Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersiap kabur dari rumah

Malam itu hujan turun deras, sayup-sayup obrolan terdengar dari bawah tangga, Azarin sibakkan selimutnya pelan, turun dari sana.

Saat ia melihat, ternyata itu adalah ibu mertuanya. Senyum wanita itu mengembang, ia lihat tidak ada segelas minuman atau camilan di atas meja.

"Apa—aku buatkan Ibu minuman?"

Bu Fanya, Ibu mertua Azarin adalah wanita baik. Ia bahkan tidak segan membelikan ini itu untuk dirinya. Dan selalu membersamainya dalam bersalin.

Satu bulan lalu Azarin baru lahiran, putri pertama mereka, Mia.

Gadis kecil lucu yang sudah bisa merancau di pelukannya. Gadis kecil yang menghadirkan senyuman baru di bibir ibunya. Bahwa ia harus memberikan kasih sayang lebih agar putrinya tidak bernasib sama sepertinya.

Azarin menuruni tangga dengan langkah pelan. Bu Fanya yang tak sengaja melihat menantunya itu tersenyum ramah.

"Azarin belum tidur?"

Mas Fajar berbalik, tatapan kami bertemu. Tanpa ekspresi, tanya senyum, pria itu kembali berbalik seolah dirinya hanya angin lalu.

Azarin tersenyum kecut, "Yah, sudah biasa."

"Azarin." panggil Bu Fanya lagi.

Azarin tersenyum kikuk, "Aku kebangun, Ma." Balas wanita itu, "Aku, izin ke toilet dulu yah."

Yang langsung dibalas anggukan hangat ibu mertua.

Sementara Mas Fajar? Sama sekali tak bergeming, menatapnya pun tidak. Namun Azarin sudah terbiasa, suaminya memang cuek, ia memaklumi itu.

Azarin segera masuk ke dalam dapur, dimana toilet berada di samping.

Sekeluar dari toilet, Azarin pun melancarkan niatnya.

Teh, gelas, gula, sudah tersedia di atas meja.

Senyum Azarin mengembang. Bu Fanya adalah wanita yang sangat ia cintai. Jarang orang-orang bisa memiliki mertua sebaik dirinya.

"Nah, sudah siap!"

Azarin segera membawa nampan itu menuju ruang tamu.

Baru saja kakinya keluar dari pintu, suara Mas Fajar menghentikan langkahnya.

"Aku ingin menceraikan Azarin, Mah."

Tubuh Azarin membeku, tatapannya berubah kosong, nampan di tangannya gemetar saking terguncang dirinya sekarang.

Ia tatap kosong suaminya dari balik pintu. Tidak ada keraguan dari wajahnya, atau sekedar rasa belas kasih.

"Kamu yakin, Fajar? Bagaimanapun Azarin sudah baik padamu."

"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Mama tau aku menikahinya karena Azarin mau mendonorkan ginjalnya untuk Aluna."

"Iya, Fajar. Mama tau, kamu pasti sudah menahan selama ini kan? Mama sebenarnya suka dengan Fanya, tapi mama kasihan dengan Azarin, bagaimanapun juga, ia rela mendonorkan ginjalnya demi adik kamu."

Bagaikan disambar petir di siang bolong.

Azarin berharap ia salah dengar, demi apapun, hatinya seperti di remas dan dihancurkan tak bersisa.

Bu Fanya.

Wanita yang ia kira menyayanginya dengan tulus, ternyata tak lebih dari sekedar rasa tidak enak. Seolah perhatiannya selama setahun ini hanya sebagai balas budi.

Tanpa sadar air mata luruh. Ia gigit bibir bawahnya hingga berdarah.

"Tapi kamu sudah memiliki anak, Fajar."

"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Mama tau aku menikahinya karena Azarin mau mendonorkan ginjalnya untuk Aluna kenapa? Dia tak lebih adalah aib."

Jantung Azarin langsung berhenti berdetak, tubuhnya melemah, jantungnya berdegup kencang, luruh ke bawah. Ia letakkan nampan minuman gemetar di samping tubuh.

"A-aib?"

Ia kira dengan hadirnya Putri kecil mereka, rumah tangganya akan lengkap. Meski Fajar jarang menggendongnya.

Ia tak menyangka pria itu menganggap putrinya sendiri tak lebih adalah aib. Yang harus di singkirkan demi kelancaran hidup.

Obrolan mereka begitu menusuk, rasanya ia ingin pergi dan membantah semuanya.

Namun kakinya serasa mati rasa, jangankan bangkit, untuk sekedar menggerakkan tangan saja ia tak sanggup.

"Fania pasti akan benci jika kamu memiliki putri dari Azarin, Fajar."

"Aku akan memasukkannya ke panti, alih-alih kecelakaan."

"Mama tau, kamu pasti berat jika benar-benar melenyapkannya."

"Setidaknya aku yang akan membiayai dirinya di panti."

"Lalu Azarin?"

"Aku akan mengembalikannya ke orang tua."

Azarin tutup mulutnya agar tidak bersuara, meremat dadanya kuat.

Sesak.

Sangat sesak.

Demi apapun ini sangat menyakitkan.

Selain tidak menganggap dirinya istri, dan Mia putrinya, Fajar juga berselingkuh diam-diam di belakang.

Dan yang lebih menyakitkan, wanita yang selama ini dia sayangi dan ia anggap ibunya sendiri, justru tega dan mendukung kejahatan putranya.

"Lalu—apa yang aku pertahankan selama ini?" batin Azarin tercekat.

"Jelas-jelas Mas Fajar tau aku hampir mati di keluarga itu, tapi dia tetap mau mengembalikan ku."

Tidak.

Azarin tidak ingin berpisah dengan putrinya, atau kembali ke rumah orang tuanya yang seperti neraka.

Azarin bangkit dengan susah payah, berbantu dinding di samping yang menjadi saksi bisu kehancuran rumah tangga mereka.

Ia usap air matanya cepat. Bersikap seolah tak mendengar apapun.

Setidaknya kali ini.

Untuk kali ini saja bersandiwaralah seperti mereka bersandiwara di belakangku.

Ia ambil nampan di bawah dengan hati-hati. Menggenggam ujungnya erat.

"Mas, Bu. Minumlah dulu."

Dapat Azarin lihat wajah pucat Fajar dan Ibunya setibanya disana.

Bu Fanya paksakan senyumnya terbit, bangkit dari duduk, berjalan mendekati Azarin.

"Astaga Azarin, apa yang kamu lakukan sayang tubuh kamu masih lemah."

Bu Fanya raih nampan di tangan Azarin, meletakkannya di tengah meja.

Azarin tersenyum tipis, "Gapapa, Bu."

Azarin tatap wajah suaminya yang terus merunduk sedari tadi. Dengan tangan mengepal di pangkuan. Ia tau suaminya memahami sesuatu.

Azarin tersenyum.

"Kau pasti ketakutan kan, Mas." batin Azarin mengepal di samping tubuh. Berbalik menuju tangga.

"A-Azarin...apa kamu tidak ingin duduk dulu?" lirih Bu Fanya sedikit gugup.

Azarin berbalik lemah, "Ngga Bu, Azarin mau sama Mia. Aku gabisa jauh dari Mia."

Jantung Fajar seperti tercubit, ngilu. Namun ia tetap menahannya.

Azarin berbalik cepat, ia sudah tak tahan lagi bersandiwara. Bahkan matanya mulai banjir lagi.

"Azarin."

Bukan Bu Fanya.

Tapi suaminya, Fajar.

Pria itu tatap punggung istrinya yang enggan berbalik.

"Tidurlah. Kau harus cepat pulih."

Azarin tak menjawab, wanita itu justru berlari menaiki tangga, seolah tak ingin terus berlama-lama satu ruangan dengannya.

"Bagaimana jika Azarin mendengarnya, Fajar?" bisik Bu Fanya khawatir.

Fajar tatap ke bawah, kerutan serius di kenangnya menandakan pria itu juga cemas sekarang.

"Azarin tidak akan mendengarnya, Bu. Dia tipikal wanita yang akan terus terang. Jika dia mendengarnya, pasti dia akan langsung marah dan memaki."

Bu Fanya merunduk dalam, memilin jemarinya gugup, "Mama harap begitu."

Azarin tutup pintu cepat, tangisnya pecah disaat itu juga. Tubuhnya luruh lemah, merosot jatuh di depan pintu.

Ia tutup mulutnya rapat-rapat agar tidak menimbulkan suara, meremat ujung rok-nya kuat sebagai pelampiasan menyalurkan rasa sakit dalam hatinya.

"Mereka tega melakukan ini padaku."

Azarin tak mengira, suaminya sudah merencanakan ini, bahkan ia sudah merencanakan kehidupan baru dengan selingkuhannya.

Ia tatap nanar putrinya yang tertidur nyenyak di dalam box bayi.

Membayangkan Azarin akan dipisahkan dengan sang putri, wanita itu buru-buru bangkit.

Sekarang bukan waktunya menangisi semua yang terjadi.

"Aku, harus pergi!"

Ia tatap lemari besar di kiri kamar, berlari cepat menggeledah isi lemari.

Ada 2 kartu bank berisi uang yang selama ini Azarin tabung diam-diam dari nafkah Fajar.

"Setidaknya tabungan ini cukup untukku bertahan hidup dan membuka usaha."

Tatapannya tak sengaja tertuju pada kotak perhiasan di bagian kiri. Tanpa ragu Azarin mengambilnya.

"Ini tabungan kami."

Ia tatap kotak ragu, lalu memasukkannya ke dalam tas cepat.

"Maaf mas, tabungan ini ku ambil. Ini balasannya karena kau berani mempermainkan ku."

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!