Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:21.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kabut tipis merayap perlahan melintasi pelataran gedung madrasah putri, membawa aroma tanah basah dan pinus khas lereng Welirang. Meski hawa dingin Pacet menusuk hingga ke tulang, aktivitas di kompleks Pesantren Al-Anwar tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Di salah satu sudut ruang guru, Naya duduk tenang di balik meja kayunya. Jemari lentiknya bergerak teratur merapikan tumpukan berkas rekapitulasi nilai dan draf kurikulum pengajaran psikologi santri. Tak ada raut gundah, tak ada rona sembab di pelupuk matanya.

"Ini seluruh berkas pengajaran semester ini, Ustazah Fatimah," ujar Naya halus seraya mengangsurkan map cokelat di hadapannya. "Semua poin asesmen perkembangan emosional santriwati tingkat akhir sudah saya lengkapi. Nanti tinggal diteruskan ke pengurus baru."

Ustazah Fatimah menerima berkas itu dengan tangan sedikit gemetar. Matanya menatap Naya penuh rasa hormat sekaligus ketidakpercayaan.

"Ning Naya... sungguh, kami semua di sini sangat menyayangkan. Tapi melihat ketenangan Ning sejauh ini... kami hanya bisa mendoakan yang terbaik."

Naya menyunggingkan senyum tipis, begitu tulus dan bersahaja. "Terima kasih, Ustazah. Tugas saya di sini sudah selesai dengan baik. Jangan biarkan urusan pribadi saya mengganggu proses belajar-mengajar santri."

Sikap profesional yang ditunjukkan Naya sepanjang tiga hari terakhir justru makin menegaskan kelasnya sebagai seorang wanita terpelajar dan berprinsip. Di saat riak rumor pernikahan siri Gus mereka mulai berembus halus di kalangan pengurus senior, Naya tidak pernah sekalipun memposisikan dirinya sebagai korban yang meminta belas kasihan. Ia tetap melangkah dengan kepala tegak, anggun, dan memikat lewat martabatnya yang utuh.

**

Kamis sore tiba membawa langit yang menggelap lebih cepat. Lembah di sekeliling pesantren diselimuti kabut tebal yang menurunkan jarak pandang hingga beberapa meter.

Suara deru halus mesin kendaraan memecah keheningan pelataran ndalem utama. Sebuah sedan hitam meluncur perlahan dan berhenti tepat di depan tangga teras. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Kyai Zaydan dan Bu Nyai Mahera yang baru saja menempuh penerbangan panjang dari Kuala Lumpur, didampingi oleh Arsyaka yang melangkah keluar dari kursi kemudi dengan wajah mengeras bagai batu cadas.

Sikap hangat penuh penghormatan tetap ditunjukkan oleh tuan rumah. Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah menyambut kedatangan Abah Zaydan beserta keluarga dengan pelukan hangat yang diliputi rasa canggung teramat sangat. Di belakang mereka, Naya berdiri bersanding rapat dengan Arsyaka. Kakak laki-lakinya itu terus menggenggam jemari Naya, memberikan perlindungan mutlak tanpa suara.

Mereka semua melangkah menuju ruang tamu besar ndalem utama. Ruangan berdinding jati ukir yang biasanya menjadi saksi bisu pengajian kitab-kitab tebal itu kini berubah menjadi panggung penuh ketegangan tinggi. Kabut di luar jendela seolah tak diizinkan masuk, membiarkan udara di dalam ruangan terasa teramat rapat dan mencekam.

Kyai Zaydan duduk berhadapan langsung dengan Kyai Ahmad di meja jati utama. Bu Nyai Mahera merangkul pundak Naya yang duduk tenang di sisinya, sementara Bu Nyai Khadijah tak henti-hentinya menunduk seraya mengusap sudut matanya dengan saputangan.

Di tengah-tengah area marmer yang dingin, Reyhan duduk bersimpuh. Pria berparas tampan yang kini nampak lusuh dan pucat pasi itu menundukkan kepala dalam-dalam. Keangkuhannya sebagai lulusan Al-Azhar, statusnya sebagai putra tunggal Kyai besar, seluruhnya runtuh tak tersisa. Ia tahu posisinya telah salah sejak awal, dan tak ada satu pun dalih agama yang sanggup menyelamatkan egonya malam ini.

"Ahmad," suara Kyai Zaydan membuka keheningan. Nada bicaranya rendah, berwibawa, namun memendam rasa kecewa mendalam dari seorang ayah yang putrinya didustai. "Kami datang bukan untuk berdebat. Kami datang untuk mengambil kembali putri kami yang sudah satu tahun ini dijaga dengan kebohongan."

Kyai Ahmad menghela napas berat. Pria sepuh itu menundukkan kepalanya rapat-rapat di hadapan sahabat lamanya. "Saya pasrah, Zaydan. Kekecewaanmu adalah keadilan bagi kami yang gagal mendidik anak. Kami menyerahkan seluruh keputusan kepadamu dan Naya."

Arsyaka memajukan posisinya, menatap Reyhan dengan pandangan dingin yang menusuk ulu hati. "Adik saya mengorbankan impiannya menjadi spesialis psikiatri demi menuruti keinginan keluarga berbakti di ndalem ini. Selama satu tahun, dia menghadapi dinginnya sikap putra Anda dengan pemakluman psikologis yang dewasa. Tapi dibalas dengan pernikahan siri terselubung? Di mana letak wibawa dan kesalehan yang selama ini Anda banggakan, Gus Reyhan?"

Reyhan tak sanggup mendongak. Jemarinya yang bertaut di atas pangkuan gemetar hebat. "Saya... saya mengaku salah, Gus Arsyaka... Saya khilaf..."

"Khilaf tidak berlangsung selama satu tahun dalam kerahasiaan yang terencana," pangkas Arsyaka tajam tanpa menyisakan ruang pembelaan.

Kyai Zaydan mengangkat tangannya pelan, memberi tanda agar Arsyaka menahan diri. Matanya yang menyimpan keteguhan seorang ulama senior kini tertuju penuh pada sosok lagi-lagi yang masih menjadi menantu itu bersimpuh di lantai.

"Reyhan," panggil Kyai Zaydan datar. "Dulu kamu datang ke rumah saya di Jombang bersama ayahmu, memohon dengan santun untuk membawa Naya sebagai istrimu. Hari ini, tunjukkan bahwa kamu masih memiliki sisa kejujuran sebagai seorang lelaki."

Reyhan mendongak perlahan. Matanya yang memerah beradu dengan tatapan Naya. Wanita itu duduk sangat tegap di samping ibunya. Tak ada riak benci di mata Naya, tak ada pula sisa pendar kasih sayang. Hanya ada tatapan jernih, logis, dan penuh keteguhan dari seorang perempuan yang sudah selesai dengan masa lalunya.

Pandangan jernih Naya itu justru menjadi pukulan paling mematikan bagi Reyhan. Pria itu baru menyadari, ketenangan Naya bukanlah bentuk pengampunan, melainkan penanda bahwa dirinya sudah tak lagi berharga di mata wanita tersebut.

"Ucapkan talak itu sekarang di depan saya," tegas Kyai Zaydan, menagih janji yang pernah diucapkan Reyhan jika keluarga besar Naya hadir secara resmi. "Lepaskan putri saya secara terhormat sebagaimana kamu memintanya dulu."

Bu Nyai Khadijah tak sanggup lagi menahan isak tangisnya. Beliau mendekap erat tangan Naya, melepaskan menantu kesayangannya dengan rasa bersalah yang teramat dalam.

"Naya... maafkan Ummi, Nak... Maafkan keluarga Ummi yang tidak bisa menjagamu..."

"Ummi tidak salah," bisik Naya lembut, membalas genggaman mertuanya dengan kehangatan yang jujur. "Ummi dan Abi selalu menjadi orang tua yang luar biasa bagi Naya."

Di tengah tangisan yang samar di ruang tamu itu, Kyai Ahmad mengangguk pelan memberi isyarat mutlak kepada putranya. "Lakukan, Reyhan. Jangan menambah dosa dengan menahan hak wanita yang sudah kamu zalimi."

Dada Reyhan serasa dihimpit beban ton-tonan. Peluh dingin membasahi pelipisnya. Lidahnya terasa kufur dan kaku, menolak memutus ikatan dengan satu-satunya wanita yang kini baru ia sadari sangat ia butuhkan dalam hidupnya. Namun di bawah tekanan kebenaran dan keteguhan keluarga besar Malik, tak ada jalur melarikan diri lagi.

"D-demi Allah..." suara Reyhan meluncur parau, gemetar hebat hingga napasnya tersengal. Air matanya menetes jatuh melintasi pipi, menampar lantai marmer dingin di bawahnya.

"Hari ini... aku jatuhkan talak satu kepada Adskhania Nayara Malik."

Kata-kata sakral itu akhirnya terucap utuh di udara. Sebuah ikatan pernikahan yang bertahan satu tahun dalam keheningan dan kebohongan, resmi terputus secara hukum agama dan moral di hadapan kedua keluarga besar.

Naya menarik napas panjang, meresapi setiap oksigen dingin yang masuk ke paru-parunya. Seiring dengan terucapnya ikrar tersebut, sebuah rasa lega yang teramat bersih merayapi dadanya. Tak ada air mata yang menetes dari pelupuk mata Naya—hanya ada ketenangan sempurna dari jiwa yang telah berhasil melepaskan belenggu dengan terhormat.

**

Fajar menyingsing di lereng Gunung Welirang sewaktu kabut tebal perlahan terangkat oleh sinar keemasan pertama. Udara pagi terasa begitu murni dan menggigit.

Di pelataran depan Pesantren Al-Anwar, koper-koper milik Naya telah dimasukkan ke dalam bagasi sedan hitam. Kyai Zaydan dan Bu Nyai Mahera sudah berada di dalam mobil, memberikan ruang bagi Naya untuk pamit terakhir kali.

Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah berdiri di dekat pintu mobil, menatap Naya dengan mata memerah.

"Jaga dirimu baik-baik di Jombang, Nak," bisik Bu Nyai Khadijah seraya memeluk Naya erat. "Pintu ndalem ini akan selalu terbuka untukmu sebagai putri kami, bukan sebagai mantan menantu."

"Matur nuwun atas semua kebaikan Abi dan Ummi selama ini," balas Naya tulus seraya mencium tangan kedua mantan mertuanya dengan penuh takzim.

Dari sudut teras ndalem yang agak terlindung, Reyhan berdiri mematung. Tubuhnya lemas, wajahnya kusam tanpa gairah hidup. Ia menatap Naya yang melangkah perlahan menuju pintu penumpang depan. Tidak ada satu kali pun Naya memalingkan wajah ke arahnya. Wanita itu benar-benar melangkah maju tanpa penyesalan, meninggalkan seluruh keangkuhan dan pesona Gus yang dulu sempat melingkupinya.

Mobil sedan hitam itu perlahan bergerak maju, membelah kerikil pelataran dan meluncur melewati gerbang utama Pesantren Al-Anwar. Naya menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, menatap keluar jendela sewaktu pemandangan bangunan pesantren bertingkat itu makin menjauh di kaca spion.

Masa lalunya sebagai seorang istri yang terabaikan telah usai. Di hadapannya, jalan raya menuju Jombang membentang luas—menjanjikan lembaran baru di mana ia akan mengejar kembali impian lamanya yang sempat mati di ruang kuliah spesialisasi psikiatri.

***

1
Agnezz
dulu keberadaannya dicuekin sekarang dia telah pergi jauh malah disesali.
Tining Revi
tidak akan ada kebahagiaan yg di awali dari menyakiti orang lain.
Lala lala
iya raihan yg salah dr awal..
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
Lala lala
kebanyakan novel gitu ya..disuruh jaga malah dikawini .. heran deh ahh.
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
Lala lala
gus betingkah tu emg bnyk sih
Lala lala
makanya saat mau jodohin anak tuh ditanya mau gak dijodohin sama dia..ada calon sendiri gak..anaknya diem berarti ga enakan..dlm klg jg hrs keterbukaan. demokrasi..drpd anak org disakiti kyk cerita2 yg sdh bnyk
falea sezi
enak ya si pelakor
Agnezz
ah itu karena diminta Kyai untuk menjemput Rani, awalnya bukan kemauan Gus Rayhan.
Mundri Astuti
yah resikonya mang begitu kan Rani...jangan pura" polos dah...

sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah
Nurminah
miris emang banyak wanita zaman now dengan kepolosan dan kelembutan tapi sanggup merusak rumah tangga orang lain terkadang banyak kepingin hidup enak akhirnya membuang harga diri marwah sebagai wanita mulia jadi pelakor bergaya syar'i yg hubungan katanya karena Allah rapi diawali dengan zina dan perselingkuhan
Nurminah: setuju pelakor mana ada malu miris memang itulah ketika iman mereka semakin tinggi setan menyenggol ego kesombongan untuk menjerumuskan nya nauzubillah
total 2 replies
Mamah'e Andhika Rizky
💝💝💝lanjut kak semangat 💪💪💪💪
Uyen Uyen
nikah siri tanpa izin dari istri sah itu termasuk dalam perzinahan lho, katanya lulusan Mesir kok tak tahu hukum sih
sunaryati jarum
Sungguh lapang dada dan bijaksana Pak Kyai , sesuai dirinya yang sebagian panutan yang harus bisa memberikan contoh yang benar dan salah.Sekarang Gus khianat Reyhan belajarlah jadi orang yang bertanggung jawab seperti yang kau ucapkan pada Naya.
Tini Uje
mamposss..nikmati tuh wanita polosss 😄
Agnezz
mungkin jangan Rayhan jangan terlalu didikte Kyai. Berikan dia pilihan dan konsekwensi tanggung jawabnya. Kalo gak gitu gak dewasa2 dia.
Anonim
Heeeeremmm
Mundri Astuti
nurun siapa tu si Rayhan, Abi n uminya mah bijak, anaknya...
Nurminah
bijaksana pak kyai walaupun nyatanya wanita itu bukan harapan nya tapi dia tetap berusaha menerima perbuatan anak nya selamat menikmati penyesalan mu gus 🤭🤭🤭
Agnezz: si Gus biar belajar menjadi dewasa
total 3 replies
dyah EkaPratiwi
selamat menikmati kebodohanmu Reyhan
Mukeseh
rasakan🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!