Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Dua kelas akhirnya berhasil mereka lalui.

Meski tubuhnya masih terasa sedikit lelah, setidaknya hari ini berjalan jauh lebih normal dibanding beberapa hari terakhir.

Kini ia dan Celine duduk di salah satu kafe favorit mahasiswa yang berada tidak jauh dari gedung fakultas. Suasananya ramai namun nyaman, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan dentingan peralatan makan.

Evelyn sedang fokus menyerang sepiring pasta di depannya. Sedangkan Celine... Masih memikirkan sesuatu. Tatapannya beberapa kali melirik leher Evelyn.

Membuat Evelyn mulai merasa risih. "Apa sih?" tanya Evelyn akhirnya.

Celine berkedip. "Hah?"

"Dari tadi liatin gue mulu." Evelyn.

"Gue lagi mikir." Celine

"Ngeri amat." Evelyn Celine meletakkan

garpunya.

"Ev."

"Hm?"

"Lo bawa laptop nggak?"

Evelyn mengangguk.

"Bawa."

"Di tas?"

"Iya."

Mata Celine langsung berbinar. "Coba buka."

Evelyn mengernyit. "Buat apa?"

"CCTV apartemen lo."

Sendok di tangan Evelyn berhenti di udara. "Oh."

Jujur saja... Dia juga penasaran. Meskipun dirinya merasa ide Celine agak berlebihan. Tetap saja. Bekas merah di lehernya tadi pagi masih membuatnya sedikit bingung.

Beberapa menit kemudian laptop sudah terbuka di atas meja. Mereka berdua otomatis merapat seperti agen rahasia amatiran.

Bahkan kepala mereka hampir bertabrakan.

"Geser dikit." Celine

"Lo yang geser." Evelyn

"Rambut lo nutup layar."

Celine

"Enak aja." Evelyn

Akhirnya rekaman CCTV malam sebelumnya berhasil terbuka. Video menunjukkan ruang tamu apartemen Evelyn.

Waktu terus berjalan.

Tampak Evelyn yang mondar-mandir sebentar sebelum akhirnya masuk ke kamar.

Kemudian keluar lagi. Masuk lagi. Keluar lagi. Masuk lagi.

Celine te.

"..."

"..."

"Apa?"

"Lo kenapa muter-muter kayak NPC game?"

Evelyn langsung melotot. "Diem."

Celine ngakak. Mereka melanjutkan rekaman. Terlihat Evelyn yang akhirnya masuk ke kamar dan tertidur.

Celine menunjuk layar.b"Nah ini."

"Apa?"

"Lihat muka lo."

Evelyn memperhatikan. Di layar memang terlihat dirinya yang sedang rebahan sambil memandangi langit-langit kamar. Wajahnya tampak kusut.

Frustrasi. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Lo stres banget ternyata."

Evelyn mendengus. "Gak usah dikomentarin."

"Lucu."

"Cel."

"Oke diam."

Mereka mempercepat video.

2x.

4x.

8x.

Belasan menit berlalu. Tidak ada yang aneh. Hanya Evelyn yang tidur. Kadang berguling. Kadang menarik selimut.

Kadang hampir jatuh dari kasur.

"Buset."

"Apa lagi?"

"Posisi tidur lo serem."

Evelyn memukul lengan Celine pelan. Mereka terus memperhatikan. Namun sampai pagi... Tidak ada siapa pun yang masuk. Tidak ada bayangan misterius. Tidak ada sosok menyeramkan. Tidak ada apa-ара.

Rekaman tampak normal. Sangat normal. Celine perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Hm..."

Evelyn menutup laptop.

"Nah kan."

"Hm."

"Gak ada apa-ара."

"Hm."

"Celine."

"Hm."

"Kenapa hm mulu sih?"

Celine menatapnya beberapa detik. Lalu akhirnya berkata jujur.

"Sebenarnya..."

"Apa?"

"Gue sempat mikir ada orang masuk ke apartemen lo semalam."

Evelyn langsung menganga.

"Mungkin." Namun kali ini nada suara Celine tidak terlalu yakin.

Karena entah kenapa... Instingnya masih merasa ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata "mungkin".

Sementara itu Evelyn terlihat santai kembali menyantap makanannya. Tidak menyadari bahwa jauh di tempat lain, seseorang sedang menatap layar lain dengan senyum tipis.

Sebuah layar yang menunjukkan rekaman CCTV apartemen yang sama. Rekaman yang sudah lebih dulu diedit sebelum bisa dilihat pemiliknya.

Dan pria itu tampak sangat puas melihat dua gadis tersebut gagal menemukan apa pun.

_____

Sore itu seharusnya berjalan seperti biasa.

Setelah mengantar Celine pulang, Evelyn melanjutkan perjalanan seorang diri. Musik pelan mengalun dari speaker mobil, sementara jalanan kota mulai dipenuhi kendaraan yang pulang dari aktivitas masing-masing.

Lampu lalu lintas berubah merah. Evelyn menghentikan mobilnya. Jemarinya mengetuk pelan setir. Pikirannya melayang ke banyak hal. Tugas kuliah. Rapat perusahaan. Kasus pembunuhan. Dan sosok misterius yang terus menghantuinya.

Tiga detik. Dua detik. Satu-

BRAAAKKKK!!!

Suara benturan keras mengguncang seluruh jalan.

Sebuah truk muatan besar melaju tak terkendali dari belakang.

Rem blong. Tidak sempat berhenti. Mobil Evelyn terdorong beberapa meter ke depan. Tubuh gadis itu terhempas keras. Kepalanya membentur setir.

Dunia seakan berputar.

Suara klakson. Teriakan orang-orang. Pecahan kaca. Kemudian...

Gelap.

 

Empat jam kemudian. Malam telah turun sepenuhnya.

Kelopak mata Evelyn bergerak pelan. Kepalanya terasa berat.

Sangat berat. Seolah ada seseorang yang memukulnya dengan palu.

"Hng..." Ia mengerang kecil.

Pandangannya masih buram. Langit-langit putih perlahan memasuki fokus penglihatannya.

Evelyn berkedip beberapa kali. Bingung. Di mana ini? Ini bukan rumah sakit. Bukan apartemennya. Juga bukan mansion miliknya.

Ruangan ini terasa asing.

Meski bersih dan nyaman. Aroma obat samar memenuhi udara. Evelyn mencoba bangkit.

"Ah..."

Kepalanya langsung berdenyut nyeri. Refleks tangannya menyentuh bagian dahinya. Perban. Baru saat itulah ia menyadari ada balutan perban melingkar di kepalanya.

"Astaga..." Pintu ruangan terbuka.

Klik.

Evelyn refleks menoleh. Dan membeku. Kael Reneth berjalan masuk sambil membawa kotak P3K kecil serta beberapa obat. Pria itu mengenakan pakaian santai. Tidak seperti biasanya di kampus.

Melihat Evelyn sudah sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Senyum tipis. Sangat tipis.

"Sudah bangun?."

Evelyn mengedip beberapa kali.

"Oke..."

"Oke?"

"Oke."

Kael mengangkat sebelah alis, sedikit bingung dengan jawaban gadis itu.

Evelyn menunjuk dirinya sendiri. "Lagi-lagi kenapa pas gue bangun selalu ada lo?"

Kael hampir tertawa.

Hampir. Tapi wajahnya kembali datar.

"Ah... Itu, aku juga heran."

Evelyn terdiam. Benar juga.

Pertemuan mereka memang selalu aneh. Kael mendekat dan meletakkan kotak P3K di meja samping ranjang.

"Kepalamu masih pusing?"

"Banget."

"Wajar."

"Jangan bilang otak gue geser."

"Bukan dokter yang bilang."

"Berarti bisa jadi?"

"Tidak."

Evelyn langsung menghela napas lega. "Syukurlah."

Kael duduk di kursi dekat ranjang. Sikapnya santai. Tenang.

Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun justru itu yang membuat Evelyn curiga.

"Kok gue bisa di sini?"

Kael menjawab tanpa ragu.

"Tadi aku gak sengaja lihat kecelakaan, dan ternyata itu kau"

Evelyn berkedip. "Hah?"

"Aku baru pulang dari kampus. Kebetulan berada di jalan yang sama."

Evelyn mulai mengingat samar-samar. Lampu merah. Benturan. Lalu gelap.

Kael melanjutkan. "Tapi saat aku sampai, kau udah l gak sadarkan diri. Aku bilang ke orang-orang kalau aku mengenalmu. Setelah itu kamu dibawa ke sini untuk diperiksa."

Evelyn mengangguk perlahan. "Oh..."

Masuk akal. Sangat masuk akal. Mungkin terlalu masuk akal. Namun kepalanya masih terlalu pusing untuk berpikir lebih jauh.

"Terus ini rumah siapa?"

"Rumah ku."

"..."

"..."

"..."

"Apa?"

Kael menatapnya. "Kenapa terkejut?."

"Ya jelas!" Evelyn spontan duduk tegak.

Lalu langsung memegangi kepalanya lagi karena pusing.

"Aduh."

Klaim

Kael menghela napas pelan. "Pelan-pelan"

Evelyn kembali rebahan. "Rumah lo gede banget?"

"Cukup."

"Cukup versi orang kaya atau cukup versi manusia normal?"

Kael memilih diam.

Evelyn langsung tahu jawabannya. "Yaudah nggak usah dijawab."

Ruangan kembali hening beberapa saat.

Kemudian Kael mengambil salep dan memeriksa perban di kepala Evelyn.

Gerakannya cukup terampil. Membuat Evelyn memperhatikan pria itu dengan heran.

"Lo sering ngelakuin beginian?"

Kael tidak langsung menjawab. "Hm."

"Hm itu apa?"

"Pernah."

Jawaban singkat. Namun entah kenapa terasa seperti menyimpan banyak hal.

Evelyn tidak bertanya lebih jauh. Untuk pertama kalinya sejak bangun, suasana menjadi cukup tenang.

Sampai akhirnya Kael berkata pelan. "Aku cuma mau membalas budi."

Evelyn menoleh.

Kael sedang menutup kembali kotak P3K. "Dulu kau juga nolongan aku bukan?. Malam itu."

Saat itu Evelyn baru ingat. Malam ketika ia menemukan Kael terluka di parkiran apartemen. Malam ketika ia membawanya masuk dan mengobati lukanya.

"Oh..." Evelyn tersenyum kecil. "Jadi kita impas?"

Kael menatapnya beberapa detik. Lalu menjawab tenang. "Mungkin."

Namun dalam hati pria itu, jawabannya berbeda. Karena sejak awal... Mereka berdua tidak pernah benar-benar impas.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!