Indonesia
NovelToon NovelToon
Perempuan Tak Tersentuh Milik Ferraro

Perempuan Tak Tersentuh Milik Ferraro

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: Jaqueline Mello

Seumur hidup, Ambar Pradipta hanya dianggap beban oleh keluarganya sendiri. Ia dipaksa melayani, dihina, dipukul, bahkan dijadikan alat bayar utang. Ketika Bagas Pradipta menyerahkannya kepada Adrian Ferraro, semua orang mengira hidup Ambar akan jatuh ke neraka yang lebih gelap.
Namun Adrian Ferraro bukan pria yang bisa ditebak. Ia berbahaya, kejam kepada musuh, dan namanya cukup membuat satu kota menunduk. Tapi di hadapan Ambar yang gemetar karena luka masa lalu, ia justru membuat satu aturan baru: istrinya tidak boleh disentuh siapa pun.
Di dunia Ferraro, Ambar bukan lagi perempuan tak berharga. Ia adalah perempuan yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaqueline Mello, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Hukuman

Tangan Rizzo naik perlahan di pahaku. Aku menolak membuka mata, sampai sebuah suara keras dari arah pintu memaksaku melakukannya.

Pintu itu tidak terbuka. Pintu itu tercabut dari engselnya dan jatuh ke lantai.

Tidak ada teriakan. Tidak ada peringatan. Dalam dua langkah Adrian sudah sampai di dekat kami. Ia mencengkeram leher Rizzo dan menghantamkannya ke dinding, mengangkat tubuh laki-laki itu dari lantai hanya dengan satu tangan. Kaki Rizzo menendang-nendang di udara, mencari pijakan.

Adrian tidak menatap Rizzo. Ia menatapku. Dan entah kenapa itu membuatku lebih takut. Mungkin ia mengira ini salahku. Atau mungkin memang salahku. Aku keluar dari kamar tanpa izin. Wajahku pucat, bekas merah jari Rizzo masih terasa di daguku, dan aku memeluk gaun kuningku seolah kain itu bisa menjadi baju zirah. Tubuhku gemetar, napasku tersendat.

"Tenang, Ambar. Bernapas pelan. Tarik perlahan, hitung napasmu."

Ia memberi contoh cara bernapas. Aku mengikutinya sambil terus menatapnya, sampai napasku kembali teratur dan tubuhku terasa sedikit lebih baik.

"Lebih baik?" Aku mengangguk, maka ia menoleh kepada Rizzo. "Aku bilang dia tidak boleh disentuh."

Rizzo mengeluarkan suara tercekik sambil mencakar tangan Adrian. "B-bos... aku... cuma..."

"Kamu bilang," Adrian memiringkan kepala, "dia pelacur untuk semua orang."

Mata Adrian bukan mata yang tadi menatapku. Tatapannya berubah.

"Enzo!"

Enzo muncul di ambang pintu yang rusak, pistol di tangan. Wajahnya pucat, dan aku pun kembali pucat. Apa itu untukku?

"Cabut lidahnya," perintah Adrian tanpa melepaskan tatapan dari Rizzo. "Kemarin sudah kukatakan. Hari ini kulakukan."

Rizzo mulai menangis dan menendang lebih keras. "Maaf, Bos! Maaf! Aku tidak tahu!"

Adrian menatapku, lalu kembali menatap Rizzo. "Sekarang kamu tahu."

Ia melepaskan leher Rizzo. Laki-laki itu jatuh ke lantai, batuk-batuk dan meneteskan air liur. Sebelum Rizzo sempat bangkit, sepatu Adrian menginjak tangan sehatnya, tangan yang tadi menyentuhku. Bunyi tulang remuk memenuhi dapur, disusul lolongan Rizzo.

Kalau itu yang ia lakukan kepada orang kepercayaannya sendiri, apa yang menungguku nanti?

Adrian membungkuk dan berbicara di telinga Rizzo, tetapi cukup keras untuk kudengar, untuk didengar seluruh rumah.

"Aturan nomor dua, Rizzo." Ia mengangkat wajah Rizzo dengan menjambak rambutnya. "Aturan nomor satu adalah dia tidak boleh disentuh. Nomor dua... kalau ada yang melupakan aturan pertama, aku akan mengingatkan kenapa orang memanggilku Ferraro."

Ia berdiri, lalu menatap Enzo.

"Bawa dia. Potong lidahnya dan antarkan kepadaku dalam kotak. Setelah itu buang dia di depan rumah Pradipta dengan catatan: 'Utang sudah lunas. Orang berikutnya yang menatapnya, yang menyentuhnya, akan kukubur hidup-hidup.'"

Enzo mengangguk dan menyeret Rizzo yang masih menangis keluar dari dapur.

Setelah itu, hanya ada sunyi.

Adrian berdiri diam, kedua tangan di saku, menatapku. Aku tidak menggerakkan satu otot pun. Aku masih menempel di meja dapur, gemetar. Apa yang akan terjadi padaku sekarang?

"Gaun itu," katanya akhirnya sambil menunjuk dengan gerakan kepala. "Bakar."

Aku mengerjap bingung. Ia tidak tahu itu satu-satunya pakaian yang kumiliki.

"Jangan pernah memakainya lagi," jelasnya dengan suara rendah. "Jangan pernah lagi berpakaian seperti utang di rumahku. Di atas ranjang ada pakaian untuk kamu ganti."

Ia berbalik untuk pergi. Ia sudah sampai di pintu saat aku memberanikan diri bicara.

"Adrian."

Pertama kalinya aku menyebut namanya tanpa sadar. Seharusnya aku memanggilnya Tuan.

Ia berhenti, tetapi tidak berbalik. Ia pasti marah. Aku bicara tanpa izin.

"Katakan."

"Terima kasih," bisikku. "Karena... datang tepat waktu."

Adrian meletakkan satu tangan di kusen pintu yang rusak dan menggenggamnya begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Aku akan selalu datang tepat waktu, Ambar," katanya tanpa menatapku. "Sekalipun aku harus menyeberangi neraka."

Ia pergi, meninggalkanku sendirian di dapur.

Aku menghitung jam. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Hukuman apa yang akan ia berikan padaku? Ketidakpatuhanku membuatnya kehilangan seorang anak buah, orang kepercayaannya. Aku keluar dari kamar tanpa izin. Aku bicara tanpa izin. Saat mendengar pintu diketuk, aku langsung berlutut dengan posisi merangkak, kepala tertunduk. Kudengar pintu dibuka.

"Apa yang kamu lakukan di lantai?"

Aku tidak menjawab. Aku tidak ingin mendapat pukulan lebih banyak dari yang sudah menungguku.

"Ambar, aku bertanya. Kenapa kamu berlutut?"

"Menunggu hukuman saya, Tuan."

Adrian

Aku mendengar dengan jelas. Ia baru saja berkata bahwa ia berlutut, terhina, menunggu hukuman. Kenapa aku harus menghukumnya?

"Katakan apa yang sudah kamu lakukan."

Ia gemetar. Aku bisa melihatnya.

"Aku menunggu, Ambar."

"Saya keluar dari kamar tanpa izin," katanya dengan suara kecil dan bergetar. "Saya membuat Anda harus menghabisi orang kepercayaan Anda. Saya membuat Anda marah. Saya bicara tanpa izin. Saya menunggu hukuman."

Aku berusaha menenangkan diri. Apa dulu mereka menghukumnya hanya karena hal-hal sekonyol ini? Atau ibunya yang menanamkan semua pikiran itu ke kepalanya? Ia bahkan belum melepas gaun yang kusuruh buang.

"Ambar, seingatku aku sudah menyuruhmu melepas gaun itu. Kenapa masih kamu pakai?"

Ia menegakkan tubuh, duduk di atas tumitnya, lalu melepas gaun itu dan melemparkannya ke lantai. Kini ia hanya memakai pakaian dalam. Setelah itu ia kembali ke posisi semula, tubuhnya gemetar lebih hebat.

"Maaf, Tuan. Tidak akan terulang. Saya akan memakai apa pun yang Anda perintahkan."

"Bukan begitu, Ambar. Kamu boleh memakai apa pun yang kamu mau. Tapi gaun itu mengerikan. Bagaimana mereka bisa mendandanimu dengan pakaian seperti itu? Sekarang berdiri."

"Maaf, Tuan. Tidak akan terulang. Saya bersumpah."

Bagaimana caranya membuat ia mengerti bahwa aku tidak marah padanya tanpa kehilangan sedikit kesabaran yang kumiliki? Aku harus mengubah cara bicaraku, cara menyampaikan maksudku, dan jauh lebih hati-hati. Alih-alih mendekatkannya kepadaku, aku justru membuatnya semakin menjauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!