Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebimbangan ibu

Sesampainya di depan rumah, aku membuka pintu mobil dan turun perlahan.

"Dadah, Vin. Dadah, Bagus. Terima kasih ya untuk hari ini," ucapku tulus sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua.

"Sama-sama, El! Hati-hati di dalam rumah ya," jawab Vina sambil tersenyum ramah.

Bagus juga ikut tersenyum dari arah kemudi. "Sama-sama, El. Istirahat yang cukup ya, sampai ketemu lagi besok."

Aku mengangguk pelan, lalu berdiri sebentar hingga mobil itu perlahan menjauh dan menghilang di ujung jalan. Setelah itu, aku berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Kepala masih penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab, namun setidaknya aku sudah sampai di rumah — tempat yang paling aman dan tenang bagiku.

Belum sempat aku menutup pintu, suara Ibu terdengar lembut dari ruang tengah.

"Sudah pulang, Ndok?"

Aku berjalan mendekat sambil tersenyum tipis, lalu menyodorkan bungkusan yang tadi kubawa. "Sudah, Bu. Ini El bawakan burger buat Ibu."

Ibu menerima bungkusan itu dengan tangan yang terlihat bahagia. "Walah, El... terima kasih banyak ya, Nak."

Aku menyerahkan burger itu sepenuhnya kepada Ibu. Ibu menerimanya dengan hati-hati, seolah itu bukan sekadar makanan, melainkan sesuatu yang sangat berharga. Matanya memancarkan kehangatan dan rasa syukur yang tulus, membuat beban di dadaku sedikit demi sedikit terasa lebih ringan. Melihat Ibu tersenyum seperti ini, rasanya segala lelah dan kegelisahan tadi seakan terbayarkan lunas.

"El, Ibu mau berbicara sama kamu. Kamu ganti baju dulu sana, Ndok," ucap Ibu dengan nada yang lembut namun terdengar serius.

"Baik, Bu," jawabku singkat.

Aku pun berjalan menuju kamar dan segera mengganti pakaianku dengan pakaian rumah yang nyaman. Setelah selesai, aku berjalan kembali ke ruang makan. Di sana, Ibu sudah duduk tenang di kursi meja makan, menungguku dengan sabar. Cahaya lampu di ruangan itu menerangi wajahnya yang terlihat lelah namun tetap lembut. Ia menatapku saat aku mendekat, seolah ada hal penting yang ingin ia sampaikan sejak lama.

Ibu menatapku dalam-dalam, lalu menghela napas panjang sebelum mulai berbicara.

"Ndok, tadi kedatangan Bibi Wijaya ke sini. Dia membicarakan soal jodoh Ibu."

Aku langsung terdiam mendengarnya, jantungku seketika berdebar kencang. Benar saja, ternyata itu yang mereka bicarakan tadi pagi. Aku menatap Ibu dengan penuh tanya, menunggu kelanjutan kata-katanya.

"Bibi menawarkan seseorang, pria yang katanya sangat berkuasa dan kaya di kota ini. Namanya Samudra," lanjut Ibu pelan, suaranya terdengar ragu dan berat. "Dia bilang kalau Ibu menikah dengannya, hidup kita akan terjamin, El. Kita tidak akan kekurangan apa-apa lagi."

Aku mengeratkan genggaman tanganku di tepi meja. "Lalu... bagaimana dengan perasaan Ibu sendiri, Bu?" tanyaku lembut namun tegas.

Ibu menunduk, matanya memandang ke meja makan tanpa fokus. "Ibu bingung, Ndok. Di satu sisi, Ibu juga ingin kamu hidup lebih baik, tidak perlu lelah bekerja seperti sekarang. Tapi di sisi lain... Ibu belum siap. Apalagi mendengar kalau pria itu sudah memiliki tiga istri. Ibu tidak mau menjadi istri keempat yang hanya dianggap pelengkap semata."

Aku menatap Ibu dengan tulus, lalu menggenggam tangan Ibu lembut namun mantap.

"Itu terserah Ibu saja. Keputusan ada di tangan Ibu sepenuhnya. Kalau Ibu mau, El akan dukung juga, Bu. El akan selalu ada di sisi Ibu, apa pun pilihan Ibu nanti."

Ibu menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu mengusap kepalaku lembut. "Terima kasih, Ndok. Terima kasih sudah mengerti Ibu. Ibu janji, Ibu akan memikirkan hal ini dengan sangat baik dan hati-hati. Ibu tidak akan mengambil keputusan yang bisa menyakiti kita berdua."

Aku mengangguk pelan, lalu memeluk Ibu erat. "Apa pun keputusannya, El akan selalu mendukung Ibu. Tapi ingat ya, Bu — kebahagiaan Ibu itu yang paling utama bagi El."

Malam itu kami berdua saling berpelukan di ruang makan yang sederhana itu, menyadari bahwa apa pun yang akan terjadi di masa depan, kami tidak akan pernah menghadapinya sendirian.

"Tiga hari lagi Bibi Wijaya akan datang ke sini lagi, El. Dia menunggu jawaban dari Ibu," ucap Ibu pelan, suaranya masih terdengar berat.

Aku mengangguk mantap, menatap Ibu dengan penuh keyakinan. "Iya, Bu. Kalau begitu, Ibu pikirkan matang-matang dulu ya. Jangan terburu-buru, jangan ada paksaan dari siapa pun. Ambil waktu sebanyak yang Ibu butuhkan. Keputusan ini menyangkut seluruh hidup Ibu, jadi pastikan Ibu benar-benar siap dan berhati setuju sebelum menjawab apa pun kepada Bibi Wijaya nanti."

Ibu tersenyum tipis, menggenggam tanganku erat. "Terima kasih, El. Terima kasih sudah membiarkan Ibu berpikir sendiri."

"Karena ini hidup Ibu, Bu. Dan El akan selalu ada di sini, menemani Ibu menunggu tiga hari itu berlalu," jawabku tulus.

Malam itu berakhir dengan hati yang lebih tenang. Tiga hari terdengar singkat, tapi bagiku itu waktu yang cukup bagi Ibu untuk menemukan jawaban yang benar — jawaban yang berasal dari hatinya sendiri, bukan dari tekanan atau janji manis siapa pun.

 

"Sudah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan dulu. Ibu mau makan apa? El buatkan," ucapku lembut, berusaha mengalihkan perhatian Ibu agar tidak terlalu membebani pikirannya.

"Ibu makan burger ini saja, El," jawab Ibu sambil tersenyum tipis.

"Oh, begitu. Kalau begitu El masak mi saja deh. El lapar lagi," kataku sambil mengusap perut pelan.

"Ya sudah, Ndok. Kamu masak dulu, lalu makanlah," ujar Ibu lembut.

Aku pun berjalan menuju dapur dan sibuk memilih mi yang mana hendak kumasak. Semuanya terlihat enak, dan semuanya adalah mi kesukaanku. Setelah berpikir sejenak, aku pun memutuskan.

"Samyang saja kali ya... lagi ingin yang pedas-pedas," gumamku sendiri.

Aku pun sibuk memasak mi itu. Aroma bumbunya mulai tercium sangat harum dan menggugah selera. Wangi yang kuat namun nikmat itu memenuhi ruangan, dan perlahan-lahan pikiranku yang tadinya penuh dengan sosok pria misterius itu pun perlahan-lahan hilang, berganti dengan rasa lapar dan keinginan untuk segera menikmati masakan itu. Untuk sesaat, ketakutan dan kegelisahan tadi seakan lenyap, digantikan oleh suasana hangat di dapur rumahku sendiri.

"Sudah jadi, Buuu! Ibu mau mencicipi tidak?" seruku sambil membawa mangkuk mi panas ke ruang makan.

Namun ternyata Ibu sudah tidak ada di sana. Ia sudah masuk ke kamar dan terlelap. Mungkin Ibu memang kelelahan hari ini, makanya tidurnya lebih awal dari biasanya, gumamku pelan dalam hati.

Aku pun berjalan menuju meja makan dan duduk sendirian, lalu mulai menikmati mi yang baru saja kumasak.

"Uuhhh, enak banget! Meski pedas begini, bikin nagih," gumamku sambil tersenyum puas.

Sambil menyuap mi itu, tanpa sadar aku pun bernyanyi pelan mengikuti irama lagu yang terngiang di kepalaku. I'm only one call away... Suaraku terdengar lembut dan pelan, memenuhi ruang makan yang hening itu. Sesekali aku mengambil sebotol air putih untuk meredakan rasa pedas yang menjalar di lidah, namun tetap saja tidak berhenti makan. Rasanya nikmat sekali, dan untuk saat ini, tidak ada hal lain yang kupikirkan selain mi pedas yang hangat ini.

Tidak terasa mi itu sudah habis tak bersisa. Mangkuk yang tadinya berisi mi panas dan menggugah selera itu kini sudah kosong. Aku pun beranjak dari meja makan, mencuci peralatan yang tadi kupakai, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan diri.

Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur malam ini. Aku menarik selimut hingga sebatas bahu, lalu memejamkan mata dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Hari ini memang penuh dengan kejadian yang membuatku bingung dan takut, namun pada akhirnya semuanya berakhir dengan damai. Aku berdoa sebentar dalam hati, berharap besok adalah hari yang lebih baik, dan berharap Ibu tidur nyenyak tanpa memikirkan hal-hal yang berat. Perlahan-lahan kelopak mataku terasa berat, dan aku pun terlelap dalam tidur yang nyenyak.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!