Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
POV Dante Herrera
Hari-hari berlalu terlalu lambat.
Hampir tiga minggu sudah sejak aku, Pietro, Giovanni, dan Kevin meninggalkan Italia untuk mengurus urusan-urusan penting organisasi. Rapat-rapat tak berkesudahan, negosiasi yang pelik, dan berbagai masalah yang menuntut kehadiran kami secara terus-menerus.
Aku selalu disiplin.
Aku selalu tahu cara memisahkan perasaan dari urusan bisnis.
Tapi Mary Mendez mengubah semua keyakinanku menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Di minggu pertama aku masih bisa mengabaikannya.
Di minggu kedua aku mulai merindukannya.
Kini, di minggu ketiga, rindu itu terasa seperti luka yang menganga.
Malam itu aku sendirian di kamar hotel, mengamati lampu-lampu kota dari jendela. Di tanganku ada sebuah laporan yang sudah kucoba baca untuk ketiga kalinya.
Tapi pikiranku terus-menerus kembali padanya.
Pada mata hijaunya.
Pada senyum malu-malunya.
Pada caranya menggenggam rosario ketika ia gugup.
Pada suara lembutnya menyebut namaku.
Kupejamkan mata.
Aku masih bisa mengingat dengan sempurna aroma parfum ringan yang ia kenakan.
Sensasi tangannya di tanganku.
Ciuman yang kami bagi.
Setiap detiknya.
Kusisir rambutku dengan tangan dan menghela napas panjang.
"Sialan, Mary..."
Tak pernah kubayangkan aku akan merindukan seseorang sedemikian rupa.
Ini bukan sekadar hasrat.
Ini lebih buruk.
Ini kebutuhan.
Aku merindukan percakapan kami.
Kehadirannya yang tenang.
Kedamaian yang ia bawa ke dalam hidupku.
Di dunia yang dikepung kekerasan, pengkhianatan, dan darah, Mary adalah satu-satunya tempat aku menemukan ketenangan.
Dan ia jauh.
Sangat jauh.
Ketukan di pintu memutus lamunanku.
"Masuk."
Itu Pietro.
Saudaraku masuk sambil membawa secangkir kopi.
"Masih terjaga?"
"Kau juga."
Ia tersenyum lelah.
"Aku tidak bisa tidur."
Kuamati wajahnya.
Pietro tampak berbeda.
Linglung.
Termenung.
Sesuatu yang langka bagi orang serasional dia.
"Natália?" tanyaku.
Ia menatapku beberapa saat.
Lalu menghela napas.
"Sekentara itu, ya?"
Aku tergelak.
"Sangat kentara."
Ia menggeleng.
"Perempuan itu bicara lebih banyak dari yang seharusnya."
"Dan kau merindukan itu."
"Mungkin."
Kami berdua tertawa.
Tapi senyum itu cepat lenyap.
Karena kami tahu kebenarannya.
Kami merindukan mereka.
Mereka semua.
Seolah keheningan telah menjadi terlalu berat.
Tak lama kemudian Giovanni muncul.
Masuk tanpa mengetuk, seperti biasa.
Ia menjatuhkan diri ke sofa dan mengambil sebotol air.
"Kenapa wajah kalian kayak orang melayat?"
"Kami sedang membicarakan para gadis," jawab Pietro.
Giovanni membeku.
Hanya sedetik.
Tapi aku menyadarinya.
Pietro juga.
"Bárbara?" tanyaku.
"Jangan mulai."
"Berarti memang dia."
"Sudah, jangan ganggu."
Pietro mulai tertawa.
"Sang penakluk ditolak dan sekarang menderita."
"Aku tidak menderita."
"Tentu saja tidak," sahutku.
"Sedikit pun tidak."
Giovanni menudingkan jari ke arah kami.
"Kalian berdua ini menyebalkan."
Tapi kemudian ia menjadi serius.
Menatap lantai.
Dan berbicara dengan suara pelan.
"Dia menantangku."
Hal itu mengejutkanku.
Giovanni tak pernah bicara soal perasaan.
"Maksudmu?"
"Semua orang selalu menuruti kemauanku. Semua orang tersenyum. Semua orang mengiyakan. Tapi perempuan itu... dia mengacuhkanku. Dia melawanku. Dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya."
Pietro terbahak.
"Kau jatuh cinta."
"Diam."
"Jatuh cinta total."
Giovanni melempar bantal ke arahnya.
Saat itulah Kevin masuk.
Ia berhenti di ambang pintu, mengamati keadaan.
"Ada apa ini?"
"Kelompok pendukung untuk para pria yang sedang jatuh cinta," jawab Pietro.
Kevin nyaris menjatuhkan ponselnya.
"Kalian bercanda."
"Tidak."
Kevin mengusap wajahnya.
"Ya Tuhan..."
Aku menyilangkan lengan.
"Dan kau? Bagaimana kabar Graziela?"
Wajahnya memerah.
Benar-benar memerah.
"Aku benci kalian semua."
Kami berempat terpingkal.
Tapi setelah itu keheningan kembali.
Keheningan yang berbeda.
Lebih tulus.
Lebih manusiawi.
Karena untuk pertama kalinya kami mengakui sesuatu yang tak pernah biasa kami akui.
Kami merindukan mereka.
Sangat rindu.
Pietro merindukan celotehan Natália.
Giovanni merindukan penolakan-penolakan Bárbara.
Kevin merindukan kelembutan Graziela.
Dan aku...
Aku merindukan Mary di setiap detiknya.
Ponselku penuh foto-foto pembangunan rumah sakit anak yang dikirim ibuku.
Tapi setiap kali aku mencari sebuah gambar, mataku selalu berakhir menemukan Mary di latar belakang.
Sedang berbicara dengan seorang anak.
Merapikan dokumen.
Tersenyum.
Berdoa.
Sekadar ada.
Dan itu sudah cukup untuk menghancurkan konsentrasi apa pun yang kucoba pertahankan.
Kupandang saudara-saudaraku.
Untuk pertama kalinya sejak lama, kami bukan lagi anggota mafia.
Bukan pewaris keluarga Herrera.
Bukan pria-pria berbahaya.
Kami hanyalah empat pria yang sedang jatuh cinta.
Empat pria yang menghitung hari untuk pulang.
Kembali kepada mereka.
Aku tersenyum sendiri.
Beberapa hari lagi.
Beberapa hari lagi saja.
Dan akhirnya aku akan kembali berdiri di hadapan Mary.
Mungkin saat itu hatiku akan kembali berdetak dengan tenang.
Tapi jauh di lubuk hati, aku sudah tahu kebenarannya.
Sejak aku mengenal Mary Mendez...
Hatiku tak pernah lagi menjadi milikku.