Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Bisikan Bertopeng Perhatian

Balasan pesan dari Rian malam itu menjadi awal dari babak baru dalam hidup Intan Saputri. Bagi seorang gadis yang terbiasa diabaikan dan dianggap angin lalu oleh lingkungan sekitarnya, perhatian kecil yang dikirimkan melalui layar ponsel yang retak itu terasa bagaikan siraman air segar di tanah yang tandus.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang berbeda.

Intan, yang biasanya melewatkan pagi dengan melamun di teras belakang rumah seraya memperhatikan tanaman bunganya, kini memiliki kebiasaan baru. Setiap kali ponselnya bergetar, dadanya berdesir hangat.

> Rian: Selamat pagi, Intan. Jangan lupa sarapan ya. Udara pagi di desa pasti segar sekali, beda dengan di kota tempatku bekerja yang penuh polusi.

>

Pesan-pesan sederhana seperti itu datang tanpa henti. Rian tahu betul bagaimana cara memainkan ritme komunikasi.

Ia tidak pernah terburu-buru, tidak menunjukkan kesan agresif, dan selalu memosisikan dirinya sebagai pendengar yang baik.

Setiap kata yang dituliskannya tersusun rapi, penuh empati, dan seolah paham benar betapa rapuhnya jiwa Intan.

Bagi Intan yang lugu, perlakuan Rian terasa sangat istimewa.

Di desanya, pria-pria sebayanya kerap memandangnya dengan tatapan aneh—mungkin heran melihat wanita berusia dua puluh tiga tahun tetapi bertubuh mungil bak anak sekolah.

Namun, Rian berbeda. Pria itu justru memujinya.

> Rian: Kamu itu unik, Tan. Wajahmu yang awet muda dan kepribadianmu yang tenang itu langka. Pria yang nantinya jadi suamimu pasti orang yang sangat beruntung.

>

Membaca kalimat itu, jemari Intan gemetar di atas layar. Pipinya merona merah.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, Intan merasa dihargai sebagai seorang wanita.

Rasa minder yang selama ini membelenggunya perlahan mengikis, tergantikan oleh benih-benih kepercayaan yang tumbuh terlalu cepat.

"Intan, belakangan ini kamu kelihatan sering senyum-senyum sendiri kalau pegang HP."

"Ada apa, Nak?"

Tanya ibunya suatu sore saat mereka sedang mengupas bawang di dapur.

Intan buru-buru mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana.

"Ah, tidak ada apa-apa, Bu."

"Cuma baca berita lucu di internet."

Jawabnya bohong. Kepolosannya membuat Intan belum berani jujur. Ia takut jika orang tuanya tahu ia berkenalan dengan pria lewat aplikasi pencari jodoh, mereka akan cemas atau bahkan melarangnya.

Padahal, dalam hati Intan yang paling dalam, ada setitik harapan yang mulai membumbung tinggi.

Mungkin... mungkin Mas Rian adalah jawaban atas doa-doaku selama ini, batinnya.

Dua minggu berlalu. Hubungan jarak jauh melalui pesan singkat itu terasa kian intens.

 Rian mulai bercerita tentang hidupnya. Ia mengaku sebagai seorang kontraktor muda yang sedang membangun usaha sendiri di kota provinsi.

Rian menggambarkan dirinya sebagai pria pekerja keras yang sedang mencari wanita sederhana untuk dijadikan pendamping hidup—bukan wanita kota yang konsumtif dan menuntut banyak hal.

Semua cerita itu tersusun sangat sempurna. Terlalu sempurna untuk jadi kenyataan, namun bagi Intan yang miskin pengalaman sosial, cerita Rian adalah sebuah kebenaran mutlak.

Hingga pada suatu malam, bisikan bertopeng perhatian itu mulai menunjukkan durinya.

Pukul sebelas malam, saat suasana rumah sudah sangat sunyi dan hanya terdengar deru angin di luar, ponsel Intan bergetar agak lama.

Rian meneleponnya. Ini adalah kali pertama pria itu menelepon secara langsung, bukan sekadar mengirim pesan suara.

Dengan jantung yang berdebar kencang, Intan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo... Mas Rian?"

Bisik Intan pelan, takut suaranya terdengar sampai ke kamar orang tuanya.

Suara di ujung telepon terdengar berat, bernada hangat, dan sangat tenang.

"Halo, Intan."

"Maaf ya menelepon malam-malam."

"Mas cuma mau dengar suara kamu sebentar."

"Seharian ini pekerjaan di lapangan memusingkan sekali, tapi begitu mendengar suaramu, rasanya capeknya hilang."

Kalimat itu meluncur begitu halus. Intan menggigit bibir bawahnya, menahan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak.

"Mas Rian jangan terlalu diforsir kerjanya. Nanti sakit..."

Rian terkekeh pelan di ujung sana.

"Iya, Terima kasih perhatiannya, Sayang."

"Oh ya, Intan... sebenarnya ada satu hal yang dari kemarin bikin Mas agak kepikiran."

Intan menaikkan alisnya, mendadak ikut cemas.

"Kepikiran soal apa, Mas?"

Satu helaan napas berat terdengar dari seberang telepon, menciptakan jeda dramatis yang sengaja dibuat untuk memancing rasa empati Intan.

"Mas sedang mengurus tender proyek bahan bangunan besar untuk minggu depan."

"Keuntungannya lumayan banget, Tan."

"Rencananya, dari keuntungan proyek ini, Mas mau pakai buat modal datang ke rumahmu..."

"ketemu orang tuamu secara resmi."

Jantung Intan serasa berhenti berdetak mendengarnya.

Mempersuntingnya?

Datang ke rumahnya?

Impian yang selama ini hanya ada di dalam angan-angannya mendadak terasa begitu dekat di depan mata.

"B-benarkah, Mas?"

Suara Intan bergetar.

"Tentu saja."

"Untuk apa Mas bohong?"

"Mas serius sama kamu, Intan."

"Mas tidak memandang usiamu atau fisikmu."

"Mas cuma butuh wanita baik-baik seperti kamu untuk mendampingi Mas."

Ujar Rian dengan nada yang sangat meyakinkan.

Namun, kalimat berikutnya yang diucapkan pria itu secara perlahan mulai mengarahkan jeratnya.

"Tapi... ada sedikit kendala sistem di bank malam ini."

"Dana modal usaha Mas ditahan sementara karena ada penyesuaian dokumen sampai besok siang."

"Padahal, Mas harus bayar uang muka bahan material ke supplier malam ini juga sebelum jam 12, kalau tidak proyeknya dilempar ke orang lain."

Intan mendengarkan dengan seksama, polos dan tanpa curiga sedikit pun.

"Lalu bagaimana, Mas?"

Rian mendesah pelan.

"Mas bingung banget, Tan."

"Rekening teman-teman Mas sedang kosong."

"Mas cuma butuh pinjaman dana talangan sedikit saja, sekitar dua juta rupiah untuk menahan material itu sampai besok pagi."

"Begitu sistem bank buka jam sembilan pagi, langsung Mas kembalikan dua kali lipat."

Pria itu sengaja memberi jeda, membiarkan keheningan menggantung.

"Sebenarnya Mas malu minta tolong sama kamu."

"Tapi... apa kamu punya simpanan sebesar itu, Tan?"

'Anggap saja ini ujian kecil untuk kerja sama kita sebelum kita melangkah ke jenjang yang lebih serius."

Dua juta rupiah.

Bagi Intan, itu adalah seluruh tabungan hasil dari menyisihkan uang saku dan hasil membantu ibunya membuat kue pesanan selama hampir satu tahun.

Uang yang ia simpan rapat-rapat di dalam rekening tabungan sederhananya.

Ada keraguan kecil yang sempat terlintas di benak Intan. Namun, kata-kata Rian mengenai 'modal datang ke rumah' dan 'keseriusan hubungan' menutup rapat logika sehatnya.

Rasa takut akan kehilangan kesempatan untuk dipinang dan rasa percaya yang terlanjur buta mengalahkan segalanya.

"Ada, Mas... Intan punya tabungan dua juta,"

jawab Intan polos.

Di balik layar ponsel, di sebuah kamar apartemen remang-remang di pusat kota, Rian tersenyum licik. Mangsanya sudah sepenuhnya masuk ke dalam jerat.

"Benarkah? Terima kasih banyak, Intan."

"Kamu benar-benar penyelamat Mas."

"Kirimkan sekarang ya, nanti Mas kirimkan nomor rekening supplier-nya."

"Mas janji, besok pagi uangmu kembali dan Mas akan langsung atur jadwal untuk berangkat ke desamu."

Tanpa menyadari bahwa itu adalah racun berbalut perhatian manis, Intan membuka aplikasi mobile banking di ponselnya dengan jemari yang gemetar.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa dalam hitungan menit, uang tabungannya akan melayang, dan impian indahnya akan berubah menjadi mimpi buruk paling mengerikan dalam hidupnya.

Jangan lupa like, komen dan subscribe 😉

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!