Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
curiga
Elena memperhatikan nama yang tertera di layar ponsel Angga. Namun, karena letak ponsel yang sedikit miring, ditambah ia yang lagi berada di bawah permainan Angga, tulisan yang terbaca hanya awalannya saja "Cin".
Elena mengernyit dan fokusnya kembali hilang karena Angga menyerangnya bertubi-tubi.
****
Beberapa jam berlalu.
Elena memungut pakaian Angga yang pria itu kenakan tadi pagi. Sehabis ber-cinta dengannya, Angga telah berganti pakaian sebelum berangkat ke kantor, meninggalkan pakaian yang sudah dipakai begitu saja di ruang kerja.
Pria itu pun telah pergi dari rumah setelah tadi berpamitan kepada Elena untuk kembali ke kantor.
Ketika sedang merapikan pakaian kotor Angga untuk ditaruh di laundry box, Elena pun terhenyak. Ia mencium aroma parfum yang sedikit berbeda di kemeja maupun jas suaminya.
Parfum khas Angga yang maskulin masih melekat, tetapi bercampur dengan wangi lembut yang manis dan feminin. Aroma itu begitu samar, namun cukup jelas untuk membuat Elena menyadari perbedaannya.
"Parfum mas Angga kenapa berbeda ya? Seperti ada campuran parfum manisnya," gumam Elena.
"Apa Mas Angga ganti parfum?"
Sejenak Elena terdiam, lalu menggeleng kecil.
"Mungkin Mas Angga mencoba parfum baru."
Ia berusaha mengusir prasangka yang tiba-tiba muncul. Lagi pula, selama ini Angga adalah suami yang nyaris tak pernah membuatnya kecewa.
Elena kembali melangkah menuju ruang belakang. Saat hendak memasukkan jas itu ke dalam laundry box, tangannya tanpa sengaja meraba sesuatu di saku bagian dalam.
"Ini apa?"
Ia mengeluarkan selembar struk belanja yang terlipat.
Awalnya Elena hanya berniat membuangnya. Namun, matanya tanpa sengaja menangkap daftar barang yang tercetak di sana. Vitamin kehamilan, susu ibu hamil, asam folat.
Elena memperhatikan dengan heran. Sebab struk belanja itu adalah pembelian untuk keperluan ibu hamil.
"Apa ini belanjaannya mas Angga?"
"Perlengkapan ibu hamil...?"
"Siapa yang sedang hamil?" gumam Elena heran.
Berbagai kemungkinan langsung memenuhi kepalanya.
Apa ada kerabat Mas Angga yang sedang mengandung?
Atau... apakah Mas Angga sedang diminta tolong membelikan barang-barang itu?
Namun, entah mengapa, firasatnya mendadak berubah tidak tenang.
"Mas Angga tidak mungkin membeli semua ini kalau memang tidak benar-benar diperlukan...."
"Nyonya..."
Elena tercekat dan menoleh. "Ya ampun Iroh, mengagetkanku saja."
"Maaf, Nyonya. Tuan Angga tadi berpesan untuk menanyakan nyonya mau makan malam apa?"
"Apa saja Roh, aku tidak pilih makanan dan tidak sedang ingin makanan tertentu."
Iroh mengangguk. "Baik nyonya."
"Tuan benar-benar perhatian kepada Nyonya. Di tengah kesibukannya, beliau masih sempat mengingatkan saya untuk memastikan Nyonya makan malam."
Senyum tipis menghiasi bibir Elena.
"Iya, Roh. Dia memang laki-laki yang baik."
Iroh tersenyum. "Kalau begitu saya ke belakang dulu ya nyonya."
Setelah Iroh pergi, senyum di wajah Elena perlahan memudar. Tatapannya kembali jatuh pada struk yang masih berada di genggamannya.
Ia menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.
"Mungkin ini memang bukan milik Mas Angga. Bisa saja teman kantornya menitip belanja atau tanpa sengaja menyelipkannya ke saku jas."
Elena memaksakan sebuah senyum.
"Aku tidak boleh berpikir yang macam-macam."
Bagaimanapun juga, Angga adalah suami yang selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Pria itu nyaris tak pernah membuat Elena meragukan cintanya.
Namun, entah mengapa kali ini, sebuah rasa cemas mulai menyelinap ke dalam hatinya.
***
Pukul 12 malam, Angga baru tiba di rumah. Pria itu merasa lelah karena seharian ini harus menjaga Cindy sambil mengerjakan pekerjaannya secara online di rumah wanita itu.
Rumah kakaknya yang bernama Ridwan, karena wanita itu bosan berada di apartemen.
Angga melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, dan mendapati Elena sedang tertidur. Ia mendekati istrinya, lalu mengusap kepalanya dengan lembut dan mencium keningnya.
Kemudian ia pun pergi mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia pun ikut naik ke atas ranjang dan tidur di samping Elena. Ia menarik pelan tubuh istrinya dan membawa Elena dalam dekapannya.
Pergerakan itu membuat Elena terbangun. "Mas, sudah pulang?"
"Iya, saya baru pulang."
"Mau aku buatkan minum?"
"Tidak usah."
"Mas sudah makan?"
"Sudah tadi di luar. Saya ngantuk, Elena. Ayo tidur," ajak Angga.
Pria itu meletakkan ponselnya di sisi bantal dengan layar yang menghadap ke atas, lalu memeluk tubuh Elena. Wanita itu merentangkan tangan dan memeluk Angga dengan hangat.
Tanpa berlama-lama, Angga pun tertidur. Pria itu begitu kelelahan hingga hanya dengan memeluk Elena saja ia telah terlelap.
Elena tersenyum seraya menyentuh wajahnya. "Aku mencintai kamu, mas."
Saat ia ingin tidur juga, tiba-tiba saja ponsel Angga bergetar. Elena tanpa sengaja menoleh ke arah samping bantal Angga dan melihat sebuah panggilan masuk.
Seharusnya itu bukan apa-apa. Tetapi Elena mendapati ada yang tidak asing. Ia melihat nama yang tertera di layar ponsel itu dan membuat hatinya dilanda keterkejutan.
Cindy.