Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diskusi dengan Teman
Seminggu berlalu sejak mimpi itu, dan kondisi Raya semakin memburuk tanpa ia sadari. Ia mulai kehilangan nafsu makan, tubuhnya terasa lemas sepanjang hari meski sudah cukup tidur, karena setiap malam selalu ada saja yang mengganggunya. Entah mimpi buruk yang berulang, entah suara berbisik samar yang seolah memanggil namanya dari kejauhan, membuatnya terjaga hingga larut.
"Neng kenapa sih akhir-akhir ini keliatan kurusan? Makan yang bener atuh Neng." tegur Mamah Yana suatu pagi, tangannya menyentuh pipi Raya yang memang terasa lebih tirus dari biasanya. "Ini juga mata kamu, kok item banget kayak abis begadang seminggu. Udah tenang aja, kalau belum dapat kerjaan nggak usah stress, mungkin belum wayahna. Nanti kalau sudah rejekinya, pasti Neng bisa kerja di kantor impian."
"Aku nggak apa-apa kok, cuma capek nyari kerjaan aja, Mah. Banyak yang harus disiapin buat interview, aku akan berusaha supaya bisa keterima kerja Mah. Do'ain aku ya Mah. " jawab Raya sekenanya, mencoba tersenyum meski terasa begitu berat untuk sekadar menarik sudut bibirnya sendiri.
" Mamah selalu do'ain buat semua anak-anak Mamah. Jaga kesehatan Neng, karena percuma dapat kerja kalau kamunya sakit. Buat Mamah, yang penting kamu sehat-sehat jangan sakit karena pikiran. "
" Makasih atas doanya, Mah. "
Mamah Yana tidak sepenuhnya percaya, namun ia memilih untuk tidak memaksa, hanya menyiapkan lebih banyak makanan bergizi setiap hari dengan harapan bisa mengembalikan energi putrinya yang tampak semakin hilang.
Dasha yang paling peka menyadari perubahan itu ketika mereka bertemu di sebuah kafe untuk membahas rencana lamaran kerja bersama.
"Ray, lo sehat? Muka lo pucet banget, lo stress mikirin apa? Nggak kepikiran masalah si Jack dan jabl4y itu kan? " tanya Dasha khawatir, ia memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak begitu lelah, berbeda dari Raya yang penuh semangat saat hari wisuda beberapa minggu lalu.
"Gue nggak tau, Sha. Akhir-akhir ini susah tidur, sering mimpi aneh-aneh. Terus badan gue juga suka pegel semua tanpa sebab, yang jelas gue nggak mikirin Aa Jack karena itu cuma masa lalu. " keluh Raya, mengaduk kopinya yang sejak tadi tak tersentuh.
" Lo kepikiran apa sih? kerjaan?
" Masalah kerjaan sih gue pasrah, Sha. Gue udah usaha juga, cuma belum nampak hasilnya. Tapi kadang gue juga ngerasa kayak ada yang merhatiin gue terus, padahal kalau gue toleh nggak ada siapa-siapa."
Dasha terdiam sejenak, matanya menyipit penuh kecurigaan. Ingatannya kembali melayang pada kejadian tiga bulan lalu, pada Mbah Wongso, pada pelet kurung ayam, pada semua hal mistis yang pernah mereka dengar sebelum kejadian di kost nomor 5 itu terjadi.
"Ray, lo yakin ini cuma mimpi biasa? Bukan... lo tau lah maksud gue." ucap Dasha hati-hati, tak ingin menakut-nakuti namun juga tak bisa mengabaikan firasat buruk yang mulai muncul di benaknya.
Raya menggeleng cepat, ia seolah menolak untuk mempercayai kemungkinan itu.
"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, Sha. Gue lagi berusaha move on dari semua hal berbau mistis kayak gitu. Mungkin emang gue kecapekan aja karena mikirin kerjaan." jawab Raya, meski dalam hatinya sendiri ia tak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri.
Namun Dasha tak bisa membiarkan begitu saja. Diam-diam, ia mengirim pesan kepada Ara dan Yasmin untuk mengajak mereka untuk lebih sering memantau keadaan Raya tanpa membuat sahabatnya itu merasa terlalu diawasi atau khawatir berlebihan.
🌸🌸🌸🌸
Malam itu, kondisi Raya mencapai titik terburuknya. Ia terbangun tengah malam dengan tubuh yang sama sekali tak bisa digerakkan. Matanya terbuka lebar, kesadarannya penuh, namun anehnya seluruh anggota tubuhnya seolah terpaku kaku di atas kasur, seperti ada beban tak kasat mata yang menindih dadanya dengan begitu berat hingga sulit sekadar untuk bernapas.
Dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur, Raya bisa melihat sesosok bayangan hitam berdiri di sudut ruangan, tak bergerak, hanya berdiri diam mengamatinya dengan sepasang mata merah menyala yang sama persis seperti dalam mimpinya berminggu-minggu lalu.
Raya ingin berteriak memanggil Mamah Yana, namun suaranya tercekat, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Air matanya mengalir deras karena ketakutan yang begitu mencekam, sementara sosok itu perlahan mulai bergerak mendekat, langkahnya begitu pelan namun terasa begitu mengerikan di setiap detiknya.
Dalam hati, Raya hanya bisa merapal ayat kursi berulang-ulang, satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan di tengah kelumpuhan tubuhnya yang begitu total.
Ya Allah, tolong aku... tolong...
Tepat ketika bayangan itu hampir sampai di tepi ranjangnya, tiba-tiba suara azan subuh dari masjid dekat rumah terdengar berkumandang, memecah keheningan malam yang mencekam. Seketika, bayangan hitam itu menghilang begitu saja, seolah tertelan kegelapan yang menciptakannya, dan tubuh Raya kembali bisa digerakkan seutuhnya.
Raya langsung bangkit duduk, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar hebat sambil menangis tanpa suara. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, namun kemudian menahan diri, tidak jadi menghubungi siapa pun karena tak tahu harus menjelaskan apa. Bagaimana ia bisa bercerita soal bayangan bermata merah yang menindihnya tanpa terdengar seperti orang yang kehilangan akal sehat?
Ia hanya duduk di sana hingga subuh benar-benar tiba, memeluk lututnya sendiri, menunggu cahaya pagi masuk melalui celah gorden sebagai satu-satunya penanda bahwa malam panjang itu akhirnya berakhir.
🌸🌸🌸🌸
" Fix! Lo harus ke orang pinter, Ray! ini udah bukan gangguan biasa, ini gangguan gaib namanya. Dan gue yakin pengirimnya pasti SPG gendeng itu! " ujar Dasha penuh keyakinan.
" Gue juga sependapat sama Dasya, ini pasti serangan dari si Tante SPG. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia pasti takut kehilangan Jack. Biar gimana pun dia dapetin cowok dari hasil ngerampok, jadi ikatan yang dibangun itu kudu di revisi lagi. " Ujar Ara.
" Betul! jadi dia memperlakukan lo seperti sebuah ancaman yang akan datang sewaktu-waktu. " Yasmin ikut komentar.
Raya mengangguk pelan.
" Terus gue harus gimana?"
" Lawan! lakukan serangan balik!" ujar Ara makin bernafsu.
" Lo bisa ilmu gaib Ra? " tanya Dasha.
" Ekh si dodol! bukan gue yang lawan, tapi kita minta bantuan sama orang lain yang paham. "
" Orang pinter maksudnya? "
" Iya betul! kita lawan pake jalur ilmu putih aja, gue punya kenalan ustadz yang suka menangani kasus sihir " ujar Ara.
" sejak kapan lo gaul sama Ustadz, Ra? " tanya Dasha heran.
" Sejak tetangga gue rajin kesurupan leluhurnya, lama-lama gue temanan sama ustadz. "
" masih muda ustadz nya?" tanya Yasmin
" Sekitar 60 tahunan lah, kenapa Yas? minat jadi istri kedua? "
" Ish amit-amit! "
" Yaudah coba kita ke ustadz kenalan lo, gue nggak tahan banget sama gangguan ini soalnya. " ujar Raya memutuskan.
" Oke gue bikin janji dulu sama dia. " ujar Ara.
Raya juga penasaran, apakah benar apa yang ia alami adalah serangkaian dari perbuatan Manda?
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target