Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat Belas
Suara musik berdentum begitu keras sampai membuat dada terasa ikut bergetar.
Lampu warna-warni berputar di atas kepala. Orang-orang menari tanpa peduli satu sama lain. Tawa, teriakan, dan suara dentingan gelas bercampur menjadi satu.
Raisa berdiri di tengah kerumunan dengan sebuah gelas di tangannya. Ia tertawa lepas. Sudah entah gelas keberapa yang diminumnya malam ini.
“Raisa!” teriak seorang perempuan di sampingnya.
Raisa menoleh sambil tertawa. “Apa?”
“Ayo ke sana!” ajak wanita itu.
Perempuan itu menarik tangannya menuju area yang lebih ramai. Raisa menurut begitu saja.
Di negeri ini, tidak ada Mama yang cerewet. Tidak ada Papa yang mengingatkannya untuk pulang sebelum tengah malam. Tidak ada yang bertanya ia pergi dengan siapa atau melakukan apa.
Di sini, Raisa merasa bebas. Sejak tinggal di luar negeri, hidup Raisa berubah jauh berbeda dari kehidupan yang ia jalani di rumah.
Awalnya ia hanya fokus pada pekerjaannya sebagai model. Pemotretan, fashion show, menghadiri acara, dan berbagai kegiatan lainnya.
Namun, semakin lama, lingkaran pergaulannya semakin luas. Ia mulai sering menghadiri pesta. Lalu mengenal klub malam. Kemudian minum-minuman.
Dan sekarang, hampir setiap akhir pekan Raisa bisa ditemukan di tempat seperti ini. Baginya, itu bukan masalah.
Setidaknya, ia tidak perlu memikirkan pernikahan yang tidak ia inginkan. Tidak perlu memikirkan keluarga. Raisa mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
“Cheers!” teriak Raisa.
Beberapa orang di sekitarnya ikut mengangkat gelas. Raisa meneguk minumannya sampai habis. Kepalanya mulai terasa ringan.
Pandangan matanya sedikit berkunang-kunang. Namun bukannya berhenti, ia justru tertawa.
“Raisa, kamu nggak apa-apa?” tanya salah satu temannya.
“Aku baik-baik saja," jawab Raisa.
“Kamu sudah mabuk.”
Raisa menggeleng. “Belum," jawabnya.
Ia bahkan mencoba berjalan lurus. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya sedikit oleng. Temannya langsung memegang lengannya.
“Sudah, duduk dulu," ucap salah seorang temannya Raisa.
Raisa tertawa. “Aku nggak mabuk.”
“Kamu bahkan jalannya saja sudah seperti kapal.” Mereka lalu tertawa.
Raisa ikut tertawa. Ponsel yang berada di dalam tas kecilnya tiba-tiba bergetar.
Sekali. Dua kali. Raisa tidak memperdulikannya. Namun getaran itu terus berulang.
Akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dengan mata sedikit menyipit. Nama Mama terlihat di layar.
“Duh …,” gerutu Raisa.
Raisa menghela napas. Ia sebenarnya malas mengangkatnya. Namun karena panggilan terus masuk, akhirnya ia menekan tombol jawab.
“Halo, Ma," ucap Raisa dengan kesadaran yang sudah sisa setengah.
“Raisa,” panggil Mama.
Suara Mama terdengar dari seberang. Raisa menutup salah satu telinganya karena musik terlalu keras.
“Apa?” tanya Raisa.
“Kamu di mana?” Mama balik bertanya.
Raisa mengernyit. “Jangan hubungi aku dulu, Ma. Aku sedang sibuk.”
Mama terdiam sejenak. Kemudian Raisa mendengar suara Papa. Mama sepertinya sedang duduk bersama Papa.
“Raisa, kamu sibuk apa?” tanya Mama.
Raisa tertawa kecil dan menjawab, “Ya sibuklah, Ma.”
Mama semakin curiga. Apalagi suara musik yang terdengar sangat keras dari sambungan telepon.
“Raisa .…”
"Ya, Ma,” jawab Raisa.
“Kamu di mana?” Sekali lagi Mama bertanya mengenai keberadaan sang putri.
Raisa mengangkat gelasnya sambil memandangi orang-orang yang menari di sekelilingnya. Karena sudah mabuk, ia bahkan tidak berpikir untuk berbohong.
“Di diskotik, Ma," jawab Raisa.
Tiba-tiba suasana diseberang menjadi hening. Seketika Mama terdiam. Papa yang duduk di sampingnya juga langsung menoleh.
Mama bahkan memastikan kembali bahwa ia tidak salah dengar. “Di mana?” tanyanya.
“Diskotik," jawab Raisa.
Suara Raisa terdengar santai. Mama langsung menyalakan speaker ponselnya.
Papa yang duduk di sebelahnya otomatis mendengar percakapan tersebut. “Raisa,” suara Papa terdengar tegas, “kenapa kamu ke diskotik?”
Raisa tertawa ketika mendengar suara Papanya. “Buat minum dong, Pa.”
Papa mengernyit. “Minum?” tanyanya.
“Iya, Pa," jawab Raisa.
“Kenapa harus di diskotik?” tanya Papa lagi.
Raisa menggeleng sambil tertawa. “Papa nih nggak gaul.”
Papa langsung terdiam. Sementara Mama mengusap dadanya pelan. Entah kenapa mendengar putrinya berbicara seperti itu membuat hatinya tidak tenang.
“Raisa, jangan begitu,” tegur Mama. “Sebaiknya kamu kembali ke apartemen.”
“Kenapa?” tanya Raisa.
“Karena kamu sudah mabuk.”
“Aku nggak mabuk," jawab Raisa.
Mama menghela napas. “Suaramu saja sudah seperti itu.”
Raisa terkekeh. “Cuma minum sedikit, Ma," jawab Raisa.
“Sedikit bagaimana? Mama dengar suara musiknya sangat keras," ucap Mama.
Raisa tidak menjawab. Ia justru kembali tertawa. “Ma .…”
“Iya ...," jawab Mama.
“Jadi orang tua jangan kuno.”
Mama langsung menatap Papa. Suaminya itu hanya menggeleng pelan.
“Ini biasa kok,” lanjut Raisa. “Cuma minum dikit.”
“Raisa!” seru Mama dengan suara sedikit keras.
“Iya, iya.”
“Kamu pulang sekarang!" perintah Mama.
“Nanti.”
“Sekarang, Raisa.”
Raisa mengembuskan napas panjang. “Udah ya, Ma.”
“Tapi—”
“Ganggu aja," ujar Raisa.
Sambungan telepon terputus. Mama membeku. Papa menatap layar ponsel yang sudah kembali ke halaman utama.
“Dia mematikan teleponnya,” ucap Mama pelan.
Papa menarik napas. “Coba telepon lagi," ucap pria itu.
Mama langsung menekan nama Raisa. Nada sambung terdengar beberapa kali. Tidak ada jawaban.
Mama kembali mencoba. Tetap tidak diangkat. Wajah Mama terlihat semakin cemas.
“Pa …,” ucap Mama.
“Iya," jawab Papa singkat.
“Gimana ini?” tanya Mama.
Papa sebenarnya juga khawatir. Namun ia berusaha tetap tenang. “Mungkin ada temannya yang ulang tahun," jawab Papa.
“Tapi dia mabuk.”
“Ya, besok kita tanyakan lagi," ucap Papa.
Mama menarik napas panjang. Ia menatap ponsel di tangannya.
“Raisa sekarang beda sekali," gumam Mama.
Papa terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud istrinya. Sejak tinggal jauh dari rumah, Raisa memang semakin sulit dikendalikan.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, mereka mendengar sendiri sisi kehidupan Raisa yang selama ini tidak pernah mereka ketahui.
“Mungkin kita terlalu membebaskannya,” gumam Mama.
Papa menggeleng pelan dan menjawab, “Jangan berpikir macam-macam dulu.”
“Tapi aku seorang ibu, Pa. Aku khawatir," ujar Mama.
Papa meraih tangan istrinya. “Besok kita hubungi lagi.”
Mama mengangguk, meskipun rasa cemas masih memenuhi dadanya.
Sementara itu, jauh di luar negeri sana, Raisa sama sekali tidak tahu bahwa kedua orang tuanya sedang mencemaskan dirinya.
Ia kembali ke tengah kerumunan. Musik kembali menghentak. Gelas kembali terisi.
Raisa tertawa bersama teman-temannya seolah tidak ada masalah apa pun di dunia ini. Namun beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.
Satu pesan masuk dari Mama. “Besok Mama mau bicara serius dengan kamu.”
Raisa hanya melirik pesan itu sekilas. Lalu mengunci layar ponselnya.
“Besok saja,” gumam Raisa. Ia kembali tertawa dan ikut menari.