Indonesia
NovelToon NovelToon
Permata Tak Terduga Sang Mafia

Permata Tak Terduga Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Penikahan Kontrak / Dark Romance / Tamat
Popularitas:86
Nilai: 5
Nama Author: franericá

Angel Martinez dibesarkan untuk satu tujuan: menjadi istri yang sempurna dan penurut bagi pria pilihan ayahnya—seorang bos mafia Spanyol yang menganggap kekuasaan adalah segalanya. Yang ia impikan hanyalah kebebasan: sebuah perpustakaan, kuas dan kertas, dan satu perjalanan ke Italia sebelum hidupnya benar-benar bukan lagi miliknya.

Namun perjalanan itu ternyata sebuah jebakan manis. Di Roma, Angel mendapati dirinya telah dijanjikan kepada Dante Moretti—Don muda paling ditakuti di seluruh Italia. Dingin, arogan, dan terbiasa memiliki apa pun yang ia mau, Dante sama sekali tak berniat mengikat hidupnya pada seorang "putri manja". Sampai gadis bermata biru dan berambut merah api itu menatapnya tanpa gentar… dan meruntuhkan setiap tembok yang ia bangun.

Di dunia penuh darah, aliansi, dan senyum palsu, cinta adalah kelemahan paling berbahaya. Karena di balik pesta megah dan janji-janji setia, ada seseorang yang sudah lama menunggu—seseorang yang tahu persis bahwa cara termudah menghancurkan seorang Don adalah dengan merebut satu-satunya hal yang benar-benar ia cintai.

Ketika pria yang tak pernah takut pada apa pun akhirnya menemukan sesuatu yang tak sanggup ia kehilangan, ia siap membakar seluruh dunia demi mempertahankannya.

"Tak ada yang boleh menyentuh hartaku dan pergi tanpa terluka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon franericá, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

POV Dante

Anak buahku langsung bergerak. Senjata. Rompi. Mesin meraung di luar.

Aku berjalan menuju mobil seolah hendak menemui iblis itu sendiri, atau mungkin… akulah iblis itu.

Konfrontasi

Hari berlalu dan ketika kami tiba hari sudah malam, udara dingin dan jalanan gelap, hanya terbelah oleh lampu-lampu mobil kami yang melaju bagai pemangsa dalam perburuan.

Kami tiba di gudang terbengkalai tempat para Espectros mengirimkan "pesan" mereka.

Bau mesiu masih menggantung di udara.

Aku keluar dari mobil dan memutar leher, meregangkan ketegangan.

"Menyebarlah," perintahku. "Tak seorang pun menembak tanpa komandoku."

Para Espectros muncul dari kegelapan bagai cacing. Topeng kotor, senjata seadanya, kesombongan orang yang tak tahu seberapa remeh dirinya sendiri.

Pemimpin mereka, seorang pria pirang kurus dengan senyum miring, mendekat.

"Moretti, Moretti… akhirnya muncul juga. Aku datang untuk melihat apakah legenda itu nyata."

Aku tertawa pendek. Kering.

"Dan menurutmu bagaimana?"

Ia merentangkan kedua tangan, memancing.

"Menurutku kau terlalu banyak bicara dan terlalu sedikit bertindak."

Ah… kesalahan fatal.

Aku maju sebelum siapa pun sempat bereaksi. Satu pukulan telak ke perut—udara keluar darinya bagai embusan napas kematian. Satu lagi ke hidung.

Dan satu lagi, hanya karena aku mau.

Yang lain mencoba menyerang dari belakang. Bodoh.

Satu tendangan. Satu kuncian lengan.

Dua orang tersungkur dalam hitungan detik.

Aku tak perlu membunuh siapa pun… belum. Aku cuma perlu mengingatkan mereka satu hal:

Siapa yang berkuasa di Roma.

Kucengkeram si pirang di bagian kerah baju, kuseret ke dinding, dan kugeram di telinganya:

"Lain kali kalian berani menyentuh kirimanku, tak akan kubiarkan seorang pun hidup untuk menceritakannya."

Kulepaskan ia.

Ia terjatuh bagai kain basah.

Pesanku sudah tersampaikan.

"Kita pergi?" tanya Lorenzo. "Tak ada gunanya mengotori tangan lebih jauh dengan sampah ini."

"Belum. Bakar semuanya. Aku ingin mereka tahu bahwa aku tak pernah mundur. Tak pernah."

Api menjulang cepat, menerangi anak buahku, menerangi wajahku.

Aku tersenyum.

Rasanya nyaris menyembuhkan.

Lalu aku pulang ke rumah.

Mansion sunyi saat aku masuk—tapi bukan kesunyian kosong khas rumah-rumah besar.

Itu kesunyian yang hidup, sarat sesuatu… seolah menyimpan rahasia di setiap sudutnya.

Kukira semua orang sudah berada di kamar masing-masing, meski waktu belum terlalu larut.

Sementara aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang kerjaku, kulihat Dona Margarida muncul dengan nampan di tangan.

"Dona Margarida? Masih bekerja jam segini? Ada sesuatu yang terjadi?"

Ia menatapku dengan senyum keibuan yang telah ia miliki sejak aku masih kecil.

"Tidak ada, Nak. Aku cuma sedang mengantar camilan untuk Nona Angel. Gadis itu menghabiskan seharian penuh di perpustakaan… pemandangan paling indah untuk dilihat, begitu tenggelam dalam buku sampai tak mendengar aku masuk."

Aku mengangkat sebelah alis.

Angel… seharian penuh di sana?

Komentar itu menyalakan sesuatu di dalam diriku—rasa penasaran yang mengganggu, nyaris menjengkelkan.

Perpustakaan itu selalu menjadi tempat berlindungku, wilayah sunyiku.

Dan kini justru dia yang menempati ruang tempat aku mencari ketenangan.

Dona Margarida melanjutkan langkahnya menyusuri koridor, dan aku terdiam sejenak, merasa seolah udara di sekelilingku ikut bernapas bersamaku.

Seakan kehadirannya—gadis berambut merah yang nyaris tak kukenal itu—telah mengubah sesuatu di dalam rumah ini.

Atau di dalam diriku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!