Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Ratih Akan Mati?

Tak seorang pun melihat minibus catering yang sejak pagi terparkir di bawah matahari, membawa baki tanpa pendingin memadai.

Gejala pertama muncul kurang dari dua jam kemudian.

Seorang tamu di aula samping menjatuhkan sendok dan memegangi perut. Ia berlari ke toilet, diikuti dua orang lain. Lima belas menit setelah itu, suara muntah dan rintihan terdengar dari lorong.

"Perut saya melilit!"

"Anak saya pusing, Dok!"

"Panggil ambulans!"

Musik dihentikan. Kursi-kursi bergeser keras ketika para tamu berdiri. Beberapa orang yang memakan ayam dan puding mulai berkeringat dingin, mual, serta diare hampir bersamaan.

Rendra melepas hiasan pengantin di dadanya dan mencoba mengambil alih. "Yang muntah dan lemas duduk di sebelah kanan. Jangan minum obat sembarangan."

Namun jumlah pasien bertambah terlalu cepat. Ia hanya seorang dokter tanpa alat, cairan infus, atau tim triase. Seorang anak kecil hampir pingsan karena kehilangan cairan, membuat tamu panik meneriakinya.

Petugas gedung menghubungi ambulans dan puskesmas terdekat. Bram yang mendengar keributan dari aula utama segera meminta tamu mereka tidak mendekati makanan aula samping, lalu memerintahkan Wahyu membuka jalur kendaraan agar ambulans bisa masuk.

Laras membantu memindahkan kursi dari lorong. "Pisahkan orang yang pingsan, anak-anak, lansia, dan yang muntah terus. Mereka harus dibawa lebih dulu."

"Ini bukan urusan kalian," bentak Bu Marni, wajahnya pucat.

"Benar," jawab Laras. "Tapi ambulans tetap perlu jalan."

Bram tidak masuk ke ruang pasien atau mengambil alih tugas medis. Ia mengatur pintu, mencatat jumlah kendaraan, dan memastikan tidak ada kerumunan menghalangi petugas.

Tim kesehatan yang tiba mengambil sampel makanan, mencatat menu yang dikonsumsi, serta meminta catering menahan semua sisa hidangan. Dugaan awal mengarah pada keracunan makanan akibat penyimpanan pada suhu tidak aman. Belum ada hasil laboratorium, tetapi pola gejala pada orang yang memakan menu sama terlalu jelas.

"Siapa penanggung jawab catering?" tanya petugas.

Semua kepala menoleh kepada Bu Marni.

"Vendor yang salah," katanya cepat. "Kami hanya memesan."

"Kontrak dan bukti pemesanan tetap diperlukan. Pihak keluarga juga harus mendata semua tamu yang terpapar."

Rendra menutup mata sesaat. Di depan rekan rumah sakit, pasien, dan keluarga baru Vania, pesta yang dipilih untuk menyaingi Laras berubah menjadi kejadian luar biasa kecil.

Malam itu, belasan orang menjalani observasi dan beberapa anak mendapat cairan infus. Tidak ada korban jiwa, tetapi tagihan, kompensasi, pengembalian biaya pesta, serta pemeriksaan vendor menjadi tanggungan yang tidak bisa dihindari.

Rekan kerja Rendra mulai berbisik.

"Dia dokter, tapi keluarganya pilih catering tanpa cek kebersihan."

"Katanya tadi dia sempat curiga, tapi tetap menyetujui."

"Pesta mantan istrinya malah ikut membuka jalan ambulans."

Vania duduk di sudut ruang tunggu rumah sakit dengan gaun pengantin yang bagian bawahnya terkena muntahan tamu. Riasannya luntur. Rendra sejak tadi sibuk berdebat soal pertanggungjawaban dan tidak sekali pun menanyakan keadaannya.

Kemenangan yang ia rancang berakhir dengan baki makanan disegel petugas.

Petugas kesehatan meminta keluarga menyerahkan daftar undangan lengkap agar semua tamu dapat dihubungi. Bu Marni tidak memilikinya dalam satu berkas. Sebagian nama berada di buku tamu, sebagian hanya tersimpan di percakapan WhatsApp, dan beberapa orang datang membawa keluarga tanpa konfirmasi.

"Dokter seharusnya memahami pentingnya data paparan," ujar petugas kepada Rendra. "Kami perlu tahu siapa makan menu ayam, puding, dan es campur. Gejala bisa muncul belakangan."

Rendra memandang Vania. "Kamu yang mengurus undangan digital. Kumpulkan semua nomornya."

"Aku? Ini hari pernikahanku."

"Ada orang sakit karena pesta kita."

"Vendor pilihan Mama yang salah. Aku sudah sibuk mengurus dekorasi dan gaun."

Bu Marni yang mendengar langsung marah. "Kamu sendiri yang bilang pesan paket murah supaya uangnya cukup untuk gedung!"

Pertengkaran mereka direkam salah satu tamu yang menunggu keluarganya dirawat. Tidak sampai satu jam, video pengantin dan mertua saling menyalahkan tersebar bersama foto ambulans di depan gedung.

Beberapa pasien menuntut biaya pengobatan dibayar saat itu juga. Rendra terpaksa menggunakan tabungan yang seharusnya untuk awal rumah tangga. Vendor catering sulit dihubungi, sedangkan pemilik gedung menunjukkan kontrak bahwa keamanan makanan menjadi tanggung jawab penyedia dan pemesan.

"Mas, kita bisa membayar setelah vendor mengganti," kata Vania.

"Kamu mau menyuruh pasien menunggu sementara anak mereka diinfus?"

"Jangan bicara seolah semua ini salahku."

Rendra menatap gaun mahal Vania, lalu teringat Laras yang tadi berpakaian sederhana namun dikelilingi orang-orang yang menghormatinya. Perbandingan itu membuat suaranya semakin dingin.

"Kalau kamu tidak memaksa memakai gedung yang sama, kita tidak perlu menghemat makanan."

Vania membeku. Pernikahan yang seharusnya menjadi pintu menuju hidup lebih baik baru berlangsung beberapa jam, tetapi Rendra sudah menggunakan Laras sebagai ukuran untuk menyalahkannya.

Laras dan Bram baru meninggalkan gedung setelah ambulans terakhir berangkat. Ratih ikut ke rumah dinas mereka, masih mengenakan kebaya tetapi sudah mengganti alas kaki dengan sandal.

"Hari pernikahan kalian benar-benar tidak biasa," katanya.

"Setidaknya akadnya selesai sebelum semua kekacauan," jawab Laras.

Rumah dinas terasa sunyi setelah keramaian gedung. Laras menyimpan buku nikah di laci terkunci, mengganti kebaya dengan pakaian rumah, lalu kembali ke ruang tengah. Di atas meja, Bram telah meletakkan sebuah buku catatan, kartu bank, dan map berisi dokumen rekening.

"Apa ini?"

"Rekening untuk kebutuhan rumah." Bram mendorong map kepadanya. "Ada saldo awal. Kartu dan aksesnya kamu pegang."

Laras tidak langsung mengambil. "Kita sepakat memisahkan uang pribadi."

"Ini bukan rekening pribadi saya. Saya membukanya khusus untuk belanja rumah, listrik, perawatan, dan keadaan darurat. Gaji kita tetap masing-masing."

Ia membuka halaman pertama buku catatan. Sudah ada empat baris: biaya pendaftaran nikah, bagian catering mereka, perlengkapan rumah, dan dana darurat.

"Mas Bram mencatat semuanya?"

"Kamu yang meminta."

Laras duduk di seberangnya. "Kita bagi kontribusi sesuai penghasilan, bukan selalu setengah. Saya baru menerima honor sementara. Kalau semua dipaksa lima puluh-lima puluh, itu tidak adil."

"Setuju. Untuk sementara saya menanggung rumah dinas dan kebutuhan pokok. Kamu catat sebagai kontribusi saya, bukan utangmu."

"Pengeluaran pribadi tetap terpisah."

"Setuju."

Mereka menyusun aturan pertama malam itu. Pengeluaran di atas jumlah tertentu harus dibicarakan. Dana darurat tidak dipakai untuk hadiah keluarga tanpa persetujuan berdua. Jika Laras membeli obat atau alat untuk pekerjaan, biayanya masuk catatan pribadi kecuali alat tersebut memang digunakan untuk rumah.

Bram menuliskannya tanpa mengubah satu kata.

"Mas Bram tidak keberatan saya memegang kartu?"

"Kalau keberatan, saya tidak akan menyerahkannya."

"Rendra dulu selalu bilang perempuan boros kalau memegang uang rumah."

Tangan Bram berhenti menulis. "Saya bukan Rendra. Kalau suatu saat saya bertindak seperti dia, katakan langsung."

Laras mengangguk. Perbedaan itu tidak perlu dijelaskan dengan kata manis. Terlihat jelas pada sebuah kartu bank yang diberikan bersama akses, dokumen, dan hak untuk bertanya.

Ratih yang mendengar dari dapur menggeleng. "Pengantin lain bicara bulan madu. Kalian membahas persentase listrik."

"Bunda yang bilang pernikahan perlu musyawarah," kata Bram.

"Bunda tidak bilang musyawarah harus dimulai sebelum makan malam."

Laras tersenyum dan menerima kartu rekening tersebut. Bukan jumlah uangnya yang membuat dadanya hangat, melainkan kenyataan bahwa Bram mengingat satu syarat kecil yang ia ucapkan di rumah makan.

Ketika Ratih masuk ke dapur lagi, Laras memperhatikan foto keluarga kecil yang baru diletakkan di rak. Bram berdiri muda di antara Ratih dan dua saudara, sementara seorang gadis kecil duduk di pangkuan kakak laki-lakinya.

"Keluarga Mas Bram?"

Bram mengikuti arah pandangnya. "Foto lama."

Ia diam cukup lama sebelum bercerita. Ayahnya dan seorang paman meninggal dalam rangkaian kejadian yang membuat keluarga mereka terpecah. Kakak laki-lakinya, seorang polisi, terluka parah dan kini menggunakan kursi roda. Adik perempuannya menghilang setelah jatuh di daerah terpencil. Keponakan kecil mereka juga diculik dan belum ditemukan.

"Bunda kelihatan selalu ceria," kata Laras lirih.

"Dia memilih tetap berdiri karena kalau Bunda ikut runtuh, tidak ada yang menjaga kami."

"Dan Mas Bram?"

"Saya mencari mereka selama masih ada jejak."

Laras memahami sekarang mengapa keselamatan masuk dalam satu-satunya syarat Bram. Lelaki itu telah kehilangan terlalu banyak orang.

Ratih kembali membawa nampan teh dan mendengar bagian akhir cerita. Senyum di wajahnya meredup, tetapi ia tidak meminta Bram berhenti.

"Keluarga sering menyuruh kami mengikhlaskan," katanya. "Bunda bisa menerima kematian, tapi bukan kehilangan tanpa jawaban. Selama jasad dan kebenaran belum ditemukan, Bunda tetap menunggu adik perempuan Bram dan keponakan kami pulang."

Laras belum pernah melihat Ratih serapuh itu. Ia mengambil cangkir dari tangan mertuanya agar tidak tumpah, lalu memeluknya tanpa memberi janji kosong bahwa semua pasti baik-baik saja.

"Kalau suatu hari ada jejak, saya akan membantu mencari," katanya.

Ratih mengusap punggung Laras. "Kehadiranmu saja sudah membantu banyak, Nak."

"Identitas keluarga kami tidak banyak dibicarakan di sini," lanjut Bram. "Nama Adiningrat dikenal di Jakarta, tapi saya bertugas sebagai tentara, bukan pewaris keluarga. Saya ingin rumah ini tetap sederhana."

"Saya juga tidak menikah demi nama keluarga."

"Saya tahu."

Di rumah sakit, Vania mendengar Ratih akan kembali ke Jakarta dalam satu atau dua hari. Ingatan lama mendadak menyala di kepalanya.

Pada kehidupan sebelumnya, Ratih meninggal dalam kecelakaan perjalanan tidak lama setelah pernikahan ini. Kematian itu menjadi awal kehancuran panjang Keluarga Adiningrat.

Vania menatap lorong rumah sakit dengan mata melebar.

Kalau waktu masih berjalan sesuai jalur lama, Ratih akan segera mati.

Pada saat yang sama, di rumah dinas, Laras sedang membantu Ratih menyiapkan makan malam ketika gelas di tangannya bergetar tanpa sebab.

Bayangan jalan pegunungan melintas singkat di benaknya. Suara rem panjang. Kaca pecah. Wajah Ratih di antara tubuh-tubuh yang tidak bergerak.

Laras mencengkeram meja sampai buku-buku jarinya memutih.

Sebuah firasat buruk baru saja menemukan orang yang harus diselamatkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!