Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ia Menghilang dari Panggung

Setelah membubarkan sopir pribadinya dan turun dari taksi, Roxanna tiba di kantor catatan sipil dan masuk dengan penuh tekad.

Tujuannya adalah memulai proses perceraian dan membebaskan diri dari kendali Alessandro.

Di dalam gedung, ia disambut oleh seorang pemuda yang mengurusi dokumen perceraian.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya pemuda itu.

"Ya, saya ingin memulai proses perceraian saya." Roxanna menjawab dengan tegas.

Pemuda itu mengambil beberapa dokumen dan mulai mengisi kolom-kolom yang diperlukan. Di sela percakapan, ia menyebutkan,

"Anda tahu, kan, bahwa sesuai prosedur kantor catatan sipil, ada masa tunggu satu bulan sebelum perceraian bisa disahkan?"

Roxanna tak ragu dan langsung membalas,

"Ya, tapi saya sudah bulat memutuskan dan tidak ingin menunggu. Kalau kalian menolak permohonan saya, saya terpaksa menuntut kantor ini."

Pemuda itu ragu sejenak, lalu mengangguk setuju.

"Saya mengerti. Kalau begitu, tinggal tanda tangan suami Anda saja. Bisakah Anda memberikan alamat tempat saya bisa menemuinya?"

Roxanna, dengan lega, memberikan alamat perusahaan Vogue Vibe dan alamat rumahnya, lalu mengucapkan terima kasih atas bantuannya.

Pemuda itu memastikan bahwa surat pemberitahuan akan dikirimkan dan bahwa ia akan dikabari mengenai perkembangan prosesnya.

"Terima kasih." Roxanna berkata, mengambil dokumen itu dan keluar dari kantor catatan sipil.

Ia memanggil taksi tanpa tujuan pasti di benaknya. Jantungnya berdegup kencang di dadanya, dan sensasi lega sekaligus bebas menyelimutinya.

Roxanna percaya bahwa mengambil langkah pertama untuk berpisah dari Alessandro berarti sebuah awal baru bagi hidupnya dan hidup bayinya.

Ia merasakan campuran lega dan pedih sepanjang perjalanan. Meninggalkan cinta yang telah menemaninya sejak remaja adalah pukulan yang kejam, tapi perlu demi pertumbuhannya.

Beban kenangan, momen-momen yang pernah mereka bagi, dan mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud mengiringinya bagai bayangan. Tiap kilometer yang ditempuh seakan memperlebar jarak antara dirinya dan Alessandro, tapi di saat yang sama, membawa rasa kebebasan.

Sementara itu, di rumah yang telah Roxanna tinggalkan, keheningan terpecah oleh suara gaduh pintu yang didobrak.

Alessandro, diliputi amarah dan kebingungan, masuk sambil meneriakkan namanya.

"Roxanna!" Nada mendesak dalam suaranya mengungkapkan amarah yang dalam: ketakutan kehilangan sesuatu yang tak pernah sepenuhnya ia pahami.

Ia tak ingin menerima kenyataan bahwa Roxanna mungkin benar-benar telah pergi. Gaung teriakannya bergema di rumah yang kosong, hanya disambut keheningan sebagai jawaban.

Panik, ia berlari ke kamar Roxanna, matanya terpaku pada baju-baju yang tergantung di lemari. Gelombang lega menghantamnya; ia berpikir mungkin Roxanna hanya menginap di suatu hotel dan akan kembali, seperti berkali-kali sebelumnya.

Semenit kemudian, ponselnya bergetar oleh panggilan dari Violet.

Menjawab dengan kasar, ia tak mampu menyembunyikan rasa kesalnya.

"Ada apa?"

Suara Violet terdengar manis dan menggoda di ujung sambungan.

"Kau marah?" tanyanya dengan nada genit.

"Tidak. Maaf. Ada apa?" Suaranya berubah menjadi lebih sabar, meski masih terdengar kesal.

Violet melanjutkan, kekhawatiran dalam suaranya,

"Aku khawatir soal reputasiku, Alessandro. Semua orang di perusahaan bilang aku yang menghancurkan pernikahanmu. Itu sangat menyakitiku."

Ia menarik napas dalam, berusaha tetap tenang.

"Jangan khawatir, Mama sudah bilang bahwa kita sudah lama tak bersama. Dia akan membereskannya." Ia tahu kata-kata itu benar, tapi itu tak meredakan nyeri di dadanya.

"Oke. Kau datang ke apartemenku hari ini?" Pertanyaannya menggantung di udara bagai tawaran yang menggoda.

Ia menatap kamarnya yang kosong dan merasakan sengatan kesedihan saat memikirkan Roxanna.

"Tidak. Lain hari saja." Ia memutus panggilan tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut.

Bangkit dari tempat tidur, ia memutuskan menyiapkan makan malam istimewa untuk menyambut kepulangan Roxanna.

Itu adalah upaya untuk meyakinkan dirinya bahwa Roxanna akan kembali.

Roxanna selalu kembali.

Di dapur, aroma masakan mulai memenuhi ruangan yang kosong, tapi jauh di lubuk pikirannya, ia tahu tak ada yang bisa mengisi kehampaan yang ditinggalkan Roxanna.

* * *

Alessandro berada di ruang tamu, cahaya lampu yang lembut melemparkan bayang-bayang menari di dinding sementara pikirannya berkecamuk. Pandangannya tertarik ke jam dinding, dan ia melihat jarum-jarumnya hampir menunjuk tengah malam.

Jantungnya berpacu, sebuah firasat bahwa ada sesuatu yang tak beres. Roxanna tak lagi punya orang tua maupun teman di dekatnya, dan ketiadaannya membebani Alessandro bagai awan gelap.

Ia tak punya bayangan sedikit pun di mana Roxanna mungkin berada, dan ketidakpastian itu membuatnya gelisah.

Murka, gelombang frustrasi menerpanya. Ia mulai percaya bahwa Roxanna sedang melancarkan salah satu dari sekian banyak ulah manjanya, seakan tengah menguji batas kesabarannya sekali lagi.

Meraih ponselnya dengan mantap, Alessandro menelepon asistennya, Carlo, yang langsung menjawab.

"Tuan..." ujar Carlo, suaranya sarat kelelahan. Tapi Alessandro mengabaikan nada letih sang asisten dan langsung melontarkan perintah, "Cari tahu di mana Roxanna."

Ada keheningan sesaat di ujung sambungan sebelum Carlo akhirnya berkata,

"Baik." Setelah memutus panggilan, Carlo dilanda keinginan membara untuk memaki-maki bosnya.

Bagaimana bisa pria itu meninggalkan gadis sebaik Roxanna demi Violet?

Perempuan yang mencampakkannya bertahun-tahun lalu itu tampaknya menjadi bayangan yang terus melekat di benak Alessandro.

Sulit dimengerti bagaimana ia masih membiarkan dirinya terbawa oleh itu; ada sesuatu yang jelas tak beres dengan pria itu.

Malam merambat lambat, tiap menit terasa bagai keabadian sementara kesabaran Alessandro kian menipis.

Suasana di ruangan itu tegang, dan ia merasa semakin cemas. Akhirnya, telepon kembali berdering dan Alessandro menjawab dengan tergesa. "Sudah ketemu?" tanyanya, suaranya sarat harap. Tapi jawaban Carlo mengecewakan, "Belum, Tuan. Saya sudah memeriksa bandara, jalan tol, stasiun kereta, dan terminal bus... tidak ada. Nyonya Selenko menghilang."

Tatapan Alessandro menggelap sementara kata-kata itu bergaung di benaknya; pupilnya melebar oleh keterkejutan dan amarah.

Ia mulai percaya bahwa Roxanna sengaja mempersulit keadaan baginya, bertingkah manja seperti yang selalu ia lakukan di saat-saat krisis.

Kenangan akan satu peristiwa tertentu menyerbu benaknya: suatu kali Roxanna meneleponnya panik, mengaku telah terluka. Ia meninggalkan rapat penting untuk menemuinya, dan begitu tiba di rumah, ia mendapati Roxanna di sofa sedang tersenyum, menunggunya untuk menonton film romantis bersama — sebuah gestur polos yang membuatnya kehilangan seluruh keseriusan hari itu.

Amarah mendidih di dalam dirinya sementara ia menatap foto di atas meja, foto gadis yang dulu pernah menjadi temannya.

Kini ia membenci citra Roxanna itu; ia percaya bahwa Roxanna menikahinya demi kepentingan. Bagaimanapun, ia bertanya-tanya:

Perempuan mana, semulia apa pun ia, yang mau memilih menikah dengan seorang pria lumpuh?

Siapa yang mau menerima itu kalau bukan demi uang?

Pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa benaknya sementara malam terus berlanjut dalam alurnya yang tak berkesudahan dan menyiksa, membuat Alessandro terjebak dalam labirin emosi yang saling bertentangan.

Berjam-jam kemudian, Alessandro, dalam kondisi putus asa dan frustrasi, kembali menelepon asistennya dan berkata dengan nada penuh tekad, "Balik dunia sekalian dan temukan perempuan itu. Kalau dia pikir bisa lepas dariku semudah itu, dia keliru besar." Lalu ia memutus panggilan.

Begitu memutus sambungan, amarah menguasainya. Ia menendang keras meja di ruang tamu, yang seketika hancur berkeping-keping akibat hantaman itu. Suaranya menggema di seluruh rumah, mencerminkan badai batin yang ia hadapi. Melepas dasinya dengan gerakan kasar, ia memutuskan bahwa ia perlu keluar dari rumah itu, dari situasi itu.

Ia menuju bar yang biasa ia datangi ketika tak ingin pulang. Alessandro bahkan telah membeli sebuah apartemen mewah dekat kantor demi menghindari keharusan menghadapi Roxanna setiap hari. Sekarang, dengan Violet — cinta pertamanya — kembali dalam hidupnya, ia merasa terbelah. Dulu ia ingin sekali berada di sisi Violet, tapi entah mengapa ia tak merasakan hasrat untuk bersamanya saat ini.

Begitu tiba di bar, sebuah kejutan menantinya: Violet berada di atas panggung, kehadirannya menerangi seisi ruangan. Lagu yang ia nyanyikan bagai mantra; suaranya manis dan lembut bagai kicau burung bulbul, memikat seluruh pengunjung dengan kecantikan dan bakatnya.

Ketika pandangan mereka bertemu di tengah penonton, Violet tersenyum dan berkata,

"Lagu ini kupersembahkan untuk seorang pria yang kucintai, tapi cinta ini adalah cinta terlarang."

Lalu ia mulai bernyanyi,

"Bunga-bunga di taman cinta kita,

Warna-warna berkilau di bawah mentari,

Namun duri-duri luka mengepung kita,

Dan takdir berkata: 'tak boleh bersatu.'

Hati-hati yang bertaut dalam rahasia,

Mimpi-mimpi hancur berkeping di udara,

Cinta sejati hidup dalam sunyi,

Namun takkan pernah bisa berbunga.'"

Alessandro mengamati tiap gerak Violet dengan kagum. Violet selalu menjadi perempuan yang ia cintai sedalam-dalamnya; hatinya berdegup oleh kenangan akan janji-janji yang tak terpenuhi dan momen-momen bahagia yang pernah mereka bagi.

Di saat yang sama, sebuah bayangan menggantung atas dirinya saat memikirkan Roxanna — istrinya — perempuan yang ia yakini menikahinya demi kepentingan.

Sementara itu, Carlo tengah sibuk memburu jejak Roxanna. Ia tak tahu sama sekali bahwa Roxanna telah meninggalkan negeri itu naik kereta dengan menggunakan nama lain.

Dengan tekun, ia berhasil mendapatkan pelat nomor taksi yang Roxanna tumpangi dan segera menghubungi sopirnya. Namun, sopir itu memberi tahu bahwa Roxanna turun di tengah kota.

Roxanna tahu betul bahwa taksi itu akan dilacak; karena itu, ia memutuskan turun di tengah kota lalu berjalan kaki menuju stasiun kereta yang berjarak tiga kilometer dari sana.

Ia telah menandatangani surat-surat perceraian, dan kini semuanya bergantung pada Alessandro untuk ikut menandatanganinya juga.

Roxanna takkan sudi menyaksikan rivalnya berjalan bahagia di sisi pria yang ia cintai, sementara ia sendiri harus hidup bersembunyi dari masyarakat.

Dengan kehidupan baru yang tengah tumbuh di dalam dirinya, ia memutuskan menghilang dari panggung agar kedua orang itu bisa berbahagia. Bertekad melindungi anaknya dari seorang ayah yang keji, Roxanna bersiap meninggalkan segalanya di belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!