Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Mafia / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.

Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Terakhir Di Ambang Pintu Rumah Sendiri

Bab 28

Suasana di ambang pintu itu terasa membeku seketika. Hujan di luar masih turun dengan deras membasahi tubuh mereka yang berdiri di sana sementara angin dingin terus menyapu masuk ke dalam ruangan membawa bau tanah basah dan bau sesuatu yang tajam serta menakutkan. Pria berwajah penuh bekas luka itu melangkah masuk lebih jauh diikuti oleh Vanessa yang terus menatapku dengan mata yang tidak berkedip sedikit pun seolah olah di ruangan ini tidak ada orang lain selain aku dan dia. Di belakang mereka terlihat semakin banyak bayangan orang orang yang berdiri di halaman depan rumah sebagian besar tubuh mereka tertutup kegelapan namun aku bisa melihat dengan jelas bahwa tangan mereka memegang benda benda yang tampak keras dan berkilat sesekali terkena pantulan cahaya lampu rumah.

Ayah berdiri tegak tepat di tengah pintu menghalangi jalan mereka agar tidak melangkah masuk lebih jauh lagi. Ia berkata dengan suara yang lantang dan berwibawa berhenti di situ. Kalian tidak akan melangkah masuk satu langkah pun ke dalam rumah ini selama aku masih berdiri di sini. Pria itu tertawa lagi suara tawanya yang kasar terdengar menyebalkan di tengah keheningan yang menegangkan itu. Ia menatap Ayah dengan pandangan yang penuh penghinaan lalu berkata kau pikir kau masih bisa melarangku? Puluhan tahun lalu kakekmu yang merampas segala sesuatu yang menjadi hak keluargaku. Kau pikir aku akan membiarkan keturunannya hidup tenang menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku? Hari ini aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku sekaligus menagih segala hutang yang tertunda sejak masa lalu.

Ayah tidak mundur sedikit pun. Ia menatap pria itu lurus ke matanya lalu berkata dengan tenang apa yang kau maksud itu adalah urusan masa lalu yang sudah diselesaikan puluhan tahun yang lalu dengan cara yang sah dan benar. Kakekku tidak pernah merampas apa pun darimu. Jika kau merasa dirugikan seharusnya kau mencari jalan keluar dengan cara yang benar bukan dengan cara menyakiti orang orang yang tidak bersalah dan memecah belah keluarga orang lain. Namun jawaban apa pun sepertinya tidak akan pernah cukup bagi pria itu. Rasa benci yang sudah tertanam begitu dalam selama puluhan tahun telah membutakan matanya dari kebenaran apa pun. Ia mengangkat tangannya memberi isyarat kepada orang orang yang berdiri di belakangnya untuk mulai bergerak maju mendekati pintu rumah kami.

Saat itu Kakak Arka Kakak Dika dan Kakak Rizky segera melangkah berdiri di samping Ayah membentuk barisan yang kokoh menghalangi jalan masuk mereka. Ketiga kakakku itu berdiri tegak dengan wajah yang serius dan siap menghadapi apa pun yang terjadi. Tidak ada yang gemetar tidak ada yang mundur dan tidak ada yang menoleh ke belakang. Mereka berdiri melindungi pintu rumah sekaligus melindungi aku dan Ibu yang berdiri tepat di belakang mereka. Kakak Arka berkata dengan suara yang tegas dan berat melangkahi mayat kami dulu sebelum kalian menyakiti satu orang pun dari keluarga ini. Kalian mungkin banyak jumlahnya namun kami tidak akan pernah menyerah. Rumah ini adalah tempat kami tinggal dan di sinilah kami akan membela kebenaran sampai tetes darah terakhir.

Pria itu mengerutkan keningnya lalu menatap tajam ke arah ketiga kakakku. Kalian benar benar berani. Baiklah kalau begitu mari kita lihat seberapa kuat persatuan kalian saat semuanya mulai berdarah di sini. Ia memberi isyarat lagi dan orang orang yang berdiri di halaman depan itu segera berlari mendekat ke arah pintu rumah. Terjadilah pertarungan yang sengit di ambang pintu rumah kami sendiri. Suara benturan suara teriakan dan suara hujan yang terus turun deras menyatu menjadi satu suara yang mengerikan di telinga. Namun Ayah dan ketiga kakakku tetap berdiri kokoh di tempatnya tidak membiarkan satu orang pun dari mereka melangkah masuk ke dalam ruangan. Mereka bertarung bukan untuk harta atau kekuasaan melainkan untuk melindungi orang orang yang mereka cintai dan untuk menjaga kebenaran tetap berdiri di tempatnya.

Vanessa yang berdiri di samping pria itu tidak ikut bertarung. Ia tetap berdiri diam menatapku dengan senyum tipis yang terasa dingin dan kejam. Matanya seolah olah berkata kau lihatlah Maya. Semua yang kau miliki akan hancur di depan matamu. Orang orang yang kau sayangi akan terluka dan menderita dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikannya. Namun aku tidak menunduk dan tidak membiarkan air mataku jatuh. Aku menggenggam tangan Ibu yang berdiri di sampingku erat sekali lalu menatap lurus kembali ke arah mata Vanessa. Aku tidak akan menyerah kepadamu. Selama napas ini masih ada di dada aku tidak akan membiarkanmu menyakiti keluargaku. Dan kau lihatlah mereka berdiri melindungiku meskipun dulu mereka pernah salah kepadamu. Itulah perbedaan antara kita. Aku dicintai dengan tulus sedangkan kau hanya dikelilingi oleh rasa benci dan ketakutan.

Mendengar kata kataku wajah Vanessa berubah menjadi merah padam karena amarah yang meluap luap. Ia tidak tahan mendengar kebenaran itu terucap begitu saja dari mulutku. Dengan wajah yang penuh kemarahan ia melangkah masuk melewati sela sela orang yang sedang bertarung lalu berlari mendekat ke arahku dengan tangan yang terkepal erat seolah olah ia ingin mencabut nyawaku dengan tangannya sendiri. Ibu berteriak kaget dan hendak melindungiku namun aku melangkah maju berdiri di depannya siap menghadapi Vanessa. Saat ia hampir sampai di hadapanku tiba tiba terdengar suara sirine kendaraan yang mendekat dari kejauhan semakin lama semakin jelas dan semakin keras terdengar menembus suara hujan dan suara pertarungan yang sedang terjadi di depan pintu.

Pria itu mendengar suara itu dan segera menoleh ke belakang dengan wajah yang berubah gelap. Mereka datang. Kita harus pergi sekarang juga. Namun Vanessa sepertinya tidak mendengar suara itu sama sekali. Ia terus berlari ke arahku dengan mata yang melotot penuh amarah dan kebencian seolah olah tidak ada hal lain di dunia ini yang penting selain menyakitiku saat itu juga. Pria itu berteriak memanggil namanya namun Vanessa tidak menoleh sedikit pun. Ia terus melangkah maju dan tepat saat ia mengangkat tangannya hendak menghantamku tiba tiba ada seseorang yang melompat dari samping dan mendorongku dengan sekuat tenaga hingga aku terguling ke samping.

Semuanya terjadi begitu cepat hingga aku sempat kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap ke lantai. Saat aku mendongak untuk melihat siapa yang mendorongku jantungku seakan berhenti berdetak seketika. Di tempatku berdiri sedetik sebelumnya kini berdiri Ayah yang melindungiku dengan tubuhnya sendiri. Tangan Vanessa yang memegang benda tajam itu telah menancap tepat di dada Ayah. Darah segar segera membasahi pakaian Ayah yang berwarna gelap terlihat semakin pekat dan menakutkan terkena pantulan cahaya lampu ruangan. Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Suara pertarungan berhenti seketika. Semua orang menatap kaku ke arah pemandangan yang mengerikan itu di ambang pintu rumah kami sendiri.

Ayah perlahan berbalik menghadap Vanessa yang masih memegang benda tajam itu dengan mata yang terbelalak kaget seolah olah ia tidak menyangka bahwa Ayah akan melompat melindungiku tepat di saat itu. Ayah menatap Vanessa dengan tatapan yang tidak penuh amarah melainkan penuh kesedihan yang mendalam. Dengan suara yang lemah namun terdengar jelas ia berkata anakku kenapa kau harus melakukan hal seperti ini? Kami pernah berniat mengasihanimu dan menganggapmu sebagai keluarga. Kenapa kau memilih jalan yang penuh darah dan air mata ini? Kata kata itu membuat tubuh Vanessa gemetar hebat. Tangannya melepaskan pegangan pada benda tajam itu yang tertancap di dada Ayah lalu jatuh berlutut di lantai sambil menatap kedua tangannya yang kini berlumuran darah segar. Matanya terbuka lebar menatap Ayah lalu menatapku bergantian seolah olah baru saat itu ia menyadari apa yang baru saja dilakukannya.

Pria itu melihat keadaan itu lalu berteriak marah kepada Vanessa bodoh! Apa yang baru saja kau lakukan? Mereka sudah datang. Kita harus pergi sekarang juga sebelum terlambat. Ia segera melangkah mendekat menarik lengan Vanessa yang masih berlutut kaku di lantai lalu menyeretnya pergi keluar rumah. Orang orang yang bersamanya segera mundur mengikuti mereka berlari menghilang ke dalam kegelapan malam dan derasnya hujan tepat saat kendaraan pihak berwenang tiba berhenti di halaman depan rumah kami. Namun saat itu tidak ada satu pun dari kami yang memperhatikan kepergian mereka. Seluruh perhatian kami tertuju kepada Ayah yang perlahan jatuh berlutut lalu terjatuh ke lantai dengan tubuh yang perlahan menjadi lemah dan dingin.

Aku segera merangkak mendekat memeluk tubuh Ayah yang mulai terasa dingin itu. Air mataku jatuh membasahi wajahnya yang pucat. Ibu berlutut di samping kami sambil memeluk kepala Ayah di pangkuannya menangis sejadi jadinya. Ketiga kakakku segera berlutut mengelilingi Ayah dengan wajah yang penuh air mata dan keputusasaan. Ayah menatap kami satu per satu dengan mata yang mulai berkabut namun tetap tersenyum lemah senyum yang penuh kasih sayang dan ketenangan. Ia mengangkat tangannya yang gemetar menyentuh wajahku dengan lemah lalu berkata dengan suara yang hampir tak terdengar jangan menangis anakku sayang. Ayah tidak menyesal melindungimu. Kalian harus tetap bersatu. Jangan pernah membiarkan kebencian memisahkan kalian. Selama kalian saling menjaga dan saling mengasihi Ayah akan selalu merasa tenang di mana pun berada.

Setelah mengucapkan kalimat itu napas Ayah perlahan berhenti. Tangannya yang lembut menyentuh pipiku terkulai jatuh ke samping tubuhnya. Matanya tetap terbuka menatap kami dengan penuh kasih sayang namun cahayanya perlahan lenyap digantikan oleh keheningan yang abadi. Di luar hujan masih turun dengan deras seolah olah langit ikut menangis meratapi kepergian Ayah yang begitu tulus dan baik hati. Di dalam ruangan itu sunyi senyap hanya terdengar suara tangis dan isak tangis kami yang saling bersahutan di tengah darah yang masih terlihat menggenang di lantai tempat Ayah terjatuh. Malam itu di ambang pintu rumah kami sendiri pertarungan itu berakhir dengan kemenangan yang pahit. Musuh memang pergi dan kebenaran tetap berdiri tegak namun harga yang harus dibayar ternyata begitu mahal hingga kami harus kehilangan orang yang paling kami cintai di dunia ini.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!