Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Tepat pukul satu siang, jalanan desa mulai sepi. Kinanti sudah berjalan pulang menelusuri jalan setapak menuju rumah kayu mereka, membawa tempat bekal yang sudah kosong. Dari kejauhan, Arka memperhatikan punggung istrinya hingga menghilang di balik belokan rumpun bambu.

​Setelah memastikan Kinanti aman, Arka mendorong gerobak ciloknya tidak ke arah pemukiman, melainkan menyusuri jalan berbatu menuju jalan pintas di pinggir hutan pinus.

​Pria bertopi caping yang menyamar di balai desa tadi bergerak tanpa suara, membuntutinya dari jarak lima puluh meter. Langkahnya sangat terlatih, memanfaatkan rimbunnya pepohonan untuk menyamarkan siluet tubuhnya.

​Begitu memasuki area hutan yang makin lebat dan sepi, Arka menghentikan langkahnya. Ia memarkirkan gerobak kayu di bawah pohon pinus raksasa, lalu berbalik badan secara perlahan.

​"Areal ini udah cukup jauh dari jangkauan warga desa," kata Arka datar, suaranya menggema pelan di antara pepohonan yang diselimuti kabut. "Keluar, Naga Hitam."

​Dari balik bayangan pohon besar, sosok bertopi caping itu melangkah maju. Ia menanggalkan topi bambunya, melemparnya sembarangan ke atas tanah basah. Wajahnya keras dengan mata sekeruh telaga beracun. Tangan kanannya mencengkeram belati taktis berbilah hitam anti-pantulan cahaya.

​"Tuan Arka," desis Naga Hitam dengan aksen asing yang kaku. "Klan Red Dragon hanyalah pion. The Black Dragon tidak pernah membiarkan aset murtad hidup tenang, apalagi bersembunyi di tempat terpencil seperti ini."

​Arka melepas celemek kainnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas gerobak cilok. Tidak ada raut takut di wajahnya,yang ada hanyalah tatapan bosan seorang pemangsa puncak.

​"Kalian mengganggu hari tenangku," balasan Arka dingin. "Darahmu hanya akan mengotori tanah desa ini."

Wusss

​Tanpa peringatan, Naga hitam melesat bagai bayangan malam. Belati hitamnya menyambar ke arah tenggorokan Arka dengan kecepatan membunuh luar biasa. Namun, Arka tidak bergeming hingga jarak mata pisau hanya berjarak beberapa sentimeter dari kulitnya.

​Dengan refleks luar biasa, Arka memiringkan kepala, membiarkan pisau menusuk udara kosong, lalu menghantamkan siku kirinya tepat ke dada Phantom.

​Brak!

​Benturan keras membuat Phantom terperosok mundur beberapa langkah. Matanya membelalak kaget. Ia mencoba menggunakan teknik pertarungan jarak dekat tingkat tinggi, tetapi setiap serangan yang dilancarkannya seolah sudah dibaca oleh Arka jauh sebelum gerakan itu dimulai.

​Arka menyambar pergelangan tangan musuh, memutarnya hingga terdengar bunyi krek yang tajam, lalu merebut belati hitam itu dalam satu gerakan beruntun yang sempurna. Sebelum Naga Hitam sempat merogoh senjata rahasianya, Arka menancapkan belati tersebut tepat di paha musuhnya dan menendangnya hingga tersungkur di atas tanah basah.

​Arka berlutut di samping Phantom yang meringis menahan sakit, mencengkeram rahangnya sangat kuat.

​"Sampaikan pada Aliansimu," bisik Arka tepat di telinga musuhnya dengan nada ancaman yang sanggup membekukan darah. "Siapa pun lagi yang menginjakkan kaki di Bandung... akan kutemui langsung di markas besar kalian."

​Arka melayangkan satu pukulan telak ke titik saraf leher musuhnya, membuat Phantom pingsan seketika. Tak lama kemudian, dua pria berjas taktis yang merupakan agen tepercaya Arka muncul dari balik rimbunnya hutan, menunduk hormat.

​"Bawa dia keluar dari wilayah Jawa Barat. Bersihkan area ini," perintah Arka singkat.

​"Siap, Tuan" sahut anak buahnya patuh, lalu menyeret tubuh Naga Hitam masuk ke dalam kegelapan hutan.

​Setengah jam kemudian, Arka mendorong gerobaknya memasuki halaman rumah kayu mereka. Baju dan tangannya sudah bersih tanpa noda.

​Kinanti menyambutnya di teras depan, membawakan cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul. Senyum manisnya mekar begitu melihat suaminya pulang dengan selamat.

​"Mas Arka! Kok lama banget dari rumah Pak RT?" tanya Kinanti seraya menyerahkan teh hangat itu.

​Arka tersenyum sangat hangat, menerima cangkir tersebut dan menyesapnya perlahan. Ia merengkuh pinggang Kinanti, menikmati kehangatan tubuh istrinya di tengah dinginnya udara desa.

​"Tadi ngobrol sebentar sama warga, Sayang," jawab Arka lembut, mengecup dahi Kinanti penuh kasih. "Semuanya lancar. Mulai besok, jualan kita bakal makin ramai."

Kinanti menyandarkan kepalanya di dada Arka dengan penuh kedamaian.

~Keesokan harinya~

Pagi hari di pedesaan Bandung selalu dihiasi hamparan kabut putih yang menyelimuti perbukitan pinus. Udara dingin yang menusuk tulang tak melunturkan kehangatan di dalam rumah kayu dua lantai milik Arka dan Kinanti.

​Aroma harum nasi uduk dan sambal kacang yang ditumis menggugah selera dari arah dapur. Kinanti berdiri di depan kompor, dengan cekatan mengaduk santan agar tidak pecah, sementara Arka baru saja selesai memotong kayu bakar di halaman belakang.

​Arka melangkah masuk ke dapur, menanggalkan jaket tebalnya lalu menggantungnya di balik pintu. Tanpa suara, pria itu berjalan mendekati istrinya dari belakang, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kinanti. Ia menyandarkan dagunya di bahu sang istri, menyesap aroma harum minyak telon dan bunga melati yang khas dari leher Kinanti.

​"Mas Arka... ih, kaget! Tangannya dingin banget lagi," keluh Kinanti terkekeh pelan, namun tetap menyandarkan kepalanya ke dada Arka.

​"Habis potong kayu di luar, Sayang," bisik Arka lembut, mendaratkan kecupan mesra di pipi Kinanti yang merona. "Wangi banget masakannya. Bikin Mas makin lapar."

​"Ini khusus buat suami tercinta yang udah kerja keras," sahut Kinanti manis. "Nanti habis sarapan, Mas mau langsung keliling dorong gerobak atau mangkal di depan sekolah lagi?"

​"Mangkal di depan sekolah aja, Kin. Anak-anak suka sama cilok resep baru yang kamu racik kemarin," jawab Arka seraya mengambil piring kaleng antik untuk disiapkan di meja makan.

​Melihat tatapan tulus dan senyum polos Kinanti, hati Arka selalu dipenuhi rasa syukur. Kehidupan di desa ini adalah surga kecil yang sangat ia jaga. Setiap kedipan mata istrinya, setiap tawa renyahnya, adalah alasan utama Arka bersedia meremukkan siapa saja yang mencoba merusak kedamaian ini.

​Namun, kedamaian yang baru dinikmati itu tidak pernah membuat Arka lengah.

​Sembari membantu Kinanti menata makanan di meja, jemari Arka di dalam saku celana mengusap permukaan ponsel khusus terenkripsi miliknya. Ponsel itu bergetar halus sebanyak dua kali sinyal singkat dari jaringan intelijen independennya.

​Naga hitam telah dinetralkan dan dikirim kembali sebagai peringatan keras ke Jepang. Namun, The Black Dragon bukanlah organisasi yang mudah menyerah. Kegagalan eksekutor terbaik mereka justru memicu ancaman yang lebih besar:

Aliansi tersebut kini telah mengerahkan unit pemukul bayangan yang bergerak secara terorganisir di bawah kendali langsung salah satu jenderal tertinggi mereka "𝙙𝙧𝙖𝙜𝙤𝙣 𝙪𝙩𝙖𝙢𝙖"

​Mereka tidak akan berhenti sampai kepalaku terpisah dari tubuhku, batin Arka dingin saat menuangkan air hangat ke cangkir Kinanti. Tapi jika mereka mengira pedesaan Bandung ini adalah lapangan berburu yang mudah, mereka sangat keliru.

​"Mas Arka kok ngelamun?" suara Kinanti memecah lamunan Arka.

​Arka mendongak, seketika menyulut senyum hangatnya yang paling menenangkan. "Nggak ngelamun, Sayang. Cuma lagi mikir, nanti sore kalau jualan udah selesai, kita jalan-jalan ke tepi sungai yuk? Mas mau petik bunga liar buat kamu."

​Kinanti berbinar gembira, mengangguk cepat. "Mau, Mas! Mau banget!"

​Arka menggenggam tangan Kinanti, mengecup punggung tangannya lembut

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!