Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karpet Merah dari Darah dan Api
Desis uap hidrolik terdengar nyaring saat pintu kabin Gulfstream G650 terbuka perlahan. Angin sore ibu kota Jingcheng langsung menerobos masuk, membawa serta aroma pekat dari bahan bakar aviasi (avtur) yang tumpah, karet ban yang hangus, dan bau amis darah bercampur mesiu.
Di ambang pintu pesawat, Lin Fan berdiri dengan postur setegak tebing karang. Jas Armani hitamnya sama sekali tidak kusut, sangat kontras dengan pemandangan neraka yang baru saja ia ciptakan di darat. Tangannya menggenggam erat jemari Su Yuhan, menuntun istrinya melangkah menuruni tangga pesawat.
Bagi Yuhan, pemandangan di bawah sana membuat napasnya tercekat. Landasan pacu VVIP yang seharusnya steril dan dijaga ketat oleh otoritas penerbangan sipil, kini telah berubah menjadi ladang pembantaian. Tiga kendaraan lapis baja masih menyala oleh kobaran api, asap hitamnya membubung ke langit senja. Di sepanjang aspal, ratusan tentara bayaran elit bergelimpangan—sebagian menjadi mayat, sebagian lagi berlutut dengan tangan di belakang kepala, menggigil ketakutan di bawah todongan senapan Pasukan Bayangan.
Ini bukanlah penyambutan untuk seorang pengusaha. Ini adalah karpet merah berdarah yang digelar untuk seorang Kaisar Perang.
"Tutup matamu jika kau merasa mual, Yuhan," bisik Lin Fan lembut, menarik istrinya sedikit merapat ke tubuhnya.
"T-tidak," Yuhan memaksakan diri untuk menggeleng, meski wajahnya pucat pasi. "Aku adalah istrimu. Jika ini adalah duniamu yang sebenarnya, aku menolak untuk menutup mata."
Mendengar keteguhan hati wanita itu, sebersit rasa bangga melintas di mata Lin Fan. Ia menuntun Yuhan hingga sepatu hak tinggi istrinya itu menginjak aspal landasan pacu yang dipenuhi serpihan kaca.
Begitu ujung sepatu Lin Fan menyentuh daratan ibu kota, Komandan Yuan dan puluhan prajurit elit Pasukan Bayangan serempak menjatuhkan satu lutut mereka ke aspal, menghantamkan kepalan tangan kanan ke dada kiri mereka. Bunyi seragam taktis yang bergesekan itu menggema serentak, menciptakan orkestra penghormatan yang menggetarkan jiwa.
"Selamat datang kembali di ibu kota, Tuan Muda Lin!" seru Yuan dengan bariton yang mengalahkan suara deru angin. "Lapor: 120 musuh dieliminasi, 43 ditawan. Tidak ada satu pun korban di pihak kita."
Lin Fan hanya mengangguk pelan. Pandangannya langsung tertuju pada seorang pria Kaukasia bertubuh raksasa dengan bekas luka sayatan melintang di wajahnya. Pria itu dipaksa berlutut oleh dua anggota Pasukan Bayangan tepat di depan lintasan Lin Fan. Ia adalah Kraven, Jenderal tentara bayaran internasional yang disewa secara khusus oleh Lin Ye dengan harga triliunan Yuan.
Meskipun dalam keadaan berlutut dan tubuhnya dipenuhi memar akibat pukulan Yuan, Kraven masih memancarkan keangkuhan seekor serigala medan perang. Ia meludah ke aspal, darah bercampur air liur jatuh tak jauh dari sepatu Lin Fan.
"Kau boleh saja menang di sini, bocah," geram Kraven dalam bahasa Mandarin dengan aksen yang kaku, menatap Lin Fan dengan kebencian. "Tapi Lin Ye memegang kendali atas seluruh kota ini! Dia memiliki puluhan ribu pasukan dari Tiga Tetua Pelindung yang sedang menunggumu di luar bandara! Membunuhku tidak akan menyelamatkan nyawamu, atau nyawa pelacur cantik di sebelahmu itu!"
Mendengar kata-kata kotor yang dialamatkan pada Yuhan, udara di sekitar landasan pacu mendadak turun hingga ke titik beku. Aura membunuh yang meledak dari tubuh Lin Fan begitu pekat hingga membuat burung-burung yang bertengger di menara bandara berhamburan terbang karena teror.
Pasukan Bayangan di sekeliling mereka langsung mengokang senjata, bersiap mencabik-cabik Kraven menjadi ribuan keping daging. Namun, Lin Fan mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan mereka untuk berhenti.
Lin Fan melangkah maju dengan tenang. Matanya yang sedingin jurang es menatap rendah pada jenderal tentara bayaran itu.
"Kau dibayar mahal oleh Lin Ye karena reputasimu sebagai pembunuh elit yang tak kenal takut, Kraven," ucap Lin Fan, suaranya pelan namun menusuk langsung ke sumsum tulang. "Kau pikir kematian adalah ancaman terburuk bagimu?"
Sebelum Kraven sempat menjawab, Lin Fan menggerakkan tangannya dengan kecepatan yang menentang hukum fisika.
KRAK!
"Aaaarrgghhh!!"
Jeritan histeris yang memekakkan telinga meledak dari mulut Kraven. Tangannya yang biasa digunakan untuk memegang senjata, lengan kanannya, telah dipelintir dan dipatahkan oleh Lin Fan hingga tulangnya menembus kulit. Darah segar menyembur membasahi aspal.
Namun Lin Fan tidak berhenti di sana. Jari telunjuk dan tengahnya melesat bak kilat, menekan dua titik saraf mematikan di leher dan tulang belakang Kraven. Tubuh raksasa jenderal bayaran itu seketika menegang kaku, matanya melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Ia tidak mati, namun seluruh sistem motorik sarafnya hancur. Ia lumpuh dari leher ke bawah dalam hitungan detik.
Lin Fan mencengkeram rahang Kraven yang kini hanya bisa mengeluarkan suara erangan menyedihkan, memaksa pria itu menatap ke dalam matanya.
"Kematian adalah hadiah bagi seorang prajurit," bisik Lin Fan tanpa emosi. "Tapi bagi anjing suruhan sepertimu, aku akan memberimu kehidupan abadi dalam tubuh yang hancur. Kau akan kembali pada Lin Ye malam ini juga, dan kau akan menggunakan sisa napasmu untuk menyampaikan pesanku padanya."
Lin Fan melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh lumpuh Kraven ambruk ke atas genangan darahnya sendiri.
"Katakan padanya," lanjut Lin Fan, suaranya kini bergema ke seluruh landasan pacu. "Bahwa Raja yang asli telah menginjakkan kakinya di Jingcheng. Suruh dia mengumpulkan seluruh Tetua Pelindung, seluruh pasukan, dan seluruh sekutunya. Karena jika dia hanya bersembunyi seperti tikus, aku akan merobohkan markas besarnya batu demi batu."
Setelah menjatuhkan vonis kejamnya, Lin Fan berbalik. Ia mengeluarkan saputangan sutra putih dari saku jasnya, mengusap setitik darah yang secara tidak sengaja memercik ke punggung tangannya, lalu membuang saputangan itu ke tubuh Kraven.
Seluruh kekejaman itu lenyap tak berbekas ketika ia kembali menatap Su Yuhan. Lin Fan tersenyum hangat, mengulurkan tangannya yang kini sudah bersih.
"Maaf jika penyambutannya sedikit kotor," ucap Lin Fan lembut, matanya memancarkan kasih sayang yang mendalam. "Konvoi kita sudah menunggu, Yuhan. Mari kita tinggalkan tempat sampah ini."
Yuhan menelan ludah, menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk antara rasa takut akan kekuatan suaminya, dan rasa aman yang absolut karena dilindungi oleh dewa kematian itu sendiri. Tanpa ragu, Yuhan meletakkan tangannya di atas telapak tangan Lin Fan.
Di ujung landasan pacu yang telah diamankan, sebuah konvoi terdiri dari sepuluh Maybach antipeluru berwarna hitam telah terparkir rapi.