Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Delapan Tahun

Tiga bulan sebelum ulang tahunku yang kedelapan belas, aku menerima surat tanpa nama pengirim.

Amplopnya datang bersama kiriman buku sekolah. Di dalamnya hanya ada sebuah foto kota asing dan satu kalimat pendek.

`Aku belum lupa janjiku.`

Tidak ada tanda tangan.

Aku tidak membutuhkannya.

Gilang masih mengingatku.

Delapan tahun hampir selesai. Sepanjang waktu itu aku membayangkannya tumbuh menjadi pangeran yang akan membuka gerbang Vila Arkana dan membawaku pergi. Bayangan tersebut berubah mengikuti usiaku: mula-mula Gilang datang dengan pedang kayu, lalu dengan jas rapi, mobil sendiri, dan kekuatan yang cukup untuk berdiri setara dengan Arkana.

Aku menyimpan foto itu di dalam kotak metronom.

"Kenapa tersenyum sendiri?" tanya Bayu dari pintu ruang musik.

Aku buru-buru menutup kotak. "Tidak ada apa-apa."

"Kalau tidak ada apa-apa, biasanya orang tidak menyembunyikannya."

Arkana muncul di belakangnya. "Jangan ganggu dia."

Bayu mengangkat alis. "Aku cuma bertanya. Anak sebesar ini pasti sudah punya rahasia."

"Dia masih sekolah."

"Anak sekolah juga punya hati, Kana."

Arkana menatapnya sampai Bayu tertawa dan pergi.

Dia kemudian memeriksa jadwal les yang tertempel di piano. "Sopir akan menjemput setelah kelas tambahan. Jangan pulang dengan temanmu."

"Aku bisa naik ojek online."

"Tidak."

"Teman sekelasku melakukannya setiap hari."

"Kau bukan teman sekelasmu."

"Karena aku anak angkat bos mafia?"

Arkana melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Karena ada orang yang akan memakai namamu untuk mencapaiku."

"Tidak ada yang tahu hubungan kita."

"Dan akan tetap begitu."

Nada suaranya mengakhiri perdebatan. Dia tidak menyentuhku, tidak memeluk, bahkan jarang masuk ke kamarku sejak aku beranjak remaja. Semua kebutuhanku dia atur dari jauh: sopir, sekolah, guru piano, dokter, dan penjaga yang berpakaian seperti staf biasa.

Jarak itu seharusnya membuatku lega.

Entah mengapa, aku justru sering mencari suaranya di ruang makan.

Di sekolah, Dita mengajakku pergi ke pesta kelulusan bersama kelompok kelas. Reza, anak yang selama satu semester selalu meminjam catatanku meski nilainya lebih tinggi, menawarkan diri menjadi pasanganku.

"Bukan kencan," katanya cepat. "Kita datang ramai-ramai."

Aku belum sempat menjawab ketika mobil penjemput berhenti di depan gerbang. Salah satu penjaga Arkana berdiri di samping pintu dan memandang Reza terlalu lama.

Malamnya, formulir izin pesta sudah berada di meja kerja Arkana.

"Kau menyuruh orang mengawasiku sampai ke kelas?" tanyaku.

"Aku menyuruh mereka memastikan kau pulang dengan selamat."

"Reza cuma teman."

"Aku tidak bertanya siapa dia."

"Tapi wajahmu seperti ingin memeriksa seluruh keluarganya."

Arkana menandatangani formulir. "Kau boleh pergi bersama kelompok kelas. Sopir menunggu di luar dan kau pulang sebelum sebelas."

Aku terkejut. "Kau mengizinkan?"

"Kau menginginkan larangan agar punya alasan untuk membenciku?"

Aku mengambil formulir tanpa menjawab.

Pada malam pesta, dia tidak ikut mengantar. Sebuah gaun biru sederhana dan kotak makan muncul di kamarku. Di atasnya ada catatan dari Bi Sum: `Bos bilang jangan pulang dengan perut kosong.`

Perhatian tanpa kehadiran. Begitulah Arkana menjagaku saat aku belum dewasa.

***

"Itu bukan cinta," kata Mbak Tania.

Kami duduk di ruang rias Club Aurora sebelum klub buka. Kini dia menjadi koordinator penampil dan memiliki meja sendiri. Aku baru menceritakan surat Gilang, larangan Arkana, serta kebingungan yang tak berani kuucapkan di rumah.

"Yang mana?" tanyaku. "Perasaanku kepada Kak Gilang atau kepada Arkana?"

"Dua-duanya belum perlu kamu beri nama. Kamu masih tujuh belas tahun."

"Sebentar lagi delapan belas."

"Tetap saja belum sekarang."

Aku memutar kursi menghadap cermin. "Kak Gilang menyelamatkanku. Aku menunggunya delapan tahun."

"Berterima kasih tidak selalu berarti jatuh cinta."

"Arkana membunuh keluargaku."

"Membenci juga tidak selalu berarti hatimu bebas darinya."

Aku menatap pantulan sendiri. Gadis di cermin mengenakan seragam sekolah dan pita rambut sederhana. Tidak ada yang tahu di balik wajah tenangnya ada dua pria yang membelah hidupnya menjadi rasa aman dan rasa takut.

"Kadang aku ingin pergi dari rumah itu," kataku. "Tapi ketika dia tidak pulang, aku tidak bisa tidur."

Mbak Tania meraih tanganku. "Dia membesarkanmu. Tubuhmu terbiasa merasa aman ketika tahu dia ada. Itu bisa jadi keterikatan, bisa jadi luka, bisa jadi keduanya. Jangan buru-buru mengubahnya menjadi sesuatu yang belum kamu pahami."

"Kalau setelah aku dewasa perasaan itu tidak berubah?"

"Saat itu kamu berhak memilih. Bukan dia, bukan Gilang, bukan aku. Kamu."

Pintu ruang rias terbuka. Arkana berdiri di sana membawa payung karena hujan mulai turun.

"Waktunya pulang."

Aku bangkit. Mbak Tania menahan lenganku sesaat dan berbisik, "Ingat, pilihanmu baru berarti kalau kamu sudah cukup dewasa untuk mengatakannya."

Di mobil, Arkana memberikan handuk karena ujung rambutku terkena hujan. Dia duduk di sisi lain kursi belakang, menjaga jarak seperti selalu.

"Ada kabar dari Gilang?" tanyaku.

Tatapannya beralih dari jendela. "Kenapa bertanya?"

"Delapan tahun hampir selesai."

"Dia akan pulang jika latihannya selesai."

"Kau akan menepati janjimu?"

"Jika dia menepati bagiannya."

Aku memeluk tas di dada. Di dalam kotak metronom, surat Gilang menunggu.

Tiga bulan lagi aku akan berusia delapan belas tahun.

Beberapa bulan setelah itu, delapan tahun Gilang akan genap.

Namun untuk pertama kalinya, aku takut pangeran yang selama ini kutunggu akan pulang dan menemukan bahwa sang putri tidak lagi yakin ingin meninggalkan sarang serigala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!