi senyawa Phthalocyanine Blue pada lukisan renaisans palsu hanya dengan pandangan mata telanjang dalam jarak dua meter? Itu bukan sekadar keberuntungan. Itu adalah wawasan ensiklopedik."
Aku mempertahankan ekspresi datarku. "Seni adalah bagian dari data, Pak Hamdan. Dan saya terbiasa memproses data."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Hamdan mengangguk pelan, seolah jawabanku justru memvalidasi sesuatu yang ada di dalam kepalanya.
Pria itu merogoh saku bagian dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit tipis dan mengambil selembar kartu akses berwarna perak metalik.
Hamdan meletakkan kartu akses itu tepat di atas pagar kaca pembatas, tepat di depan tanganku.
"Saya tidak suka berbasa-basi dalam urusan bisnis, Tera," Hamdan mengubah nada suaranya menjadi sangat serius dan profesional. "Saya memperhatikan Anda sejak insiden dengan Bernard. Saya mengamati pergerakan saham Vanguard Corp yang meroket sejak Anda masuk ke lantai lima puluh lima."
Aku menatap kartu akses perak itu tanpa menyentuhnya.
[Memindai Objek: Kartu Akses Tingkat Eksekutif. Logo Perusahaan: Apex Dynamics.]
"Sakti mempekerjakan Anda sebagai asisten khusus," lanjut Hamdan. "Dia menyuruh Anda membawakan map, menyeduhkan minuman, dan merapikan jadwal pertemuannya. Itu adalah penghinaan terbesar bagi otak jenius seperti Anda."
"Pak Sakti memberikan saya kompensasi yang sangat layak untuk pekerjaan itu," selaku cepat, menolak perusahaan atasanku direndahkan.
Hamdan menyeringai tipis.
"Kompensasi layak untuk seorang asisten tidak akan pernah sebanding dengan kompensasi seorang direktur, Tera."
Jantungku berdegup satu ketukan lebih cepat.
Hamdan menunjuk kartu akses perak itu dengan gerakan dagunya.
"Ini adalah kartu akses tanpa batas untuk lantai eksekutif puncak Apex Dynamics," tawar Hamdan dengan suara yang menggema tegas. "Saya menawarkan posisi Wakil Presiden Direktur Analisis Data Terpadu. Anda tidak akan pernah lagi membawakan map untuk siapa pun. Anda akan memimpin divisi, mengendalikan algoritma pasar, dan duduk sejajar dengan saya di meja bundar."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Antarmuka sistem A.U.R.A mendadak berkedip liar, mengambil alih sebagian besar pandanganku.
[Mengkalkulasi Tawaran Posisi Jabatan Subjek Hamdan.]
[Analisis Skala Gaji Pokok: Peningkatan Sebesar 600% dari Posisi Saat Ini.]
[Analisis Otoritas: Akses Data Level 1. Kebebasan Eksekusi Finansial. Tidak Berada di Bawah Tekanan Administratif.]
[Kesimpulan Logika Mesin: Tawaran Sangat Menguntungkan. Probabilitas Keberhasilan Karier Inang: 98%.]
Aku tertegun melihat deretan angka yang disajikan oleh sistem. Tawaran Hamdan bukan sekadar gertakan atau rayuan gombal. Ini adalah lompatan karier ekstrem yang membutuhkan waktu dua puluh tahun bagi karyawan biasa untuk mencapainya.
Uang dari posisi ini tidak hanya cukup untuk membayar biaya rumah sakit Ibu, tetapi sanggup menjamin kehidupan mewahnya hingga akhir hayat.
Aku mengangkat wajahku, menatap Hamdan dengan tatapan penuh selidik.
"Mengapa Anda berani mempertaruhkan posisi sefatal itu untuk seseorang yang baru Anda temui dua kali, Pak Hamdan?" tanyaku tajam.
Hamdan melangkah menyamping, memangkas jarak kami hingga tersisa kurang dari satu meter.
"Karena saya tahu bagaimana cara menghargai sebuah berlian," jawab Hamdan tanpa keraguan. "Sakti menggunakan Anda sebagai perisai dari serangan musuh-musuhnya. Dia mengurung potensi Anda di balik meja asistennya karena dia memiliki masalah kepercayaan yang akut."
Mata cokelat terang Hamdan menatapku dengan ketulusan yang sangat pekat.
[Memindai Mikro Ekspresi Subjek: Tidak Ditemukan Kebohongan. Subjek Berbicara Berdasarkan Kekaguman Murni.]
"Di Apex Dynamics, Anda tidak akan menjadi perisai," ujar Hamdan lembut. "Anda akan menjadi pedang utama. Saya akan memberikan panggung yang Anda butuhkan tanpa harus merendahkan status Anda di depan para dewan komisaris."
Aku menelan ludah dengan susah payah.
Fakta yang diucapkan Hamdan menembus pertahanan logikaku. Di Vanguard Corp, aku selalu menjadi bulan-bulanan para petinggi seperti Dorko, Silamoy, dan Bernard. Sakti memang melindungiku, tetapi jabatan asisten rendahan itu akan selalu membuatku dipandang sebelah mata oleh lingkungan sosialita seperti Caremel.
Hamdan menawarkan solusi mutlak untuk menghancurkan stigma kemiskinanku.
"Tawaran Anda sangat menggiurkan, Pak Hamdan," suaraku akhirnya keluar, terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
Aku menundukkan pandanganku pada kartu akses perak itu.
"Ambillah," dorong Hamdan, suaranya mengalun hangat. "Anda tidak perlu menjawabnya malam ini. Pikirkan baik-baik. Kehidupan yang jauh lebih tenang dan dihargai menanti Anda di seberang jalan."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Tepat saat jemariku bergerak satu sentimeter mendekati kartu akses tersebut, sistem A.U.R.A di retinaku meledak dengan peringatan berwarna merah menyala yang sangat agresif.
[PERINGATAN KRITIS!]
[Subjek Utama Mendekat dengan Kecepatan Tinggi!]
[Tingkat Adrenalin Subjek Utama: Maksimal. Status Emosi: Kemarahan Destruktif.]
Suara bantingan keras memecah kesunyian area balkon.
Pintu kaca tebal yang menghubungkan ballroom dengan balkon terdorong terbuka dengan tenaga yang sangat brutal hingga engsel bajanya berderit nyaring.
Aku menarik tanganku seketika. Hamdan memutar tubuhnya dengan cepat ke arah sumber suara.
Sakti muncul dari balik pintu kaca balkon dengan raut wajah paling dingin yang pernah kulihat selama ini.
Jas tuksedonya sedikit berantakan. Kacamata peraknya memantulkan kilat lampu neon, menyembunyikan matanya, tetapi aura membunuh yang memancar dari seluruh postur tubuhnya cukup untuk membuat oksigen di area balkon ini menguap habis.
Sakti melangkah maju, menghancurkan jarak menuju posisi kami berdiri.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?