Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Nama yang Membuka Luka Lama

Pagi itu, Riza mengantarkan putrinya ke stasiun kereta cepat. Kania akan kembali ke Bandung dan langsung menuju wedding organizer. Hari itu, dia sudah berjanji bertemu Raka untuk membicarakan berbagai persiapan pernikahan mereka yang rencananya akan dilangsungkan bulan Desember, sekitar enam bulan lagi.

Sepanjang perjalanan, keduanya berbincang ringan. Sesekali Riza memberikan nasihat tentang kehidupan rumah tangga yang sebentar lagi akan dijalani putrinya.

"Calon suamimu itu siapa nama lengkapnya? Ayah punya teman di tempat kerja calon suamimu. Siapa tahu nanti bisa berteman dengan suamimu,” tanya Riza.

"Raka Putra Priambodo, Yah.”

"Priambodo?” Riza mengulang nama itu, lalu menoleh sekilas kepada putrinya. “Berarti nama mertuamu juga Priambodo, ya? Orang Jawa?”

"Iya. Namanya Handoko Priambodo.”

"Apa?”

Riza mendadak menginjak rem. Mobil yang mereka tumpangi melambat sebelum akhirnya berhenti sejenak di sisi jalan. Wajahnya berubah. Matanya menatap lurus ke depan, seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak mungkin.

Nama itu. Handoko Priambodo.

Entah mengapa, nama tersebut langsung menyeret ingatannya pada sebuah malam di Paris. Malam yang selama ini berusaha ia simpan jauh-jauh dalam ingatan. Malam yang tak pernah benar-benar hilang, meski bertahun-tahun telah berlalu.

"Ayah kenapa kaget begitu?” Kania mengernyitkan dahi. “Namanya biasa, kan? Nggak ada yang aneh.”

Riza tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat. Jantungnya berdegup lebih cepat, sementara potongan-potongan kenangan dari masa lalu mulai bermunculan tanpa diundang.

"Handoko Priambodo...” gumamnya nyaris tak terdengar.

Kania menatap ayahnya dengan bingung.

"Ayah kenal sama nama itu?”

Riza tersadar. Dia segera melepaskan kakinya dari pedal rem dan kembali menjalankan mobil. Namun, wajahnya masih terlihat tegang.

"Nggak... nggak apa-apa,” jawabnya berusaha tenang.

Kania masih memperhatikannya dari samping.

"Tadi seperti orang kaget banget.”

"Ayah cuma... merasa pernah dengar nama itu.”

"Handoko Priambodo?”

Riza mengangguk pelan. "Iya. Handoko Priambodo.”

Dia menarik napas panjang. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Sebuah nama yang seharusnya sudah lama terkubur, tiba-tiba muncul begitu saja di pagi yang biasa.

"Memangnya calon mertuamu tinggal di Bandung?” tanyanya kemudian.

"Iya. Mereka tinggal di Bandung.”

"Handoko masih kerja?”

"Masih, Yah. Kalau nggak salah, dia punya perusahaan sendiri.”

Riza terdiam. "Perusahaan apa?”

"Kurang tahu, Yah. Aku juga belum terlalu banyak ngobrol soal pekerjaannya.”

Riza mengangguk kecil. Dia berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai memenuhi dadanya.

"Terus... ibunya Raka siapa?”

"Namanya Bu Pratiwi Sastrowardoyo.”

Nama itu tidak membuat Riza bereaksi. Hanya nama Handoko yang sejak tadi terus berputar-putar di kepalanya.

"Pratiwi...” gumamnya.

"Iya. Kenapa, Yah?”

"Nggak. Ayah cuma tanya.”

Kania akhirnya kembali memandang ke depan. Riza menggenggam kemudi lebih erat.

Paris. Kenangan tentang Paris tiba-tiba hadir begitu jelas. Bukan sekadar wajah, tetapi juga percakapan, suasana malam itu, dan seorang perempuan yang pernah begitu dekat dengannya.

Mungkinkah? Tidak. Riza buru-buru menepis pikirannya sendiri. Sudah terlalu lama.

Lagipula, Handoko Priambodo bukan nama yang terlalu asing. Bisa saja hanya kebetulan. Dan dia juga gak tahu nama lengkap Handoko, laki-laki yang disebut Mellisa saat itu.

Namun, semakin dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, semakin kuat pula perasaan tidak nyaman yang muncul di dadanya.

"Nia...” panggil Riza pelan.

"Hm?”

"Raka itu anak tunggal?”

"Iya, Yah, kan aku dah bilang, aku gak akan punya ipar." katanya enteng.

"O Iya ya." Riza tersenyum kecil.

Mobil terus melaju menuju stasiun, tetapi pikirannya justru berjalan mundur ke puluhan tahun silam.

Dia masih berpikiran, jangan-jangan Handoko Priambodo yang akan menjadi besannya adalah Handoko yang pernah ia kenal di Paris, yang pernah Mellisa ceritakan setelah dia mendesaknya.

Setelah mengantarkan Kania hingga ke stasiun, Riza kembali masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin, lalu perlahan melajukan kendaraannya meninggalkan stasiun menuju kantor.

Namun, sepanjang perjalanan, pikirannya justru tertinggal pada percakapan dengan putrinya tadi.

Handoko Priambodo. Nama itu terus terngiang di kepalanya.

Entah mengapa, nama tersebut membuat Riza teringat pada cerita Mellisa beberapa puluh tahun silam. Pada satu nama yang pernah begitu sering disebut perempuan itu dalam percakapan mereka.

Handoko.

Apakah Handoko Priambodo yang disebut Kania adalah Handoko yang sama dengan Handoko yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Mellisa?

Riza mengembuskan napas panjang. Kalau memang benar, ia bisa membayangkan betapa berat perasaan Mellisa saat mengetahui mereka kembali dipertemukan setelah puluhan tahun berlalu.

Ia tahu persis seberapa besar cinta Mellisa kepada lelaki itu. Cinta yang bahkan tak benar-benar hilang meski waktu telah berjalan begitu lama.

Lebih dari dua puluh tahun setelah perceraian mereka, Mellisa tak pernah lagi bersedia menikah dengan siapa pun. Berkali-kali orang datang dalam kehidupannya, tetapi tak satu pun mampu membuatnya membuka hati kembali.

Riza tahu alasannya. Ada seseorang yang masih tersimpan begitu dalam di hati perempuan itu.

Dan orang itu adalah Handoko.

Tanpa sadar, sudut bibir Riza terangkat tipis, meski matanya justru tampak sendu. Sebenarnya, perasaan itu bukan hanya milik Mellisa.

Ia pun pernah mencintai perempuan itu dengan seluruh hatinya.

Sejak remaja, Mellisa adalah sosok yang begitu ia cintai dan kagumi. Bukan sekadar cinta masa muda yang datang lalu berlalu, melainkan perasaan yang bertahan jauh lebih lama dari yang pernah ia bayangkan.

Sayangnya, hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. Ketika hubungan mereka berakhir, Riza sempat kehilangan arah. Ia tak ingin menikah dengan siapa pun. Baginya, tidak ada perempuan lain yang mampu menggantikan posisi Mellisa di hatinya.

Namun, kedua orang tuanya tidak sanggup melihatnya terus-menerus larut dalam kesedihan.

Mereka berkali-kali membujuk Riza agar membuka hati dan memulai kehidupan baru.

Awalnya ia menolak. Tetapi, setelah tiga tahun berlalu sejak perpisahannya dengan Mellisa, Riza akhirnya menyerah pada keinginan orang tuanya. Ia menikah dengan perempuan lain, bukan karena cintanya kepada Mellisa telah benar-benar hilang, melainkan karena ia sadar bahwa hidup harus terus berjalan.

Kini, setelah sekian puluh tahun berlalu, nama Handoko kembali hadir di hadapannya. Riza menghela napas panjang. "Kalau benar dia orangnya..."

Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Mellisa ketika masa lalu yang selama ini ia kubur kembali mengetuk pintu kehidupannya.

Apalagi jika perasaan yang selama ini dianggap telah mati ternyata masih tersimpan di tempat yang sama.

Riza menggenggam kemudi sedikit lebih erat. Ada firasat aneh yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Seolah-olah pertemuan Kania dengan Handoko bukan sekadar kebetulan. Dan entah mengapa, ia merasa pertemuan itu akan membawa kembali banyak hal yang selama ini mereka semua berusaha tinggalkan.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!