**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020
Semangkuk Mie dan Wijen
Tiara menatap tisu di tangan Laras, lalu menepisnya.
“Jangan baik sama gue.”
Tisu itu jatuh ke lantai basah. Laras mengambil lembar baru dan meletakkannya di samping Tiara.
“Kalau sabunnya kena mata, perih.”
“Biarin.”
Tiara mengusap wajah dengan punggung tangan. Cairan sabun ikut terangkat dari jarinya dan membuat salah satu mata memerah. Ia akhirnya meraih tisu tersebut dengan kasar.
“Puas?” tanyanya. “Sekarang gue kelihatan menyedihkan.”
“Aku nggak pernah ingin kamu begini.”
“Tapi lo tetap tidur sama suami gue.”
Laras duduk di lantai, menjaga jarak. “Soal Bram, maaf. Itu salahku.”
“Suruh dia jangan tinggalin gue.”
Permintaan itu begitu pelan hingga Laras sempat mengira salah dengar.
Tiara mencengkeram tisu. “Lo bisa terus sama dia. Gue nggak masalah. Gue nggak akan ganggu. Asal dia jangan cerai sama gue.”
“Tiara...”
“Bilang ke dia lo nggak mau nikah. Bilang lo cuma mau main. Dia dengar kata-kata lo.”
“Aku nggak punya kuasa mengatur keputusan Bram.”
“Bohong! Dia buang semuanya karena lo.”
Laras melihat foto rumah contoh yang jatuh dari meja. Kertas itu basah di salah satu sudut. Ia mengambilnya dan menepuk air dengan tisu.
“Ini rumahku,” katanya. “Kecil dan berantakan, tapi aku yang sewa. Aku nggak berniat tinggal sama Bram.”
“Dia bayar?”
“Aku bayar deposit dan sewa. Uang yang dia beri memang membuatku bisa pindah, tapi aku juga bekerja. Aku sedang cari pekerjaan tetap.”
“Dia tahu alamat ini?”
“Belum.”
Tiara memandang pintu, meja kerja murah, dan rak lipat yang baru dirakit. “Kenapa lo nggak kasih?”
“Karena aku ingin punya satu tempat yang bukan milik suami, mantan suami, sahabat, atau keluarga siapa pun. Tempat yang nggak bisa diambil kalau seseorang berubah pikiran.”
“Bram bisa beliin lo apartemen.”
“Aku nggak mau.”
Untuk pertama kalinya, keyakinan Tiara goyah. Ia datang dengan bayangan Laras sedang menunggu pindah ke rumah mewah bersama Bram. Yang ditemukannya justru kamar sempit dengan panci satu, kasur biasa, dan perempuan yang memilih mengunci pintu dari dalam sendirian.
Tiara menatapnya tidak percaya.
“Aku baru keluar dari pernikahan yang gagal. Hari ini aku baru pegang akta cerai.” Laras menunjukkan map di atas rak. “Aku nggak akan gampang mencoba lagi. Aku belum siap jadi istri siapa pun.”
“Tapi lo cinta dia.”
Laras tidak menjawab cepat. “Iya.”
Tiara mengeluarkan tawa patah. “Hebat. Lo cinta suami gue tapi nggak mau nikah sama dia. Terus gue kehilangan semuanya buat apa?”
“Bukan aku yang membuat pernikahan kalian kosong.”
“Akhirnya lo membela diri.”
“Aku tetap salah karena masuk ke dalamnya. Tapi kalau aku hilang malam ini, Bram tetap ingin pergi.”
Tiara berdiri. “Gue nggak mau dengar.”
Ia menendang selimut yang menghalangi jalan dan keluar kamar. Ibu pengelola bangkit dari kursi ketika melihatnya melintas.
“Saya ganti semua yang rusak,” kata Laras cepat, lalu mengejar.
Tiara sudah menuruni tangga.
“Aku nggak akan maafin lo!” teriaknya.
“Nggak apa-apa.”
“Gue kutuk kalian nggak akan bahagia!”
“Nggak apa-apa.”
“Berhenti jawab nggak apa-apa!”
Tiara hampir tersandung pada anak tangga terakhir. Laras menangkap lengannya.
“Lepas!”
“Kamu belum makan, kan?”
Tiara menatapnya seperti Laras sudah gila.
“Aku temenin makan dulu,” lanjut Laras. “Kenyang baru marahin aku lagi.”
“Gue nggak butuh makanan lo.”
Perut Tiara berbunyi cukup keras untuk terdengar di lorong.
Laras tidak tersenyum. Ia hanya menggandeng Tiara menuju warung yang masih buka di ujung gang. Tiara menarik tangan beberapa kali, tetapi tetap mengikuti.
Warung itu kecil, dengan meja plastik dan televisi tergantung di sudut. Penjualnya menyapa Laras, lalu memandang mata Tiara yang bengkak tanpa bertanya.
“Mie kuah dua, Bu,” kata Laras. “Yang satu pakai dua telur mata sapi. Wijennya banyak.”
“Pedas?” tanya penjual.
“Punya saya sedang. Punya dia jangan terlalu pedas, nanti lambungnya sakit.”
Tiara mendengus. “Gue bisa pesan sendiri.”
“Tapi kamu belum pesan.”
Penjual menahan senyum dan mulai memecahkan telur ke wajan.
Tiara menoleh. “Lo masih ingat?”
“Kamu selalu makan wijen dulu waktu kuliah.”
“Bram aja nggak tahu gue suka wijen.”
Laras tidak mengatakan bahwa mungkin Bram tidak pernah bertanya.
Mie datang mengepul. Dua telur mata sapi menutupi mangkuk Tiara, kuningnya masih lembut, permukaannya dipenuhi wijen sangrai. Tiara memegang sendok, tetapi tidak langsung makan.
“Lo sengaja bikin gue nggak bisa benci?”
“Aku cuma nggak mau kamu sakit karena belum makan.”
“Sok perhatian.”
“Makan dulu.”
Tiara mengambil suapan pertama. Air matanya jatuh ke pipi. Ia menghapusnya dengan kesal, lalu makan lagi lebih cepat.
Laras memisahkan telur dari mangkuknya sendiri dan menaruh setengah di piring kecil. “Kalau masih kurang, ambil.”
“Gue punya dua.”
“Dulu kamu selalu ambil punyaku juga.”
Tiara berhenti mengunyah.
Di tahun pertama kuliah, mereka sering berbagi mi instan di kamar kos. Tiara selalu mengaku tidak lapar lalu mengambil telur Laras. Laras selalu pura-pura tidak melihat.
Saat itu Laras baru datang dari Kebumen dengan satu koper dan uang beasiswa yang belum cair. Tiara yang lebih dulu mengenal Jakarta mengajarinya naik transportasi umum, menunjukkan tempat fotokopi murah, dan meminjamkan sepatu untuk presentasi pertama.
Sebaliknya, Laras menunggu Tiara setiap kali shift praktik membuatnya pulang malam. Ia membuat mi, menambahkan telur kalau ada uang, lalu menaburkan wijen dari toples kecil milik ibu kos karena Tiara menyukainya.
Mereka pernah berjanji akan hadir di pernikahan satu sama lain dan menjadi tante bagi anak masing-masing. Tidak pernah terlintas bahwa suatu hari mereka akan duduk lagi di depan dua mangkuk mi untuk membicarakan satu laki-laki yang sama.
“Waktu lo nikah sama Wahyu, gue marah,” kata Tiara tiba-tiba. “Gue pikir lo menyia-nyiakan hidup.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Gue bilang. Lo aja selalu jawab dia orang baik.”
“Wahyu memang bukan orang jahat.”
“Tapi lo nggak bahagia.”
Laras mengaduk kuah. “Sekarang aku juga belum tahu bahagia itu akan membawa aku ke mana.”
“Kenapa harus Bram?” suara Tiara melemah.
“Aku nggak merencanakan.”
“Semua pelakor bilang begitu.”
Laras menerima hinaan itu tanpa mengangkat wajah.
“Dia benar-benar suka lo,” kata Tiara setelah beberapa saat. “Gue belum pernah lihat dia menatap siapa pun seperti waktu dia bilang mau cerai.”
Sendok Laras berhenti.
“Gue benci tatapan itu,” lanjut Tiara. “Karena gue tahu selama menikah dia nggak pernah melihat gue begitu.”
“Maaf.”
“Gue juga benci lo terus minta maaf.”
“Terus aku harus bilang apa?”
Tiara menyeka hidung dengan tisu warung. “Nggak tahu.”
Mereka makan dalam diam. Hujan tipis mulai turun di luar. Ketika mangkuk hampir kosong, tangis Tiara kembali pecah tanpa suara.
Ia menatap Laras, marah dan lelah, seolah kebaikan kecil itu adalah pengkhianatan lain yang lebih sulit dilawan.
“Kenapa kamu baik banget, sih?”