Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan Yang Muncul
Kabar tentang kedekatan Mawar dan Gala akhirnya sampai juga ke telinga Jingga. Seperti tersambar petir di siang bolong, berita itu membuat jantung Jingga berdebar kencang dan pikirannya berputar kacau seketika. Tangan wanita itu gemetar memegang ponselnya, wajahnya berubah pucat pasi.
"Bagaimana mungkin? Mawar baru saja berusia tujuh belas tahun, masa depannya masih panjang. Bagaimana dia bisa mengambil keputusan sebesar ini dengan tergesa‑gesa? Apakah dia sedang lari dari sesuatu? Atau ada hal lain yang aku tidak tahu?"
Tanpa menunggu lama, Jingga segera menekan tombol panggilan untuk membatalkan seluruh jadwal rapat dan urusan pekerjaannya hari itu. Di benaknya kini hanya ada satu keinginan, yaitu segera kembali ke desa, menemui Rosa, dan mencegahnya melakukan kesalahan yang mungkin akan ia sesali seumur hidup.
Sesaat setelah menutup telepon, Jingga langsung menoleh ke arah sang suami yang sedang duduk di meja kerja.
"Mas, aku harus pulang ke rumah sekarang juga. Aku harus bicara langsung pada Mawar, menjelaskan segala hal, dan memastikan dia tidak tergesa‑gesa mengambil keputusan yang keliru atau salah langkah. Kamu tetaplah di sini dan tangani semua pekerjaan kita ya," ucap Jingga dengan suara bergetar namun tegas.
Bima mengangkat kepalanya perlahan, menatap wajah sang istri dengan tatapan yang tampak penuh perhatian, namun di balik itu tersembunyi kilatan amarah yang perlahan mulai berkobar. Ia segera berdiri dan berjalan mendekat.
"Sayang, kamu sedang terbawa emosi dan cemas berlebihan. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian dalam keadaan gelisah seperti ini. Nanti malah kamu yang salah bicara atau bertindak. Aku akan ikut pulang bersamamu, menemani dan membantumu menghadapi semuanya," jawab Bima mantap, nada bicaranya terdengar begitu peduli dan wajar.
Namun jauh di dalam hatinya, amarah sudah membakar dada.
"Bisa‑bisanya Mawar berani berniat menikah dengan pria lain setelah semua yang pernah kita lalui bersama! Wanita yang sudah aku sentuh, tidak boleh menjadi milik orang lain! Dia harus tetap di jangkauanku, selamanya." batin Bima, seraya meremas telapak tangannya, dan rahangnya mengeras kuat menahan gejolak perasaan yang liar.
Mendengar ucapan sang suami yang begitu mengkhawatirkan dan ingin menemaninya, hati Jingga terasa hangat dan tenang sedikit. Ia mengangguk pelan, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang juga. Terima kasih ya, Mas. Kamu memang selalu ada untukku, selalu mengerti dan mendukungku dalam keadaan apa pun," ucap Jingga tulus dari dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyadari niat jahat dan rasa posesif yang meluap‑luap di dada suaminya.
***
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin mobil terasa sunyi, berat, dan mencekam. Jingga dan Bima lebih banyak diam, pikiran masing‑masing melayang jauh pada apa yang akan mereka hadapi nanti. Tidak ada singgahan untuk makan, beristirahat, atau sekadar minum kopi seperti kebiasaan mereka saat melakukan perjalanan jauh. Satu‑satunya tujuan dan pikiran yang ada hanyalah segera sampai di rumah, segera berhadapan dengan kenyataan.
Setelah menempuh perjalanan berjam‑jam yang melelahkan, mobil mewah itu akhirnya melaju pelan dan berhenti tepat di depan halaman luas rumah Bu Gendis. Pemandangan yang menyambut mereka membuat keduanya tertegun sejenak.
Di depan pintu utama yang besar itu, Bu Gendis sedang berdiri tegak dengan wajah penuh kemarahan, dahinya berkerut dalam, matanya melotot tajam. Wanita paruh baya itu sedang berdebat sengit dengan seorang pemuda berpakaian sederhana, yang mereka yakini adalah Gala. Di sekitar mereka, beberapa warga kampung sudah mulai berkumpul, menonton sambil berbisik‑bisik, menambah ketegangan yang sudah cukup tinggi.
Jingga segera turun lebih dulu dan melangkah cepat mendekat, diikuti Bima yang berjalan perlahan dari belakang, matanya menatap tajam dan menilai sosok pemuda itu dari atas sampai bawah, seolah sedang mengukur lawan.
"Bu, saya mohon izinkan saya bertemu Mawar sebentar saja. Saya hanya ingin menyerahkan kotak ini… di dalamnya ada cincin sebagai tanda kesungguhan hati dan niat baikku padanya. Saya berjanji akan berjuang keras demi masa depan kami berdua," pinta Gala dengan nada memohon, matanya memandang Bu Gendis dengan penuh harap, berusaha meyakinkan wanita tua itu.
"TIDAK BOLEH!" bentak Bu Gendis, suaranya bergema di halaman.
"Bukankah sudah kita sepakati dengan jelas? Selama kamu belum punya pekerjaan tetap, belum punya penghasilan pasti, dan belum punya tempat tinggal yang layak, jangan harap bisa mendekati Mawar, apalagi membicarakan hal pernikahan dan tanda janji semacam ini! Kamu pikir kami sekeluarga main‑main saja?" tandas Bu Gendis.
"Tapi Bu, waktu terus berjalan, dan setiap hari yang berlalu rasanya semakin berat bagi kami berdua…" coba Gala menjelaskan.
"Sudah cukup! Jangan banyak alasan!" potong Bu Gendis dengan nada angkuh dan dingin.
Namun Gala tidak mundur, tidak juga pergi. Ia justru mengangkat suaranya lebih lantang, berusaha menembus segala penolakan itu.
"Mawar! Aku datang untukmu! Keluarlah sebentar saja, aku mohon! Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu!"
Teriakan itu menarik perhatian lebih banyak warga desa yang lewat, mereka berhenti dan berkerumun semakin rapat. Bu Gendis merasa semakin malu, marah, dan tersudutkan.
"Cukup, Gala! Apa kamu tuli?! Sudah Ibu bilang berulang kali, kalian tidak boleh bertemu, tidak boleh berhubungan! Kenapa kamu masih saja keras kepala dan memaksa?!"
Gala mengeraskan suaranya lagi, matanya menatap lurus ke arah pintu utama tempat ia berharap sosok sang kekasih akan muncul.
"Mawar—!"
Belum sempat panggilan itu selesai, Bima yang sedari tadi berdiri diam di belakang Jingga tiba‑tiba melangkah cepat dan lebar. Tanpa peringatan, tanpa suara, ia mengangkat tangannya dan melayangkan pukulan keras dan berat tepat ke pipi kiri Gala.
"BRUK!"
Bunyi benturan keras terdengar jelas, disusul suara tubuh pemuda itu yang terhuyung, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh tersungkur ke tanah berdebu. Kotak kecil berisi cincin yang sedari tadi dipegangnya erat terlempar jauh, jatuh ke antara rumput dan tanah, hilang dari pandangan.
Suasana seketika hening total. Semua mata tertuju pada Bima yang kini berdiri tegak, dadanya naik turun, napasnya memburu, dan tatapannya penuh amarah serta ancaman ke arah pemuda yang terbaring itu.
Gala meringis menahan sakit yang luar biasa, rasa panas dan nyut‑nyutan menjalar cepat dari pipinya hingga ke rahang. Ia berusaha bangun perlahan, namun kepalanya terasa pening dan berputar.
Jingga hanya bisa memandang kaget, mulutnya sedikit terbuka, tak percaya dengan reaksi yang tiba‑tiba ditujukan Bima.
"Mas… apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukul Gala begitu keras?" raut wajah Jingga campuran antara bingung dan terkejut.
Bima tidak menoleh ke arah Jingga, matanya masih terpaku tajam pada Gala yang berusaha bangkit.
"Orang tidak tahu sopan santun seperti dia, kalau tidak diberi pelajaran, dia tidak akan pernah mengerti tempat dan aturan," jawab Bima lantang, suaranya terdengar berwibawa namun menyembunyikan rasa puas yang mendalam.
Di antara kerumunan warga, ada yang berbisik setuju, ada yang menggeleng tak setuju, namun tidak ada yang berani menegur.
Sementara itu, di balik jendela kamar yang tertutup rapat, Mawar melihat segala kejadian itu dengan mata terbelalak dan tubuh gemetar hebat. Air mata segera mengalir deras di pipinya, hatinya terasa seperti dirobek berkeping‑keping melihat Gala diperlakukan kasar dan hina begitu saja.
Bersambung...