Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pertemuan Penentuan
Ruang rapat besar PT Wijaya Sejahtera dipenuhi lebih banyak orang dari pertemuan sebelumnya—hampir seluruh pemegang saham hadir, menyadari pentingnya keputusan yang akan diambil hari ini. Ratna sudah duduk di ujung meja seperti biasa, kali ini didampingi tidak hanya Bimo, tapi juga beberapa pemegang saham minoritas yang tampaknya sudah ia yakinkan untuk mendukung agendanya.
Keluarga Wijaya masuk dengan formasi yang solid—Sari di depan bersama Pak Wibowo, diikuti Kirana dan Denis, dan terakhir, dengan bantuan kursi roda yang didorong perawat khusus, Bapak Hartono sendiri, mengenakan setelan formal meski tubuhnya masih terlihat rapuh.
Kehadiran Bapak langsung mengundang keterkejutan di seluruh ruangan. Bisikan-bisikan kecil terdengar di antara para pemegang saham, jelas tidak menyangka beliau akan hadir secara langsung.
"Hartono," Ratna berkata, mencoba menyembunyikan keterkejutannya di balik senyum formal. "Senang melihatmu terlihat jauh lebih baik. Tapi apakah bijaksana bagimu untuk hadir dalam kondisi seperti ini?"
"Terima kasih atas kekhawatiranmu, Ratna," Bapak menjawab, suaranya meski masih agak lemah, terdengar jelas dan penuh wibawa. "Tapi aku merasa perlu hadir sendiri untuk memastikan masa depan perusahaan yang aku bangun ditentukan dengan cara yang adil dan jujur."
Pertemuan dimulai dengan agenda formal, namun ketegangan yang terasa jauh lebih intens dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pak Wibowo mempresentasikan seluruh bukti yang telah mereka kumpulkan—dokumen pengakuan anak yang menunjukkan tanggung jawab dan integritas Bapak, catatan medis yang membuktikan kompetensi mentalnya sebelum dan sesudah operasi, serta kesaksian dari berbagai pihak yang mendukung keabsahan surat kuasa Sari.
"Berdasarkan seluruh bukti ini," Pak Wibowo menyimpulkan, "jelas bahwa keluarga Wijaya telah mengelola situasi darurat ini dengan penuh tanggung jawab dan transparansi. Tidak ada dasar hukum maupun moral untuk meragukan kompetensi mereka dalam melanjutkan pengelolaan perusahaan."
Ratna, yang sejak tadi mendengarkan dengan ekspresi tenang, akhirnya angkat bicara. "Aku menghargai presentasi yang komprehensif ini. Tapi aku ingin mengingatkan semua pihak di sini, bahwa kekhawatiranku bukan tentang siapa yang paling 'sah' secara hukum, melainkan tentang kompetensi manajerial nyata untuk memimpin perusahaan sebesar ini di tengah krisis."
"Justru itu," Denis, yang selama ini menahan diri, akhirnya angkat bicara dengan tenang namun tegas, "saya ingin menyampaikan sesuatu yang relevan dengan kompetensi manajerial yang Anda pertanyakan, Bu Ratna."
Semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Ratna mengangkat alis, ekspresi waspada mulai muncul di wajahnya.
"Kami menemukan bahwa perusahaan yang Anda kelola sendiri, PT Ratna Jaya Makmur, saat ini memiliki kewajiban utang yang cukup signifikan kepada beberapa bank," Denis melanjutkan, suaranya tetap tenang meski ketegangan di ruangan semakin memuncak. "Kami mempertanyakan apakah motivasi Anda untuk mengambil alih kendali PT Wijaya Sejahtera murni demi kepentingan perusahaan ini, atau justru untuk mengatasi masalah keuangan pribadi Anda sendiri."
Wajah Ratna berubah pucat sesaat, meski ia cepat menguasai kembali ekspresinya. "Itu tuduhan yang serius dan tidak berdasar. Urusan finansial perusahaan lain yang aku kelola tidak ada hubungannya dengan kapasitasku memberi masukan di sini."
"Kami punya dokumen yang bisa dipertimbangkan dewan direksi, jika diperlukan," Pak Wibowo menambahkan, mengeluarkan sebuah map berisi salinan laporan keuangan yang berhasil mereka kumpulkan melalui saluran publik. "Kami tidak bermaksud menuduh tanpa dasar, hanya ingin memastikan transparansi penuh dipertimbangkan sebelum keputusan besar dibuat."
Suasana ruangan semakin tegang. Beberapa pemegang saham minoritas yang sebelumnya tampak condong mendukung Ratna, kini mulai menunjukkan keraguan, berbisik-bisik satu sama lain dengan ekspresi khawatir.
Bapak, yang sejak tadi diam mengumpulkan tenaga, akhirnya mengangkat tangan, meminta izin bicara. Ruangan itu hening seketika, semua menghormati kehadirannya yang jelas menguras tenaga besar baginya.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu," Bapak memulai, suaranya meski lemah, penuh ketulusan yang menggerakkan hati semua yang hadir. "Aku membangun perusahaan ini dari nol, dengan keringat dan pengorbanan selama puluhan tahun. Tapi lebih dari itu, aku membangunnya dengan prinsip kejujuran dan tanggung jawab—prinsip yang, aku akui, tidak selalu aku terapkan sempurna dalam kehidupan pribadiku."
Ia berhenti sejenak, menarik napas dengan susah payah sebelum melanjutkan. "Namun dalam beberapa minggu terakhir, aku menyaksikan anak-anakku—Sari, Kirana, dan Denis—bersatu menghadapi krisis ini dengan integritas yang bahkan melampaui apa yang aku tunjukkan selama bertahun-tahun. Mereka membuktikan bahwa kejujuran, meski menyakitkan, adalah fondasi yang jauh lebih kuat dibanding kebohongan yang dibungkus kepentingan pribadi."
Ia menoleh pada Ratna, tatapannya tajam meski tubuhnya rapuh. "Ratna, aku menghargai kontribusimu di masa lalu untuk keluarga besar kita. Tapi aku tidak akan membiarkan perusahaan yang aku bangun untuk melindungi keluargaku, justru menjadi alat untuk kepentingan pribadimu."
Ruangan itu hening total, semua orang tercekam oleh ketegasan yang tak terduga dari seorang pria yang baru saja pulih dari operasi besar.
"Aku secara resmi menunjuk Sari Wijaya sebagai direktur operasional penuh, dengan dukungan penuh dari Kirana dan Denis dalam kapasitas penasihat keluarga," lanjut Bapak, suaranya semakin melemah namun tekadnya tak tergoyahkan. "Ini keputusan final dari saya sebagai pemegang saham mayoritas, didukung oleh dokumen dan kesaksian yang telah dipresentasikan hari ini."
Ketua dewan direksi, yang sejak tadi mengamati jalannya pertemuan dengan seksama, akhirnya meminta pemungutan suara resmi dilakukan. Hasilnya diumumkan beberapa menit kemudian: mosi pembentukan dewan pengawas sementara yang diusulkan Ratna ditolak dengan selisih suara yang tipis—cukup untuk memenangkan keluarga Wijaya hari ini, namun juga cukup untuk menunjukkan bahwa pengaruh Ratna di antara pemegang saham lain tidak bisa dianggap remeh.
"Keputusan ditolak dengan suara lima puluh delapan berbanding empat puluh dua," ketua dewan mengumumkan. "Namun mengingat hasil pemeriksaan independen soal keabsahan surat kuasa masih ditunggu dalam dua minggu ke depan, dewan direksi akan meninjau kembali struktur manajemen sementara begitu hasil tersebut keluar."
Suara tepuk tangan pelan terdengar dari sebagian pemegang saham, namun tidak semua—beberapa yang tadi condong pada Ratna tetap terlihat menahan diri, jelas belum sepenuhnya yakin memilih pihak mana yang akan mereka dukung jika situasi berubah.
Ratna, meski jelas kecewa hasil hari ini tidak berpihak padanya, tidak menunjukkan kekalahan sebagaimana yang diharapkan keluarga Wijaya. Ia berdiri dengan tenang, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.
"Selisih empat belas suara," ucapnya pelan, cukup terdengar oleh keluarga Wijaya. "Bukan kemenangan yang meyakinkan, kalau boleh jujur. Dan masih ada dua minggu sebelum hasil pemeriksaan itu keluar. Banyak hal bisa berubah dalam dua minggu, terutama kalau ada bukti baru yang muncul."
Ia melangkah keluar ruangan dengan langkah tenang dan terkendali, diikuti Bimo yang mengumpulkan dokumen-dokumennya tanpa terburu-buru—sikap yang justru terasa lebih mengkhawatirkan dibanding kemarahan terbuka. Keluarga Wijaya untuk saat ini bisa merasakan kelegaan, namun jelas bukan kemenangan penuh yang bisa membuat mereka benar-benar tenang.
Kirana menghampiri Bapak, yang tampak kelelahan namun matanya bersinar penuh kebanggaan. "Bapak hebat sekali tadi," bisiknya, menggenggam tangan ayahnya erat.
"Ini bukan hanya kemenanganku," Bapak menjawab lemah namun tulus. "Ini kemenangan kita semua, sebagai keluarga yang akhirnya berani berdiri bersama, dengan kejujuran sebagai senjata utama kita."
Perawat segera mendekat, mengingatkan bahwa waktu yang diizinkan Raka sudah hampir habis. Mereka bergegas membawa Bapak kembali pulang untuk beristirahat, namun kali ini, langkah mereka terasa jauh lebih ringan—diiringi kelegaan dan kebanggaan atas apa yang berhasil mereka capai bersama hari ini.
---
*Bersambung ke Bab 24...*