Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Panggung Turnamen
Alun-alun besar Aliansi Kota dipenuhi ribuan orang sejak fajar menyingsing. Panggung batu raksasa berdiri di tengahnya, dikelilingi bangku-bangku bertingkat yang biasanya hanya terisi setengah saat turnamen kecil—namun kali ini penuh sesak, sebagian besar penonton datang justru karena kabar aneh yang beredar tentang "sampah Klan Lin yang tiba-tiba berani menantang Klan Zhao".
Lin Mu berjalan di antara rombongan kecil klannya—ayahnya Lin Hao yang masih tampak ragu, kakaknya Lin Kai yang mengawasinya dengan tatapan menilai, Lin Wan yang menggenggam erat tangannya sesaat sebelum mereka berpisah menuju tribun, dan Tetua Qing yang berjalan beberapa langkah di belakang, tongkatnya berdentang pelan di batu jalan.
Di seberang alun-alun, rombongan Klan Zhao sudah tiba lebih dulu, berdiri dengan sikap angkuh yang biasa mereka tunjukkan di depan umum. Zhao Kang berdiri paling depan, disusul Zhao Feng yang mengenakan jubah pertarungan berwarna merah tua, dan Zhao Yan yang untuk pertama kalinya sejak insiden di alun-alun tampak menghindari kontak mata dengan Lin Mu.
"Klan-klan lain juga hadir," Tetua Qing berbisik pada Lin Mu saat mereka mendekati tribun utama. "Klan Xu dari timur, Klan Wei dari selatan, bahkan perwakilan dari Sekte Awan Putih di pegunungan. Turnamen ini bukan sekadar ajang unjuk gigi generasi muda—ini kesempatan bagi sekte-sekte besar untuk mengamati bibit-bibit unggul yang layak direkrut."
Lin Mu mengangguk pelan, matanya menyapu seluruh alun-alun dengan ketenangan yang jauh melampaui usianya. Di kehidupan lalunya, panggung seperti ini hanyalah permainan anak-anak dibandingkan pertempuran sesungguhnya yang pernah ia jalani. Namun ia tahu betul—dunia yang lebih besar selalu memperhatikan panggung-panggung kecil seperti ini, mencari bakat yang kelak bisa menjadi ancaman atau sekutu.
Seorang pria tua berjubah abu-abu, mengenakan lambang Aliansi Kota di dadanya, melangkah ke tengah panggung dan mengangkat tangan, membuat riuh alun-alun perlahan mereda.
"Turnamen Generasi Muda Perbatasan Utara resmi dimulai!" serunya, suaranya menggema berkat bantuan teknik pengeras suara sederhana. "Seperti biasa, pertandingan dibagi menjadi beberapa babak penyisihan bebas antar peserta muda dari seluruh klan yang hadir. Namun tahun ini, ada satu pertandingan khusus yang telah disepakati kedua belah pihak sebelumnya—duel taruhan resmi antara Klan Zhao dan Klan Lin, dengan Ladang Obat Utara sebagai taruhannya."
Gemuruh bisikan menyebar di seluruh tribun. Taruhan seberat itu jarang terjadi bahkan di antara klan-klan besar.
"Perwakilan dari Klan Zhao," lanjut sang pembawa acara, "Zhao Feng, telah mencapai puncak Pengumpulan Qi lapis kedelapan."
Sorak sorai bergema dari rombongan Klan Zhao. Lapis kedelapan adalah pencapaian luar biasa untuk usia dua puluh dua tahun—hanya selangkah lagi dari terobosan menuju Fondasi Emas, tahap yang bahkan banyak tetua klan kecil belum tentu capai seumur hidup mereka.
"Dan dari pihak Klan Lin," sang pembawa acara melanjutkan, menatap gulungan di tangannya sekali lagi seolah memastikan tidak ada kesalahan, "perwakilannya adalah... Lin Mu, yang baru saja mencapai tahap awal Pengumpulan Qi."
Kali ini bukan sorak sorai yang terdengar, melainkan gelak tawa terang-terangan dari sebagian besar tribun. Selisih tujuh lapis kekuatan bukan sekadar celah—itu jurang yang nyaris mustahil dijembatani hanya dalam waktu dua bulan latihan, betapa pun kerasnya seseorang berusaha.
Zhao Feng tersenyum puas mendengar tawa itu, melangkah maju ke tengah panggung dengan langkah percaya diri, jubah merah tuanya berkibar tertiup angin.
"Kudengar kau sempat membuat keributan kecil beberapa bulan lalu," katanya, cukup keras hingga terdengar seluruh tribun terdekat, nada suaranya penuh ejekan terselubung. "Aku penasaran, apa yang membuatmu begitu percaya diri untuk maju ke sini, sampah kecil?"
Lin Mu melangkah naik ke panggung dengan tenang, pecahan Penakluk Fajar terselip di pinggangnya, dibungkus kain sederhana agar tak menarik perhatian berlebih sebelum saatnya tiba. Ia berhenti tepat di seberang Zhao Feng, jarak sepuluh langkah memisahkan mereka.
"Kau mengira tujuh lapis perbedaan kekuatan itu berarti sesuatu," Lin Mu berkata tenang, suaranya tak terdengar gentar sedikit pun meski seluruh tribun menatapnya seolah menyaksikan seekor domba melangkah sukarela ke kandang singa. "Tapi kekuatan sejati tidak pernah diukur dari lapisan realm semata, Zhao Feng. Sebentar lagi, kau akan belajar itu dengan cara yang paling menyakitkan."
Tawa di tribun perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang aneh—sebagian karena penasaran, sebagian lagi karena sesuatu dalam nada suara Lin Mu yang terasa tidak seperti gertakan kosong pemuda tujuh belas tahun pada umumnya.
Sang pembawa acara melangkah mundur dari tengah panggung, mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Peserta sudah siap di posisi masing-masing," serunya, suaranya kembali menggema di seluruh alun-alun yang kini sunyi senyap menanti. "Duel taruhan resmi antara Klan Zhao dan Klan Lin—dimulai!"
semngat thor/Determined/