Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Keesokan harinya, suasana di depan kantor polisi mendadak riuh oleh kerumunan wartawan dari berbagai media massa.
Ibu Sarah berdiri di tengah sorot kamera dan mikrofon yang mengarah padanya.
Dengan akting penuh air mata palsu dan raut wajah dibuat-buat mel Welas asih, ia mulai mengumbar fitnah kotor untuk menghancurkan nama baik Nadya.
"Tolong kami, Masyarakat Indonesia! Wanita bernama Nadya itu sudah menggunakan uang dan kekuasaannya secara semena-mena!" seru ibu Sarah dengan suara melengking di hadapan kamera.
"Dia itu perawan tua yang membeli menantu saya! Dia menjebak anak saya, Sarah, dan memaksa kami menyerahkan Armand demi memuaskan keinginannya!"
Berita konferensi pers tersebut langsung viral dan menjadi perbincangan panas di berbagai portal media sosial.
Di kamar rawat VVIP, Siska masuk dengan wajah tegang seraya menggenggam tabletnya.
Ia ragu sejenak sebelum menunjukkan tayangan video konferensi pers itu kepada Armand dan Nadya.
"Pak Armand, Bu Nadya., wanita tua itu benar-benar melampaui batas," ujar Siska seraya memutar video tersebut.
Armand menyaksikan setiap detik tayangan fitnah itu dengan rahang mengeras ketat.
Dada pria itu bergemuruh hebat, matanya menyala memancarkan amarah yang luar biasa.
"Biadab!" bentak Armand murka hingga membuat napasnya tersengal.
Tangan kirinya mengepal kuat di atas kasur. "Benar-benar tidak tahu malu!"
Nadya yang duduk di sampingnya mengusap lembut lengan Armand, mencoba menenangkan suaminya dengan raut wajah yang tetap tenang dan terkendali.
"Mas, biarkan saja," bisik Nadya lembut.
"Kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk menanggapi kebohongan seperti itu."
"Dek, ini fitnah namanya! Mas tidak terima!" potong Armand tegas, menatap Nadya dengan rasa tidak rela yang mendalam.
"Dia sudah menghina kamu, Dek. Dia merendahkan martabat istri Mas di depan seluruh negeri. Mas tidak akan biarkan nama baikmu tercemar sedikit pun!"
Armand tidak bisa lagi tinggal diam. Ia menoleh ke arah Siska dengan keputusan bulat.
"Siska! Ambil ponselmu, rekam saya sekarang juga!" perintah Armand mantap.
Siska seketika bersiap dan mengarahkan kamera ponsel ke arah Armand yang duduk di ranjang rumah sakit dengan tangan kanan terbalut gips tebal dan wajah yang masih memiliki bekas luka.
Begitu rekaman dimulai, Armand menatap lurus ke kamera dengan sorot mata yang sangat tajam, penuh wibawa, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Selamat siang kepada seluruh masyarakat Indonesia," buka Armand dengan suara berat dan tenang namun bergetar menahan ketegasan.
"Saya, Armand, pria yang diperebutkan dan difitnah dalam berita bohong yang disebarkan oleh ibu dari mantan istri saya, Sarah."
Armand menarik napas dalam, lalu membeberkan kenyataan pahit tanpa ada yang ditutupi:
"Apa yang dikatakan wanita itu di depan media adalah FITNAH BESAR. Kenyataan sebenarnya adalah Sarah yang telah menjual saya kepada Nadya!"
Armand melanjutkan penjelasannya dengan nada menohok yang memotong setiap tuduhan palsu:
"Malam itu, Nadya tidak sengaja menyerempet motor Sarah. Bukannya menyelesaikan masalah secara kekeluargaan atau asuransi, Sarah, justru memanfaatkan insiden kecil itu untuk mengancam Nadya. Sarah yang dibutakan uang meminta imbalan sebesar dua miliar rupiah dan menjual saya begitu saja!"
Armand melirik ke arah Nadya dengan tatapan penuh kebanggaan dan cinta yang mendalam sebelum kembali menatap kamera.
"Nadya tidak pernah membeli siapa pun. Dialah wanita terhormat yang menyelamatkan hidup saya dari pernikahan racun bersama keluarga yang gila harta itu. Saya berdiri di sini sebagai suami sah dari Nadya, dan saya akan membawa setiap fitnah kotor ini ke jalur hukum!"
"Matikan rekamannya, Siska. Unggah sekarang ke seluruh platform media sosial dan kirim ke semua media massa," tegas Armand menutup klarifikasinya.
Tak berselang lama setelah diunggah oleh Siska, video klarifikasi langsung dari Armand meledak di media sosial.
Penampilan Armand yang berbicara tegas dari atas ranjang rumah sakit—lengkap dengan gips di tangan kanan serta luka di wajahnya—menjadi bukti autentik yang tak terbantahkan.
Sontak, simpati publik berbalik total membela Armand dan Nadya, sementara kemarahan netizen menghujani Sarah dan ibunya.
Di luar kantor polisi, suasana yang semula dikuasai oleh drama palsu ibu Sarah mendadak berubah drastis.
Puluhan wartawan yang tadinya bersimpati tiba-tiba sibuk menatap ponsel masing-masing. Notifikasi berita viral membanjiri layar mereka.
"Lihat ini! Pak Armand baru saja merilis video klarifikasi dari rumah sakit!" seru seorang wartawan senior.
Apa?! Ternyata Sarah yang menjual suaminya demi dua miliar?!" timpal wartawan lainnya dengan nada kaget.
Ibu Sarah yang masih berdiri berakting di depan kamera mendadak kebingungan melihat perubahan drastis raut wajah para awak media.
Sebelum ia sempat berbuat apa-apa, puluhan mikrofon kembali disodorkan ke wajahnya—kali ini dengan nada cecaran yang tajam dan meledak-ledak.
"Ibu! Bagaimana tanggapan Anda soal video Pak Armand yang menyatakan Sarah meminta uang dua miliar?!"
"Apakah benar Anda dan Sarah yang sengaja menjual Pak Armand karena terlilit utang?!"
"Kenapa Anda menuduh Bu Nadya memeras, padahal ada bukti Anda yang mengancam beliau?!"
Wajah ibu Sarah seketika pucat pasi bagai mayat. Rasa malu yang luar biasa menghantam mukanya, mengikis habis seluruh rasa percaya diri dan keangkuhannya.
Bibirnya gemetar, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri di hadapan bukti nyata yang baru saja dibongkar mantan menantunya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, wanita gila harta itu menutupi wajahnya dengan tas mewah palsunya, memutar badan, dan berusaha melarikan diri dari kejaran media.
"Tolong, jangan foto! Jangan rekam!" teriak ibu Sarah panik seraya setengah berlari menuju mobilnya.
Namun, para wartawan yang merasa dibohongi tidak tinggal diam.
Mereka langsung mengejar ibu Sarah secara berbondong-bondong, terus mencecar dan mengambil gambar wanita itu yang kini berlari terbirit-birit dalam kehancuran reputasinya sendiri.
Siska melangkah mendekati ranjang seraya menyodorkan layar tabletnya yang sedang menayangkan siaran langsung berita hiburan.
Di layar tersebut, terlihat jelas sosok ibu Sarah yang berlari terbirit-birit menutupi wajahnya dengan tas, dikejar-kejar oleh puluhan wartawan yang mencecarnya tanpa ampun.
Armand menyaksikan tayangan itu dengan helaan napas panjang.
Sebuah senyum sinis yang tipis terukir di sudut bibirnya—sebuah pembalasan yang setimpal untuk wanita yang telah merusak kehidupan dan mencoba menghancurkan nama baik istrinya.
Ia lalu memutar kepalanya perlahan, menatap Nadya yang duduk di sampingnya dengan tatapan lembut nan sarat akan rasa bersalah.
"Maaf ya, Sayang." bisik Armand parau.
"Gara-gara masa laluku dan keluarga itu, nama kamu jadi terseret ke dalam drama kotor seperti ini."
Nadya menggelengkan kepalanya dengan lembut.
Senyum manis nan hangat mengembang di paras cantiknya, mengikis seluruh keraguan yang tersisa di hati Armand.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas," balas Nadya seraya menggenggam erat jemari tangan kiri Armand dan menyandarkan jemarinya di pipi suaminya.
"Mas, justru baru saja menunjukkan pada dunia betapa indahnya memiliki suami yang berani berdiri paling depan untuk melindungiku. Kita ini satu paket, Mas—suka, duka, dan masa lalu kita, sekarang kita tanggung bersama."
Armand meresapi setiap kalimat Nadya dengan rasa haru yang membuncah.
Ia mengecup lembut punggung tangan istrinya, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki wanita yang tak hanya tangguh dan berkuasa, tetapi juga memiliki hati yang begitu lapang dan tulus mencintainya.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,