Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Airin yang dipeluk—setengah diterkam hanya bisa tersenyum kecil. “Kak Reine.” 

Dia berusaha untuk benar-benar dekat dengan Airin sekarang.

“Kalian mau ke kantin? Boleh bareng?” 

Airin terlihat menatapnya dengan tatapan minta tolong, seakan Ophelia bisa melakukan keajaiban. Yah, dia dekat-dekat dengan Reine saja tidak mau.

“Boleh ‘kan?” 

Ophelia menghela nafas, “Boleh.” 

Airin terlihat seperti baru dikhianati ketika tangannya ditarik dan dirangkul ke dalam kantin sana. 

“Temanmu itu mesti belajar berkata tidak.” Chelsea yang ditinggal oleh Reine terlihat berjalan sembari memainkan ponsel. Di tangannya yang lain terdapat dua batang coklat yang diberi pita. 

Kakak angkatnya ini menjadi benar-benar populer di sekolah, terutama di kalangan anak baru. Dia dan Kaiser masing-masing dinobatkan sebagai visual paling sempurna dari seluruh angkatan.

Terdengar agak berlebihan, tapi Ophelia setuju.

Ophelia mengulurkan tangan. “Bagi coklatnya satu.”

“Hah? Nggak.” 

“Nggak akan kakak makan semua juga,” Ophelia menyipitkan mata. “Bagi satu.”

Chelsea memutar mata dan membandingkan dua coklat di tangannya. Setelah yakin akan memilih yang mana dia memberikan satu pada Ophelia. 

“Nah.” 

Ia diberi yang lebih kecil.

Ophelia ingin protes, tapi Chelsea terlihat disapa oleh beberapa adik kelas dan langsung duduk dengan mereka di meja sana. 

Benar-benar populer ya?

Ia yang ditinggal sendiri langsung mengantri dan mengambil makanan yang dia mau. Hanya saja ketika mencari meja... tidak ada yang kosong.

“Kita mesti duduk dimana kalau begini?” 

Ophelia berkedip, bukan dia yang bicara begitu.

“Oh, aku kenal orang-orang disana.” Airin terlihat menunjuk meja yang tidak terlalu penuh di tengah. “Aku satu kelas dengan mereka tahun lalu. Kayaknya kita bisa gabung.” 

“Kamu masih hidup ternyata.” 

Airin meringis. “Jahatnya.” 

Ketika berjalan kesana, di salah satu meja yang mereka lewati ada Kaiser yang sedang memakan makan siangnya dalam diam. 

Airin tidak menyapa, pemuda itu bahkan tidak menoleh. Mereka lebih seperti dua orang yang tidak saling kenal daripada pasangan mesra yang Ophelia tahu.

Hm.

Dulu ketika Airin masih menjalani perawatan di rumah sakit, Ophelia pernah melihatnya bicara dua mata dengan Kaiser. Tapi kala itu Kaiser menangis. 

Mereka bicara agak lama dan sejak saat itu hubungan mereka menjadi agak... berbeda? 

Mereka tidak lagi berangkat bersama atau berbincang akrab di sekolah. Ophelia kira mereka putus atau semacamnya tapi waktu berkunjung ke rumah Airin mereka dekat seperti biasa. 

Sepertinya mereka hanya berhenti menunjukkan itu pada dunia. 

Baguslah. 

“Airin!” sebelum mereka sampai ke meja salah satu dari perempuan disana terlihat melambai. “Sini, sini duduk.” 

Oh, Ophelia juga diberi ruang.

“Makasih,” ujarnya. 

“Ulang tahunnya Kaiser udah deket kan ya?” salah satu gadis di sana langsung bertanya. “Kira-kira kamu tau nggak siapa aja yang diundang? Takutnya keluargaku nggak termasuk.” 

“Undangannya udah dibagi kalau nggak salah.” Airin menjawab dengan natural. 

“Iya kah?” mereka dengan cepat langsung mengecek ponsel. 

Ophelia yakin dia tidak mendapat apapun, apa mungkin bukan disebar online?

“Undangannya per-keluarga,” ujar Airin, seakan sedang membaca pikiran Ophelia. “Dikirim langsung oleh kepala pelayan disana.” 

Seperti undangan para bangsawan saja. 

“Orangtuaku bilang nggak ada undangan apa-apa,” salah satu gadis itu terlihat lemas. “Padahal aku pengen banget ketemu kak Aiden.” 

Kakaknya Kaiser?

Gadis lain terlihat berkomentar. “Bukannya lebih baik Kaiser daripada kakaknya itu? Aku dengar dia itu agak... unik.” 

“Unik maksudnya?” tanya Ophelia. 

“Ada rumor,” mereka berbisik. “Kalau Aidoneus sedang menjalin hubungan dengan istri orang. Semua mantan-mantannya wanita yang lebih tua sih, jadi rumor itu sedang hangat-hangatnya sekarang.” 

Ophelia menahan diri untuk tidak tertawa. Yah, kalau soal itu bukan rumor lagi. 

“Kak Aiden bukan tipe yang bakal menjalin hubungan sama seseorang yang udah punya pasangan.” Airin berkata tegas. 

“Tapi aku lebih tertarik sama kakakmu sih,” gadis lain langsung menyela. “Kak Arjuna. Aku denger dia itu gentleman banget ‘kan ya?” 

“Biasa aja,” ringis temannya.

“Menurutku kak Arga kayaknya lebih menarik deh, kesannya misterius begitu.”

Airin yang terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan mengenai kedua kakaknya langsung bertanya pada Ophelia, berusaha mengalihkan topik. “Kalau kamu? Tipe cowok yang kamu suka gimana?” 

Ia tidak pernah memikirkan hal ini terlalu dalam sih, tapi—

“Yang normal, biasa juga tidak apa-apa.” ujar Ophelia tanpa ragu. “Dan mungkin... seumuran?” 

Tanpa ia ketahui, seseorang yang duduk di belakang mejanya langsung tersenyum kecil.

...****************...

“Undangannya sudah datang.” 

Randi Pratama menyimpan undangan berwarna hitam dengan aksen emas itu di atas meja. “Tidak banyak keluarga yang diundang ke pesta ini, kita mesti memanfaatkan kesempatan ini baik-baik.” 

“Kita tidak perlu menyiapkan hadiah ‘kan ya?” tanya Ophelia. 

Lagipula apa yang Kaiser inginkan? Dia sudah memiliki segalanya.

“Ayah sudah memikirkan hal itu, yang kalian perlu lakukan hanya datang dan meninggalkan kesan baik. Kabarnya akan ada wartawan juga.”

Ophelia menghela nafas, ingatannya akan pesta itu mulai berputar kembali.

Kakinya yang membiru karena terus diinjak Chelsea, wajah hampa Kaiser, perselingkuhan Ibu angkatnya, bahkan pemandangan mansion itu di malam hari mulai terngiang.

Tapi kali ini akan berbeda. 

Ia melirik kakak angkatnya yang terlihat memainkan rambut. 

“Belilah gaun yang kalian mau. Tampil semenarik mungkin, mengerti?” 

“Dimengerti.”

“Mengerti, Ayah.” 

Ketika makan malam selesai dan Randi pergi, Chelsea terlihat menarik nafas beberapa kali kemudian bicara. “Aku kayaknya mau beli gaun di butik langgananku, Ibu mau ikut?” 

“Nggak kayaknya. Ibu punya beberapa yang belum dipakai sama sekali.” Yelena berbicara bahkan tanpa memalingkan wajah dari ponsel. “Kamu pergi aja sama Ophelia.”

“...oke.” 

Yelena terlihat menerima panggilan telepon dan langsung pergi.

Seburuk apapun, Chelsea pasti ingin dekat dengan Ibu kandungnya. 

Padahal Chelsea satu-satunya anak yang dia punya, apa alasan Yelena membencinya begitu? 

“Aku nggak mau pakai gaun warna pink,” celetuk Ophelia.

“Emangnya siapa yang nyuruh kamu pakai gaun warna pink?” 

“Kakak mau pakai dress warna merah ‘kan ya?” tanyanya. “Makanya aku nggak mau pakai yang pink.” 

Chelsea mengusap wajah, “Apa hubungannya dengan warna gaun yang mau kupakai? Kalau kamu mau pakai warna merah pakai aja, nggak ada yang larang.” 

“Aku nggak mau pakai warna merah juga sih.” 

Terus ini anak maunya apa? batin Chelsea kesal. 

“Kalau pakai hitam boleh nggak ya?” 

“Kamu kira mau ke pemakaman?” Chelsea melihat adik angkatnya dengan sebelah mata. “Tapi tunggu, mungkin cocok? Jadi kesannya agak misterius.” 

Ophelia kaget. Bisa ternyata. 

Ting! 

Ia melihat notifikasi di ponselnya. “Airin ngajak belanja dress bareng. Dia boleh ikut?”

“Si bungsu Purnomo? Boleh-boleh aja. Bilang dulu pak supir sana—”

“Siapa bilang pakai supir?” Ophelia tersenyum dan langsung berdiri. “Kita pergi pakai mobilku.” 

Chelsea langsung berkedip mendengar hal itu.

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!