Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. DSKKR

Malam puncak pengenalan koleksi perdana VANE Group akhirnya tiba. Ballroom sebuah hotel bintang lima terkemuka di Jakarta Selatan disulap menjadi panggung megah berkonsep minimalis modern. Lampu sorot bernuansa keemasan menimpa deretan kursi penonton yang dipenuhi oleh pengusaha papan atas, selebriti ternama, hingga jurnalis fashion internasional.

Di balik panggung, suasana terasa begitu dinamis. Para model sibuk melakukan penyesuaian akhir pada busana mereka.

Maya berdiri di depan cermin besar ruangan VIP. Mengenakan gaun malam berpotongan asymmetric halter-neck berwarna hitam pekat buatan tangannya sendiri, penampilan Maya benar-benar membuat siapa pun terpana. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya yang sekarang kencang dan jenjang. Kulitnya memancarkan kilau sehat, dipadu dengan riasan lipstick merah tua yang menegaskan aura ketegasan sang ratu yang telah bangkit.

Arch melangkah masuk ke ruangan VIP, memegang dua cangkir sparkling water. Langkah pria itu mendadak terhenti begitu matanya menangkap sosok Maya di depan cermin.

Untuk pertama kalinya, Mr. Arch Vance, pria dingin yang terkenal tak pernah terpesona oleh kecantikan wanita mana pun tampak kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

"Wah..aku kira aku bertemu bidadari." Ucap Arch.

"Ah mas Arch bisa aja."

"Serius may! Sekarang kamu benar-benar berbeda dari kamu sebulan lalu."

"Terimakasih mas. Ini juga berkat mas Arch. Tanpa mas, aku pasti masih maya yang dulu."

"Itu ya hasil dari kerja keras sama disiplin kamu may. Kamu memang pantas dapat semua ini."

Aku tersenyum, "Iya mas.. Aku juga tak menyangka hal ini bisa terjadi lagi."

"Iya.. Dari awal aku tahu kamu bakal luar biasa malam ini, Maya," bisik Arch seraya melangkah mendekat dan menyodorkan gelas. "Tapi penampilanmu sekarang... benar-benar mahakarya sejati."

Maya menyunggingkan senyum anggun, menerima gelas itu. "Ini berkat kesempatan yang Mas Arch kasih. Aku gak akan pernah lupa jasa Mas Arch."

Arch menatap dalam ke mata Maya, menggeleng pelan. "Bukan karena aku, Maya. Tapi karena api dalam dirimu memang gak pernah padam. Kamu sendiri yang menyalakannya kembali."

"Kalian sudah selesai saling memuji nya?" tiba-tiba jane, adik mas arch investor terbanyak di project kali ini melipat tangan di dada dengan melihat ke arah kami.

"Kenapa? Kamu ini ganggu saja orang berbincang" Sahut mas Arch.

"Heloo.. Tuan dan nyonya.. Ini kan sudah mau mulai inti acaranya. kalau kalian terus ngobrol, kapan kalian akan keluar dari sini? Kan kalian harus ke belakang runway. Gimana sih? Aku ingin acara ini sempurna ya! Engga mau aku sia-siakan uang ku"

"Iyaa.. Tenang saja mbak perfeksionis. Kami keluar ini. Kamu ini.." ucap mas arch menggandeng ku lalu kami berjalan dan dia sempat mencubit adiknya.

"Aww.. Dasar tangan nakal. Dari dulu engga berubah."

Ku lihat mas arch hanya tersenyum puas melihat reaksi adiknya. Kami pun berjalan turun ke belakang panggung runway.

Saat pembawa acara mengumumkan dan memandu acara, tepuk tangan riuh membahana. Satu per satu model melangkah di atas runway, memperagakan karya-karya rancangan Maya. Kombinasi potongan yang tajam namun anggun menuai decak kagum dari seluruh undangan. Media sibuk mengambil gambar, dan para pengamat busana tak henti-hentinya mencatat pujian.

Di akhir peragaan, Arch naik ke atas panggung, lalu mengulurkan tangannya mengundang Maya untuk maju.

"Beri applouse kepada desainer dan HCD kita.. Maya.." Ucap Arch serius dan bersemangat.

Ketika Maya melangkah keluar menuju ujung runway, seluruh isi ballroom berdiri memberikan standing ovation. Cahaya kilat kamera membakar pandangan, menyambut kembalinya sang Ratu ke tahta yang sesungguhnya. Maya tersenyum dingin dan percaya diri menandai berakhirnya masa-masa penindasan dalam hidupnya dan dimulainya era kejayaannya sendiri.

"Wah.. Maya itu memang sangat berbakat ya." Ucap penonton.

"Iya.. sangat berbakat. Wah aku enggak nyangka sih dia bakalan se berbakat ini"

***

Sementara itu, Hal yang tak terduga terjadi di sudut luar area hotel.

Fandi berdiri di dekat barikade keamanan dengan pakaian lusuh yang kontras dengan kemewahan di sekitarnya. Dia berhasil menyelinap hingga ke area luar gedung hanya untuk membuktikan berita yang dibacanya.

Melalui pintu kaca tebal dan layar monitor raksasa yang dipasang di area foyer, Fandi melihat dengan matanya sendiri sosok Maya yang baru dan sangat berbeda berdiri anggun di atas panggung di samping Arch Vance.

Maya tampak begitu jelita, jauh lebih cantik, lebih muda, dan lebih tak tersentuh dibanding saat pertama kali Fandi mengenalnya dulu. Di sampingnya, Arch Vance berdiri dengan penuh kharisma, menatap Maya dengan binar kekaguman yang teramat jelas.

"Maya..." bisik Fandi dengan suara tercekat, air matanya menetes tanpa bisa ditahan.

Satpam gedung yang menyadari keberadaan Fandi yang mencurigakan langsung mendekat. "Maaf, Pak. Area ini khusus undangan. Bapak silakan menjauh dari pintu masuk."

"Tolong, Pak... itu mantan istri saya," racau Fandi dengan wajah memohon, menunjuk ke arah layar. "Saya cuma mau lihat istri saya..."

Satpam itu menatap Fandi dari ujung kepala sampai kaki dengan pandangan prihatin bercampur heran. "Ahaha mana mungkin pak. Asal bapak tau yang di dalam itu Bu Maya Kartika, Creative Director VANE Group. Mending Bapak pulang, jangan bikin kerusuhan di sini." Ucap satpam juga mentertawakan fandi.

"Tapi benar pak. Itu istri ku. Dia istriku, biarkan saya masuk pak." Teriak fandi mencoba masuk.

"Heh! Kamu ngaca dulu sebelum ngomong.. Kamu aja kaya gembel, masa bisa punya istri se cantik dan berbakat seperti bu maya. Mimpi di siang bolong kamu. Pergi! Atau kami seret paksa kamu"

"Tidak pak, maya itu memang istri ku! Kami sudah punya anak juga!"

Tiba-tiba teman satpam juga datang "Oh.. jadi kamu mantan suami bu maya? Ahaha rasain kamu jadi gembel." Ucap Satpam yang baru datang.

"Memang Bu maya pernah menikah? Tanya satpam yang belum tau.

"Iyaa.. tapi ini mantan suaminya selingkuh dan hina bu maya. Jadi lah sekarang dia seperti gembel dan miskin karena karma." Jelas satpam lain.

Byur.. lemparan segelas air ke wajah fandi.

"Rasain kamu! Enggak tau malu!. Ayolah kita usir aja. Jangan sampai bu maya liat dia."

Tiga petugas keamanan menyeret Fandi menjauh dari pelataran hotel. Pria itu tersungkur di atas trotoar yang basah oleh sisa hujan malam.

"Tidak! Maya! Mayaa!" Teriak fandi.

"Tau diri jadi orang! Ganggu aja! Sana pergi atau kami antar kamu ke kantor polisi hah!"

~Bersambung~

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!