Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Fajar Kelabu dan Kosongnya Sebuah Ruang Bernama Hati

​Jarum jam dinding yang usang itu berdetak memecah kesunyian malam, seolah menghitung mundur sisa waktu dari sebuah ilusi yang akan segera berakhir.

​Malam itu, setelah Senja pulang dari shift kerjanya di kedai roti, semuanya berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, hingga terasa menyayat hati bagi pria yang mengetahui kebenarannya. Senja pulang dengan membawa sebungkus nasi goreng kaki lima, berceloteh riang tentang betapa menyenangkannya hari ini, dan bagaimana ia berencana menyisihkan gajinya bulan depan untuk membelikan Arga sebuah kipas angin kecil agar pria itu tidak kepanasan di siang hari.

​Setiap kata tentang 'masa depan' yang diucapkan Senja malam itu terasa seperti ribuan silet yang mengiris jantung Arga Danendra.

​Arga telah berbohong pada Raka. Saat Raka mengatakan akan menjemputnya pukul sembilan malam, Arga memundurkan jadwal itu secara sepihak menjadi pukul empat pagi. Ia menggunakan alasan bahwa daerah kumuh ini terlalu ramai di malam hari, namun alasan sesungguhnya adalah: ia sangat egois. Ia ingin mencuri satu malam terakhir. Ia ingin menghabiskan beberapa jam lagi untuk merekam setiap lekuk senyum gadis itu sebelum ia kembali ke neraka dunia bisnisnya.

​Kini, waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi. Pagi buta.

​Di luar, udara terasa sangat dingin dan menggigit. Kabut tipis menyelimuti lorong-lorong sempit distrik selatan.

​Di dalam rumah kontrakan, Arga duduk diam di tepi kasur. Ia tidak memejamkan matanya sedetik pun sepanjang malam. Matanya terus menatap wajah Senja yang tertidur pulas di sampingnya. Gadis itu meringkuk di balik selimut motif bunga pudar, napasnya teratur, dengan seulas senyum tipis yang masih tersisa di bibirnya—mungkin sedang memimpikan masa depan bahagia yang baru saja ia bicarakan.

​Arga perlahan mengulurkan tangannya. Jari-jarinya yang besar dan gemetar menyentuh helaian rambut Senja, membelainya dengan kelembutan yang memuja.

​"Maafkan aku," bisik Arga pada keheningan ruangan. Suaranya serak, tertahan oleh bongkahan batu tak kasat mata di tenggorokannya.

​Arga perlahan menarik tangannya. Ia bangkit berdiri dari kasur dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada suara decit sedikit pun yang bisa membangunkan gadis itu.

​Ia melepaskan kemeja biru kotak-kotak murah yang dibelikan Senja, melipatnya dengan sangat rapi seolah benda itu adalah jubah kebesaran kerajaan, lalu meletakkannya di sudut meja kecil. Sebagai gantinya, Arga kembali mengenakan kemeja putih mahalnya—kemeja yang penuh dengan bekas jahitan kasar tangan Senja.

​Ini adalah simbolis yang kejam. Ia melepaskan identitas 'Kak Arga' si pria miskin yang hangat, dan kembali mengenakan zirah Arga Danendra si Iblis Korporat yang dingin.

​Arga menatap seluruh penjuru ruangan kecil itu untuk terakhir kalinya. Dinding semen yang berlumut, kompor gas satu tungku, piring plastik merah, dan pintu kayu jati yang ia pasang. Ruangan berukuran tiga kali empat meter ini adalah tempat paling sempit yang pernah ia tinggali, namun anehnya, ini adalah satu-satunya tempat di mana ia pernah merasa bisa bernapas dengan lega.

​Langkah kaki Arga terasa sangat berat saat ia berjalan menuju pintu.

​Setiap sentimeter jarak yang ia ambil dari kasur Senja terasa seperti merobek jiwanya sendiri. Di ambang pintu, Arga berbalik sekali lagi. Ia menatap gadis mungil yang masih terlelap itu dengan pandangan yang mengabur oleh air mata yang tak jadi jatuh.

​Aku akan kembali, Senja. Aku bersumpah demi nyawaku dan demi nama ibuku, aku akan kembali untukmu. Tunggulah aku.

​Dengan keheningan seorang pembunuh bayaran, Arga memutar kunci pintu dari dalam, melangkah keluar ke udara pagi buta yang membekukan, lalu menarik daun pintu kayu jati itu hingga tertutup rapat.

​Bunyi klik dari pintu yang tertutup itu terdengar seperti suara gembok penjara yang mengunci Arga kembali ke dalam takdirnya yang kelam.

​Di ujung jalan raya yang sepi, berbatasan dengan jalan masuk distrik kumuh, sebuah SUV Maybach hitam pekat dengan kaca gelap telah menunggu dalam posisi mesin menyala namun tanpa suara. Raka berdiri bersandar di kap mobil, merokok dengan gelisah menembus kabut fajar.

​Begitu melihat siluet raksasa Arga berjalan keluar dari lorong gang, Raka membuang puntung rokoknya dan menginjaknya.

​Arga berjalan mendekat. Tidak ada lagi senyum hangat yang Raka lihat kemarin sore. Wajah Arga telah kembali mengeras menjadi sebongkah es abadi. Matanya menatap lurus ke depan, kosong dan mematikan. Sang Raja telah sepenuhnya kembali.

​"Kau tepat waktu, Bos," sapa Raka pelan, membukakan pintu penumpang bagian belakang.

​Arga tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang dilapisi kulit premium tersebut. Hawa hangat dari pemanas ruangan mobil langsung menyapu tubuhnya, namun Arga merasa jauh lebih kedinginan di sini dibandingkan saat ia tidur di lantai semen rumah kontrakan Senja.

​Raka masuk ke kursi pengemudi. Ia melirik Arga dari kaca spion tengah. "Kau sudah berpamitan padanya?"

​"Jalankan mobilnya, Raka," perintah Arga mutlak, suaranya sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Raka merinding.

​Raka menghela napas pasrah. Ia menginjak pedal gas, dan mobil mewah itu melesat membelah jalanan ibu kota yang masih tertidur, membawa sang penguasa menjauh dari satu-satunya cahaya dalam hidupnya.

​"Aku menugaskan empat orang dari tim bayangan elit kita untuk berjaga dalam radius seratus meter dari kedai dan rumah kontrakan itu," lapor Raka, tahu persis apa yang dikhawatirkan bosnya. "Mereka menyamar sebagai pedagang kaki lima dan penyapu jalan. Tidak ada satu pun lalat yang bisa menyentuh Nyonya Besar tanpa melewati mayat mereka terlebih dahulu."

​"Bagus," jawab Arga singkat. Pandangannya terus menatap ke luar jendela yang gelap. "Jam sembilan pagi ini, kumpulkan seluruh dewan direksi. Siapkan tim legal. Aku ingin melihat wajah-wajah babi tua yang berani merencanakan kudeta itu saat mereka menyadari bahwa malaikat maut mereka telah pulang."

​[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]

(Ada dua jenis rasa sakit akibat perpisahan di dunia ini. Pertama, rasa sakit dari orang yang ditinggalkan, yang kebingungan mencari alasan di tengah kehancuran dunianya. Kedua, rasa sakit dari orang yang terpaksa pergi, yang harus membunuh hatinya sendiri demi memikul tanggung jawab yang lebih besar.

​Kita sering menghakimi mereka yang pergi tanpa pamit sebagai seorang pengecut. Namun terkadang, pergi dalam diam adalah bentuk perlindungan terakhir yang bisa diberikan oleh seseorang yang tahu bahwa perpisahan yang diucapkan hanya akan membuat langkah kakinya terlalu berat untuk diayunkan. Arga memilih menjadi penjahat dalam cerita Senja pagi ini, karena ia tahu, jika ia melihat Senja membuka mata dan menatapnya pergi, Arga akan mengkhianati seluruh kerajaannya dan menolak untuk melangkah.)

​Sinar matahari pagi perlahan merangkak naik, menembus awan dan menyinari kaca jendela anti-peluru rumah kontrakan Senja.

​Pukul setengah enam pagi. Alarm dari jam beker kecil yang sudah penyok berbunyi nyaring.

​Senja menggeliat di balik selimut. Ia mematikan alarm itu dengan mata setengah terpejam, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih pegal. Senyum manis langsung terukir di bibirnya saat kesadarannya mulai berkumpul.

​"Pagi, Kak Arga..." sapa Senja dengan suara serak, membalikkan tubuhnya ke arah tempat pria itu biasa bersandar.

​Namun, sapaan itu tidak mendapat balasan.

​Senja membuka matanya. Kasur di sampingnya kosong. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu sepi.

​"Kak Arga?" Senja bangun dan duduk. Ia mengucek matanya, mengira pandangannya masih kabur.

​Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Dapur kosong. Kamar mandi belakang terbuka dan gelap. Sepatu usang yang biasa dipakai pria itu tidak ada di rak kecil.

​Hati Senja mulai berdebar lebih cepat. Sebuah perasaan tidak enak menyelinap masuk, merayapi tengkuknya.

​"Kakak ke warung depan ya?" gumam Senja pada dirinya sendiri, mencoba berpikir positif. Gadis itu bangkit dari kasur, melangkah menuju pintu jati, dan memutar kuncinya.

​Pintu terbuka. Angin pagi yang dingin menerpa wajahnya. Lorong gang itu sepi, hanya ada beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman jauh di ujung sana.

​Senja berlari kecil keluar dengan sandal jepitnya menuju warung sembako di persimpangan.

​"Bi Inah! Tumben sudah buka," sapa Senja dengan napas sedikit terengah-engah pada pemilik warung. "Bibi lihat Kak Arga? Pria tinggi besar yang menumpang di rumahku itu? Apa dia beli sesuatu ke sini?"

​Bi Inah yang sedang menyusun rentengan kopi saset menggeleng heran. "Tidak ada, Neng Senja. Bibi baru buka lima menit yang lalu. Dari tadi sepi-sepi saja."

​Jantung Senja seolah berhenti berdetak selama satu tarikan napas.

​Ia berlari menyusuri lorong-lorong gang di sekitar rumahnya. Mencari ke pos ronda, mencari ke dekat pangkalan ojek, namun hasilnya nihil. Pria raksasa itu seolah menguap ditelan kabut fajar.

​Dengan napas memburu dan keringat dingin yang mulai membanjiri pelipisnya, Senja kembali ke rumah kontrakannya. Ia membuka pintu dengan kasar. Berharap saat ia masuk, pria itu sudah duduk di sana sambil tersenyum menyambutnya dengan sapaan 'Bidadari'.

​Namun ruangan itu tetap kosong, membisu, dan dingin.

​Senja berjalan gontai ke tengah ruangan. Matanya tanpa sengaja menangkap lipatan kain di atas meja kecil. Kemeja biru kotak-kotak yang baru saja ia belikan. Kemeja yang dipakai Arga semalam, kini terlipat sangat rapi. Terlalu rapi untuk ukuran kemeja yang ditinggalkan oleh seseorang yang hanya pergi ke warung.

​Tangan Senja gemetar saat ia menyentuh kain kemeja tersebut.

​Fakta itu menghantamnya dengan sangat brutal. Menghancurkan seluruh pertahanan positif yang ia bangun sejak tadi.

​Arga telah pergi.

​Tidak ada pesan. Tidak ada surat. Tidak ada tanda-tanda penculikan, karena pintu terkunci dari dalam dan kemeja ini ditinggalkan dengan sengaja. Pria itu pergi atas kemauannya sendiri, saat Senja sedang tertidur lelap.

​"T-Tidak... ini tidak mungkin..." suara Senja pecah menjadi isakan yang sangat menyakitkan. Kakinya lemas seketika. Gadis itu merosot jatuh ke lantai semen, tangannya memeluk kemeja biru itu erat-erat ke dadanya.

​Mimpi buruk terbesarnya menjadi kenyataan.

​Trauma masa lalunya kembali bangkit, meraung-raung di dalam kepalanya. Di pemakaman sepuluh tahun yang lalu, kerabat-kerabatnya membuangnya dan meninggalkannya sendirian di tengah hujan. Ia sudah bersumpah untuk tidak bergantung pada siapa pun agar tidak merasakan sakitnya ditinggalkan.

​Namun kemudian, pria bernama Arga itu datang. Pria itu menjanjikan perlindungan. Pria itu mengatakan bahwa lengannya akan selalu menjadi tempatnya bersembunyi. Pria itu berjanji tidak akan pernah membiarkannya sendirian lagi. Arga telah membuat Senja kembali berani memercayai manusia, kembali berani menaruh harapan.

​Dan hari ini, janji itu dihancurkan menjadi debu. Arga meninggalkannya persis seperti orang-orang di masa lalunya.

​"Kenapa, Kak... kenapa?" tangis Senja pecah, menggema di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam kemeja biru tersebut, mencium sisa aroma tubuh Arga yang masih menempel di sana.

​Apakah Arga tiba-tiba mengingat masa lalunya dan menyadari bahwa ia memiliki keluarga kaya yang menunggunya? Apakah pria itu merasa bahwa tinggal di gubuk kumuh ini terlalu menjijikkan baginya? Atau... apakah Arga hanya mempermainkan perasaannya selama ini?

​Berbagai pertanyaan yang menyiksa terus berputar di kepala Senja, namun tidak ada satu pun jawaban yang bisa meringankan rasa ngilu di dadanya. Dadanya terasa seolah ditusuk oleh ribuan jarum beracun. Ia menangis histeris, memeluk kemeja itu seakan-akan kemeja itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa di tubuhnya.

​Di depan pintu kayu jati yang kokoh dan mahal—pintu yang dipasang Arga untuk melindunginya dari marabahaya dunia luar—Senja menyadari satu ironi yang sangat kejam. Pintu itu mungkin bisa menahan hantaman palu dan peluru, tetapi pintu itu tidak bisa menahan sang penghuninya untuk pergi meninggalkannya, menghancurkan hatinya dari dalam.

​Pagi itu, mentari bersinar cerah menerangi ibu kota. Namun di dalam rumah kontrakan berukuran tiga kali empat meter tersebut, Senja Kirana merasa seluruh cahayanya telah dirampas, membawanya kembali ke dalam kegelapan mutlak yang menakutkan. Bidadari kecil itu telah kehilangan sayap pelindungnya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!