perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaga bicaramu, bu
Sesampainya di ruko, suasananya masih cukup sepi. Belum terlihat para tukang yang akan mengerjakan renovasi.
Aku mengambil kunci dari dalam tas, lalu membuka pintu ruko. Ruangan yang cukup luas langsung terlihat di hadapanku. Aku berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap sudut. Sebenarnya kondisi ruko ini sudah cukup bagus. Pemilik sebelumnya ternyata orang yang menjaga kebersihan. Lantainya masih bersih, dindingnya juga terawat, sehingga tidak banyak yang perlu di perbaiki. Namun konsep warung yang akan aku buat berbeda. Aku ingin tempat ini terlihat menarik dan sederhana, tetapi nyaman. Aku ingin pelanggan merasa betah dan tidak hanya datang untuk makan lalu pergi.
Tak lama kemudian, tiga orang tukang yang akan mengerjakan renovasi sudah datang. Setelah berbasa-basi sebentar, aku langsung menjelaskan konsep dan perubahan yang kuinginkan.
" Untuk bagian depan, saya ingin di buat lebih terbuka. Kemudian dapurnya sedikit disesuaikan supaya lebih nyaman digunakan. Kalau ada bagian yang menurut bapak-bapak perlu di perbaiki, nanti bisa bilang ke saya dulu." Ujar ku memberikan sedikit penjelasan.
" Baik, Bu. Nanti kami kerjakan sesuai arahan."
Setelah semuanya jelas, mereka mulai bekerja. Aku memilih menunggu diluar sambil sesekali mengawasi mereka. Rasanya menyenangkan melihat rencana yang selama ini ada di kepalaku perlahan mulai terbentuk.
Saat memperhatikan tukang, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang memanggil namaku.
" Bu Jasmine."
Spontan, aku langsung membalikkan badan.
" Sudah saya duga. Ternyata benar Bu Jasmine. Tadi saya sempat ragu mau menyapa." katanya sambil tersenyum.
Setelah kuamati beberapa detik. Ternyata yang menyapaku adalah Pak Arif, kepala sekolah Aldi.
" Lho, Pak Arif? Bagaimana bisa Bapak ada disini?" Tanyaku.
" Iya, biasa lah Bu. Saya sedang mengecek kondisi toko. Kebetulan hari ini libur, jadi saya datang untuk mengontrol." Jawab Pak Arif.
" Toko?" Tanyaku lagi. Aku tidak tahu kalau ternyata Pa Arif memiliki toko di sekitar sini.
" Iya, Bu. Toko saya di sebelah pojok sana. Yang cat nya warna biru." Ujar Pak Arif sambi menunjuk ke arah letak toko nya.
" oh,, yang itu." Aku hanya mengangguk kikuk. Karena aku bingung tidak terbiasa ber basa basi dengan laki-laki.
" Ibu hanya sendirian? Anak-anak tidak di ajak?"
" Iya, Pak. Saya sendirian saja. Anak-anak dirumah bersama papa nya."
Oh, begitu. Kalau boleh tahu, ruko ini mau di buat usaha apa, Bu?" Tanya Pak Arif.
" Rencananya mau saya jadikan warung makan, Pak. Jadi ada beberapa bagian yang perlu di renovasi supaya sesuai dengan konsep yang saya inginkan." Jawabku.
" Rencana konsepnya bagaimana, Bu? Tradisional atau modern?"
" Tradisional, Pak. Karena saya ingin menjual masakan rumahan."
" Kalau target pasar nya ? Orang tua, anak muda atau semua usia, Bu ?"
" Lebih ke orang tua , Pak. Soalnya saya pikir anak muda sekarang lebih suka makanan kekinian daripada makanan tradisional."
" Apa tidak sebaiknya di buat dengan konsep tradisional yang semi modern saja, Bu? Jadi dengan begitu bisa mengacu tidak hanya ke orang tua saja, namun juga bisa menarik minat anak muda." Ucap Pak Arif memberikan saran untuk ku.
Mendengarkan saran dari Pak Arif, muncul lah ide-ide kreatif di kepalaku.
" Kalau konsep seperti itu, kira-kira bisa menjangkau semua usia, Pak?" Tanyaku yang masih penasaran dengan saran Pak Arif.
" Kalau belum di coba, tentu kita belum bisa memastikan hasilnya. Tapi menurut saya, tidak perlu dibuat terlalu rumit. Konsep tradisionalnya tetap di pertahankan, hanya diberi sedikit sentuhan modern. Sederhana saja dulu." Jawab Pak Arif santai.
Aku mengangguk mendengar jawaban Pak Arif. Entah kenapa, berbicara dengan Pak Arif terasa cukup nyaman. Orangnya hangat dan mudah bergaul. Selama ini aku memang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan hanya terbiasa berbicara dengan orang-orang rumah.
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat layar ' ibu mertua '. Aku kemudian melirik Pak Arif. Dia sempat melihat ekspresiku, lalu mengangguk kecil, seolah mempersilahkanku menjawab telepon.
" Assalamualaikum, Bu. Ada apa?"
" Heh !! Kamu itu Ibu macam apa? Tidak tahu aturan. Pagi-pagi sudah kelayapan. Anak ditinggal. Apa sih yang ada di pikiranmu, Jasmine?". Teriak Bu Lastri yang memekak kan telinga.
Aku melirik Pak Arif lagi yang terlihat pura-pura sibuk memperhatikan ponselnya. Aku yakin pasti Pak Arif mendengar suara Ibu mertuaku.
" Jasmine !!! Cepat pulang sekarang ! Urus anak-anak mu." Bentak Bu Lastri dari seberang telepon.
" Maaf, Bu. Saya belum bisa pulang sekarang. Sebentar lagi mungkin urusan saya selesai. Sebelum berangkat tadi, saya sudah berpesan kepada Mas Rama untuk menjaga anak-anak." Ucapku.
" Rama lagi Rama lagi. Dia itu suamimu, bukan babu mu. Dasar istri kurang ajar !! enak sekali menyuruh suami melayani anak-anak."
" Bu, Mas Rama itu juga orang tuanya. Jadi tidak ada salahnya kalau dia kusuruh menjaga anak-anak." Ucap ku sedikit menahan amarah.
" Sudah jangan banyak alasan !! Cepat pulang sekarang, Jasmine."
Sambungan telepon langsung terputus. Aku menghembuskan napas panjang. Ada sedikit rasa sesak di dada.
Pak Arif memperhatikanku beberapa saat. Mungkin dia bisa melihat perubahan raut wajahku.
" Kalau mau pulang, pulang saja, Bu. Saya bisa membantu mengawasi para tukang." Kata Pak Arif.
" Apakah tidak merepotkan, Pak?"
" Kalau hanya mengawasi tukang, sama sekali tidak merepotkan kok. Kasian anak-anak pasti mencari Ibu nya."
" Beneran tidak apa-apa, Pak?" Tanyaku lagi meyakinkan.
" Tidak, Bu. Tenang saja." Jawab Pak Arif sambil tersenyum.
" Terimakasih banyak, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum."
" Walaikumsallam."
Dari kejauhan Pak Arif masih memperhatikan kepergianku. Dalam diriku ada sedikit rasa kagum pada kepala sekolah yang masih muda itu. Sikap nya yang ramah, sopan, dan baik.
Segera kulajukan motorku dengan agak kencang supaya cepat sampai dirumah. Dan satu lagi aku harus siap mendengarkan ocehan Ibu mertuaku dirumah nanti.
...****************...
Terimakasih sudah membaca 🙏
Next episode selanjutnya, yaaa. Makin seru !!!!😘