Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Mengusik ketenangan

Setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Melodi akhirnya pulih sepenuhnya. Warna merah segar kembali menyelimuti wajah cantiknya, dan ia sudah bisa menginjakkan kaki di rumah mewahnya dengan kondisi tubuh yang kembali fit.

"Jadi, bagaimana, Melodi? Apa rencanamu selanjutnya?" tanya sang ibu, Ratih, seraya mengelus lembut jemari putri kesayangannya yang sedang menyesap teh hangat di sofa ruang tamu.

Melody menyandarkan punggungnya, menatap Ratih dengan binar mata yang dipenuhi ambisi dan keangkuhan. "Tentu saja merebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku dari awal, Bu. Zidan itu milikku. Jalang pembawa sial itu cuma pemain pengganti sementara yang kebetulan numpang lewat!"

"Kamu harus cepat bertindak, Mel," sahut

Lina, kakak sulung Melody.

Ketiga wanita itu sedang berkumpul dikediaman sang ibu.

Ratih menoleh pada putri tuanya itu.

"Ini semua gara-gara kamu, Lina!" omel Ratih tiba-tiba, menunjuk putri sulungnya dengan wajah gusar. "Kamu yang memaksa Zidan menikah dengan keponakanmu itu! Sekarang lihat kekacauan ini!"

"Iya, benar itu! Ini semua gara-gara Kakak!" Sahut Melodi cepat dengan nada ketus, melemparkan tatapan menyalahkan pada sang kakak.

Lina tampak geram melihat ibu dan adiknya yang malah menyudutkannya.

"Gimana aku enggak melakukan itu, coba?!" Bela Lina tak terima. Matanya menatap Melodi dengan tajam. "Kamu yang pergi enggak pulang-pulang! Kamu yang kabur di hari pernikahan! Kalau sampai pernikahan hari itu tidak terjadi, keluarga kita mau ditaruh di mana mukanya? Kita bisa malu besar!"

"Suamiku itu calon kuat di bursa pencalonan! Aku enggak mau gara-gara kekacauan yang kamu buat, reputasi suamiku hancur sampai dia bisa turun jabatan! Kamu pikir karier politik suamiku itu mainan?!" cecar Lina dengan raut wajah kesal.

Melodi juga ikut kesal. "Tapi Kak Lina enggak harus milih anak haram itu juga, kan?" dengus Melodi. "Humaira itu cuma produk gagal dari wanita simpanan tidak berharga! Darah yang mengalir di tubuhnya saja darah kotor. Cewek kampungan kayak gitu mana punya harga diri? Dia cuma sampah yang kebetulan numpang lewat di rumah megah Zidan! Bisa-bisanya Kakak kasih ke calon suamiku!"

"Jaga mulutmu, Mel!" potong Lina menatapnya tajam. "Mau dia anak haram atau bukan, yang penting hari itu ada pengantin wanita di pelaminan! Aku nggak peduli!"

"CK!!" Kesal Melodi.

"Udah, yang sudah terjadi biarkan terjadi!" ucap Ratih menengahi perdebatan mulut kedua putrinya.

Ia mengalihkan pandangannya pada sosok putri bungsunya yang sangat ia cintai itu. Wajah Ratih yang tadinya tegang seketika melunak, berganti dengan senyuman penuh kehangatan.

"Kamu tidak perlu khawatir, Melodi. Zidan itukan, cinta banget sama kamu. Lagipula, dipikir-pikir... justru bagus kalau Humaira yang jadi pengantin penggantinya," lanjut Ratih menenangkan putrinya.

Melodi dan Lina kompak menoleh, menatap Ratih dengan dahi berkerut.

"Kenapa lebih bagus, Bu?" tanya Melodi heran.

"Karena Zidan mana mungkin mau menyentuh wanita yang levelnya jauh di bawah dia!" sahut Ratih dengan senyum merendahkan cucunya sendiri. Cucu yang tidak pernah ia anggap.

"Coba kalau pengantin penggantinya wanita lain? Boleh jadi wanita itu bakal menggoda Zidan. Tapi kalau Humaira? Kita semua tahu seperti apa karakter dan asal-usulnya yang tidak jelas itu. Zidan tidak mungkin sudi melirik dia!" Ucapnya yakin.

"Yang terpenting sekarang, kamu harus cepat-cepat temui Zidan. Bicarakan baik-baik sama dia... tanyakan kapan dia mau mengurus perceraiannya dengan Humaira." Tambahnya lagi.

"Ibu benar, dia itu sangat mencintaiku. Dan aku yakin dia sama sekali tidak akan melirik wanita kampung itu," ucap Melodi percaya diri.

"Oh iya, bukannya sebulan lagi ulang tahun Ibu?" tanya Lina menatap Ratih.

"Iya," jawab Ratih singkat.

"Kalau begitu, kita akan mempersiapkan acara ulang tahun Ibu sebaik mungkin! Dan aku akan mengajak Mas Zidan datang bersamaku," ucap Melodi girang dengan senyum bahagia yang merekah di wajahnya.

"Nah, gitu dong! Baru cantik putri Ibu," puji Ratih seraya mengelus pipi Melodi lembut.

Lina menyilangkan tangan di dada, lalu melontarkan pertanyaan yang membuat suasana mendadak hening sejenak.

"Terus, bagaimana dengan Humaira? Apa dia mau diajak juga?"

Melodi menyunggingkan senyum jahat.

"Mmm... kalau menurut aku, kita tetap harus jemput dia. Supaya aku bisa memperlihatkan langsung ke depan matanya kalau Mas Zidan itu cuma milik aku!"

"Benar." Ratih yang sangat menyayangi putri bungsunya itu terus mendukung apapun yang dilakukan olehnya.

Alasan Ratih begitu memanjakan dan menyayangi Melodi bukan sekadar kasih sayang ibu pada anak bungsu biasa, melainkan karena Melodi adalah aset terbesar dan mesin pencetak uang bagi bisnisnya.

Ratih adalah pemilik rantai butik mewah (high-end fashion) yang menyasar kalangan elite dan kelas atas, dengan cabang yang sudah meluas hingga ke luar kota.

Sejak Melodi kecil, Ratih sudah menggembleng dan melatihnya secara khusus untuk menjadi seorang desainer andalan.

Investasi Ratih tak sia-sia. Begitu Melodi tumbuh dewasa dan namanya melejit sebagai desainer muda berbakat, reputasi butik Ratih ikut meroket. Desain-desain eksklusif karya Melodi selalu ludes diburu para istri pejabat dan konglomerat.

Kehadiran Melodi tidak hanya mendongkrak gengsi bisnis Ratih di dunia fashion kelas atas, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial yang sangat fantastis. Bagi Ratih, Melodi adalah putri kebanggaan sekaligus kunci utama kejayaan usahanya.

Dan menurutnya hanya Zidan yang pantas bersanding dengan putrinya.

_____

"Hai, Humaira. Apa yang kau lakukan?" tanya Dokter Hamzi, salah satu rekan dokter yang cukup dekat dan akrab dengan Humaira di rumah sakit.

"Seperti yang Dokter lihat, aku sedang beristirahat," jawab Humaira tenang seraya menyandarkan punggungnya di kursi

"Pas banget kalau begitu. Ini, aku belikan camilan untukmu," ujar Dokter Hamzi seraya menyerahkan sebuah kantong kertas kecil bersimpul rapi.

Ia baru saja kembali dari luar rumah sakit untuk membeli beberapa makanan ringan.

Humaira menerimanya sembari mengulas senyum. "Terima kasih, Dok."

Humaira membuka kantong kertas tersebut. Ternyata isinya adalah beberapa kotak mini croissant keju hangat yang aromanya begitu menggugah selera.

Ia mengambil satu dan langsung menyantapnya dengan santai—menikmati rasa gurih-manis yang perlahan menenangkan perutnya.

"Enak?" tanya Dokter Hamzi memperhatikan ekspresi Humaira.

Humaira mengangguk pelan. "Setiap hari membelikan camilan untukku, apa Dokter tidak takut bangkrut?" tanya Humaira bercanda.

Pasalnya, hampir setiap hari selalu ada saja jajanan berbeda yang dibawakan pria itu untuknya.

"Tentu saja tidak! Mana ada orang ganteng kayak aku bisa bangkrut cuma gara-gara beli camilan?" jawab Hamzi penuh rasa bangga seraya menepuk dadanya sendiri, yang membuat Humaira tertawa.

Hamzi memang sosok yang sangat humoris. Tingkah narsisnya yang kocak kerap kali berhasil mencairkan suasana dan memancing tawa dari bibir Humaira yang biasanya dingin dan tertutup.

"Eh, bukannya dengar-dengar Humaira itu sudah menikah sama Dokter Zidan, ya?" bisik salah satu perawat pada temannya, seraya mencuri pandang ke arah Humaira dan Dokter Hamzi.

"Hah? Jangan ngomong sembarangan! Untuk apa coba? Pak Direktur kita itu kan mau menikah sama desainer terkenal itu!" sahut temannya tak percaya.

"Kamu enggak tahu? Acara nikahannya sudah lewat. Tapi aku dengar-dengar ada kekacauan yang bikin wanita itu enggak datang, jadi digantikan sama Humaira."

"Ngaco, apa hubungannya coba sama si Humaira?"

"Kamu ini ketinggalan berita banget, sih! Humaira si anak haram itu kan keponakannya pacarnya Dokter Zidan!"

"Beneran kamu?"

"Kalau soal keponakan sih benar. Tapi kalau soal mereka sudah menikah, aku juga belum pasti."

"Mudah-mudahan saja enggak benar. Lagipula Humaira itu kelihatan dekat banget sama Dokter Hamzi."

"Kalau dekat... maksudmu mereka pacaran?"

"Ya enggak lah! Mana mungkin sekelas Dokter Hamzi mau sama cewek enggak jelas kayak Humaira. Najis, tahu enggak? Dia itu kan anak haram!"

"Kalau kalian cuma mau bergosip tidak jelas di sini, segera pulang. Jangan lupa serahkan surat pengunduran diri kalian besok!"

Kedua perawat itu langsung membeku begitu suara dingin Zidan terdengar tepat di belakang mereka.

Wajah mereka pucat pasi saat berbalik dan mendapati Zidan menatap dengan iris mata yang tajam menembus.

"Ma-maafkan kami, Dokter... kami tidak bermaksud, kami tidak akan mengulanginya lagi," ucap salah satu perawat tergagap, ketakutan setengah mati.

"K-kami pergi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, mereka langsung bubar.

Usai mengusir kedua perawat itu, pandangan Zidan tertuju pada Humaira dan Dokter Hamzi yang masih tampak asyik mengobrol dan sesekali tertawa bersama.

Kalau sama laki-laki lain, kau bisa tersenyum dan tertawa sampai seperti itu. Tapi denganku, kau bersikap dingin seperti robot tanpa perasaan, batin Zidan.

Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Ia tak tahu perasaan apa yang sedang bergejolak di dalam dadanya, tetapi melihat Humaira begitu ceria bersama pria lain benar-benar mengusik ketenangan dan membakar hatinya.

Zidan melangkah maju menghampiri mereka. "Dokter Hamzi!"

Hamzi yang mendengar namanya dipanggil dengan nada menekan, mendadak tersentak dan buru-buru berdiri dari kursinya.

"I-iya, Dokter Zidan?" sahut Hamzi sedikit terbata-bata.

"Apa kau sudah selesai dengan pekerjaanmu sampai bisa sesantai ini di sini?" tegur Zidan dingin.

"Ma-maafkan saya, Dokter. Saya kembali ke ruangan sekarang," jawab Hamzi meringis. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri memberi kode pada Humaira.

"Aku pergi dulu ya," bisiknya seraya mengedipkan sebelah mata, lalu cepat-cepat melangkah pergi dari sana.

Humaira pun ikut berdiri. Dalam sekejap, raut wajahnya yang tadi ceria berubah kembali datar dan dingin.

Ia bermaksud melangkah pergi melewati Zidan begitu saja.

"Kau terlihat bahagia sekali dengan pria itu. Apa kau lupa kalau kau sudah bersuami?" desis Zidan menahan geram.

"Sebentar lagi juga akan jadi mantan suami," balas Humaira. "Tinggal tunggu Anda membawa saya ke pengadilan untuk mengurus perceraian,"

Zidan mengatupkan rahangnya hingga otot pipinya mengeras. "Semakin hari kamu semakin kurang ajar, Humaira!"

"Kurang ajar?" Humaira menaikkan sebelah alisnya, tidak gentar sedikit pun. "Kenapa? Saya tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Anda sendiri yang bawa-bawa urusan pribadi ke tempat kerja."

"Kau tidak takut kalau aku memecatmu atas sikap sombongmu itu?" ancam Zidan mulai terpancing.

Humaira menatap Zidan.

"Anda mau memecat saya? Pecat saja. Anda pikir cuma di rumah sakit ini saya bisa mendapat pekerjaan?"

"Kau pikir aku tidak bisa memasukkan namamu ke dalam daftar hitam?"

Raut wajah Humaira langsung berubah drastis saat mendengar ancaman itu keluar dari bibir Zidan.

Sadar, Zidan bukan sekadar dokter, melainkan Direktur Utama di rumah sakit tempat ia bekerja dengan koneksi jaringan yang sangat luas.

Pria itu bisa dengan sangat mudah mem-blacklist namanya, menutup rapat seluruh pintu rumah sakit mana pun bagi kariernya.

Humaira berusaha meredam gejolak di dadanya. Matanya berkaca-kaca bercampur antara dendam, amarah, dan sedih karena tak berdaya.

"Maafkan saya, Dokter," ujar Humaira menunduk, memutus kontak mata. "Saya permisi dulu."

Tanpa menunggu respons, Humaira berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Zidan.

Setelah kepergian Humaira, mendadak Zidan merasa bersalah. Penyesalan langsung terpancar di raut wajahnya. Apalagi mengingat tadi Humaira yang membendung air matanya.

Apa aku terlalu berlebihan padanya? batin Zidan frustrasi.

Pria itu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Ia sendiri bingung kenapa perasaannya sering sekali terganggu dan tidak stabil semenjak Humaira hadir dalam hidupnya.

Fikirannya kini selalu terpecah—terombang-ambing antara bayang-bayang Melodi dan sosok Humaira yang dingin.

Humaira selalu berhasil memancing emosinya hingga memuncak hanya dalam hitungan detik. Sikap wanita itu yang sekeras batu, dingin, dan datar layaknya dinding tebal benar-benar menguji batas kesabarannya.

Akibatnya, banyak tugas penting dan penanganan pasien di rumah sakit yang jadi terbengkalai. Untuk pertama kali dalam karier cemerlangnya, Zidan merasa dirinya sangat tidak profesional.

Humaira si gadis biasa, sudah berhasil merombak habis hidupnya hanya dalam hitungan hari.

1
bunda n3
kamu salah pilih lawan zidan
Miranti Husna💥
pokoknya, mereka harus segera bercerai. aku nggk mau tahu. alva ama humaira harus nikah
Miranti Husna💥
arkhhhhhhhhb sumpah, satu cowok ini bener² bukin kesal baget zidannnnnnn alva rebut aja tu isterinya 😡
Miranti Husna💥
kak, kenapa ini barusan pendk banget updt bab nya kak.
Miranti Husna💥
🤣ngaku qja va, bilang kalau itu ankmu, biat dia bggk dpt apa² dasar pak direktor bikin Gemas....!!!
bunda n3
semoga aja Alva mengakui kalau itu anaknya😄
Miranti Husna💥
waduh. bakal ketahuan ni humaira sama zidan kalo lagi berbadan 2
Miranti Husna💥
Kayaknya alva itu serius suka sama humaira.
bunda n3
alamat Zidan tahu nih
Syakirah Dzaky
Alva kayakx emang mencintai Humairah dgn tulus , ayolah Humairah terima pak Alva , aku suka keluarga nya
bunda n3
Humaira terlalu overthinking
Miranti Husna💥
🤣 kocak! ternyata keluarga alva itu nggk semenyeramkan yg di luar 🤣 mereka itu sangat humoris, udah lengkap. astaga... tidak sabar menanti moment pernikahan mrka. semoga cepat bersatu ya🤭
Miranti Husna💥
cemburu, marah dan kecewa. hanya sebatas itu sj kemampuan mu zidan. tk punya perjuangan sm sekali 🤦
bunda n3
Mungkin dimata kamu Humaira itu ga berarti Zidan, tapi dimata orang lain dia sangat istimewa
bunda Qamariah: bener banget say
total 1 replies
partini
pacar setingan lah,
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂
bunda Qamariah: iya, emg. sekarang kebanyakan author2 baru say
total 5 replies
Syakirah Dzaky
Aduh tdk sabar liat Humairah cerai dan zidan trus nikah dgn pak Alva , pasti Humairah akan di ratukan dan sangat di syg di keluarga nya Alva . Tp ngomong2 apa judul novel org tua nya Alva Thor?
bunda Qamariah: aku tidak ada buat kak🤭 tapi kalo banyak yang mau, bisa kok dibuatkan
total 1 replies
Miranti Husna💥
noh, liat zidan, kamu sendiri kan yg kenak batunya. awalnya kamu membiarkan melodi untuk ngaku² hubungan kalian..sekgg alva gunakan itu sebagai umpan untuk membungkam mu
Miranti Husna💥
Dasar para manusia munafik dan toxic 😤 enak aja mau manfaatin humaira setelah berpikr humaira dkat sama org kaya😡 emang ibu sama anak sama saja! gila harta
bunda Qamariah: bener kak🤧
total 1 replies
bunda n3
Zidan secara tidak langsung menghina ibunya Humaira
bunda n3
nah Zidan, orang yang akan merebut istrimu ada di depanmu, blak-blakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!