Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Rencana jebakan Adrian berjalan dengan sempurna. Malam itu, ketika Rudi membuka pintu belakang dan membiarkan beberapa orang masuk, mereka justru menemukan polisi yang sudah menunggu. Rudi dan anak buahnya ditangkap tanpa perlawanan. Victor dan Marissa yang menunggu kabar dari kejauhan, langsung melarikan diri ketika mendengar bahwa rencana mereka gagal total.
Adrian merasa lega, tetapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Meskipun Rudi sudah ditangkap, dampak dari pengkhianatan tersebut masih terasa di dalam rumah. Kecurigaan mulai menyebar seperti api di antara anggota keluarga. Siapa yang bisa dipercaya? Siapa yang mungkin bekerja untuk Victor? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui setiap orang yang tinggal di rumah besar Wijaya.
Rumah yang dulunya hangat dan penuh tawa, kini berubah menjadi tempat yang dingin dan penuh kecurigaan. Setiap kali seseorang berbicara dengan suara pelan, yang lain akan menatap curiga. Setiap kali ada telepon berdering di malam hari, semua orang akan terbangun dengan waspada. Elena yang biasanya tenang dan sabar, kini sering terlihat gelisah dan mudah tersinggung.
Suatu pagi, Adrian dan Elena terlibat pertengkaran kecil di dapur. Adrian ingin meningkatkan keamanan rumah dengan memasang lebih banyak kamera dan alarm. Elena menolak, mengatakan bahwa rumah mereka sudah seperti penjara dan Adeline mulai merasa tidak nyaman.
"Kamu tidak mengerti, Elena!" bentak Adrian dengan suara keras. "Aku mencoba melindungi keluarga kita! Victor tidak akan berhenti, Marissa tidak akan menyerah. Mereka akan mencoba lagi dan lagi sampai mereka berhasil."
Elena menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mengerti, Adrian. Aku juga takut. Tapi lihatlah Adeline! Dia semakin pendiam dan sering terlihat ketakutan. Dia butuh rumah yang aman dan nyaman, bukan rumah yang terasa seperti benteng militer."
Adrian menghela napas frustasi. Dia tidak ingin bertengkar dengan istrinya, tetapi tekanan dari perusahaan dan ancaman dari Victor membuatnya kehilangan kesabaran. "Aku hanya ingin melindungi kalian," katanya dengan suara lebih pelan. "Aku tidak ingin kehilangan kalian."
Elena mendekati suaminya dan memeluknya erat. "Kita tidak akan kehilangan satu sama lain jika kita tetap bersatu. Tapi kita tidak bisa membiarkan ketakutan menghancurkan keluarga kita dari dalam."
Adeline yang mendengar pertengkaran orang tuanya dari ruang tamu, menutup telinganya dengan kedua tangan. Suara hati ayah dan ibunya berteriak keras di kepalanya. Adrian dipenuhi dengan ketakutan dan kemarahan. Elena dipenuhi dengan kesedihan dan kekhawatiran. Kedua suara itu saling berbenturan, menciptakan kebisingan yang menyakitkan di telinga batin gadis kecil itu.
"Aku tidak suka ini," bisik Adeline pada boneka beruangnya. "Semua orang marah dan sedih. Aku tidak bisa mendengar apapun dengan jelas."
Nathan yang duduk di sampingnya, segera menyadari ketidaknyamanan adiknya. "Ade, kamu mendengar sesuatu yang buruk?" tanyanya pelan.
Adeline mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Ayah dan Ibu bertengkar. Mereka takut dan marah. Suara mereka sangat keras, Kak. Aku tidak bisa menghentikannya."
Nathan memeluk adiknya erat. "Kakak akan bicara pada Ayah dan Ibu. Mereka tidak boleh bertengkar seperti ini di depanmu." Dia bangkit dan berjalan menuju dapur, meninggalkan Adeline yang masih duduk gemetar di ruang tamu.
Di dapur, Nathan menemukan orang tuanya yang sedang berpelukan. Mereka sudah berdamai, tetapi suasana masih terasa tegang. Nathan menatap mereka dengan tatapan serius. "Ayah, Ibu, Adeline mendengar kalian bertengkar. Dia sangat ketakutan. Suara hati kalian sangat keras dan dia tidak bisa menghindarinya."
Adrian dan Elena saling pandang dengan rasa bersalah. Mereka sama-sama menyadari bahwa pertengkaran mereka telah menyakiti putri mereka yang masih kecil. Adrian menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan lelah. "Ayah minta maaf. Ayah tidak bermaksud membuat Adeline takut."
Elena menggenggam tangan suaminya. "Kita harus lebih berhati-hati. Adeline merasakan semua yang kita rasakan. Jika kita stres dan marah, dia juga yang menderita."
Malam itu, ketika Adeline hendak tidur, Adrian datang ke kamarnya. Dia duduk di tepi tempat tidur putrinya dan mengusap rambutnya dengan lembut. "Maafkan Ayah, Sayang. Ayah tidak seharusnya bertengkar dengan Ibu di depanmu."
Adeline menatap ayahnya dengan mata jernih. "Ayah tidak perlu minta maaf, Ayah. Adeline tahu Ayah hanya ingin melindungi kita. Tapi suara hati Ayah sangat keras akhir-akhir ini. Ayah takut dan marah. Ayah tidak tidur nyenyak. Ayah selalu memikirkan Paman Victor."
Adrian terkejut mendengar kata-kata putrinya. "Kamu bisa mendengar semua itu?"
Adeline mengangguk. "Setiap malam, Ayah. Suara hati Ayah berbisik tentang perusahaan, tentang Paman Victor, tentang semua hal yang membuat Ayah khawatir. Kadang suara Ayah begitu keras sehingga Adeline tidak bisa tidur."
Adrian merasa dadanya sesak. Selama ini dia mengira dia bisa menyembunyikan kekhawatirannya dari keluarganya. Ternyata putrinya yang masih kecil telah mendengar semua kegelisahannya setiap malam. Dia memeluk Adeline erat dan berbisik, "Ayah minta maaf. Ayah tidak menyadari bahwa Ayah membuatmu menderita."
Adeline tersenyum kecil dan membalas pelukan ayahnya. "Tidak apa-apa, Ayah. Adeline sayang Ayah. Adeline hanya ingin Ayah bahagia. Adeline tidak suka mendengar Ayah sedih dan takut."
Adrian mengecup kening putrinya dan berjanji dalam hati bahwa dia akan berusaha lebih tenang dan lebih sabar. Dia tidak ingin putrinya terus-menerus menanggung beban emosinya.
Sementara itu, di kamar lain, Elena duduk di tepi tempat tidur sambil menatap foto keluarga di dinding. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, ketika semuanya masih terlihat sempurna. Sekarang, semuanya berubah. Rumah ini terasa asing, penuh dengan kecurigaan dan ketakutan. Dia bertanya-tanya apakah mereka bisa kembali seperti dulu.
William yang melihat menantunya termenung, mendekati dan duduk di sampingnya. "Kamu khawatir, Nak?" tanyanya pelan.
Elena mengangguk. "Aku takut keluarga kita hancur. Adrian semakin stres, Adeline semakin menderita, dan Nathan tumbuh dewasa di tengah semua kekacauan ini."
William menghela napas panjang. "Keluarga tidak selalu mudah, Elena. Tetapi keluarga yang kuat adalah mereka yang bisa bertahan melalui badai bersama-sama. Kita masih punya satu sama lain. Kita masih punya Adeline yang istimewa. Selama kita saling percaya dan saling mendukung, kita akan selamat."
Elena tersenyum tipis mendengar kata-kata mertuanya. "Kamu benar, Ayah. Kita harus tetap bersatu."
Di kamarnya, Adeline terbangun di tengah malam. Dia mendengar suara-suara hati dari seluruh penjuru rumah. Ayahnya yang gelisah, ibunya yang sedih, kakeknya yang bijaksana, dan kakaknya yang waspada. Semua suara itu bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni emosi yang begitu berat untuk ditanggung oleh seorang anak kecil.
Adeline memeluk boneka beruangnya dan berbisik, "Aku akan baik-baik saja. Kita semua akan baik-baik saja." Tetapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa perang dingin dalam keluarga ini masih akan berlanjut. Victor dan Marissa masih bebas, masih merencanakan kehancuran mereka. Dan selama mereka masih ada, ketakutan dan kecurigaan tidak akan pernah benar-benar hilang dari rumah besar Wijaya.