Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kicau burung liar memecah keheningan pagi di pedesaan Bandung. Kabut tipis menyelimuti pepohonan pinus, membawa hawa sejuk yang menyegarkan. Di dalam kamar utama, sinar matahari menerobos celah jendela, jatuh tepat di atas permukaan ranjang tempat Arka dan Kinanti berbaring.
Kinanti perlahan membuka matanya. Rasa lelah di sekujur tubuhnya beradu dengan kehangatan luar biasa dari lengan tegap Arka yang masih melingkar protektif di pinggangnya. Senyum manis seketika terukir di bibir Kinanti saat menatap wajah suaminya dari jarak dekat.
Jemari halus Kinanti terulur, mengusap pelan rahang tegas Arka.
"Mas Arka..." bisik Kinanti pelan.
Mata Arka terbuka seketika refleks alaminya selalu siaga. Namun, begitu menangkap bayangan Kinanti di depannya, tatapan tajam itu melunak. Arka makin merapatkan tubuh Kinanti ke dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Pagi, Sayang," gumam Arka dengan suara serak khas bangun tidur. Ia mendaratkan kecupan lembut di bahu Kinanti. "Masih pegal?"
Pipi Kinanti seketika merona merah. Ia memukul pelan dada bidang Arka. "Ih, Mas Arka! Malah ditanyain begitu! Ya... sedikit sih, tapi hangat banget."
Arka terkekeh rendah, mengacak rambut Kinanti dengan gemas. "Ya sudah, pagi ini kamu istirahat saja di rumah. Biar Mas yang siapkan sarapan dan adonan cilok di dapur."
"Nggak mau, Mas," tolak Kinanti cepat seraya menggenggam jemari Arka. "Aku mau nemenin Mas di dapur. Lagipula, bumbu kacangnya kan resep rahasia kita berdua."
Melihat binar gembira di mata istrinya, hati Arka dipenuhi rasa syukur. Tidak ada sedikit pun ketakutan di wajah Kinanti. Wanita itu sama sekali tidak tahu bahwa beberapa meter dari tempatnya tertidur lelap semalam, tiga preman beringas baru saja dilumpuhkan oleh suaminya.
Setelah menyelesaikan sarapan sederhana bersama, Kinanti sibuk menyapu teras depan. Kesempatan itu dimanfaatkan Arka untuk berjalan ke belakang rumah, memeriksa perangkat komunikasi rahasianya.
Sebuah pesan terenkripsi masuk dari jaringan intelijen independennya:
Bos Arka, tiga preman semalam dikirim oleh jaringan 'Dragon Utama' yang tersisa di Bandung. Mereka diperintah oleh seorang manajer klub malam bernama Asep. Asep memegang dokumen pelacak posisi Anda yang dikirim dari jaringan Korea.
Mata Arka menyipit tajam. Mereka pikir bisa bersembunyi di balik bisnis klub malam kota? batin Arka dingin.
"Mas Arka! Ini teh hangatnya diminum dulu!" panggil suara manis Kinanti dari teras.
Aura membunuh yang sempat muncul meluap seketika. Arka menyunggingkan senyum hangatnya, lalu melangkah menghampiri istrinya.
"Makasih ya, Istriku," ujar Arka lembut, mengecup dahi Kinanti penuh kasih.
Dalam hatinya, Arka sudah mengambil keputusan. Malam nanti, ia akan turun ke kota untuk memutus rantai ancaman itu sebelum menyentuh rumah mereka.
Malam merayap makin larut. Setelah memastikan Kinanti tertidur lelap berbalut selimut hangat, Arka bergerak cepat. Ia mengenakan jaket hitam, memacu sepeda motornya menuju pusat kota Bandung.
Lampu neon berwarna ungu menerangi pelataran Dragon Club, klub malam milik Asep yang menjadi sarang transaksi gelap. Arka menyusup lewat pintu belakang tanpa memicu alarm. Dua penjaga berbadan tegap di lorong VIP tumbang dalam hitungan detik setelah Arka menekan titik saraf leher mereka.
Arka mendorong pintu ruang kantor utama di lantai dua.
Di dalam ruangan beraroma cerutu pekat itu, Asep pria bertubuh gempal dengan perhiasan emas sedang menghitung tumpukan uang. Begitu melihat sosok Arka berdiri di ambang pintu, rokok di mulut Asep seketika terjatuh.
"S-saha maneh?!" bentak Asep panik, tangannya bergetar hendak merogoh pistol di laci meja. (S-siapa kamu?!)
Trak!
Sebuah pisau taktis meluncur kilat, menancap di kayu meja hanya sepersekian milimeter dari jemari Asep. Asep membeku, peluh dingin bercucuran deras di pelipisnya.
Arka melangkah masuk tanpa nada tergesa, mematikan lampu utama dan membiarkan ruangan hanya diterangi pendar redup lampu meja. Ia duduk di kursi seberang Asep, menatap pria itu penuh tekanan.
"Gengster yang kamu kirim ke desa semalam... udah beres," kata Arka dengan suara amat rendah. "Sekarang, serahkan dokumen pelacak dari Korea itu."
Asep gemetar hebat. Ia mengenali aura pemangsa di hadapannya. Dengan tangan menggigil, Asep menyerahkan sebuah flashdisk terenkripsi dan dokumen cetak berlogo The Black Dragon.
"A-ampun, Bos! Aing cuma dititah!" ratap Asep gagap. (A-ampun, Bos! Gua cuma disuruh!)
Arka mengambil flashdisk tersebut, meremasnya hingga hancur, lalu membakar lembaran dokumen di atas asbak emas Asep.
"Katakan pada kontakmu di Korea," bisik Arka, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jika ada satu lagi agen yang dikirim ke Jawa Barat... aku sendiri yang akan mendatangi markas besar kalian."
Arka melayangkan satu pukulan presisi ke pelipis Asep, membuat pria itu pingsan seketika di atas mejanya.
Pukul empat pagi.
Arka melangkah masuk ke dalam rumah panggungnya yang sejuk. Pria itu telah membersihkan diri sebelum melangkah naik ke kamar tidur.
Kinanti tampak mengeliat halus di atas ranjang, perlahan membuka matanya saat merasakan kehangatan Arka yang kembali menyelinap ke bawah selimut.
"Mas Arka...?" gumam Kinanti serak seraya memeluk pinggang suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka. "Habis dari mana, Mas? Dingin banget..."
Arka tersenyum sangat lembut, mengusap punggung istrinya dan mengecup dahi Kinanti penuh kasih sayang.
"Habis pastikan pintu depan terkunci rapat, Sayang," jawab Arka mulus, merangkul tubuh Kinanti rapat-rapat. "Tidur lagi ya, masih subuh."
Kinanti tersenyum manis dalam tidurnya, merasa amat aman di dalam pelukan suaminya.