Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Bawah Langit Malam Kota
Ciuman itu dalam, sarat akan ketegangan yang perlahan melebur menjadi kehangatan yang menenangkan. Di dalam remang lampu ruang tengah penthouse yang diterangi gemerlap cahaya kota dari dinding kaca raksasa, dunia luar seolah berhenti berputar bagi Reina Lunox dan Jino West. Segala bayang-bayang kelam masa lalu, ancaman Elena Vance, hingga keraguan yang sempat singgah, lenyap tersapu oleh debaran dua hati yang kini berdetak seirama.
Ketika Jino akhirnya perlahan melonggarkan ciumannya, dahinya bersandar menempel pada dahi Reina. Napas kedua insan itu masih memburu, menciptakan ritme hangat di udara yang tipis di antara mereka. Manik mata kelam Jino menatap lekat-lekat manik mata cokelat Reina, memancarkan kelegaan yang begitu nyata.
"Kau benar-benar membuatku hampir kehilangan akal hari ini, gadis desa," bisik Jino rendah, suaranya terdengar serak namun dipenuhi rasa gemas yang luar biasa. Jemari kokohnya masih menggenggam erat pinggang Reina, seolah takut jika ia sedikit saja melonggarkan pegangannya, gadis itu akan terbang menghilang.
Reina mendengus pelan, meski ada senyuman tipis yang merekah di sudut bibirnya. Ia mengangkat kedua tangannya, merapikan kerah kemeja hitam Jino yang sedikit kusut akibat gerakan panik pria itu tadi.
"Makanya, jangan suka meremehkan kemampuanku," balas Reina dengan nada mengejek yang ringan, berusaha menutupi rasa salah tingkah dan kupu-kupu yang bergejolak liar di dalam perutnya. "Asal kau tahu saja, tokoh utama wanita di novelku tidak pernah tumbang hanya karena ancaman musuh sepele seperti itu."
Jino terkekeh pelan—sebuah suara bariton yang begitu seksi dan menenangkan. Pria itu mengangkat sebelah alisnya, menatap Reina dengan sorot mata penuh ketertarikan. "Oh, ya? Jadi sekarang aku sedang hidup di dalam novel fiktif karanganmu?"
"Tentu saja!" jawab Reina bangga, sedikit mendongakkan dagunya. "Dan perannya jelas: kau adalah pangeran angkuh yang dulunya menyebalkan, tapi sekarang berubah jadi bucin akut karena tidak bisa hidup tanpa sang pangeran—eh, sang gadis desa."
Mendengar kata "bucin akut", Jino justru menyeringai lebar—bukan seringai sinis yang biasa, melainkan senyuman penuh kemenangan yang membuat ketampanan pria itu berkali-kali lipat lebih berbahaya.
"Bucin, ya?" ulangi Jino dengan suara berbisik yang menggoda. Ia mendekatkan wajahnya lagi, nyaris menyentuh bibir Reina. "Kalau memang itu takdirku, aku tidak keberatan menghabiskan seumur hidupku menjadi budak cinta dari satu-satunya gadis liar di dunia ini."
Rona merah seketika merekah sempurna di pipi Reina. Jantungnya kembali bergemuruh gila-gilaan. Sebelum ia sempat melontarkan protes atau balasan sarkas untuk menutupi rasa malunya, Jino sudah meraih tangan kiri Reina, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan mengecup lembut cincin pertunangan yang melingkar pas di jari manis gadis itu.
Sentuhan bibir hangat di kulit jarinya mengirimkan sengatan listrik manis yang merambat hingga ke seluruh tubuh Reina, membuatnya terdiam membisu dalam dekapannya.
Malam semakin larut. Badai kecil yang sempat mengancam kedamaian mereka telah sepenuhnya berlalu, digantikan oleh kehangatan domestik yang tidak pernah dibayangkan oleh keduanya akan tercipta di dalam penthouse megah tersebut.
Setelah menghabiskan waktu memasak makan malam sederhana—yang kali ini sukses besar tanpa ada insiden pancake gosong—mereka duduk berdampingan di sofa besar menghadap langsung ke panorama malam kota metropolitan. Reina menyandarkan kepalanya dengan nyaman di ceruk bahu bidang Jino, sementara sebelah tangannya sibuk menggulir layar laptop yang menampilkan draf naskah web novel wuxia miliknya.
Jino melirik sekilas ke arah layar laptop Reina, melihat rentetan kalimat berbahasa Indonesia yang sedang diketik oleh jemari lentik gadis itu.
"Bagian mana dari cerita ini yang terinspirasi dari kisah nyata kita?" tanya Jino iseng, melingkarkan sebelah tangannya di bahu Reina, menarik gadis itu semakin mendekat ke dalam pelukannya.
Reina mendengus geli, mematikan layar laptopnya sejenak dan menoleh ke arah Jino. "Hmm... biarkan kulihat. Karakter pangeran pertama yang arogan, suka mencibir, hobi memberi perintah mutlak, tapi aslinya panik setengah mati kalau sang tokoh utama jatuh sakit... itu, sih, 99 persen plagiat dari sifataslimu, Tuan Jino."
Jino menaikkan sebelah alisnya, tidak merasa tersinggung sedikit pun. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang menawan. "Kalau begitu, aku menuntut royalti atas digunakannya wajah dan karakterku secara ilegal di dalam karyamu."
"Royalti apa, pengutil?!" protes Reina sewot, memukul pelan dada bidang Jino dengan bantal sofa kecil. "Justru harusnya aku yang minta ganti rugi karena hari-hariku tersita untuk meladeni omelanmu!"
Jino tertawa lepas—tawa tulus yang membuat Reina tertegun sejenak. Pria itu memang memiliki pesona luar biasa ketika melepaskan topeng dingin dan arogansinya. Dengan gerakan cepat namun lembut, Jino merebut bantal dari tangan Reina, lalu meraih tubuh gadis itu hingga kini Reina duduk di atas pangkuannya, dengan kedua lengan melingkar pas di leher Jino.
Suasana mendadak menjadi jauh lebih sunyi. Manik mata kelam Jino menatap lekat-lekat manik mata cokelat Reina, memancarkan ketulusan yang begitu dalam dan tanpa syarat.
"Reina," panggil Jino dengan suara rendah yang sangat serius.
"Hmm?" Reina merespons pelan, terhipnotis oleh tatapan hangat tersebut.
"Pernikahan kita... akan dilaksanakan bulan depan, sesuai jadwal yang disepakati keluarga," ucap Jino mantap, setiap kata meluncur tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. "Tidak ada lagi masa lalu yang bisa mengusik kita. Tidak ada lagi rahasia. Aku ingin kau tahu, bahwa sejak hari pertama cincin itu melingkar di jarimu, hidupku sepenuhnya adalah milikmu."
Mendengar pengakuan tulus tersebut, pertahanan terakhir di hati Reina meleleh sepenuhnya. Air mata kebahagiaan sempat menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya dengan senyuman paling manis yang pernah ia tunjukkan.
Reina menundukkan sedikit wajahnya, lalu mengecup sekilas bibir Jino dengan penuh rasa cinta. "Aku tahu, Jino. Dan aku... tidak sabar menjadi bagian darimu."
Jino menyambut ciuman itu dengan penuh kelembutan. Di bawah naungan langit malam kota yang berkilauan, di dalam pelukan pria yang dulunya ia anggap sebagai musuh terbesar dalam hidupnya, Reina Lunox menyadari bahwa takdir telah membawanya ke tempat yang paling tepat.
Kisah cinta mereka bukanlah dongeng fiktif buatan pena di atas kertas, melainkan sebuah babak baru kehidupan nyata yang akan mereka tulis bersama—penuh warna, perlawanan, dan cinta abadi yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.