Indonesia
NovelToon NovelToon
DAMAR: Si Pemandu Arwah

DAMAR: Si Pemandu Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Hantu Zaman Kolonial

Ketegangan yang tersisa dari konfrontasi dengan Gabriel masih menggantung tebal di udara. Di panggung depan, Damar menata ulang deretan berkas itinerary di clipboard-nya dengan gerakan yang sedikit terburu-buru.

Di depannya, Madam Helga berdiri membelakangi ruangan, menatap lurus ke arah kabut malam yang membentang di luar jendela bus. Tak ada pembicaraan di antara mereka. Keheningan itu begitu kaku, seolah satu gelombang suara yang salah sanggup meretakkan ketenangan rapuh Armada 000.

Tiiiiiiiiiinnnnn ...!

Bunyi klakson bernada berat memutus keterpakuan tersebut. Bus 000 melambat secara bertahap saat memasuki pos transit khusus Sektor Tiga, sebuah halte gaib bergaya arsitektur klasik era 1930-an yang dipenuhi pilar-pilar batu bata merah dan lampu minyak tembaga yang berkedip samar.

Pintu bus terdorong membuka dengan desis yang nyaring.

KLAK. KLAK. KLAK.

Suara langkah sepatu boot berdesain militer yang diperkuat plat besi memantul keras dari arah tangga pintu masuk. Suasana di dalam bus seketika merosot drastis. Hawa dingin berganti menjadi bau mesiu menyengat, aroma kain wol basah, dan karat paku senjata api kuno.

Seorang pria tinggi tegap berwujud transparan muncul di ambang pintu. Ia mengenakan seragam dinas tentara kolonial Hindia Belanda lengkap dengan epaulet emas berlipat, tanda pangkat di dada, serta topi komando bergaya pith helmet.

Kumis tebalnya yang melengkung kaku ke atas menambah kesan tajam pada wajah persegi yang penuh garis luka bakar. Di pinggang kirinya, sebuah pedang perwira dan sarung pistol berbahan kulit tua tergantung kaku.

Sosok itu adalah Mayor Jan Willem van Der Berg, seorang komandan batalyon masa lalu yang jiwanya terikat pada ingatan perang dan traumatik benteng pertahanan.

Mayor van Der Berg berhenti di anak tangga teratas. Matanya yang memancarkan pendar kebiruan tajam menyapu seluruh interior bus dengan pandangan meneliti, persis seperti seorang jenderal yang sedang memeriksa barak pasukan sebelum pertempuran.

"Miserabel!" dentum suara van Der Berg dengan intonasi bahasa Indonesia berbata-bata yang sangat kaku dan kental aksen Belanda. "Tempat apa ini? Mengapa armada angkutan militer ini diisi oleh sipil-sipil tidak berdisiplin?"

Para penumpang hantu di barisan depan refleks menyusut ke belakang. Hawa kedisiplinan militer yang sangat dominan dari sang komandan memancar kuat, menekan aura gaib di sekitarnya.

Damar menarik napas panjang, mencoba menguasai keadaan. Ia melangkah maju satu langkah, memasang senyum profesionalnya yang biasa.

"Selamat datang di Last Trip Express, Mayor van Der Berg. Saya Damar, pemandu tur yang akan mendampingi perjalanan transit Anda menuju perbatasan."

Sang Mayor menoleh patah-patah ke arah Damar. Matanya menyipit, menatap pemandu muda itu dari ujung kepala hingga ujung sepatu dengan pandangan tidak percaya.

"Pemandu? Kamu ... inlander muda tidak berseragam militer yang memimpin armada ini?" van Der Berg berkacak pinggang, menepuk sarung pistol di pinggangnya hingga terdengar bunyi plak yang nyaring. "Di mana Komandan Regu armada ini? Mengapa tidak ada hormat senjata saat perwira tinggi melangkah masuk?"

"Ini bus tur gaib, Mayor, bukan barak militer Batalyon Empat," potong Madam Helga dingin tanpa memutar tubuhnya. "Duduk di kursi kosong yang tersedia dan tutup mulutmu jika tidak ingin kupindahkan ke bagasi bawah."

Mayor van Der Berg tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah Madam Helga. Pendar api merah tipis memercik dari luka bakar di pipinya. "Arogan! Siapa wanita sipil ini? Berani sekali bicara dengan nada memerintah kepada Komandan Batalyon Kavaleri!!!"

"Aku adalah pemilik agen travel ini, Mayor," balas Madam Helga tenang seraya memutar tubuhnya perlahan. Kipas sutranya terlipat di tangan, matanya menatap sang hantu tentara dengan keangkuhan. "Dan di atas bus ini, pangkat militermu tidak lebih berharga dari lembaran tiket kertas di tangan Damar."

Tangan van Der Berg bergerak cepat mencengkeram gagang pedang perwiranya.

"Insubordinasi! Ini pelanggaran kode etik militer pasal 40! Saya menuntut penghormatan resmi!"

Atmosfer bus mendadak memanas. Hawa mesiu bergulung pekat dari seragam van Der Berg, sementara pendar sihir keemasan mulai memercik lunak dari jemari Madam Helga. Para penumpang lain mulai saling pandang dengan cemas, khawatir percekcokan dua figur berorientasi dominan ini akan memicu ledakan energi baru.

"Tahan! Tahan dulu, Semuanya!"

Damar langsung memotong di tengah garis pandang kedua entitas tersebut. Ia mengangkat clipboard-nya tepat di antara dada tegap van Der Berg dan kipas Madam Helga, menciptakan pemisah fisik seraya menampilkan lembar manifes penumpang.

"Mayor van Der Berg," kata Damar dengan nada tegas namun sangat terstruktur, sengaja menyesuaikan gaya bicaranya agar sesuai dengan pola pikir sang tentara. "Berdasarkan Prosedur Operasional Standar Transmisi Jiwa Dokumen Nomor 104, kendaraan ini beroperasi di bawah yurisdiksi sipil netral. Sesuai dengan protokol evakuasi non-kombatan, seluruh atribut komando militer harus ditangguhkan demi kelancaran rantai komando perjalanan."

Mayor van Der Berg mengerutkan alisnya yang tebal. "Protokol ... evakuasi non-kombatan?"

"Tepat sekali, Komandan," lanjut Damar lancar, memanfaatkan keraguan sang hantu tentara. "Di dalam dokumen manifes ini, Anda terdaftar sebagai Perwira Penanggung Jawab Evakuasi Jiwa Sektor Tiga. Tugas utama Anda malam ini bukan berperang, melainkan memastikan rombongan ini mencapai garis batas tanpa insiden."

Damar menunjuk ke arah barisan kursi bagian tengah yang masih kosong. "Sebagai perwira tinggi, tempat taktis terbaik Anda adalah di barisan tengah, posisi strategis untuk mengawasi sektor depan dan belakang armada."

Pernyataan Damar yang dikemas dalam istilah-istilah militer buatan tersebut secara tak terduga menghantam kebanggaan dan jiwa kaku van Der Berg. Sang komandan menegakkan punggungnya, menepuk dadanya yang dipenuhi medali gaib.

"Aha! Jadi ini operasi evakuasi taktis!" van Der Berg mengangguk-angguk kaku dengan wajah yang sangat serius. "Mengapa tidak mengatakannya sedari tadi, Inlander ... maksud saya, Petugas Damar! Jika ini adalah tugas pengawalan evakuasi, maka Mayor van Der Berg akan menjalankan prosedur dengan disiplin baja!"

Madam Helga mendengus pelan di balik kipasnya, memalingkan wajah seraya menunjukkan raut tidak percaya atas kemudahan Damar mengelabuhi hantu kaku tersebut.

"Bagus," kata Damar, hampir saja menahan senyum komikal yang hendak terlepas dari bibirnya. "Silakan menempati pos Anda di Kursi Nomor 12, Komandan."

Mayor van Der Berg melangkah dengan gaya berjalan baris-berbaris yang sangat formal. Satu, dua, satu, dua. Setiap langkah boots-nya membuat lantai bus bergetar pelan. Namun, saat ia melewati barisan kursi Marlina, sang komandan mendadak berhenti kaku.

Matanya menatap tajam ke arah sosok hantu wanita muda tersebut. Marlina yang ketakutan refleks menundukkan kepala.

"Kamu! Sipil!" bentak van Der Berg kencang, membuat Marlina tersentak kaget. "Mengapa posisi dudukmu bungkuk seperti itu? Tegakkan punggungmu! Dalam situasi evakuasi darurat, postur tubuh yang buruk akan mengurangi efisiensi mobilitas!"

Marlina langsung menegakkan punggungnya secara instan karena terkejut. "S-Siap, Pak!"

"Bagus! Tetap dalam posisi siap!" kata van Der Berg puas sebelum akhirnya duduk di kursi nomor 12 dengan posisi tubuh sembilan puluh derajat yang sempurna. Kedua tangannya bertumpu di atas paha, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip sedikit pun.

Damar menghela napas lega, membetulkan letak mikrofonnya seraya melirik Madam Helga.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Saat Bus 000 kembali bergulir menembus jalanan gaib, Mayor van Der Berg kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan gerakan kaku.

"Petugas Damar!" panggil van Der Berg nyaring.

"Ya, Komandan?" sahut Damar seraya menoleh.

"Saya mengajukan keberatan taktis!" kata van Der Berg tegas. "Rute yang kita lalui ini mengarah ke Sektor Benteng Tua Willem! Itu adalah zona pertempuran sengit! Mengapa rute evakuasi kita diarahkan langsung ke pusat benteng musuh?"

Madam Helga memutar tubuhnya anggun, menatap van Der Berg dengan pandangan dingin yang tajam. "Karena Benteng Tua itu adalah destinasi tur napak tilas berikutnya untuk rombongan ini, Mayor. Dan kau tidak punya hak untuk mengubah rute perjalanan yang sudah kutetapkan."

Mayor van Der Berg berdiri seketika, tangannya kembali mencengkeram gagang pedangnya. "Ini konyol! Membawa armada penuh sipil ke dalam Benteng Tua pada jam seperti ini adalah tindakan bunuh diri taktis! Saya menolak melanjutkan rute ini!"

Damar memegang keningnya yang mulai terasa pening. Interaksi antara keteguhan doktrin militer abad ke-19 dan otoritas dingin Madam Helga baru saja dimulai, dan Benteng Tua yang penuh dengan perangkap tersembunyi sudah membentang di depan mata mereka.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
baru tahu
judulnya gantii yaa 🤔
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
alangkah ajaib nya
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat jalan pak Tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kepuasan seorang manusia yg berguna bagi sesama nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
yaa pasti rinduu laah pak tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!