Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Baru di Ujung Penantian

Matahari pagi di awal bulan September 2026 memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan kota metropolitan. Udara terasa begitu segar, menyapu bersih sisa-sisa ketegangan dan badai kelam yang sempat mencengkeram kehidupan Reina Lunox dan Jino West beberapa waktu lalu. Di dalam penthouse lantai empat puluh, suasana pagi ini dipenuhi oleh keheningan yang menenangkan, berbanding terbalik dengan debaran antisipasi yang bergemuruh di dada kedua insan tersebut.

Hari ini adalah hari yang paling dinantikan. Hari pernikahan mereka.

Reina duduk di depan meja rias besar di dalam ruang gantinya, mematut pantulan dirinya sendiri dari dalam cermin kristal raksasa. Ia mengenakan gaun pengantin putih mutiara bertabur kristal Swarovski yang sempat dicobanya beberapa minggu lalu—gaun yang sama yang sempat membuat Jino terpaku bisu karena terpesona. Rambut panjangnya disanggul modern dengan hiasan tiara berlian kecil yang berkilau lembut, membingkai wajah cantiknya yang dipoles riasan natural namun elegan.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan, menampilkan sosok Maya—sahabat setianya yang bertindak sebagai bridesmaid utama hari ini—muncul dengan gaun pengantin bridesmaid berwarna sage green. Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca melihat penampilan sahabatnya yang begitu memukau.

"Ya ampun, Rein..." suara Maya bergetar, nyaris menangis bahagia. "Kamu beneran kelihatan kayak ratu dari negeri dongeng! Sumpah, kalau aku cowok, aku pasti udah nikung Jino dari kemarin-kemarin!"

Reina tertawa kecil, meski ia bisa merasakan tenggorokannya mendadak tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. Ia berdiri perlahan, merapikan rok gaunnya yang menjuntai anggun menyapu lantai. "Jangan ngadi-ngadi, May. Bisa-bisa kamu langsung diseret sama bodyguard-nya Jino ke kutub utara kalau berani nikung dia."

Maya tertawa di sela-sela air matanya, lalu memeluk Reina erat-erat. "Aku seneng banget, Rein. Akhirnya semua badai, drama perjodohan konyol, sampai teror si bajingan Nathaniel itu lewat juga. Kamu berhak bahagia."

"Terima kasih, May," balas Reina tulus, membalas pelukan sahabatnya itu.

Sementara itu, di sisi lain penthouse, suasana di ruang ganti pria tidak kalah sibuk. Jino West berdiri tegak mengenakan setelan tuksedo hitam klasik tailored-fit rancangan desainer internasional. Penampilannya tampak sangat sempurna—garis wajahnya yang tegas, rambut hitamnya yang ditata rapi ke belakang, serta aura dominasi dan ketenangan yang menguar kuat dari tubuhnya.

Namun, di balik ketenangan luar biasa itu, asisten pribadinya, David, yang sedang membantu merapikan dasi kupu-kupu Jino, menyadari satu hal: tangan sang Tuan Muda sedikit berkeringat dingin.

"Tuan... tangan Anda sedikit basah. Anda gugup?" tanya David iseng dengan senyuman tertahan yang jarang ia tunjukkan.

Jino menatap tajam ke arah David lewat pantulan cermin, membuat sang asisten langsung berdehem pelan dan merapikan posisinya. "Diamlah, David. Aku tidak gugup," kilah Jino dengan suara baritonnya yang dingin, meski kalimat itu terbantahkan oleh debaran jantungnya yang berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

Bagi Jino, pernikahan ini dulunya hanyalah sebuah formalitas bisnis yang membosankan—sebuah kewajiban untuk memenuhi wasiat mendiang sahabat ayahnya. Namun detik ini, berdiri di ambang pintu babak baru kehidupannya, ia menyadari bahwa gadis desa yang dulu dianggapnya sebagai beban merepotkan itu telah menjelma menjadi detak jantungnya sendiri. Kehilangan Reina sama artinya dengan kehilangan seluruh dunianya.

Pernikahan agung itu digelar secara privat namun sangat megah di sebuah glass chapel mewah yang terletak di tebing bukit dengan pemandangan langsung menghadap ke laut biru lepas. Ratusan tamu undangan dari kalangan elit bisnis internasional, kolega penting, serta keluarga besar tampak duduk khidmat di dalam kapel yang dipenuhi dekorasi ribuan kuntum bunga mawar putih segar.

Begitu alunan musik pernikahan klasik mulai mengalun lembut dari organ utama, pintu kaca besar kapel perlahan terbuka lebar.

Semua mata tamu undangan langsung tertuju ke arah pintu masuk. Di sana, Reina melangkah masuk didampingi oleh paman angkatnya yang bertindak sebagai walinya. Senyuman tipis tersungging di bibir gadis itu, memancarkan kecantikan yang membuat siapa pun terpesona.

Namun, perhatian Reina sepenuhnya terkunci pada satu sosok pria yang berdiri di ujung altar.

Jino West berdiri tegak menatap lurus ke arahnya. Di dalam manik mata kelam pria itu, terpancar gelombang emosi yang begitu dalam—kekaguman, kelegaan, dan cinta tanpa syarat yang membuat napas Reina seolah tercekat. Pria angkuh itu kini tampak luluh sepenuhnya, menanti kedatangan ratunya dengan senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia.

Langkah kaki Reina membawanya semakin dekat ke altar. Begitu ia tiba di hadapan Jino, sang paman menyerahkan tangan Reina secara simbolis kepada pemuda itu.

Jino menyambut jemari Reina yang terbalut sarung tangan renda putih dengan lembut. Tangan hangat pria itu menggenggam erat tangan Reina, seolah berjanji tidak akan pernah melepaskannya lagi seumur hidup.

"Kau sangat cantik, gadis desa," bisik Jino tepat di samping telinga Reina dengan suara serak penuh emosi saat mereka berdiri berdampingan menghadap pendeta.

Reina mendongak, tersenyum manis penuh kemenangan. "Dan kau tidak terlihat terlalu menyebalkan hari ini, Tuan Muda West."

Pendeta di hadapan mereka tersenyum hangat, memulai prosesi pemberkatan suci. Di hadapan Tuhan, keluarga, dan para saksi, janji suci pernikahan akhirnya terucap dengan lantang dan penuh keyakinan dari bibir kedua insan tersebut.

"Sekarang, groom may kiss the bride," ucap sang pendeta mengakhiri prosesi pemberkatan.

Jino tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan gerakan penuh kelembutan namun pasti, ia membuka veil transparan yang menutupi wajah Reina, lalu menangkup kedua pipi gadis itu. Ia menundukkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman suci yang sarat akan rasa cinta, janji setia, dan kebahagiaan abadi.

Sorak sorai riuh serta tepuk tangan meriah langsung menggema di seluruh penjuru kapel. Maya di bangku penonton tampak menyeka air mata bahagianya dengan tisu, sementara para tamu undangan berdiri memberikan penghormatan hangat bagi pasangan pengantin baru tersebut.

Malam harinya, perayaan resepsi digelar secara intim di halaman rooftop hotel berbintang di bawah naungan taburan bintang malam. Lampu-lampu fairy lights berkilauan indah menghiasi langit-langit terbuka, menciptakan suasana yang romantis dan magis.

Reina duduk di kursi utama bersama Jino setelah selesai berdansa pembuka. Ia melepaskan sepatu hak tingginya sejenak karena kakinya terasa sedikit pegal, lalu menghela napas lega.

Jino yang melihat hal itu berlutut satu kaki di hadapan Reina di depan para tamu, mengambil alih kaki istrinya dengan lembut, lalu memijat pelan pergelangan kaki gadis itu. Tindakan spontan dari seorang CEO konglomerat besar di hadapan para relasi bisnis penting tentu saja membuat beberapa tamu terkejut, namun Jino tidak peduli sedikit pun. Bagi pria itu, kebahagiaan Reina adalah segalanya.

"Masih pegal, Nyonya West?" tanya Jino lembut, mendongak menatap istrinya dengan sorot mata penuh kasih sayang.

Reina tersenyum lebar, hatinya membuncah oleh kehangatan yang luar biasa. Ia merapikan helai rambut Jino dengan jari-jarinya. "Sedikit. Tapi sekarang sudah jauh lebih baik, Tuan West."

Jino bangkit berdiri, lalu menarik tangan Reina untuk membawanya berdiri di tepi pagar kaca rooftop, menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota yang membentang luas di bawah sana. Ia merangkul pinggang ramping Reina dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.

"Bagaimana?" bisik Jino di telinga Reina. "Apakah kisah cinta kita ini sudah cukup layak untuk dijadikan akhir dari novel wuxiamu?"

Reina menoleh sedikit, mengecup sekilas pipi suaminya dengan penuh rasa cinta. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum misterius.

"Bukan akhir, Jino," bisik Reina lembut. "Ini baru prolog dari babak terindah dalam hidup kita."

Jino tersenyum, mengeratkan pelukannya dan mencium bibir istrinya di tengah tiupan angin malam kota. Di bawah langit yang luas, lembaran kisah cinta mereka resmi tertulis abadi—bukan lagi sebagai fiksi di atas kertas, melainkan kenyataan terindah yang tidak akan pernah berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!