Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Palsu di Bawah Lampu Sorot
Anindya tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, kalimat ancaman Adrian tentang alat penunjang hidup adiknya terus bergema di kepalanya.
Tepat pukul lima pagi, pintu kamar tamu terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita berstelan jas rapi masuk bersama tiga orang penata busana yang membawa gaun serta peralatan rias.
Selamat pagi, Nyonya Vane. Saya Sarah, asisten pribadi Tuan Adrian, sapa wanita itu profesional tanpa senyum sedikit pun.
Tuan Adrian meminta kami mempersiapkan Anda untuk konferensi pers jam delapan pagi ini.
Anindya duduk di tepi ranjang dengan mata sembap.
Apakah saya punya pilihan untuk menolak?
Tuan Adrian sudah memperingatkan kami bahwa Anda mungkin akan bersikap kurang kooperatif, balas Sarah seraya memberi isyarat kepada timnya untuk mendekat.
Tolong jangan menyulitkan tugas kami, Nyonya. Kami hanya menjalankan perintah.
Perintah dari seorang monster, gumam Anindya sinis, namun ia tetap membiarkan para penata rias itu memoles wajahnya dan menata rambutnya.
Satu jam kemudian, Anindya sudah terbalut gaun malam berwarna merah marun yang sangat elegan.
Sebuah jam tangan medis berbahan titanium melingkar ketat di pergelangan tangan kirinya--alat pelacak yang menyambungkan detak jantungnya dengan sistem keamanan rumah sakit tempat adiknya dirawat.
Saat Anindya melangkah keluar ke ruang tengah, Adrian sudah berdiri di sana, mengancingkan lengan kemeja putihnya.
Pria itu menatap Anindya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai.
Penampilan yang cukup menawan, puji Adrian dingin. Ingat instruksiku semalam.
Di depan kamera, kau adalah wanita paling beruntung yang sangat mencintaiku.
Anindya berjalan mendekat, menatap jam tangan titanium di tangannya.
Kau benar-benar memasangkan borgol elektronik ini padaku, Adrian?
Itu bukan borgol, Anindya. Itu jaminan keselamatan untuk kita berdua, balas Adrian santai seraya merapikan kerah jasnya.
Selama kau tersenyum manis dan pura-pura bahagia di sampingku, adikmu akan tetap aman mendapatkan perawatan terbaik.
Bagaimana jika aku sengaja membeberkan segalanya pada wartawan nanti?ancam Anindya pelan.
Bagaimana jika aku berteriak di depan kamera bahwa kau menyandera diriku dan adikku?
Adrian justru terkekeh pelan. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
Jemari panjangnya membelai pipi Anindya yang terpoles riasan tebal.
Cobalah jika kau ingin melihat seberapa cepat pengacara Vane Group memutarbalikkan fakta,
bisik Adrian di telinga Anindya.
Dunia hanya akan melihatmu sebagai wanita gila yang stres setelah menerima uang tiga miliar rupiah. Dan yang lebih buruk, dana operasi adikmu akan terhenti detik itu juga.
Anindya memejamkan mata, menahan rasa panas yang membakar dadanya. Kau sangat licik.
Aku pengusaha, Anindya. Licik adalah makanan sehari-hariku, jawab Adrian seraya mengulurkan siku tangannya. Sekarang, kaitkan tanganmu di sikuku. Mobil sudah menunggu di bawah.
Anindya menatap lengan Adrian dengan enggan, namun bayangan wajah adiknya yang terbaring lemah di ruang ICU memaksanya untuk mengangkat tangan dan mengapit lengan pria itu. Mereka berdua berjalan bersama menyusuri lorong menuju lift pribadi.
Gedung Grand Vane Ballroom sudah dipadati oleh ratusan wartawan, juru kamera, dan kilatan lampu kilat yang menyilaukan mata. Begitu pintu mobil Rolls-Royce hitam yang ditumpangi Adrian dan Anindya terbuka, suara jepretan kamera langsung bergemuruh saling sahut.
Adrian keluar terlebih dahulu, lalu dengan sangat sopan mengulurkan tangannya untuk membantu Anindya keluar.
Wajah pria yang semalam begitu dingin dan kejam itu kini memancarkan senyuman hangat penuh pesona--sebuah akting yang begitu sempurna hingga membuat Anindya merinding.
Pegang tanganku lebih erat dan tersenyumlah, Istriku, bisik Adrian sangat pelan di balik senyum populernya saat mereka melangkah menyusuri karpet merah.
Anindya memaksa bibirnya membentuk senyuman manis, meski hatinya terasa remuk. Aktingmu benar-benar menjijikkan, Adrian.
Terima kasih atas pujiannya, Sayang, balas Adrian penuh nada sarkasme sembari melambaikan tangan ke arah para wartawan.
Mereka berdua naik ke atas panggung utama dan duduk di balik meja mikrofon. Seorang wartawan senior dari media nasional langsung mengangkat tangan dan mendapat kesempatan pertama untuk bertanya.
Tuan Adrian Vane! Pernikahan Anda dengan Miss Anindya terkesan sangat mendadak dan tertutup!
Apakah benar rumor yang beredar bahwa pernikahan ini dilakukan demi memenuhi syarat klausa kepemilikan saham penuh Vane Group?!
tanya wartawan itu lantang.
Suasana ruangan mendadak hening. Anindya menoleh sedikit ke arah Adrian, ingin melihat bagaimana pria itu menjawab pertanyaan yang menohok tersebut.
Adrian menggenggam tangan Anindya di atas meja, mengelusnya dengan lembut di depan semua orang.
Pertanyaan yang sangat menarik. Namun jawaban saya sangat sederhana: saya menikah karena saya mencintai wanita ini.
Gumam kagum terdengar dari barisan wartawan.
Kami sudah menjalin hubungan secara rahasia selama satu tahun, lanjut Adrian dengan wajah tanpa dosa. Anindya adalah sosok yang sangat rendah hati dan tidak menyukai publikasi.
Namun, ketika saya tahu dia sedang melewati masa-masa sulit karena kondisi kesehatan adiknya, saya memutuskan untuk tidak menundanya lagi. Saya ingin menjadi pelindungnya secara sah di mata hukum.
Anindya merasa mual mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Adrian. Pelindung? Kau adalah predatornya! batin Anindya menjerit.
Wartawan lain tiba-tiba berdiri dan mengarahkan mikrofon ke arah Anindya. Nyonya Anindya! Bagaimana perasaan Anda menjadi istri dari salah satu pria paling berpengaruh dan kaya di negara ini? Apakah Anda merasa seperti Cinderella di dunia nyata?
Adrian meremas jemari Anindya sedikit lebih keras--
sebuah sinyal peringatan yang sangat jelas.
Anindya menatap lurus ke arah puluhan lensa kamera yang menyorotnya. Ia menarik napas panjang, meresapi rasa pahit di lidahnya sebelum akhirnya angkat bicara.
Menjadi istri Tuan Adrian Vane... adalah sebuah kejutan besar dalam hidup saya, ucap Anindya dengan suara tenang namun tegas.
Banyak hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya terjadi begitu cepat setelah saya menandatangani berkas pernikahan kami.
Adrian menyipitkan matanya sedikit, menatap Anindya dari samping dengan sudut mata yang tajam.
Tuan Adrian adalah pria yang... sangat penuh perhitungan, lanjut Anindya sembari menatap langsung ke kamera. Dia memastikan setiap detail dalam hidup saya terikat sempurna dengannya. Dia bahkan memastikan detak jantung saya selalu terhubung dengannya setiap detik.
Beberapa wartawan tampak tersenyum dan berbisik-bisik, menganggap kalimat Anindya sebagai bentuk romantisasi hubungan yang posesif.
Luar biasa! Tampaknya Tuan Adrian sangat posesif dan cinta mati pada Anda, Nyonya! seru seorang wartawan wanita di barisan depan.
Ya, dia memang sangat... posesif, sahut Anindya dengan senyum tipis yang penuh makna tersirat.
Dia memastikan saya tidak akan pernah bisa pergi darinya, apa pun yang terjadi.
Adrian terkekeh pelan di mikrofonnya, mencoba mengambil alih pembicaraan sebelum Anindya bicara terlalu jauh. Istriku memang suka bercanda. Saya rasa konferensi pers pagi ini sudah cukup.
Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media.
Adrian berdiri, lalu menarik Anindya untuk ikut berdiri di sampingnya. Namun, sebelum mereka sempat melangkah turun dari panggung, pintu utama ballroom mendadak terbuka lebar dengan dentuman keras.
Brak!
Seorang wanita bergaun putih elegan dengan wajah pucat melangkah masuk ke dalam ruangan. Di belakangan wanita itu, beberapa pengawal pribadi berusaha menahannya, namun wanita itu terus menerobos maju.
Adrian! teriak wanita bergaun putih itu dengan suara melengking yang memotong riuh suara wartawan.
Seluruh kamera langsung berbalik mengarah ke pintu masuk. Adrian membeku seketika di tempatnya. Senyum palsu di wajahnya hilang sepenuhnya, berganti dengan ekspresi terkejut yang sangat nyata.
Clara? gumam Adrian pelan, suaranya terdengar tercekat.
Anindya menoleh, melihat wanita bernama Clara itu berjalan tertatih-tatih mendekati panggung dengan mata yang berkaca-kaca menatap Adrian.
Kau membohongiku, Adrian! jerit Clara histeris di depan ratusan wartawan yang mulai mengambil foto dengan brutal. Kau bilang kau menikahinya hanya untuk mengambil darahnya demi menyembuhkanku! Kenapa kau mengumumkan pada media bahwa kau mencintainya?!